SIAPA YANG SINTHING, SEDHENG, GENDHENG, EDAN ?
YANG TERSEOK DIBELAI KEMELARATAN ATAU YANG KETAWA-TIWI DIGELITIK 
RANCAPAN DESAH NAFSU BENDAWI DAN PROFESI ?
YANG SOK SUCI, NDREMIMIL DOA, CUAP-CUAP KOTBAH, NYEBAR AYAT, ATAU 
YANG BERKARYA ?
YANG NDLONGOP APA YANG BERBUAT BAGI YANG TERLEMAH ?
YANG TEORI ATAU PRAXIS ?
KITA, ANAK-ANAK KITA, ATAU TUHAN ?
OM SANTI, SALAM, RAHAYU, DAMAI !
BUKAI JENDELA   R A S A 


Budi SP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ManusiaGerobak - HingarPemilu - Praxis
===============

Harian Republika, Rabu, 21 Nopember 2001
"Manusia Gerobak"
=================

Hari masih gelap. Matahari belum keluar. Satu dua kendaraan melintas. 
Namun
derunya tak mengganggu dua bocah kecil. Mereka lelap dalam 
gerobak ... di
kawasan Menteng, Jakarta.

Seorang gadis mungil menggeliat. Matanya terpejam rapat.Disebelah- 
nya,
bocah lelaki meringkuk dengan mata setengah terbuka.
Sayup terdengar panggilan ibunda tersayang."Ayo bangun,sudah siang." 
Si ibu
menyingkap atap plastik yang menyelubungi mereka di dalam gerobak.
Digoyangnya tubuh gadis dan bujang kecilnya, sehingga keduanya 
terbangun
enggan.Atap plastik digulung. Keduanya, Lala dan Slamet, turun lewat 
bawah
gerobak yang rupanya dibuka dengan sistem knock down.

Tanpa banyak kata, keduanya pindah ke tepi jalan di sebelah gerobak.
Keduanya jongkok terbengong. Tatap mereka kosong, meski terarah pada 
arus
lalu lintas yang mulai ramai. Mereka menunggu si ibu yang melipat 
plastik
dan tumpukan pakaian yang telah digunakan sebagai bantal. Si ayah tak
terlihat.Si ibu memasukkan seluruh pakaian itu ke dalam 
plastik "kresek"
hitam. Lalu ia sampirkan pada pegangan gerobak.Dengan rambut semrawut,
perempuan itu memutar arah gerobak- nya. Ia memanggil kedua permata 
hatinya
untuk mengikutinya. Dengan rasa enggan, keduanya tetap bangkit.

Bertiga mereka menuju Kali Gresik di Jl Sutan Sjahrir. Si ibu turun 
ke dasar
kali membuka pakaian dan menyiram tubuhnya dengan air yang mengalir 
dari
gorong-gorong yang mengalirkan limbah air perumahan elite Menteng.
Separuh kakinya terbenam dalam lumpur. Ia memanggil kedua anaknya dan
memandikannya dengan air yang sama. Ia cuci juga pakaian anaknya dan
menjemurnya di pepohonan di pinggir kali.
"Sebetulnya air itu bersih," kata perempuan itu. Nun jauh di dalam
gorong-gorong, menurut dia, ada pipa PAM pecah. Air itu mengalir 
terus ke
kali. Dan ia menggunakannya untuk mandi dan mencuci pakaian.

Hari mulai terang. Deru mobil hiruk-pikuk. Perempatan Jl Teuku Umar 
mulai
ramai.Namun perempuan yang setengah telanjang itu tak terusik. Ia 
tampaknya
juga tak terganggu mata-mata risih yang memandangnya dari balik 
jendela
kendaraan. Badannya yang tanpa busana memunggungi pandangan 
orang.Setelah
berganti pakaian, mereka kembali ke gerobak yang diparkir di tepi 
jalan.
Kali ini sang ayah, dengan rokok di mulutnya, menanti dan siap 
mengajak
mereka berkeliling.

Dedeh. Sebutlah begitu namanya. Sudah hampir setahun, ia tinggal di 
tepi
Jalan Jawa bersama suami dan dua anak bocahnya. Mereka hidup layaknya 
kaum
Gipsy yang berpindah tempat.Namun idealismenya berbeda. Gipsy 
berpindah
dengan karavan karena memang kebiasaan hidup. Dedeh melakoninya karena
keterpaksaan.

Sebuah rumah dan pekerjaan bagi penduduk Jakarta amatlah mahal. 
Jangankan
untuk memiliki, untuk mengontrak pun terlalu sulit.Jangan- kan pula 
untuk
mengontrak rumah, untuk makan pun tak cukup. Pendapatan mereka hanya 
untuk
sekali makan dalam sehari.
Dedeh dan suaminya hanya memiliki sebuah gerobak butut untuk tempat 
tinggal.
Di situ, ia beserta suami dan anaknya tidur. Di situ juga ia menyimpan
sedikit pakaian. Dengan alat itu juga mereka hidup.
Siang hari, gerobak adalah media kerja. Dengan benda roda dua yang 
dibeli
seharga Rp 125 ribu itu, Dedeh dan suaminya Ripto (bukan nama 
sebenarnya),
mengais rezeki. Mereka  memunguti koran, bungkus rokok, kertas, botol
kemasan air, dan tentu saja kardus bekas.

"Untuk makan saja kami keteteran," kata Ripto. Ia mengaku malu telah 
gagal
sebagai suami dan orang tua seraya menunjuk dua anaknya yang badannya 
makin
kurus. Penghasilannya dari mengumpulkan barang bekas tak mencapai Rp 
10
ribu. Padahal keluarganya terdiri dari empat orang. Dengan uang itu, 
ia
kadang hanya makan sekali atau paling banyak dua kali sehari. Lala dan
Slamet sebetulnya dua dari empat anak mereka. Keduanya dalam kondisi 
sakit
dan sulit sembuh. Batuk dan suhu badan mereka tinggi,sulit turun 
lantaran
tidurpun dilakukan di udara terbuka.Dari hidung mereka meleleh cairan 
kental
kehijauan.
Ripto tak punya pilihan. Ia tetap membawa kedua anaknya bekerja,atau 
kadang
meninggalkan mereka bermain di tepi kali, hingga ia pulang membawa 
makanan.

Seorang anaknya meninggal sesaat setelah dilahirkan. Satu lagi yang 
lebih
besar telah mencari uang sendiri menjadi pengamen.Ripto biasa membawa
anak-anaknya bekerja. Ia mendorong gerobaknya dari rumah ke rumah. 
Mereka
mengorek isi tempat sampah untuk mencari benda yang masih bisa ditukar
dengan sebungkus makanan. 

Pagi,saat orang membersihkan rumah dan membuang benda yang dianggap 
tak
berguna, adalah waktu bekerja bagi Ripto dan keluarganya. Ripto bukan
satu-satunya yang melakukan pekerjaan itu. Di Jl Jawa sedikitnya 
terdapat 25
gerobak. Anak balita kerap tampak berkeliaran di tepi jalan. 
Berpakaian
lusuh. Kulit kotor dan berkoreng.

Di Jl Tanjung, Jl Sutan Sjahrir, Stasiun Cikini dan Gondangdia, serta
jalan-jalan lain di sekitar Menteng, gerobak dan anak-anak menjadi
pemandangan rutin.Dan barangkali orang pun akan memandangnya sebagai 
manusia
biasa ... yang tak kekurangan apa pun.

"Kami semua senasib. Makanya seperti saudara," kata Ripto yang ber- 
asal
dari Jawa Tengah. Mereka berasal dari daerah berbeda.Dedeh dari 
Lampung.
Keluarga Jiran dari Surabaya, Ramly dari Tangerang, dan banyak lagi 
yang
seolah hidup menyatu dengan alam. Sepanjang siang mereka berkeliaran. 
Baru
menjelang sore, kelompok gerobak ini membawa temuan mereka ke sebuah 
agen di
dekat Stasiun Gondangdia. Kertas dan aneka barang bekas lainnya 
ditukar
dengan uang yang tak seberapa. Biasanya satu kilogram kertas bekas 
dihargai
Rp 150 hingga Rp 250. Setelah memperoleh uang mereka pulang kembali 
ke Jl
Jawa.

Lala dan Slamet, serta bocah-bocah lain kawan mereka,terbiasa dengan
kehidupan itu.Mereka duduk dalam gerobak, menjadi satu dengan kardus 
dan
botol bekas, selagi ayah dan ibu mereka berkeliling. Kadang yang 
terlihat
hanya kepala mereka, menyembul di antara tumpukan kardus.
Seperti layaknya pekerja, mereka juga punya jam istirahat. Siang 
sekitar
pukul 13.00 adalah saat mereka mengaso. Lihat saja tepi Kali Gresik. 
Di
bawah pepohonan, mereka menggelar alas dan merebahkan badan lalu 
terlelap
sesaat.

Momen ini kadang dimanfaatkan Lala dan Slamet, dua anak berusia tujuh 
dan
empat tahun, mengemis di perempatan jalan. "Lumayan juga hasilnya. 
Kadang
bisa untuk beli nasi," kata Dedeh.

Ia bercerita, anaknya, Slamet sudah memasuki usia sekolah. Namun 
sekolah
bukan perkara sederhana. Butuh seragam, baju sekolah, dan tentu saja 
biaya.
Bagi dia yang rumah dan kadang untuk makan pun tiada, jalan dan alam 
raya
adalah pilihan satu-satunya.

Kapasitas gerobak yang sangat terbatas tak memungkinkan Dedeh
leluasabergerak. Tak seperti keluarga lain yang hidup normal, Dedeh 
bahkan
tak pernah memasak. Ia tak punya kompor dan panci atau alat memasak 
lainnya.

"Di mana kami bisa masak?" Alasannya bukan sekadar lantaran ia hidup
berpindah, tetapi juga karena tak ada tempat menyimpan. Belum lagi 
jika ada
penertiban. Memasak di taman tentu terlarang. Dan ia tak mau mengambil
risiko alat-alatnya diangkut saat ia sedang menanak nasi. Bisa 
mengaso di
depan pagar rumah mewah tanpa diusir saja, menurut dia, sudah 
merupakan
anugerah.

Sebungkus nasi dengan lauk tempe goreng kini mencapai Rp 2.000. Dengan
penghasilan suaminya yang hanya Rp 6.000 hingga Rp 10 ribu, ia hanya 
bisa
membeli tiga bungkus. Untuk mengisi waktu, suaminya masih merasa perlu
merokok dan anaknya kadang meminta jajan.

Menjelang malam baru Dedeh dan anaknya kembali ke Jl Jawa. Setelah 
memesan
dua bungkus nasi yang dimakan berempat,mereka bersiap tidur. Ny Dedeh
menggelar kardusnya di tepi jalan. Sementara suaminya menyulut 
sebatang
rokok. Di tepi jalan depan rumah mewah, Dedeh menidurkan dua bocahnya 
yang
segera terlelap. Malam itu, cuaca cukup cerah.Ia bergegas menutup 
gerobak
dengan plastik yang biasanya hanya dipasang saat hujan. Suaminya 
memberi
isyarat untuk berada di dalam gerobak, berdua saja, tanpa anak-anak. 
Dedeh
cukup mengerti.

--
--- End forwarded message ---




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke