hello guys, jujur saja, saya merasa heran mengapa kita selalu ribut dg soal perempuan di parlemen. menurut saya, perempuan justru tidak perlu mendapatkan quota model begitu. kesannya kok seperti dikasihani. kalau saya perempuan saya tidak akan mau dan akan protes dg kontroversi quota kursi ini.
menurut saya, biarkan lelaki dan perempuan berkompetisi dg normal dan wajar. kursi parlemen yg didapat dari perjuangan dan keringat sendiri tentu lebih memuaskan. daripada mendapatkan kursi yg "dikasih" kaum lelaki. any complain? everyone? namaskar, razi (antara Riau - India) Senin, 28 Juni 2004 Keterwakilan Perempuan Masih 'Sepertiga Hati' Oleh : http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=165024&kat_id=16 Kaum feminis di Indonesia masih harus berjuang keras agar keterwakilan 30 persen perempuan di DPR, atau affirmative action, terakomodasi. Hasil pemilu 2004 memperlihatkan keterwakilan perempuan di DPR meningkat dibanding hasil pemilu 1999. Tapi, peningkatan itu masih merangkak, masih jauh dari tuntutan ideal kaum perempuan. Di DPR hasil pemilu 1999 lalu, ada 45 kursi untuk perempuan, atau sembilan persen dari 500 kursi DPR. Sedangkan DPR hasil pemilu 2004, ada 58 kursi untuk perempuan, atau 10,55 persen dari 550 kursi DPR. Perempuan bertambah 13 orang, dan persentasenya naik 1,55 persen. Tapi utang keterwakilan masih 19,45 persen lagi. Kenaikan tipis itu memang tidak gratis, tapi buah dari perjuangan kaum perempuan selama lima tahun terakhir. Perjuangan itu makin intensif selama pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu Legislatif. Sebelum RUU itu disahkan, pertengahan Februari 2003 lalu, aktivis perempuan aktif melobi fraksi-fraksi di DPR. Saat rapat paripurna digelar, dan fraksi-fraksi membacakan pemandangan umumnya, para aktivis perempuan menyimak dari balkon. Setiap ada fraksi yang mendukung pengesahan keterwakilan perempuan 30 persen, mereka memberikan aplaus panjang. Sebaliknya, terhadap fraksi yang kurang akomodatif, mereka tak sungkan berteriak, ''Huuuu....'' Upaya-upaya tersebut lumayan berhasil, dan klausul keterwakilan perempuan masuk di Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang No 12/2003 tentang Pemilu Legislatif. Bunyinya, ''Setiap Partai Politik Peserta Pemilu dapat mengajukan calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota untuk setiap Daerah Pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen. '' Saat mengajukan daftar calon anggota legislatif (caleg) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), sejumlah parpol mengaku telah mengajukan 30 persen caleg perempuan. Sayang, akomodasi itu terkesan kurang ikhlas, karena 'nomor urut jadi' didominasi caleg lelaki. Jumlah perempuan yang masuk daftar pun kumulatif, bukan per daerah pemilihan. Berbekal klausul di Pasal 65 UU Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka ruang penambahan khusus bagi caleg perempuan. Sejumlah parpol meresponnya, dan cukup banyak menambah caleg perempuan. Tapi, karena penambahan tak bisa mengubah nomor urut, banyak caleg perempuan tambahan menjadi pelengkap di nomor sepatu. Permainan nomor urut itu cukup menghambat mobilitas vertikal kaum perempuan, karena sistem proporsional masih menyimpan 'ranjau': sisa suara yang tidak mencapai bilangan pembagi pemilih (BPP) didistribusikan sesuai nomor urut. Nurul Arifin, artis dan aktivis perempuan, adalah salah satu korbannya. Nurul yang cukup banyak tampil dalam berbagai kegiatan diskusi sebelum pemilu legislatif digelar, meraih suara terbanyak dari seluruh caleg Partai Golkar di daerah pemilihan Jawa Barat 6 (Karawang, Purwakarta). Tapi karena suaranya tak sampai BPP, Nurul yang mendapat nomor urut tiga gagal ke Senayan. Para aktivis perempuan mungkin akan terus mengingat kisah dramatis Nurul itu, namun Partai Beringin juga mungkin akan menjadi sebuah contoh sukses setidaknya sampai lima tahun mendatang. Pasalnya, dari 16 parpol yang berhasil meraih kursi DPR, partai pimpinan Akbar Tandjung itu justeru menghasilkan legislator perempuan terbanyak, yaitu 17 orang. Dari 128 kursi yang diraih Partai Golkar pada Pemilu 2004, persentase perempuan hanya 15,3 persen. Angka itu meningkat dua persen dibanding raihan Partai Golkar pada pemilu 1999 lalu, di mana jumlah legislator perempuan 16 orang, atau 16,6 persen dari 120 kursi Golkar. Bila dilihat dari sisi persentase, Partai Damai Sejahtera (PDS) bisa menjadi contoh yang lebih baik dari Partai Golkar. Partai pimpinan Ruyandi Hutasoit itu meloloskan tiga legislator perempuan atau 23,1 persen dari 13 kursi yang diraihnya. Di Partai Amanat Nasional (PAN) pimpinan Amien Rais dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Alwi Shihab, jumlah dan persentase legislator perempuan juga meningkat cukup pesat. Sedangkan di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Hamzah Haz, jumlah dan persentase perempuan tetap stabil seperti pada Pemilu 1999 lalu. Pada Pemilu 1999, dari 34 anggota DPR PAN, hanya satu orang perempuan, atau hanya 2,9 persen. Tapi Pada Pemilu 2004, dari 53 kursi yang diraih 'Partai Matahari' itu, jumlah perempuan tercatat enam orang, atau 11,3 persen. Kursi perempuan bertambah lima. Di PKB, pada pemilu 1999 lalu, jumlah perempuan baru tiga orang, atau 5,9 persen dari 51 kursi yang diraihnya. Sementara pada pemilu 2004, 'Partai Bintang Sembilan' itu, meraih 52 kursi, tujuh di antaranya (13,5 persen) untuk perempuan. Kursi perempuan bertambah empat. Sementara itu, PDI Perjuangan yang dipimpin seorang perempuan, Megawati Soekarnoputri, justeru terlihat gagal menambah kursi DPR bagi perempuan. Dari 109 kursi yang diraihnya saat ini, jumlah perempuan di PDIP hanya 13 orang. Padahal, pada Pemilu 1999 lalu, jumlah perempuan PDIP 16 orang. 'Beruntung', berkurangnya anggota DPR terpilih dari 153 pada pemilu 1999 menjadi 109 pada pemilu 2004, sedikit menolong citra Megawati dalam perjuangan keterwakilan perempuan. Sebab meski jumlah perempuan berkurang tiga orang, tapi persentasenya justeru meningkat dari 10,5 persen menjadi 11,9 persen. Hal sebaliknya terjadi di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pada Pemilu 1999 lalu, jumlah perempuan di PKS hanya satu orang, tapi persentasenya 14,3 persen dari tujuh kursi PK. Hasil Pemilu 2004, PKS meraih 45 kursi, tiga untuk perempuan. Tapi persentasenya justeru menurun menjadi 6,7 persen. Salah satu yang juga perlu digarisbawahi, karena pada Pemilu 2004 ini ada masih ada tujuh partai yang belum menghasilkan anggota DPR perempuan. Yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril Ihza Mahendra; Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) pimpinan Ryaas Rasyid; dan PNI Marhaenisme pimpinan Sukmawati Soekarnoputri. Selain itu, Partai Pelopor pimpinan Rachmawati Soekarnoputri; Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) pimpinan Edi Sudradjat; Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan R Hartono; dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PDI) pimpinan Dimmy Haryanto. Khairurrazi Aligarh Muslim University Uttar Pradesh, India -- India.com free e-mail - www.india.com. Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes! Powered by Outblaze ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

