CATATAN SEORANG KLAYABAN:

MEMBACA SEJARAH

Untuk ke sekian kalinya, saya diundang makan malam oleh Denys Lombard, direktur tesis 
saya di l'Ecole des Hautes Etudes en Sicences Sociales [l'EHESS], Paris, salah seorang 
Indonesianis terkemuka dan sejarawan Perancis, putera Lombard , islamolog terkenal 
Perancis. Kedua-duanya sudah almarhum. Lombard dan isterinya Claudine Salmon yang 
sinolog dan juga Indonesianis, memasak masakan Perancis. Seorang guru memasak dan 
menjamu muridnya. Hal ini bisa dianggap istimewa jika dilihat dari segi hubungan 
klasik antara guru dan murid, antara profesor dan mahasiswa. Tapi bagi kami, hal 
begini sudah biasa, karena kami memang sering undang-mengundang makan di apartemen 
masing-masing. Undang-mengundang yang kami lakukan terutama sebagai sahabat dekat. Di 
Perancis, apabila sudah mengundang seseorang makan ke rumah, menandakan hubungan itu 
sudah dekat. Karena secara umum masyarakat Perancis hidup dalam lingkaran-lingkaran 
kecil. Untuk mengenal masyarakat Perancis lebih jauh,kita perlu memasuki 
lingkaran-lingkaran kecil ini sebagai kunci pembuka pengenalan. Media cetak, tivi dan 
radio dan buku-buku tidak cukup untuk mengenal sebuah masyarakat secara jauh. 
Kedekataan saya dengan Lombard dan Claudine bermula oleh adanya teman bersama kami 
yang pernah menjadi Konsul Kebudayaan Perancis di Singapura dan kemudian perwakilan 
Harian Le Monde di Beijing dan Washington. Barangkali usaha Denys [sebagaimana 
teman-teman dekat memanggilnya] ketika ke Australia, beliau singgah di Monash 
University Melbourne dan mencarikan saya beasiswa, bisa menjadi ilustrasi tentang  
hubungan kami. Demikian juga pengindonesiaan beberapa artikelnya yang ia percayakan 
kepada saya sehingga ketika diterbitkan di Indonesia karya-karya itu sudah keluar 
dalam bahasa Indonesia. 

Cerita ini hanyalah sekedar kenangan seorang sahabat kepada sahabat dan sekaligus 
kenangan terimakasih atas persahabatan beliau. Sedangkan soal pokok yang ingin saya 
kemukakan adalah masalah membaca sejarah yang sering ditekan-tekankan oleh Lombard.

Yang saya maksudkan dengan membaca sejarah, tentu saja sejarah obyektif dan bukan 
sejarah politis, sejarah yang ditulis untuk mengabdi kepentingan politik pada suatu 
ketika dengan mengabaikan obyektivitas.Sekalipun sejarah politis tetap perlu dibaca 
karena sejarah demikian akan selalu ada dan patut diperhatikan sebagai bahan acuan 
dalam usaha menggapai obyektivitas. Karena unsur obyektivitas menempati tempat 
sekunder atau di bawah pada sejarah politis, maka sejarah jenis ini, saya sebutkan 
sebagai sejarah subyektif. Memoire [Kenang-kenangan] merupakan bahan perlu untuk 
mencari obyektivitas. Bahan-bahan yang disajikan dalam Memoire dan atau sejarah 
subyektif bisa dijadikan bandingan dalam membaca bahan-bahan lain. Paling tidak ia 
bisa merangsang tumbuhnya serangkaian pertanyaan. Bertimbunnya materi sejarah 
subyektif di kehidupan kita, yang warnanya ditentukan oleh kekuasaan dominan pada 
suatu ketika, menyebabkan sejarah menjadi ajang pertarungan berbagai kepentingan. 
Obyektivitaslah barangkali merupakan jalan keluar yang adil dan memanusiawikan. Kalau 
sekarang ada yang bicara tentang "meluruskan sejarah" pada hakekatnya ia menunjukkan 
betapa sejarah sedang didominasi oleh subyektivisme dan kepentingan kekuasaan politik 
yang tak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi, walaupun tulisan-tulisan sejarah 
demikian tidak kurang dari deretan angka catatan kaki. Jadi deretan catatan kaki tidak 
serta-merta menunjukkan bahwa karya itu menjadi ilmiah. Apalagi jika pengertian ilmiah 
itu tidak bisa dipisahkan dari obyektivitas. "Meluruskan sejarah" artinya sejarah yang 
kita tulis sekarang jauh dari obyektivitas.


Karena kita dikitari oleh timbunan bahan-bahan subyektif maka bertanya sebagai ujud 
dari sikap kritis sangat diperlukan ketika membaca.Sikap kritis memerlukan sikap 
terbuka dan kemampuan membanding. Terbuka: jujur pada diri sendiri, menyisihkan 
prasangka, mampu mengatakan sesuatu yang hitam sebagai hitam, yang putih sebagai 
putih, sanggup mengkoreksi kekeliruan.  Tentu saja obyektivitas yang saya maksudkan 
tidaklah bersifat mutlak tetapi relatif, karena kiranya akan sangat sulit memperoleh 
obyektivitas yang mutlak sekalipun kita memulai bacaan dan penelitian kita dari niat 
mencari serta memburunya.Walaupun kemutlakan itu tidak bisa dicapai, tapi dengan 
berawal dari niat memperoleh dan memburunya, kita menajam mata ketika membaca. 
Penajaman mata ini memungkin pula kita menangkap makna. Sering terjadi bahwa kita 
memang bisa membaca tapi tidak bisa menangkap makna dipahami karena rabun oleh 
prasangka dan fanatisme. Pembacaan begini membuat kita seperti ikan yang tanpa pikir 
lagi menelan umpan dari pancing diulurkan. Padahal tingkat kemampuan membaca itu 
ditakar oleh kemampuan menangkap makna dan kedekatan pada obyektivitas. Oleh Perlunya 
obyektivitas dalam menulis sejarah ini maka ada yang berpendapat "sejarah tidak perlu 
dilurus-luruskan". Dari kenyataan ini nampak bahwa  baik membaca atau pun menulis 
sejarah diperlukan obyektivitas. Barangkali yang diperlukan juga dalam membaca adalah 
penguasaan terhadap bahasa dan juga kecermatan membaca. Untuk menangkap makna yang 
dibaca diperlukan kecermatan, tidak dilakukan sambil lalu dan asal-asalan. Sambil lalu 
dan asal-asalan bisa mengaburkan makna dan kalau berdialog gampang bisa terjadi 
kesimpang-siuran. Yang satu ke utara yang lain ke selatan. Yang satu berbicara tentang 
A ,yang lain berbicara tentang B sambil melakukan hujatan tanpa menentu arah. Tapi ini 
memperlihatkan suatu tingkat kita sebagai orang dan pembaca. 

Bagaimana sikap kita? Kita anak bangsa dan negeri ini dalam membaca, khususnya membaca 
dan menulis sejarah? [Di sini saya tidak mengangkat masalah minat baca yang sering 
dikeluhkan dan buku-buku serta kualitas isi buku yang tersedia!]

Tentu saja saya bisa mengambil sangat banyak contoh, bahkan melalui berbagai milis pun 
sangat banyak contoh hidup. Salah satu adalah cuplikan tulisan berikut yang ketika 
mengomentar artikel R. William Liddle, mengatakan:

"Sukarno, sudah berusaha memihak rakyatnya ketika PKI menjadi partai terbesar dan 
menguasai parlemen" [milis [EMAIL PROTECTED], 14 Juli 2004].


Saya bertanya: Apakah benar, dalam artian sesuai kenyataan bahwa PKI pada zaman 
Pemerintahan Soekarno menguasai parlemen? Jika benar demikian, mengapa D.N.Aidit dan 
Nyoto hanya jadi "menteri pupuk bawang" jika menggunakan istilah D.N.Aidit sendiri? 
Jika benar, mengapa di DPRD Klaten, sekalipun PKI memenangkan pemilu di semua 
kecamatan,kecuali di satu kecamatan dimenangkan oleh PNI, jumlah anggota DPR Daerah di 
kabupaten tersebut [pada masa Soekarno] tetap tidak mayoritas? Bagaimana menjelaskan 
keterangan Prof. Utrecht alm. bahwa pada tahun 1960-an, tentara sudah menguasai 60% 
kekuasaan? 

Tentang "partai terbesar". Apa yang dimaksudkan dalam jumlah anggota atau pengaruh 
politik? Bisakah misalnya penulis mempertanggungjawabkan keterangannya dengan 
perbandingan angka? Kalau tidak, apakah ini bukan ujud dari subyektivisme dan kurang 
cermat membaca atau membaca secara sambil lalu sehingga jangankan makna, data pun 
tidak tertangkap olehnya? Penulis artikel yang sama juga menulis:

"Ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan PKI, Sukarno mengabaikannya, dan 
berakibat fatal pada kekuasannya. Soeharto, yang 'mengemban' amanat untuk 
menyingkirkan PKI, kemudian juga lupa pada siapa pengabdiannya harus dialamatkan".

Kalimat ini juga memperlihatkan kekurangcermatan berbahasa [barangkali] dan juga 
kekurangcermatan membaca sejarah. 

Bahasa adalah ungkapan pikiran dan perasaan. Jika demikian benarkah jalan pikiran 
[logika] "ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan Soekarno mengabaikannya, 
dan berakibat fatal pada kekuasaannya". Artinya "akibat fatal" alias kejatuhan 
Soekarno oleh "ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan PKI, Soekarno 
mengabaikannya". "Sebagian" itu seberapa banyak, apakah asal ada keinginan lalu 
dituruti dan jika tidak dituruti lalu akan berakibat fatal? Benar inikah sebab 
kejatuhan Soekarno? Tidakkah ada sebab lainnya? Terlalu sederhana jika benar demikian? 
Dan apakah sesuai dengan kenyataan sejarah? Di mana peranan Angkatan Darat dan faktor 
luar? Tidak adakah? Padahal dokumen-dokumen yang beredar menunjukkan ada dan besar 
kalau bukan menentukan.Sedangkan kalimat "Soeharto, yang 'mengembang' amanat untuk 
menyingkirkan PKI, kemudian juga lupa pada siapa pengabdiannya harus 
dialamatkan".Apakah benar "menyingkirkan PKI" itu "amanat" dan "amanat" dari siapa? 
Dari yang "sebagian" itukah?  "Sebagian" yang tidak dirinci itu? Dari kalimat ini 
sekali lagi saya melihat ketidakcermatan membaca sejarah dan dokumen-dokumen sejarah 
yang tersedia sehingga akibatnya muncul pernyataan-pernyataan yang jauh dari 
obyektivitas. 

Yang menonjol dari dari dua kalimat di atas terutama semangat anti PKI. Dan ini adalah 
hak si penulis. Hanya yang saya persoalkan mengapa semangat anti PKI yang meluap-luap 
sampai membuatnya rabun dan kendor mengejar obyektivitas sehingga terjebak pada 
simplisisme? Sikap sejarah yang subyektif dan simplis lebih banyak menimbulkan 
malapetaka bagi kelayakan hidup manusiawi,berbangsa dan bermasyarakat. Kelirukah?


Paris, Juli 2004.
--------------- 
JJ.KUSNI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke