Sekolah Moral 
(Kompas, 30 Juni 2004)

Oleh Handrawan Nadesul

APA namanya bila korupsi dianggap hak? Apa pula
sebutannya bila kebenaran menjadi soal selera, dan
moralitas jadi pilihan individu? Ketika nilai-nilai
tak lagi netral, salah menurut Anda, tidak selalu
berarti salah bagi saya? Berbohong, tidak jujur, boleh
mencuri asal tidak ketahuan, menjadi budaya baru.
Orang bilang, bangsa kita sedang berada di situ.

Utak-atik konversi nilai UAN tidakkah bentuk
peneladanan praksis korupsi oleh penguasa di depan
hidung anak didik setidaknya menurut Drost (Kompas,
21/6/2004). Di balik simpang siur kebenaran penjualan
tanker Pertamina dan sinyalemen mengongkosi DPR
melancong ke mancanegara, contoh lenturnya moralitas
kita.

Berita Indonesia kehilangan Rp 22 triliun dalam tiga
tahun terakhir akibat korupsi, kedua terkorup di Asean
setelah Myanmar (Koran Tempo 21/6/2004) bukti kian
relatifnya kebenaran dipandang. Jadi, betul bila orang
bilang bangsa kita tengah mengidap krisis kebenaran.
Bangsa yang tak lagi cerdas membedakan yang benar dari
yang salah.

Miris juga kita menyaksikan di televisi baru-baru ini
seorang cawapres yang diundang ke kampus dicaci maki,
disumpah serapah oleh sejumlah mahasiswa yang enteng
dan amat sangar dilakukan di depan hidung orang yang
pantas dituakan, alih-alih tahu menaruh hormat. Di
mana salahnya jika cara berbicara, bersikap, dan
bertindak rata-rata anak muda kita kini tak lagi
mencerminkan adab dalam perangai mereka?

Jawabannya, mungkin ketiadaan pembudayaan. Tiap orang
dilahirkan sebagai murid. Orang tumbuh berbudaya jika
moral ditanamkan dan dipelihara. Kehidupan harus
disikapi sebagai proyek moral dan keluarga merupakan
sekolahnya.

Menurut Confusius, yang ingin mengatur hidup bangsanya
harus mengatur hidup keluarganya. Yang ingin mengatur
hidup keluarganya harus mengatur hidup pribadinya
membentuk hati yang benar, kehidupan pribadi yang
dibudayakan (memelihara hukum moral), dengan demikian
kehidupan keluarga menjadi teratur. Keluarga yang
teratur membangun bangsa teratur. Sudahkah bangsa kita
yang beragama menempuhnya?

Boleh jadi belum sepenuhnya. Beragama tidak selalu
paralel dengan bermoral. Beriman belum tentu
serta-merta mengenal norma. Ada nilai dalam
religiositas, ada norma dalam moralitas. Agama
merupakan sekolah iman dan di dalam asuhan keluarga
yang teratur moral bisa naik kelas.

Anak yang tak memiliki standar kebenaran dan moral,
yang tak diajar pintar membedakan yang benar dari yang
salah, akan hidup di pinggiran moral. Kondisi itu
dialami sebagian besar anak muda AS kini. Riset Barna
(George Barna and The Barna Research Group, Ltd)
mengungkap anak-anak di banyak belahan dunia kini
dibiarkan kehilangan sistem nilai.

Di AS generasi Baby Boomers angkatan Bill Clinton
(yang lahir 1946-1964) dan generasi Baby Busters, yang
lahir setelah 1964 sama-sama mengadopsi budaya yang
tak selalu mengetahui perbedaan antara benar dan
salah, antara manusia dan binatang, tak punya lensa
moral tajam, tak menyimpan pandangan kebenaran yang
kuat.

SELAIN kehilangan sistem nilai, ada yang merosot dalam
warisan nilai tradisional anak- anak setelah generasi
Bill Clinton. Empat faktor dianggap menjadi
penyebabnya. Pertama, media massa membuat nilai
permisif Barat secara mondial semakin menjadi
sebahasa. Ketika media massa membuat pergaulan lintas
kultur menjadi begitu akrab, dunia semakin kecil, dan
imbas nilai rentan ditularkan dan diadopsi.

Ketika anak lebih banyak belajar nilai dari televisi
(yang tak selalu realistis) ketimbang dari ayah-ibu,
hampanya sistem nilai tradisional di sekolah yang
hanya mengajar dan kurang mendidik, serta rumah yang
cenderung menjadi "sarang kosong", sebab orangtua
sibuk, menjadikan nilai dan norma yang tertanam dan
tumbuh pada anak menjadi asing, absurd, dan boleh jadi
teralienasi.

Penyebab kedua, pergerakan urbanisasi menggeser nilai
yang dipetik dari keluarga besar (dengan hadirnya
kakek-nenek, paman dan bibi) beralih ke nilai keluarga
inti anak dibesarkan pembantu. Anak-anak kian terasing
dari lingkungan tradisi dan cenderung menjadi besar
bukan sebagai murid. Ketika sekolah lupa melakukan
tugas pembudayaan, dan orangtua alpa, anak tumbuh
tidak tahu aturan, tidak tahu diri, liar, alih-alih
beriman bermoral. Iman tak mungkin naik kelas kalau
Agama cuma mengajar, tetapi tidak mendidik.

Faktor ketiga, manakala imbas dunia semakin
materialisme (neo-materialism). Ketika kemakmuran
ekonomi dijadikan cita-cita anak dalam bersekolah,
tuntutan generasi Baby Boomers akan pekerjaan dengan
bayaran tinggi melahirkan sikap menghargai keuntungan
materi di atas prioritas lainnya, termasuk menganggap
bukan prioritas membina hubungan erat dengan Tuhan
(lahirnya Newagers, Free-thinkers).

Ketika visi sekolah lebih untuk tujuan ekonomi
ketimbang moral, kian menyuburkan budaya konsumerisme.
Manakala budaya "petik hari ini dan tenggaklah sampai
tandas", tujuan menghalalkan cara (Marchiavelism) kian
dilumrahkan, kebenaran menjadi bias. Misal, dianggap
lebih benar sikap berbuat tak halal untuk yang halal,
ketimbang berbuat halal tetapi dipakai untuk yang
tidak halal, seakan dosa punya strata.

Faktor penyebab keempat ada di sekolah. Ketika sekolah
berubah menjadi "pabrik pendidikan" (menurut Glenn &
Nelson), pendidikan nilai diserahkan orangtua kepada
sekolah. Padahal, sekolah cenderung lebih mengajar
ketimbang mendidik. Tanpa nilai dan norma, buku iman
dan kitab moral anak tetap saja kosong ("tabula
rasa"). Kesadaran moral anak tak tumbuh, pilihan dan
pedoman moral langka, alih-alih terasah lensa moral
dan kacamata iman anak bila kurikulum Agama cuma
kognitif, bukan alih praksis, dan pendidikan budi
pekerti nyaris sirna.

ORANG bertanya apa lemahnya iman sebab utama sikap
permisif masyarakat dan kehidupan pribadi? Bagi yang
percaya bahwa iman dan moral itu dua kawasan berbeda
akan menjawab bukan hilangnya rasa takut akan Tuhan
yang bikin orang tak tahu malu, tak mawas, atau
menjadi tak tahu diri. Orang dapat menemukan norma
moral tanpa bantuan iman. Bukan sedikit orang ateis
yang moralnya luhur. Bangsa beragama bukan jaminan
niscaya elok moralnya. Iman bukan syarat psikologis
buat moral. Bangsa kita agaknya tengah menisbikan
etika, mengabaikan nilai kejujuran (Do-er mentality).

Di tengah pluralisme moral, perlu ada jalan dari iman
ke etika. Agama bisa membuka pintu untuk kesediaan
mengubah bukan-nilai menjadi nilai pada diri seseorang
(devinely human). Seyogianya iman dan moralitas hampir
selalu disebut bersama agar menjadi nyata bahwa
moralitas merupakan ungkapan iman religius juga.

Jadi, sekolah moral sebuah anak bangsa itu sejatinya
ada di dalam keteladanan pemimpin bangsa yang
kehidupan pribadinya teratur sehingga kehidupan
keluarga, masyarakat, dan bangsanya teratur. Sekolah
moral juga hadir dalam pendidikan Agama yang bukan
sekadar mengajar melainkan pintar pula dalam praksis
ajaran Agama yang setiap tindakannya dibenarkan di
mata manusia maupun di penglihatan Tuhan.

HANDRAWAN NADESUL Dokter, Penulis Puisi



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke