Putu Wijaya Bertanya Mengapa

Oleh Tangkisan Letug

Mengapa kita bertanya siapa?
Putu Wijaya bertanya mengapa
suatu tanya mahal bila dibuka
bisa-bisa nyawa hilang tanpa nama.
Tanya mengapa susah diucapkannya
lagi pula Indonesia tak punya jawabnya
kecuali darah dan airmata saja
tetapi justru di situ orang emoh 
mending bernyanyi seperti artis saja
menjadi siapa di depan kamera
seakan adalah sebuah jawaban segalanya.
Putu Wijaya bertanya mengapa
tetapi orang keburu mencret menjawabnya
atau terserang strok tiba-tiba
bisa-bisa semua orang Indonesia habis
mati oleh karena berhenti darahnya.

3 Juli 2004




Lampiran artikel:

Mengapa Kita Bertanya Siapa?

(Media Indonesia, 3 Juli 2004)
 
Putu Wijaya; Budayawan
 

PERTANYAAN yang paling tinggi rating-nya sekarang
adalah: siapa? Siapa yang akan jadi presiden Indonesia
mendatang. Para pemilih menatap kelima wajah kontestan
yang didampingi oleh para pendamping lalu
membanding-bandingkan. Siapa yang akan terus dipajang
di dinding untuk satu periode pemerintahan berikutnya.
Mengapa yang ditanyakan adalah siapa? Jawabannya
mungkin: karena kita hanya melihat wajah, tidak tahu
rencana apa yang ada dalam kepala yang bersangkutan.
Memang ada slogan besar, seperti yang terbaca di dalam
spanduk dan kaus oblong. Ada pidato. Ada publikasi,
profil mereka semuanya. Tapi informasi itu begitu
besar dan cantik, sehingga lebih mirip kepada mimpi,
tidak kelihatan apa sebenarnya tindakannya. Yang lebih
dominan adalah sebuah yel yang gampang untuk
dihafalkan dan kemudian diteriakkan. Maklum sudah
digarap oleh tim sukses yang memang canggih untuk
membuat semuanya manis.
Masalah keamanan, kesejahteraan, keadilan, kelayakan,
kemanusiaan, demokrasi, reformasi, dan sebagainya
adalah ide-ide besar dengan langkah raksasa yang bila
ditulis di atas kertas menjadi esai yang meyakinkan.
Tapi kita sudah belajar dari pengalaman, semua itu
sama sekali tak ada sisanya ketika dialirkan dalam
praktik. Karena setelah mengucur dari keran birokrasi
yang berliku-liku, di tangan banyak kepala yang
mengidap kanker KKN, kemudian yang 'keluar' adalah
udara kosong dengan suara mengerit yang perih.
Maaf. Terlalu banyak rambu dalam perjalanannya,
sehingga hasil yang tiba di tangan para pemilih --yang
waktu pemilu sempat terbuai nyanyian merdu-- hanya
berupa sebuah apologi. Apologi keren memang. Tentang
keinginan baik, niat luhur, dan harapan-harapan pada
kebahagiaan bersama, perbaikan di seluruh sektor
secara serentak. Tetapi apa daya, kemudian tercekal
dan kandas oleh medan yang terlalu sulit.
Mekanismenya belum muluskah. Sistem yang belum pas.
SDM yang tidak bermutu. Intervensi dari luar. Tidak
ada profesionalisme. Adanya separatisme. Sisa beban
sejarah yang tidak memungkinkan bergerak bebas. Dan
yang tak pernah lupa disebut adalah utang yang tak
pernah lunas. Walhasil para pendahulu yang terlalu
banyak dosa, dihujat lagi.
Itu sebuah cerita klise. Semua orang juga sudah paham.
Bahkan semua pejabat ketika masih berjuang untuk
merebut jabatannya pun sudah hafal bagaimana keadaan
medan. Tetapi berbagai alasan itu ternyata masih tetap
saja dapat dipakai alasan untuk memaafkan. Barangkali
karena hukum memang masih sempoyongan. Dan masyarakat
memang memiliki tabiat cepat melupakan, gampang
memaafkan.
Tidak pernah ada sanksi buat pejabat yang menyalahi
janjinya. Tidak ada cela buat mereka yang sesudah
menjabat, bukannya bertempur sampai titik darah
penghabisan, tapi malah ikut mengeluh, bahwa mereka
tak bisa bekerja maksimal karena benang terlalu kusut.
Tidak ada peradilan administratif di dalam batin,
untuk monggo mundur dengan kehendak sendiri, apabila
tak sanggup memikul beban. Sungguh menyedihkan karena
yang lebih menonjol adalah reaksi untuk mengangkat
tangan mencari kambing hitam. Menuding siapa yang
sudah menyebabkan semua ketidakberesan itu. Dan
biasanya yang jadi korban, pasti lawan politiknya.
***
Mental defensif selalu terbaca setiap kali kita lihat
ada pejabat dicecer wartawan di layar televisi. Masih
mendingan memang kalau dibandingkan dengan dulu. Di
masa lalu para pejabat banyak yang marah kalau
ditanya. Sekarang mereka sudah belajar tersenyum.
Walaupun senyum itu sering tetap menunjukkan bahwa itu
masalah mereka kuasai dan akan diatur dengan baik,
jadi tidak usah terlalu rewel. Masih jarang ada dialog
yang bisa menjadi tukar pikiran yang sungguh-sungguh.
Seakan-akan yang bertanya tidak perlu tahu apa yang
terjadi dalam pengurusan negara. Seakan-akan pejabat
hanya doyan main pingpong dengan teman-teman pejabat
yang lain di dalam ruang rapat. Wartawan dan rakyat
tinggal percaya kepada hasilnya saja. Walaupun masih
selalu nol besar.
Alhamdulillah sekarang para pejabat sudah banyak yang
belajar berperilaku lebih dalam tanda petik sopan.
Mereka mencoba menunjukkan bahwa mereka bukan lagi
raja atau bangsawan-bangsawan yang tidak boleh
disentuh, tetapi manusia biasa. Jabatan sudah bukan
sesuatu yang sakral lagi. Sehingga lembaga
kepresidenan, misalnya, tidak lagi menjadi berhala,
karena siapa pun duduk di kursi presiden, walaupun
sudah disahkan oleh MPR sebagai pejabat tertinggi, dia
tetap manusia biasa. Bukan dewa yang boleh berbuat apa
saja, apalagi kebal hukum. Tidak. Sebagai warga
negara, seorang presiden masih sama hak dan
kewajibannya dengan warga negara lainnya, kecuali
dalam fungsinya sebagai pucuk pimpinan.
Lembaga kepresidenan, sejak reformasi sudah mengalami
desakralisasi. Ini salah satu hasil konkret reformasi.
Betul gerakan moral itu sudah kebablasan, tetapi bukan
gagal. Seorang presiden kini sudah boleh dinilai,
bukan hanya oleh MPR di akhir masa kepresidenannya,
tetapi juga oleh rakyat yang notabene adalah majikan,
kepada siapa presiden itu harus mengabdi. Ini sesuatu
yang tabu di masa lalu.
Jadi: bukan "siapa", tetapi "mengapa" yang semestinya
berkibar.
Mengapa kita memilih salah satu capres dan bukannya
capres yang lain. Apa karena sosoknya yang menarik?
Sejarahnya yang bersih? Atau karena mau coba yang
baru? Janjinya yang tampak lebih realistikkah? Jaminan
kekuatan sosial yang mendukungnya kelak dalam masa
pemerintahan? Kecerdasan otaknya dan kepintarannya
dalam berbicara? Atau kelihaiannya dalam menghadapi
persoalan?
Rimba yang dihadapi begitu sulitnya. Siapa pun yang
akan menjadi presiden, akan menghadapi persoalan besar
yang akan membuat rambutnya putih dalam satu bulan.
Karenanya dia harus seorang yang "kuat". Dan kekuatan
itu bisa datang kalau ia memiliki karisma yang hebat.
Kekuatan yang berasal dari dalam dirinya, sebagaimana
yang ditampilkan oleh Soekarno dan Pak Harto.
Atau dukungan sepenuhnya, lantaran rakyat semua
percaya kepadanya. Dalam hal ini, ia tidak perlu
seorang yang hebat, seorang ibu rumah tangga pun bisa,
asal rakyat sudah meluruh dalam satu kepalan yang
kuat. Jadi, kekuatan itu tidak datang dari kehebatan
presiden, tetapi dari luar dirinya, dari kedudukannya
selaku pucuk pimpinan tertinggi, berkat kepercayaan
rakyat.
Medan yang penuh maling, penipu, dan penjarah,
membenarkan hukum rimba. Untuk itu yang diperlukan
adalah senjata. Tetapi senjata hanya akan mengucurkan
darah. Kita lebih melihat kelihaian sebagai
alternatif. Kita memerlukan seorang pemain catur,
aktor, dan sekaligus begawan.***


http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004070223341646


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke