yang menarik dari sini adalah tentang penggunaan IT,  mengapa KPU begitu
percaya
terhadap IT sebagai product technologi, padahal technologi hanyalah sebagai
alat bantu
manusia untuk menyelesaikan masalahnya.   sungguh aneh juga  bila negara
sebesar indonesia
tidak memahami bahwa pengoperation technology tinggi tetap ditentukan oleh
manusia
tentang keakuratannya.

mengapa kpu tidak curiga tentang adanya penyimpangan padahal pemegang
technology tinggi
yang sekredibel apa pun tentu tidak akan lepas dari kesalahan.  moralitas
tidak tergantung
pada technology tetapi pada manusia, jadi   benar-benar aneh kalau kpu
begitu percaya
terhadap perhitungan menggunakan IT.

tapi yang lebih aneh adalah kecurigaan tentang kiprah ilmuwan yang dapat
menaksir tentang
trend pilpres yang keakuratannya dapat terbukti kebenarannya,  dimanakah
kesalahan moral
dari ilmuwan tersebut yang membuat pak kwik kebakaran jenggot ?  ataukah
kwik takut  bila
"kecurangan" mereka terungkap oleh para ilmuwan yang moralitasnya dapat
diandalkan ?

salam
Yustam







Menanggapi tulisan R. William Liddle di Harian Kompas (14 juli 2004),
tentang SBY yang seharusnya kecewa dan prihatin dengan menurunnya
dukungan rakyat Indonesia terhadapnya, menimbulkan banyak pertanyaan
bagi penulis. Dari semua hipotesa yang beliau kemukakan, hipotesa
pertama tentang tidak setianya rakyat Indonesia pada pemimpin
politiknya semakin menambah kebingungan penulis.

Benarkah rakyat Indonesia bukan tipe yang setia? Bukannya selama ini
para pemimpin-lah yang tak pernah setia pada rakyatnya? Jika perlu
pembuktian, pertimbangkan bagaimana sejarah selama ini menempatkan
rakyat Indonesia sebagai obyek penderita. Sukarno, sudah berusaha
memihak rakyatnya ketika PKI menjadi partai terbesar dan menguasai
parlemen. Ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan PKI,
Sukarno mengabaikannya, dan berakibat fatal pada kekuasannya.
Soeharto, yang `mengemban' amanat untuk menyingkirkan PKI, kemudian
juga lupa pada siapa pengabdiannya harus dialamatkan. Bahkan lebih
buruk lagi, Soeharto dengan `tangan dingin' menyelesaikan perkara PKI
tanpa belas kasihan dan rasa kemanusiaan. Dan seterusnya.

Hingga saat ini, rasanya belum satupun pemimpin besar yang patut
mendapat kepercayaan rakyat sedemikian besarnya, sehingga perlu
dibela dengan darah atau air mata. Meskipun demikian, bisa dilihat
bahwa rakyat Indonesia tetap cinta bangsanya. Yang mereka inginkan
adalah keberpihakan, cara pandang yang meletakkan kepentingan rakyat
banyak sebagai dasar dari segala pengambilan kebijakan.

* * *

Tak ada satupun yang bisa membuktikan bagaimana keterlibatan
kepentingan AS yang dituduhkan baru-baru ini dalam pelaksanaan Pemilu
Presiden/Wakil Presiden 2004. Berbagai tanggapan sudah dikemukakan,
tak kurang Ketua KPU sendiri menyatakan, meskipun bantuan terbesar
datang dari negeri Paman Sam itu, tapi mereka menolak
setiap `titipan' yang tidak sesuai dengan peraturan atau perundang-
undangan yang berlaku di tanah air. Demikian pula tuduhan yang
kemudian berbelok kepada para LSM, yang nota bene bergantung dari
bantuan donatur luar negeri untuk melangsungkan kegiatannya. Todung
Mulya Lubis sendiri menyatakan, perdebatan mengenai konspirasi-
konspirasi semacam ini sudah basi, dan tak perlu lagi panjang-panjang
diperdebatkan.

Terlepas dari benar tidaknya tuduhan konspirasi semacam itu,
kenyataan di lapangan menunjukkan adanya banyak kejanggalan dalam
wacana pertarungan calon presiden dalam pemilu kali ini. Beberapa
kasus mencuat, dan menjadi wacana hingga sekarang. Mulai dari
ketidakpercayaan publik terhadap penggunan teknologi IT dalam
penghitungan suara di KPU, kasus tinta berkualitas rendah, kasus
coblos tembus yang tidak diantisipasi jauh hari sebelum pelaksanaan
pencoblosan, kasus Pesantren Zaytun, dan masih banyak kasus lain yang
mungkin tidak terekspos di media massa.

Dari semua kasus yang terjadi, semuanya bukan berasal dari kesalahan
rakyat, tetapi justru dari kesalahan pemimpin-pemimpinnya yang tidak
jeli pada kondisi lapangan. Jika kemudian tuduhannya adalah
ketidaksetiaan rakyat pada pemimpin, mungkin pemilu kemarin tidak
akan menghasilkan apa-apa. Bayangkan saja bagaimana repotnya para
petugas KPPS di lapangan yang harus menjadi `bemper' ketidakjelian
orang-orang KPU. Mereka tidak dibayar sebanyak orang-orang KPU,
tetapi dedikasi mereka bisa dikatakan tidak lebih rendah dari apa
yang ditunjukkan KPU selama ini.

Bukan berarti pembelaan yang membabi buta, jika penulis menuduh bahwa
pernyataan yang ditulis Liddle itu tidak pada tempatnya. Kalau Liddle
menyatakan bahwa SBY layaknya kecewa pada kesetiaan rakyat padanya,
maka penulis akan menyatakan betapa kecewanya rakyat selama ini
karena dipimpin oleh orang-orang yang mementingkan dirinya dan
kelompoknya saja.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa lobby-lobby antar partai selama ini
tak lebih dari sekedar politik dagang sapi. Percaturan politik
tingkat tinggi sungguh sulit dimengerti oleh rakyat jelata. Bagaimana
Gus Dur yang pernah mengeluarkan dekrit `basi' tentang pembubaran
Golkar, kini terang-terangan mendukung Wiranto, capres pilihan
Golkar. Sungguh di luar pemikiran awam, ketika Amien Rais mendorong-
dorong Gus Dur menjadi presiden, lalu tidak berbuat apa-apa ketika
Gus Dur dijatuhkan begitu saja.

* * *

Melihat perolehan Golkar di masa pemilu 1999, menunjukkan betapa
sebagian besar rakyat sangat setia pada pilihannya, terlepas dari
rasional atau tidak pilihan itu. Apalagi dengan kemenangan Golkar di
Pemilu legislatif 2004 yang lalu, penulis kira itulah bukti nyata
kesetiaan rakyat pada pilihannya. Kemenangan sesaat PDIP ternyata
tidak berbuah kepercayaan dan kesetiaan rakyat, karena mungkin PDIP
tidak mampu membuktikan keberpihakannya pada rakyat. Meskipun tidak
sepenuhnya berpaling, tetapi PDIP harus siap mengoreksi diri, apakah
selama ini sudah menjawab kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya.

Kekalahan Wiranto pada perolehan suara sementara ini, menunjukkan
bahwa ia tidak sepenuhnya merepresentasikan aspirasi simpatisan
Golkar. Partai Golkar tidak sama dengan Wiranto. Kesetiaan pada
Golkar adalah kesetiaan pada masa lalu, dan Wiranto tampaknya tidak
termasuk pada frame masa lalu itu. Di masa lalu Wiranto adalah TNI,
dan meskipun TNI punya kedekatan dengan Golkar, menurut rakyat
tampaknya Wiranto tidak berkaitan langsung dengan Golkar.

Fluktuasi dukungan terhadap SBY berdasarkan hasil survey, yang nota
bene dilakukan sebagian besar di perkotaan, menunjukkan bahwa
sebenarnya rakyat Indonesia membutuhkan tokoh baru yang berpihak pada
mereka, memiliki cara pandang baru, dan yang agaknya penting adalah
orang yang `senasib dan sepenanggungan' dengan mereka.
Fenomena `tertindas' yang melekat pada tokoh-tokoh dukungan rakyat
bisa menjelaskan hal ini. Meskipun, pada kasus Partai Keadilan
Sejahtera (PKS), hal ini tidak berlaku.

Ketika kemudian dukungan kepada SBY kecenderungannya semakin menurun
dalam survey, menurut penulis ini adalah bentuk keraguan rakyat
setelah melihat secara langsung penampilan SBY. Keraguan ini muncul
dimungkinkan karena kepopuleran SBY tidak berbanding lurus dengan
kenyataan di lapangan. Rakyat semakin pintar mencermati pilihannya,
meskipun tidak sedikit yang semakin bingung. Perolehan suara SBY saat
ini, yang diduga beberapa pengamat mencerminkan kepopulerannya, pada
putaran kedua nanti akan semakin berat, karena Mega dengan posisinya
sekarang sebagai presiden bisa lebih mudah mendongkrak kepopulerannya.

Yang agak mengejutkan adalah, kenapa Liddle masih 'terkejut' dengan
kondisi menurunnya dukungan rakyat terhadap SBY? Selama SBY tidak
menunjukkan keberpihakannya pada rakyat secara nyata, maka
kepopulerannya selama ini akan memberinya harapan semu. Rakyat
semakin cerdas, tidak bisa dibohongi lagi dengan iklan-iklan, atau
janji-janji semata.

Bdg, juli 2004












------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke