Sekolah Moral
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/30/opini/1110143.htm
Oleh Handrawan Nadesul
APA namanya bila korupsi dianggap hak? Apa pula sebutannya bila
kebenaran menjadi soal selera, dan moralitas jadi pilihan individu?
Ketika nilai-nilai tak lagi netral, salah menurut Anda, tidak selalu
berarti salah bagi saya? Berbohong, tidak jujur, boleh mencuri asal
tidak ketahuan, menjadi budaya baru. Orang bilang, bangsa kita sedang
berada di situ.
Utak-atik konversi nilai UAN tidakkah bentuk peneladanan praksis
korupsi oleh penguasa di depan hidung anak didik setidaknya menurut
Drost (Kompas, 21/6/2004). Di balik simpang siur kebenaran penjualan
tanker Pertamina dan sinyalemen mengongkosi DPR melancong ke
mancanegara, contoh lenturnya moralitas kita.
Berita Indonesia kehilangan Rp 22 triliun dalam tiga tahun terakhir
akibat korupsi, kedua terkorup di Asean setelah Myanmar (Koran Tempo
21/6/2004) bukti kian relatifnya kebenaran dipandang. Jadi, betul
bila orang bilang bangsa kita tengah mengidap krisis kebenaran.
Bangsa yang tak lagi cerdas membedakan yang benar dari yang salah.
Miris juga kita menyaksikan di televisi baru-baru ini seorang
cawapres yang diundang ke kampus dicaci maki, disumpah serapah oleh
sejumlah mahasiswa yang enteng dan amat sangar dilakukan di depan
hidung orang yang pantas dituakan, alih-alih tahu menaruh hormat. Di
mana salahnya jika cara berbicara, bersikap, dan bertindak rata-rata
anak muda kita kini tak lagi mencerminkan adab dalam perangai mereka?
Jawabannya, mungkin ketiadaan pembudayaan. Tiap orang dilahirkan
sebagai murid. Orang tumbuh berbudaya jika moral ditanamkan dan
dipelihara. Kehidupan harus disikapi sebagai proyek moral dan
keluarga merupakan sekolahnya.
Menurut Confusius, yang ingin mengatur hidup bangsanya harus mengatur
hidup keluarganya. Yang ingin mengatur hidup keluarganya harus
mengatur hidup pribadinya membentuk hati yang benar, kehidupan
pribadi yang dibudayakan (memelihara hukum moral), dengan demikian
kehidupan keluarga menjadi teratur. Keluarga yang teratur membangun
bangsa teratur. Sudahkah bangsa kita yang beragama menempuhnya?
Boleh jadi belum sepenuhnya. Beragama tidak selalu paralel dengan
bermoral. Beriman belum tentu serta-merta mengenal norma. Ada nilai
dalam religiositas, ada norma dalam moralitas. Agama merupakan
sekolah iman dan di dalam asuhan keluarga yang teratur moral bisa
naik kelas.
Anak yang tak memiliki standar kebenaran dan moral, yang tak diajar
pintar membedakan yang benar dari yang salah, akan hidup di pinggiran
moral. Kondisi itu dialami sebagian besar anak muda AS kini. Riset
Barna (George Barna and The Barna Research Group, Ltd) mengungkap
anak-anak di banyak belahan dunia kini dibiarkan kehilangan sistem
nilai.
Di AS generasi Baby Boomers angkatan Bill Clinton (yang lahir 1946-
1964) dan generasi Baby Busters, yang lahir setelah 1964 sama-sama
mengadopsi budaya yang tak selalu mengetahui perbedaan antara benar
dan salah, antara manusia dan binatang, tak punya lensa moral tajam,
tak menyimpan pandangan kebenaran yang kuat.
SELAIN kehilangan sistem nilai, ada yang merosot dalam warisan nilai
tradisional anak- anak setelah generasi Bill Clinton. Empat faktor
dianggap menjadi penyebabnya. Pertama, media massa membuat nilai
permisif Barat secara mondial semakin menjadi sebahasa. Ketika media
massa membuat pergaulan lintas kultur menjadi begitu akrab, dunia
semakin kecil, dan imbas nilai rentan ditularkan dan diadopsi.
Ketika anak lebih banyak belajar nilai dari televisi (yang tak selalu
realistis) ketimbang dari ayah-ibu, hampanya sistem nilai tradisional
di sekolah yang hanya mengajar dan kurang mendidik, serta rumah yang
cenderung menjadi "sarang kosong", sebab orangtua sibuk, menjadikan
nilai dan norma yang tertanam dan tumbuh pada anak menjadi asing,
absurd, dan boleh jadi teralienasi.
Penyebab kedua, pergerakan urbanisasi menggeser nilai yang dipetik
dari keluarga besar (dengan hadirnya kakek-nenek, paman dan bibi)
beralih ke nilai keluarga inti anak dibesarkan pembantu. Anak-anak
kian terasing dari lingkungan tradisi dan cenderung menjadi besar
bukan sebagai murid. Ketika sekolah lupa melakukan tugas pembudayaan,
dan orangtua alpa, anak tumbuh tidak tahu aturan, tidak tahu diri,
liar, alih-alih beriman bermoral. Iman tak mungkin naik kelas kalau
Agama cuma mengajar, tetapi tidak mendidik.
Faktor ketiga, manakala imbas dunia semakin materialisme (neo-
materialism). Ketika kemakmuran ekonomi dijadikan cita-cita anak
dalam bersekolah, tuntutan generasi Baby Boomers akan pekerjaan
dengan bayaran tinggi melahirkan sikap menghargai keuntungan materi
di atas prioritas lainnya, termasuk menganggap bukan prioritas
membina hubungan erat dengan Tuhan (lahirnya Newagers, Free-thinkers).
Ketika visi sekolah lebih untuk tujuan ekonomi ketimbang moral, kian
menyuburkan budaya konsumerisme. Manakala budaya "petik hari ini dan
tenggaklah sampai tandas", tujuan menghalalkan cara (Marchiavelism)
kian dilumrahkan, kebenaran menjadi bias. Misal, dianggap lebih benar
sikap berbuat tak halal untuk yang halal, ketimbang berbuat halal
tetapi dipakai untuk yang tidak halal, seakan dosa punya strata.
Faktor penyebab keempat ada di sekolah. Ketika sekolah berubah
menjadi "pabrik pendidikan" (menurut Glenn & Nelson), pendidikan
nilai diserahkan orangtua kepada sekolah. Padahal, sekolah cenderung
lebih mengajar ketimbang mendidik. Tanpa nilai dan norma, buku iman
dan kitab moral anak tetap saja kosong ("tabula rasa"). Kesadaran
moral anak tak tumbuh, pilihan dan pedoman moral langka, alih-alih
terasah lensa moral dan kacamata iman anak bila kurikulum Agama cuma
kognitif, bukan alih praksis, dan pendidikan budi pekerti nyaris
sirna.
ORANG bertanya apa lemahnya iman sebab utama sikap permisif
masyarakat dan kehidupan pribadi? Bagi yang percaya bahwa iman dan
moral itu dua kawasan berbeda akan menjawab bukan hilangnya rasa
takut akan Tuhan yang bikin orang tak tahu malu, tak mawas, atau
menjadi tak tahu diri. Orang dapat menemukan norma moral tanpa
bantuan iman. Bukan sedikit orang ateis yang moralnya luhur. Bangsa
beragama bukan jaminan niscaya elok moralnya. Iman bukan syarat
psikologis buat moral. Bangsa kita agaknya tengah menisbikan etika,
mengabaikan nilai kejujuran (Do-er mentality).
Di tengah pluralisme moral, perlu ada jalan dari iman ke etika. Agama
bisa membuka pintu untuk kesediaan mengubah bukan-nilai menjadi nilai
pada diri seseorang (devinely human). Seyogianya iman dan moralitas
hampir selalu disebut bersama agar menjadi nyata bahwa moralitas
merupakan ungkapan iman religius juga.
Jadi, sekolah moral sebuah anak bangsa itu sejatinya ada di dalam
keteladanan pemimpin bangsa yang kehidupan pribadinya teratur
sehingga kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsanya teratur.
Sekolah moral juga hadir dalam pendidikan Agama yang bukan sekadar
mengajar melainkan pintar pula dalam praksis ajaran Agama yang setiap
tindakannya dibenarkan di mata manusia maupun di penglihatan Tuhan.
HANDRAWAN NADESUL Dokter, Penulis Puisi
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/