Grafiti |Majalah Syir'ah edisi XXXII/edisi akhir Juni 2004

www.katakata.cn.st

Hamid Jabbar [1949-2004]
Pengembara Spritual yang Terpendam

Aguk Irawan Mn

Dalam jagat kepenyairan Indonesia, lorong perpuisian
mulai terbuka saat Amir Hamzah hadir bersama Pujangga
Baru-nya dengan baju kesusastraan Melayu. Kemudian
datang Chairil Anwar yang mendobrak tradisi jumud, WS
Rendra yang melaju pada realitas kritik sosial, Tardji
membawa mantra yang ingin membebaskan kata dari ikatan
makna, Afrizal Malna yang ingin merakit pecahan kata
menjadi kesatuan makna dengan konsep posmo. Maka Hamid
Jabbar datang dengan sajak liris yang musikal dengan
ciri pengembaraan spritual.

Mendapatkan kesimpulan demikian, barangkali tidaklah
mudah. Seorang pengamat sastra tidak sekadar membaca
karya penyair melalui teks literal yang penuh sulur
simbol dan metafora, tapi juga harus menelusuri
riwayat hidup penyair secara utuh. Hamid Jabbar
penyair kelahiran Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatra
Barat 27 Juli 1949 itu, barangkali telah menunjukan
peta kepada kita, bahwa ia seorang tokoh sastrawan
Angkatan 1970-an yang membangun kepanyairan berpijak
pada nuansa spritual. Sejak 1972, ia sudah mulai
menulis puisi di berbagai media, dan hingga wafatnya
sudah berjumlah ratusan. Dalam rentang seperempat
abad, 143 sajak pilihannya dikumpulkannya Super
Hilang, Segerobak Sajak Hamid Jabbar. Buku setebal 397
halaman itu, diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta,
terdiri dari enam kumpulan puisi, yang ditulisnya dari
1972-1998, di antaranya Paco-Paco (1974), Dua Warna
(1975), Wajah Kita (1981).

Hampir dalam kesemuanya, sajak yang ditulis Hamid
Jabbar secara apik memaparkan referensi-yang dalam
bahasa Abdul Hadi WM, bahwa Hamid telah berhasil
menunjukkan dirinya sebagai penyair profetik-sufistik.
Dengan ciri membangun kekuatan strukturalisme kata
sebagai pengungkap bahasa batin, hidup dalam kegaulan
yang tak pernah berhenti menghubungkan antara dirinya
dengan Tuhan. Hal demikian barangkali bisa kita
buktikan dalam sajaknya seperti ini:

Baik, aku akan mengembara menuju cahaya menguak angin
Baik, beri aku satu saja dari 73.000 kemungkinan ini
Baik, aku akan mengembara menghadang badai nerjuni api
Baik, beri aku Satu saja yangTetap dalam diriku:Iman
buat betah seabad buat Kiblat segala Niat: Islam
beri aku Satu yang Tetap dalam diriku: Allah

(Beri Aku Satu Yang Tetap dalam Hidupku, Padang 1975)

Dalam sajak itu, Hamid sepertinya telah menghitung
dengan benar, setiap kata yang melompat dari bibirnya,
sehingga dengan kesadaran itulah ia merasa; bahwa tak
ada yang lebih selamat selain memiliki Allah, dan ini
adalah sebuah luapan yang berterus terang atas
kegelisahan yang tak mampu disembunyikan dari
hidupnya.

Sudut pandang ataupun pengangkatan tema yang dibawa
Hamid, memang lebih banyak pada kesenduan, kegalaun,
pencarian, dan rasa kecewa pada kehidupan dunia yang
amat menyebalkan. Tapi di balik semua itu terdapat
sejumlah harapan yang membuat semangat baru yang
berbingar-bingar dalam menjalani hidup. Sehingga
kehidupan yang hanya berlaku sekali ini, bagi Hamid
adalah sebuah batubata untuk membangun rumah yang
abadi dikemudian hari. Keadaan seperti ini jelas
terbaca dalam penggalan sajak:

sebelum maut itu datang yaAllah
kunantinanti hujan berkah-Mu
yaAllah yaAkbar
yaAllah yaAkbar
yaAllah yaAkbar
sebelum maut itu datang yaAllah
labuhkanlah badai imanku

(Sebelum Maut itu Datang, Bandung, 1972/1973)

Bukankah kata-kata ini telah menembus sekat kehidupan,
antara dirinya yang terbatas dan diri Allah yang tak
terbatas. Dirinya yang terbatas inilah yang disebut
dengan maut atau kematian, yang akan memisahkan hidup
di dunia dengan kehidupan akherat. Hamid pun memohon
agar Allah berkenan melabuhkan imannya, sebagai modal
untuk menuju hidup yang abadi dan tak pernah berhenti.
Bahkan Hamid dalam salah satu sajaknya berhasil
menampakkan jati dirinya yang utuh. Lihat sajak ini:

Dan pasir
sirna dalam laut
Dan laut
utuh dalam zikir

Dan zikir
kirim dalam berpaut
Pautan kalimah
LailahhaillAllah!

(Dan, Padang - Jakarta,1998)

Dalam sajak "Dan" ini Hamid berusaha seperti para
sufi, yang ingin memperoleh "fana" (melebur) dari
dirinya secara universal (kulliyah) dan hanya Allah
yang ada, sehingga ma'rifatullah akan tersibak dalam
dirinya. Ketika kata-kata sampai pada "Dan laut/utuh
dalam zikir" ia seperti berada dalam ruang yang paling
sunyi (khalwat) yang tak terjangkau, dan ingin
menghapus eksistensi dirinya dengan "zikir" sehingga
bisa mencapai "wusul" kepada Allah dzat yang mutlak.
Maka eksistensi dirinya yang dianggap sebagai
penghalang menuju kepada Allah, akan melebur pada
kalimat LailahhaillAllah.  Bahkan Hamid lagi-lagi
berhasil menempatkan teori ma'rifatullah dan hulul
(dalam tradisi sufi) dalam sajaknya, lihat sajak
"Astagfirllah" dalam dua bait ini:

astagfirullah penuh sadar
astagfirullah sepenuh istigfar
maka sudah remuk-redamlah aku
dari debu kembali sezarrah debu

walau debu sudah fitrahnya hanya kelu
tapi tanggungjawab tak bisa hanya bisu
katakan kata-kata yang semestinya mesti
walau biar hanya kepada diri sendi

Melalui lirik bait tersebut Hamid hampir seperti
al-Hallaj. Yang masyhur dengan syairnya:

"bain� wabainaka, inni yuzahimami, farfa` biniyyika
inniyani mina al-baini"

(antara diriku dan dirimu, ada aku-ku yang memisahkan,
maka angkatlah aku-ku dengan aku-Mu dari sekat yang
membentang (al-Sulami al-Thibaqat).

Menurut al-Hallaj, manusia mempunyai suatu kesatuan
yang fundamental sebagai sentral pengaturan, yaitu
qalbu. Dalam qalbu terdapat beberapa bagian, dan akhir
bagian qalbu ada suatu ruang sunyi yang tak terjangkau
oleh semua mahluk yang disebut al-sirr. Selama Allah
tidak ber-tajalalli (menampakkan) pada al-sirr, maka
manusia terbayang-bayaang Allah tanpa bentuk. Dan
ketika manusia menjadi remuk redam (khulul) maka tak
ada hakikat yang terlihat kecuali dzat Allah. "Dari
debu kembali ke zarrah dubu" dalam sajak Hamid, kalau
kita memberi tafsir tasawuf, barangkali berarti;
kembali ke dzat asal muasal. Dzat ini oleh al-Hallaj
diibaratkan seperti titik pada setiap bentuk garis,
entah itu lurus atau berbelok, sebab garis adalah
kumpulan dari banyak titik-titik (Abu Wafa, al
Taftizani: Madkhal il� Tasuf (tasawuf) al-Islami).

Dalam tradisi tasawuf selain "fana", "hub" (cinta)
juga sebagai ujung tombak tujuan sufi. Dan "hub" ini
juga terekam dalam banyak sajak Hamid dengan kata-kata
yang menyatu dan senantiasa mengalir jernih untuk
bersuara tentang cinta, lihat saja pada sajaknya ini:

jatuh ke dalam dan hinggap di hatimu demikian lekat
menghitam dan kemudian berkembang jadi dendam pekat
: memburuMu!

(Debu, Padang 1975)

Dalam konteks sastra religius, Hamid juga berhasil
megusung konsep relasi mikro-kosmos (hubungan manusia
dan alam raya) dengan makro-kosmos (Tuhan) untuk
mengungkapkan pengalaman batin. Mari kita perhatikan
sajak ini:

di dalam waktu dan malam yang mengalirkan gairahnya
lahirlah aku setitik nur pijaranMu dan beranak-pinak
dari tanda tanya dan bagai kupu-kupu aku terbang dari
taman ke taman
hinggap di rimbunan daun kehidupan merendamkan muka
melepaskan dahaga mereguk embun yang turun bersama
cahaya bulan masuk ke dalam sejuta kembang kembara
atas putik harap dan bagai lautan merpati melayangkan
segala gelombang
dalam hempasan awan putih memagut layang-layang
mencariMu
akan jawab pasti pada pulau-pulau yang meratap dan
merayap di lubuk hati
bumi yang dipijak dan terisak dan tak kuasa mengelak
dari kuasaMu selalu sampai-sampai jua aku
pada batas itu batas tetap seperti semula

(Setitik Nur, Bandung-Padang, 1973)

Dengan bahasa simbolik yang menggunakan teori
mikro-kosmos seperti "kupu-kupu", "bumi" "taman" dan
"awan", Hamid berhasil mematahkan pandangan umum yang
menganggap sastra religius adalah karya sastra yang
mengusung lambang-lambang agama. Dengan penyebutan
beberapa metafor dalam karya itu yang mengacu pada
kekhasan dari sebuah agama, seperti sajadah, masjid
dan surau.

Sebab pengembaraan spritual bagi Hamid Jabbar lebih
mengarah pada kesadaran ketuhanan yang
termanifestasikan dalam mikro-kosmos dan berusaha
menyingkap makro-kosmos dalam lingkup nilai dan asas
kemanusiaan. Selain itu Hamid juga berhasil memberi
teladan pada beberapa penyair yang menempatkan
kesufian sebagai latar teks, untuk mengungkapkan
gejolak batin dalam mencapai tahap-tahap pengembaraan
spritual. Dan tidak hanya dieksploitasi untuk kedok
protes sosial.

Memang, setiap orang membutuhkan proses untuk
menemukan dirinya sendiri, dan mungkin bagi Hamid,
puisi ibarat cermin yang akan membuat bayangan dirinya
jelas terbaca di dalamnya.

*Penulis adalah mahasiswa Al-Azhar Kairo, Mesir.

Kutipan---
Hamid berhasil mematahkan pandangan umum yang
menganggap sastra religius adalah karya sastra yang
mengusung lambang-lambang agama.










------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke