Dari Buku Notes Seorang Yang Kalah
Oleh Goenawan Mohamad
Di kotak suara saya pilih Amien Rais dan Siswono.
Saya tahu akan sulit sekali mereka akan menang.
Ada yang bertanya: kenapa?
Jawab saya: Karena saya tahu mereka berdua tak pernah
hidup dari uang sogok, dan karena mereka peka terhadap
keadaan orang miskin.
Tanya: Tidakkah yang lain begitu juga?
Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu.
Beberapa teman mencela Amien dan Siswono dan mencoba
menunjukkan bahwa pilihan saya salah. Baiklah. Tapi
bukankah memilih dalam sebuah pemilu mengandung asumsi
bahwa kita memang bisa salah? Bukankah itu sebabnya
secara periodik kita menilai kembali tepatkah pilihan
kita sendiri?
Pemilu adalah sebuah kombinasi antara harapan dan
ironi. Ada harapan untuk memperoleh seorang pemimpin
yang terbaik, tapi harapan itu sendiri diam-diam
sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam pemilu
orang yang memberikan suara adalah orang yang siap
kecewa dan orang yang dipilih adalah orang yang siap
dibatasi. Demokrasi yakin manusia bisa berbuat baik,
tapi tahu ada cacat dalam dirinya.
Tanya: Anda memaklumkan diri berpihak kepada salah
satu calon. Di mana independensi anda sebagai seorang
budayawan? Apa gunanya?
Jawab (setelah menjelaskan bahwa saya tak paham apa
itu arti 'budayawan'): Pertama, independensi habis
jika tindakan saya diatur orang lain. Dalam memilih
Amin-Siswono, saya tak dikendalikan oleh kekuatan
manapun. Kedua, independensi hilang kalau saya teken
kontrak akan mendukung seseorang atau sesuatu sampai
mati. Ketiga, lebih baik menentukan sikap secara
terbuka, hingga orang tahu 'bias' saya dalam
mengemukakan pendapat. Keempat, dalam masa ketika
lembaga demokrasi masih harus dikukuhkan, saya ingin
aktif menyatakan, bahwa memilih dan memihak itu bukan
sesuatu yang nista dan kotor. 'Budayawan,' apapun
artinya kata yang aneh itu, bukanlah brahmana.
Tapi memang, pada setiap pemihakan ada tesirat
kehilangan. Setiap pemihakan adalah bagian dari apa
yang dalam kata-kata Reinhold Niebuhr sebagai 'tugas
murung politik'. Sebab ada yang tersingkir di sana,
yakni kebersamaan yang inklusif.
Masalahnya kemudian adalah bagaimana mengatur
pemihakan itu Ada tantangan tempat dan waktu. Memihak
tak berarti memihak dengan sikap yang tertutup dan
statis.
Saya kira itulah yang terjadi pada pemilihan 2004.
Berjuta orang menunjukkan pemihakan yang terbuka dan
dinamis. Mereka independen. Mereka mencoblos partai X
dalam pemilihan April, tapi tak selamanya mengikuti
partai itu dalam hal memilih calon presiden.
'Orde Baru' hendak membuat rakyat sebagai 'massa yang
mengambang,' yang tak terpaku pada satu partai karena
ikatan 'primordial' - dan untuk itu kebebasan rakyat
untuk berpolitik dihilangkan. Di tahun 2004 rakyat
Indonesia membuktikan diri sebagai 'massa yang
mengambang' justru karena bebas berpolitik. Semakin
deras hasil hitungan suara, semakin tampak Amien Rais
dan Siswono tak akan mendapatkan kans untuk masuk ke
putaran kedua. Saya sedih.
Beberapa orang di Tim Sukses mengubah rasa kecewa jadi
marah, dan berbicara soal 'kecurangan'. Mereka
menunjuk: Lihat, Bung, KPU kalang kabut!
Saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Tapi KPU memang
bukan tauladan manajemen yang baik. Setahu saya tak
seorang di antara para anggotanya berpengalaman
mengelola sebuah organisasi yang kompleks yang
dituntut untuk menyusun satu jaringan perencanaan,
guna menghasilkan berbagai 'produk' sekaligus.
Tak akan mengejutkan bila nanti ditemukan sesuatu yang
tak beres di sana. Setidaknya dalam penghitungan
suara, KPU adalah salah satu contoh yang sering
terjadi di Indonesia: 'salah-urus'. Seandainya KPU
diisi seorang mantan eksekutif bidang industri, atau
mantan pemimpin proyek pembangunan, atau mantan kepala
staf angkatan bersenjata - dan bukan hanya dosen dan
aktivis yang umumnya dahsyat dalam semangat tapi
lembek dalam organisasi kerja -hasilnya pasti akan
lain.
Untunglah, masih ada tenaga di masyarakat yang
mengoreksi apa yang kacau balau. Seorang teman
bercerita bahwa panitia setempat-lah yang ambil
inisiatif mengatur hal yang diabaikan KPU. Misalnya
ada panitia setempat dengan cepat memutuskan, sebelum
KPU tergopoh mengoreksi, bahwa kertas suara yang
tembus dicoblos adalah kertas suara yang sah.
Rakyat, (artinya kita), bisa salah. Tapi ada saat-saat
ketika dari kancah interaksi dengan orang lain tumbuh
kearifan.
Beda antara panitia lokal dan KPU terletak dalam
interaksi itu. Dari awal sampai akhir, panitia lokal,
para saksi dan para tetangga di sekitar TPS berangkat
dengan menyadari adanya kepentingan yang berbeda.
Bahkan perbedaan kepentingan adalah alasan dasarnya.
Maka ada usaha keras untuk saling mengontrol, agar
cara kerja terbuka dan tak berat sebelah. Juga ada
usaha untuk tak membuat bentrok dan keruwetan,
terutama karena mereka umumnya hidup berdekatan.
Sebaliknya, KPU tak bertolak dari asumsi perbedaan
kepentingan itu dalam dirinya. Saya tak tahu bagaimana
lembaga ini mengontrol cara kerjanya sendiri. Yang
saya tahu: orang bisa menunjuk dengan mudah, 'Lihat,
Bung, KPU kalang kabut!'
Aneh juga saya sedih bahwa Amien-Siswono kalah
walaupun sejak mula saya tak tinggi berharap. Mungkin
karena dalam tiap kekalahan ada yang disalahkan.
Tapi apa arti kalah, sebenarnya? Ada kalah yang tak
perlu membuat diri malu, terutama bila kita tahu siapa
yang menang. Dan jika ada yang sudah menang dalam
pemilihan ini tampaknya itu bukan partai, bukan tokoh.
'Yang menang demokrasi,' jawab seorang perempuan muda
di Yogya ketika wartawan BBC bertanya. Seandainya
diucapkan dalam pidato seorang aktivis, kalimat itu
akan terasa klise. Tapi dari mulut seorang yang tak
biasa bicara politik, ia membawa gema yang panjang,
setidaknya di hati saya.
Mungkin karena ia benar.
Pada suatu hari saya dengar seorang ibu rumah tangga
berkata kepada temannya, 'Sekarang enak, kita bebas
ngomong'.
Ia seorang warga keturunan Cina yang, seperti hampir
semua keturunan Cina, di masa 'Orde Baru' dipandang
dengan curiga bila ikut serta bicara, apalagi aktif,
dalam politik. Kini perempuan itu, juga para
tetangganya, ikut bergiat, bergairah, dan merasakan
diri sebagai anggota dari negeri tempat mereka lahir
dan menutup mata.
Ada keberanian lain. Hampir tak ada sopir taksi,
pelayan restoran, tukang pijit, tukang batu, buruh
pabrik, yang ragu menyatakan calon pilihan mereka atau
partai yang mereka anut. Dengan cepat itu mereka
utarakan, tanpa gentar akan kehilangan kerja atau
pelanggan, tanpa rikuh untuk berbeda pilihan dengan si
penanya..
Agaknya mereka sadar, bahwa dari merekalah datangnya
suara. Mereka tahu, di kotak di TPS itu, tiap kepala
adalah sebuah angka yang penting. Bu Iyah, tukang
pijit itu, akan dihitung sama dengan penghuni rumah di
ujung sana, Pak Fauzi Bowo, seorang wakil gubernur.
Tentu, teori tentang demokrasi sudah banyak bicara
tentang ini. Tapi kini yang saya saksikan bukan teori.
Yang saya saksikan adalah orang-orang di lapis bawah
yang (setidaknya untuk beberapa hari), merasa punya
kekuatan buat bicara 'ya' atau 'tidak' kepada orang
yang mengetuk hati mereka, meminta mandat dari mereka.
Ini setidaknya berlaku di tahun 2004. Saya tak tahu
bagaimana kelak. Kini ada semacam campur-aduk yang
asyik, ketika kekuatan ekonomi, politik dan media
masih belum dikonsentrasikan di satu dua tangan,
bahkan belum menunjukkan satu dua pola yang begitu
berkuasa. Jika kelak keadaan jadi seperti itu,
demokrasi pun akan kalah, hanya tinggal bentuk.
Pemilihan presiden 2004 adalah sebuah gabungan yang
masih memikat � gabungan antusiasme sebuah demokrasi
baru dan sikap skeptis sebuah demokrasi yang mulai
kecewa. Konon sekitar 80% dari pemilih yang terdaftar
datang mencoblos. Tapi ada yang mengatakan, jumlah
'golput' bertambah. Bagi saya kedua tendensi itu
sama-sama menggembirakan.
Sebab ada empat jenis 'golput'. Ada 'golput keruh',
yang tak pergi ke TPS karena bingung, kekurangan
informasi. Ada 'golput jenuh', yang tak mau lagi
memikirkan politik, karena sudah puas dengan keadaan
atau juga sebaliknya, karena putus asa. Ada 'golput
angkuh', yang merasa diri begitu suci dan luhur hingga
harus berada di atas semua pihak. Tapi ada 'golput'
yang merupakan isyarat yang penting dan berguna bagi
para politisi: sebagai sebuah aksi politik, sebuah
protes terhadap penyelenggaraan pemilu dan perilaku
para politisi.
Ini sebuah suara yang menuntut perbaikan. Ini 'golput
ampuh'.
Sebagai seorang yang kalah, saya ingin menghibur diri:
ternyata ada kemenangan lain dalam pemilihan presiden
ini, setidaknya pada putaran pertama. Yang juga menang
adalah sebuah komunitas yang bernama 'Indonesia'.
Jika kita baca angka, ternyata orang memilih seorang
calon bukan karena suku dan asal usulnya. Sampai 6
Juli malam, pasangan SBY-Kalla, (asal Jawa dan asal
Sulawesi Selatan), menang di 16 propinsi. Tak ada
pekik 'Hidup putra daerah!'.
Dan yang pasti tak ada ukuran jender: Megawati,
satu-satunya perempuan dalam persaingan ini, masih
didukung luas. Dan sementara kehidupan agama Islam
tetap marak, di negeri Muslim terbesar di Dunia ini
orang bisa mengatakan, 'Islam' tak memeluk lututnya
sendiri. Maka haruskah saya terus murung? Saya
pandangi gambar para pemilih 2004. Tiba-tiba saya
tergerak setengah menirukan sajak Sapardi Djoko
Damono, berbisik 'Biarkan aku banggakan kau, bangsaku,
dengan cara yang sederhana'.
Jakarta, 8 Juli 2004.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/