"Misteri 911" dan Jemaah Islamiyah

Farid Gaban | Pena Indonesia News Service

Dua tahun lalu penulis Prancis bernama Thierry Meyssan

menerbitkan "The Big Lie". Buku itu mempertanyakan
detil dan 
keanehan seputar Tragedi 11 September. Meyssan
menyimpulkan 
Pemerintah Amerika telah berbohong besar dan bahkan
terlibat dalam 
pembantaian hampir 3.000 orang tersebut.

Meyssan dituduh menyebarkan "teori konspirasi".
Tuduhan itu tidak 
hanya datang dari intelektual dan media Amerika, tapi
juga dari 
media di Eropa sendiri yang dikenal kritis terhadap
Pemerintah 
George W. Bush, seperti The Guardian dan Le Monde
misalnya. Dan 
ketika buku itu ternyata laris-manis di beberapa
negara Eropa, orang 
mengatakan itu sebagai cermin kebencian laten Eropa
terhadap 
Amerika, bukan karena buku itu mengandung sejumlah
pertanyaan sahih 
yang disetujui para pembacanya. Mudah dipahami. Bahkan
orang yang 
membenci Bush pun tidak akan percaya pemerintah
Amerika bisa tega 
membunuh rakyatnya sendiri, atau membiarkan rakyatnya
terbunuh.

Tapi kini buku dengan nada sama terbit di Amerika
sendiri. 
Judulnya "The New Pearl Harbor: Disturbing Questions
about the Bush 
Administration and 9/11" (Olive Branch Press, 2004).
Buku ini 
ditulis oleh David Ray Griffin, seorang profesor
filsafat agama dan 
teologi dari Claremont School of Theology, California.
Buku ini 
diperkirakan akan membawa diskusi serupa yang telah
banyak 
berkembang di situs-situs Internet "pinggiran" ke
perdebatan di 
media "mainstream".

Judul "The New Pearl Harbor" punya makna yang khusus.
Tapi, sebelum 
itu, kita bisa melihat betapa pertanyaan Griffin mirip
dengan 
Meyssan: Bagaimana bisa empat pesawat dibajak di siang
bolong tanpa 
angkatan udara Amerika bisa mencegahnya? Pesawat
pertama mungkin 
tidak bisa dihadang, tapi bagaimana dengan pesawat
ketiga dan 
keempat? Benarkah pesawat yang menabrak Pentagon itu
American 
Airlines Flight 77? Bagaimana cara pesawat keempat
(United Airlines 
Flight 93) jatuh, meledak sendiri atau ditembak? Dan
tidakkah banyak 
bukti menunjukkan runtuhnya gedung kembar World Trade
Center 
disebabkan oleh ledakan dari dalam, bukannya dari dua
pesawat yang 
menabraknya?

Ketiadaan jawaban memadai terhadap pertanyaan penting
tadi membuat 
orang mengajukan pertanyaan forensik yang lebih
sederhana, seperti 
ketika polisi tidak berhasil menemukan bukti penting
di lokasi 
pembunuhan: siapa paling diuntungkan oleh peristiwa
itu? Siapa yang 
memiliki motif?

Meski tidak sekeras Meyssan, Griffin menuduh
keterlibatan Pemerintah 
Bush. Setidaknya dia mengatakan Pemerintah Bush sudah
tahu lebih 
awal tentang rencana serangan itu dan membiarkannya
terjadi. Griffin 
mangatakan, bahwa ancaman besar dari luar negeri,
dalam skala "Pearl 
Harbor", memang dibutuhkan Pemerintah Bush untuk
menjalankan politik 
luar negeri yang agresif.

Pada Perang Dunia II, menurut sejumlah sejarawan,
Amerika mengetahui 
rencana serangan Jepang ke Pearl Harbor tapi
membiarkannya terjadi 
agar Amerika punya dalih dan otoritas moral untuk
menjatuhkan bom 
atom di Nagasaki dan Hiroshima.

Kini sudah menjadi jelas, bahwa Pemerintah Bush
memanfaatkan tragedi 
kolosal 11 September untuk banyak hal yang di masa
normal sulit 
dilakukan: menyerbu dan menguasai Afghanistan,
menjatuhkan Saddam 
Hussein dan mengangkangi Irak, menerapkan
undang-undang mengerikan 
Patriot Act dan Homeland Security Act di dalam negeri,
memilih 
negeri-negeri di berbagai belahan dunia atas dasar
"kawan atau 
lawan", serta meningkatkan anggaran militer
besar-besaran untuk 
antara lain meneruskan program Missile Defense System
atau "Perang 
Bintang" ala Ronald Reagan yang telah menuai kritik di
masa lalu.

Apa yang dilakukan Pemerintah Bush itu selaras dengan
anjuran kaum 
neokonservatif yang dipelopori intelektual pro-Israel
seperti 
Richard Perle, Douglas Feith dan Paul Wolfowitz, agar
Amerika 
memperkuat hegemoni globalnya, terutama di Timur
Tengah. Mereka 
khawatir, lelehnya Perang Dingin dan hancurnya
komunisme membuat 
Amerika terlena. Mereka memerlukan musuh baru dalam
skala yang sama 
besarnya dengan "Imperium Setan" Uni Soviet dulu. Dan
istilah "new 
Pearl Harbor" pada kenyataannya memang muncul dalam
dokumen kaum 
neokonservatif "The Project for a New American
Century" yang terbit 
setahun sebelum tragedi 11 September.

Tapi, analogi "Pearl Harbor" sebenarnya tidak tepat
benar. Jika 
motif seperti itu sudah dirancang lama sebelumnya,
tidakkah 11 
September lebih mirip "Operation Northwoods"? Pada
1992 seorang 
jenderal Pentagon mengusulkan pada Presiden John F.
Kennedy untuk 
menembak pesawat Amerika sendiri dan membuatnya
seolah-olah Kuba 
yang melakukan sehingga Amerika punya dalih untuk
menyerbu negeri 
itu. Operasi itu urung dilakukan karena Kennedy
menolaknya dan, 
seperti kita tahu, Kennedy terbunuh beberapa bulan
kemudian.

Analogi "Pearl Harbor" juga kurang tepat karena Al
Qaedah bukanlah 
Jepang. Sejauh yang bisa kita baca dari berita media
massa tiga 
tahun terakhir, Al Qaedah disebut-sebut sebagai
kekuatan "omni-
potent" (digdaya dan ada di mana-mana), namun pada
saat yang 
sama "invisible" (tidak kelihatan). Itu memberi dalih
yang nyaman 
bagi Pemerintah Bush untuk "berperang tanpa harus
membasminya". 
Sebuah dalih yang bisa dipakai untuk tujuan apa saja
dan terus-
menerus. Pada kenyataannya, ancaman Al Qaedah lebih
mudah dijadikan 
alat propaganda ketimbang ancaman kekuatan militer
yang nyata 
seperti Jepang pada Perang Dunia II atau Kuba pada
1960-an. 

Untuk menggambarkan betapa besar dan luas kekuatannya,
Al Qaedah 
juga disebut-sebut memiliki cabang di seluruh dunia.
Di Irak, Al 
Qaedah punya onderbow bernama Ansar Al-Islam, yang
telah berjasa 
meyakinkan publik Amerika bahwa seolah-olah Saddam
Hussein memang 
terlibat teror 11 September. Di Filipina, Al Qaedah
disebut 
bergandengan tangan dengan Kelompok Abu Sayyaf, dan
memberi dalih 
nyaman bagi militer Amerika untuk hadir lagi di situ
setelah 
terpental dari Pangkalan Subic dan Clark menyusul
jatuhnya Diktator 
Marcos.

Juga di Indonesia. Dalam kaitan inilah relevan pula
untuk melihat 
isu teror Jemaah Islamiyah di Indonesia dalam kacamata
Tragedi 11 
September. Para pejabat Amerika yang dikutip media
internasional 
hampir selalu menyebut Jemaah Islamiyah dalam satu
nafas dengan Al 
Qaedah.

Asosiasi Jemaah Islamiyah dan Al Qaedah tak berhenti
di situ. 
Setelah 11 September 2001, badan intelejen Amerika dan
Pemerintah 
Singapura mengatakan Al Qaedah menyusup ke tubuh
Jemaah Islamiyah 
untuk melakukan teror serupa di Asia Tenggara.
Indonesia, kata 
mereka, adalah tempat tujuan yang paling mungkin bagi
Al Qaedah: 
sistem keimigrasiannya rawan, tentara dan polisinya
terlalu lemah 
untuk bisa mengawasi wilayah perairan yang luas, dan
banyak muslim 
Indonesia pernah ikut berjuang bersama Al Qaedah
melawan pendudukan 
Soviet di Afghanistan. Setelah Tragedi Bom Bali, CNN
memberitakan 
tentang adanya situs Internet Al Qaedah yang mengklaim

bertanggungjawab atas teror itu. Dan Kepala Badan
Intelejen Nasional 
Hendropriyono mengkonfirmasi pernyataan Paul Wolfowitz
bahwa Al 
Qaedah memang menyusup ke Poso dan melakukan laihan
militer di situ.

Semua asosiasi itu nampak masuk akal. Dan nampak masuk
akal pula 
jika Al Faruq dan Hambali--dua orang yang
disebut-sebut sebagai 
pentolan Jemaah Islamiyah bin Al Qaedah di
Indonesia--kini ditahan 
militer Amerika, tanpa Pemerintah Indonesia bisa
mengaksesnya.

Tapi, apa yang kita sebut masuk akal itu pada dasarnya
hanya ekor 
dari sebuah peristiwa besar yang belum dijelaskan
kepada publik 
secara memuaskan: yakni Tragedi 11 September 2001 di
Amerika. Buku 
baru David Ray Griffin itu mengajak publik Amerika dan
kita semua 
untuk bertanya hal yang sama dan mencoba mencari
jawaban. Sebab, 
hanya dengan itulah ungkapan simpati dan belasungkawa
terhadap 3.000 
yang tewas di WTC/Pentagon, serta puluhan ribu lain
yang tewas di 
Afghanistan dan Irak, bisa memiliki makna yang
sebenarnya.***

Hak Cipta 2004 � Pena Indonesia News Service






                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke