ASAL USUL
Awas Presiden!!
(Kompas, Minggu 11 Juli 2004)
Harry Roesli
[EMAIL PROTECTED]
SAYA dapat cerita di bawah ini dari Mas Redi, begini
ceritanya. Pada zaman Orba, seperti sidang pembaca
tahu, represi adalah keseharian. Militer adalah
penguasa, pengusaha, pemangsa, penyengsara, sementara
nonmiliter sekadar penggembira (yang tidak gembira
tentunya).
Nah, karena begitu dominannya militer saat itu, maka
ketika Pemerintah Mesir mengundang arkeolog dari
segenap penjuru dunia guna kepentingan menaksir umur
"seonggok" mumi yang baru ditemukan, maka Pemerintah
Indonesia mengirim seorang jenderal, bukan seorang
arkeolog!
Lho? Kenapa militer yang dikirim?
Sabar� cerita saya teruskan. Ketika semua arkeolog
dari semua penjuru dunia ini menyerah, dalam arti
tidak bisa menaksir kira-kira berapa umur si mumi,
maka berkatalah seseorang, "Saudaraku arkeolog Mesir,
kami sudah tak sanggup lagi untuk mengira-ngira umur
mumi yang baru itu, karena sulit! Padahal seluruh ilmu
arkeologi sudah kami tumpahkan, eksplorasi, eksperimen
sudah kami lakukan, tetapi gagal!" Begitu sahut
arkeolog terkemuka dari negara maju!
Tiba-tiba si Jenderal Indonesia menyahut, "Serahkan
kepada saya, beri saya waktu 15 menit!"
Si jenderal pun masuk ke gua tempat si mumi
tergeletak. Lima belas menit kemudian si jenderal pun
keluar dari gua dengan berseri-seri dan langsung
berkata, "Umur mumi itu 8.354 tahun, 4 hari, 2 jam,
dan 54 detik!"
Semua arkeolog mancanegara itu tercengang. "Wah
Jenderal, bagaimana caranya Anda kok bisa tahu umur
mumi itu sampai detail begitu. Padahal kami arkeolog
yang pakar saja sudah sulit menaksirnya! Apa yang
Jenderal lakukan?"
"Ah mudah saja, saya pukuli saja si mumi tadi sampai
dia mengaku umurnya, begitu saja!" sahut si Jenderal
dengan tenang.
KEKERASAN-menurut militer-perlu dilakukan sebagai cara
yang teruji efektivitasnya. Mungkin benar pada saat
tertentu kekerasan itu perlu. Misalnya, saat negara
kita diserang penyerbu, masak kita tidak angkat
senjata untuk memerangi para penyerbu tadi. Tetapi,
cara si jenderal kepada si mumi tadi bukanlah
kekerasan, itu kebiadaban! Itu kita tidak perlu!
Bagaimanapun manusia itu tidak sama. Seandainya
represif itu efektif membuat manusia menjadi linier,
tetapi untuk seterusnya linierisasi akan membakar
fitrah manusia untuk jadi tidak sama. Itulah sebabnya
kebudayaan manusia mengenal yang namanya demokrasi.
Demokrasi mengejawantahkan apa itu pluralisasi, apa
itu perbedaan, bahkan apa itu persaingan, begitu kata
sang ahli.
Bahkan, dalam karya klasik Dilemmas of Pluralist
Democracy (1982), teoritisi politik Robert Dahl
mengatakan bahwa kehidupan demokrasi pada seluruh
masyarakat yang plural akan selalu menghadapi enam
dilema. Keenam dilema itu adalah hak versus kebutuhan
umum, masyarakat "terbuka" versus masyarakat
"tertutup", individu versus kolektif, sentralisasi
versus desentralisasi, konsentrasi versus ketersebaran
sumber daya politik dan kekuasaan, dan terakhir
tentunya persamaan versus perbedaan!
Semua dilema dan pilihan di atas memiliki argumentasi
ideologis dan pembenaran masing-masing. Dalam
menyikapi dilema tadi, ada yang bergaya menyiram air
dingin dengan mengutamakan harmoni dan stabilitas,
tetapi tidak sedikit yang lebih percaya bahwa
pencerahan itu datang dari dinamika dan manajemen
konflik.
Sebenarnya persaingan, perbedaan sikap, dan pilihan
politik itu menjadi sesuatu yang niscaya dalam
demokrasi. Bukankah demokrasi itu sesungguhnya tidak
lebih dari upaya-upaya sistemik untuk mengelola
perbedaan, persaingan, dan konflik antargolongan
politik untuk menjadi konsensus bersama? Sebenarnya
perbedaan itu sebuah energi untuk menggerakkan
perubahan!
OKE, taruhlah kita setuju pada pernyataan di atas,
terus apa? Paling tidak kita harus akui eksistensi
masyarakat (sekecil apa pun) yang masih sangat skeptis
terhadap pilpres dan pilwapres, kendati sudah ada
suasana demokratisasi yang terasa.
Mungkin orang-orang seperti saya, Fajroel, dan
beberapa teman lain yang pernah mengalami siksaan
fisik di penjara Orba, bahkan sampai tiga kali masuk
penjara, bisa diabaikan tingkat skeptisnya. Kenapa?
Karena trauma anak umur sembilan belas tahun (itu umur
kami ketika pertama kali ditangkap) ketika setiap pagi
harus terlentang dan dikencingi petugas, tentu membuat
pemikirannya menjadi penuh "dendam", dan kehilangan
kejernihan objektivitasnya, bahkan semuanya serba
subjektif! Itulah sebabnya sebagian orang menganggap
kami ini nyinyir dan norak dalam menyikapi pilpres dan
pilwapres, itu bisa dimengerti. Makanya sikap skeptis
kami (yang subjektif) bisalah diabaikan!
Hanya saja jika anak-anak muda sekarang pun-tanpa
diadvokasi-sudah punya sikap skeptis yang cukupan
tinggi terhadap birokrasi, ini tak bisa diabaikan!!
Apa jadinya kalau anak umur tujuh belasan sudah punya
rasa tidak percaya pada pemimpinnya (yang notabene
generasi di atasnya).
Awas presiden terpilih nanti! Jika Anda terpilih dan
tetap bohong seperti yang sebelumnya, tetap korup,
tetap represif, tetap munafik, maka akan makin
menjauhlah anak-anak muda ini dari pemimpinnya. Apa
pun kata pemimpin tak akan mereka percayai, apa pun
kata guru itu semua dianggap bohong, apa pun kata
hukum itu dianggap pengekangan! Revolusi itu pilihan!
Wah, lalu siapa yang salah?!
Paling tidak ada satu kesalahan kita, yaitu
membudayakan kalimat bola itu bundar! Sesuatu yang
tidak terprediksi (misalnya Yunani menjadi juara Euro)
selalu kita sebut karena bola itu bundar.
Mungkin itulah sebabnya gedung Kejaksaan Agung bundar,
karena sulit diprediksi. Gedung MPR-DPR pun bundar
dengan alasan yang sama! Bahkan mungkin interior
gedung Mahkamah Agung juga bundar!
Namun, kalau toh saya berbadan bundar, bukan karena
saya sulit diprediksi. Bundar saya karena banyak
makan, apalagi akhir-akhir ini saya banyak mengonsumsi
gula selundupan, tambahlah saya bundar!
Ibu: "Bundar topi saya, lonjong hasilnya!" (kacian
deh� lo!)
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/