Surat Kembang Kemuning: KATEB YACINE DI FESTIVAL AVIGNON KE- 58 [4-- SELESAI]
KATEB YACINE, AGAMA DAN MASALAH JENDER Sikap politik mendorong Yacine untuk lebih jauh mengenal akar sejarahnya dan kesadaran sejarah memperkuat serta lebih menalarkan sikap politik Yacine. Yacine menggunakan data-data dan pengalaman sejarah sebagai sumber kreasinya sedangkan dengan pisau analisa politik, ia membedah masyarakat melalui tokoh-tokoh yang dia angkat, terutama para tokoh perempuan yang oleh Catherine B�darida wartawan budaya Harian Le Monde, Paris, disebut sebagai "perempuan-perempuan kemerdekaan", les femmes de la libert� [Lihat: Harian Le Monde, Paris, 2 Juli 2004]. "Mengenal sejarah merupakan keperluan mendesak bagi kita", tulis Yacine. "Lebih mendesak lagi karena banyak jejak-jejak sejarah kita yang panjang telah dihapus oleh kolonialisme dan rezim-rezim yang membuntutinya" "sehingga membuat kita buta akan sejarah dan tidak mengenal apa-siapa diri kita lagi". Pernyataan Yacine ini memperlihatkan betapa sejarah dijadikan alat menindas oleh pemegang kekuasaan, dijadikan alat untuk mencoba melanggengkan kekuasaan, menjadikan penduduk sebagai alat jinak kekuasaan dan manusia tanpa sejarah. Kecuali itu nampak bahwa sejarah merupakan sebuah arena pertarungan berbagai kepentingan, terutama kepentingan politik yang tak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi. Berdasarkan studi kesejarahan dan masyarakat dengan menggunakan pisau bedah analisa politiknya, Yacine sampai pada sikap mengambil jarak terhadap agama, terutama tiga agama monotheisme. Tiga agama monotheisme ini di mata Yacine telah menimbulkan malapetaka bagi kemanusiaan, merupakan faktor-faktor alienasi yang mendalam" [les trois religions monoth�isme font le malheur de l'humanit�, ce sont des facteurs d'alienation profonde"]. Le Malheur [petaka] inilah yang menggugah para perempuan Maghreb termasuk Berber bangkit melakukan perlawanan sebagai manusia-manusia nasionalis dan bukan berangkat dari posisi sebagai kelompok etnik Berber. Dengan menggaribawahi posisi para tokoh perempuannya sebagai nasionalis nampak bahwa Yacine ingin meninggalkan kecupetan tempurung langit etnisitas tapi berdiri di bumi di bawah langit yang luas. Menurut Zebe�da Chergui, isteri Yacine, "bagi Yacine , dasar berdirinya sebuah bangsa bukanlah agama tetapi rakyat, tanah yang kita olah , dan bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi. Jauh sebelum Islam datang ke Aljazair, unsur-unsur Berberitas inilah yang membangun nasion Aljazair sekarang". Sedangkan Yacine sendiri menulis bahwa Kahina yang berdarah Yahudi itu "masuk ke dalam sejarah tidak sebagai seorang Yahudi (....) tapi sebagai seorang nasionalis"]. Tokoh Kahina yang berdarah Yahudi memimpin seluruh nasion, lelaki dan perempuan Aljazair melawan penyerbu dari luar! Dilihat dari kontek sekarang di mana paternalisme yang melecehkan perempuan, di mana perasaan anti Semitis berkembang, munculnya tokoh Kahina sebagai hero sungguh menarik dan tantangan mengejutkan bagi masyarakat Maghrebien. Tapi apa yang harus disangkal penonton dari kenyataan sejarah ini? Barangkali di sinilah salah satu unsur kebesaran Yacine sebagai sastrawan. Berdasarkan data sejarah dan analisa politik, ia berani menentang arus mengajak para penontonnya merenung sejarah diri sendiri dan memandang keadaan kekinian dengan hati tenang. Mengapa pada masa Kahina, segala etnik bisa bersatu, mengapa para lelaki bisa menerima Kahina yang perempuan sebagai pemimpin mereka? Pertanyaan inilah yang dilemparkan oleh Yacine melalui teaternya "La Kahina Atau Dihya" -- salah sebuah karyanya yang dipentaskan di Festival Avignon ke -58 -- untuk menggelitik pikiran bangsanya. Cerita kedua yang juga dipentaskan di Avignon adalah drama Saout Ennissa atau Suara Perempuan yang ditulis oleh Yacine dalam tahun 1972. Cerita ini berlangsung pada abad ke-XIII, ketika Dinasti Almohade ingin menaklukkan etnik-etnik Maghreb Raya [Grand Maghreb] , termasuk Berber yang menghuni padang pasir. Saout Ennissa tampil memimpin semua etnik melakukan perlawanan. Pasukan-pasukan Saout Ennissa mengepung Tlemcen, ibukota Maghreb Tengah, yaitu Aljazair sekarang. Guna menghindari pertumpahan darah lebih besar, Saout Ennissa mengajak pihak penyerbu yang terkepung untuk berunding menyelesaikan konflik secara damai. Melalui ajakan ini, nampak bahwa Ennissa dan rakyat Grand Maghreb sesungguhnya rakyat yang bukan haus darah, tapi rakyat yang cinta damai. Tapi perdamaian dan kerukunan agaknya tidak mungkin disejajarkan penindasan dan ketidakadilan. Perdamaian dan kerukunan tidak akan ada jika mentoleransi penindasan dan ketidakadilan. Perdamaian dan keadilan mungkin ditegakkan ketika rakyat mengorganisasi diri dan melawan. Artinya perdamaian dan keadilan tidak jatuh dari langit. Dengan mengorganisasi diri , rakyat Grand Maghreb mempunyai posisi tawar yang kuat dalam perundingan dan kata-kata mereka mempunyai daya paksa serta tidak bisa tidak didengar.Sanggup menampik keangkuhan kekuasaan . Perlawanan Ennissa bukanlah perlawanan spontan. Dasar perlawanan pun mampu menghimpun mayoritas rakyat Grand Maghreb. Merenungi pesan Yacine ini, saya teringat negeri kita dengan pertanyaan: Adakah organisasi demikian? Adakah pemimpin demikian? Adakah dan apakah landasan yang bisa mempersatukan mayoritas mutlak rakyat negeri kita untuk menegakkan keadilan yang sanggup menampik keangkuhan kekuasaan? Kalau ada, apa-siapakah mereka? Kalau tidak ada atau belum ada: Mengapa tidak atau belum ada? Pesan Yacine melalui drama Saout Ennissa, agaknya masih sangat relevan untuk kehidupan kita hari ini. Karya Saout Ennissa termasuk salah sebuah karya yang disensor di Aljazair sekarang. Perihal mengapa karya-karya Yacine selalu mengangkat tokoh-tokoh perempuan, terutama tokoh-tokoh sejarah, Kateb Yacine menjelaskannya karena ia melihat bahwa perempuan adalah "sumber pertama" [la source pr�mi�re] kehidupan. "Sesungguhnya semua orang Aljazair mengetahui hal ini", lanjut Yacine. "Tapi mengapa mereka berhenti pada pengetahuan ini?" tanyanya. "Karena kita tenggelam dalam dunia Arabo-islamik [Arabo-islamique] dan dalam dunia ini , perempuan menjadi orang asing bagi lelaki begitu mereka memasuki usia pubertas", jawab Yacine sendiri. Masalah ini pernah juga diungkapkan oleh Yacine dalam roman pertama dan terakhirnya: Nedjma di mana Yacine menulis antara lain: "betapa luarbiasanya dalam kenyataan kita memperlakukan para perempuan, termasuk saudara-saudara kandung kita sendiri secara tidak semen-mena". Padahal perempuan adalah "la pr�mi�re source" [sumber pertama] kehidupan. "Mereka selalu ikut-serta dalam sejarah, mereka telah memainkan peran di urutan pertama, khususnya dalam revolusi yang baru kita alami", ujar Yacine pada tahun 1972, ketika Saout Ennissa ia tulis tapi segera menjadi karya terlarang di Aljazair. Melalui perempuan, Yacine ingin melukiskan sejarah Aljazair . Sadar akan arti teater sebagai alat penyadaran, maka pada tahun 1971 Kateb Yacine membangun sebuah grup teater mobil di lingkungan masyarakat kumuh [le quartier populaire] di Bab El Oued, Alger. Dengan grup teater yang tidak memerlukan dekorasi dan kostum serta make-up berkelebihan, Yacine mengadakan pementasan di sekolah-sekolah, di perusahaan-perusahaan dan desa-desa. Mereka tidak hirau sama sekali pada tertutupnya pintu tivi Aljazair bagi kegiatan mereka. Mereka memandang kehidupan yang luas sebagai arena pentas dan sumber kreasi mereka sekaligus. Tipe teater begini disebut oleh Kateb Yacine sebagai "teater ekonomis". Kehadiran karya-karya Kateb Yacine di Festival Avignon Ke-58 kali ini merupakan hasil setiakawan antar sastrawan dalam menerobos kekangan dan larangan, pertanda bahwa suara seniman adalah suara yang tak terbungkamkan, arus riam yang jernih selalu mengalir dan menderu di alur sungai kehidupan mencari laut. Kateb Yacine telah meninggal pada tahun 1989. Karya-karyanya adalah suara yang terus menggema tak terbungkamkan di ruang dan waktu. Adalah arus riam jernih bening, warna mimpi dan kemanusiaannya. Paris, Juli 2004. --------------- JJ.KUSNI [Selesai] Catatan: Foto terlampir adalah foto Maryam Rajavi, pemimpin Dewan Nasional Perlawanan Iran yang bermarkas di Perancis.[Sumber: Dokumen Jelitheng]. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

