----- Original Message ----- 
From: [EMAIL PROTECTED] 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 16, 2004 3:46 AM
Subject: Re: [cari] CATATAN SEORANG KLAYABAN: MEMBACA SEJARAH


Kusni: Bagaimana sikap kita? Kita anak bangsa dan negeri ini dalam membaca, khususnya 
membaca dan menulis sejarah? â.. Tentu saja saya bisa mengambil sangat banyak 
contoh, bahkan melalui berbagai milis pun sangat banyak contoh hidup. Salah satu 
adalah cuplikan tulisan berikut yang ketika mengomentar artikel R. William Liddle, 
mengatakan: "Sukarno, sudah berusaha memihak rakyatnya ketika PKI menjadi partai 
terbesar dan menguasai parlemen" [milis [EMAIL PROTECTED], 14 Juli 2004].

Saya bertanya: Apakah benar, dalam artian sesuai kenyataan bahwa PKI pada zaman 
Pemerintahan Soekarno menguasai parlemen? Jika benar demikian, mengapa D.N.Aidit dan 
Nyoto hanya jadi "menteri pupuk bawang" jika menggunakan istilah D.N.Aidit sendiri? 
Jika benar, mengapa di DPRD Klaten, sekalipun PKI memenangkan pemilu di semua 
kecamatan,kecuali di satu kecamatan dimenangkan oleh PNI, jumlah anggota DPR Daerah di 
kabupaten tersebut [pada masa Soekarno] tetap tidak mayoritas? Bagaimana menjelaskan 
keterangan Prof. Utrecht alm. bahwa pada tahun 1960-an, tentara sudah menguasai 60% 
kekuasaan? 

Legowo: Anggapan PKI pada tahun 60-an itu âkuat,â bahkan bisa âmenguasai 
parlemen,â malahan BK dianggap âikut PKI,â dsb, itu cukup meluas. Barusan saya 
lihat lagi data anggota parlemen/DPR-GR s/d Juli 1960 dalam buku "Soekarno-Militer 
dalam Demokrasi Terpimpin," karangan Herbert Feith, Pustaka Sinar Harapan 1995 (hal 
57). Berapa anggota parlemen dari PKI? Cuma 30 orang dari total 283 orang.. Malahan 
anggota parlemen dari militer dan polisi lebih banyak, total 34 orang. 

Memang benar ada anggota parlemen / DPR-GR pada tahun 60-an itu yang mewakili buruh 
(26 orang), tani (25 orang), dsb. Tentu ada diantara mereka yang anggota ormas buruh 
dan tani yang berinduk pada PKI yaitu Sobsi dan BTI. Sebagian lagi berinduk pada PNI, 
Masyumi atau NU. Mereka wakil kaum buruh dan kaum tani. Bukan wakil PKI. 

Kusni: Tentang "partai terbesar". Apa yang dimaksudkan dalam jumlah anggota atau 
pengaruh politik? Bisakah misalnya penulis mempertanggungjawabkan keterangannya dengan 
perbandingan angka? Kalau tidak, apakah ini bukan ujud dari subyektivisme dan kurang 
cermat membaca atau membaca secara sambil lalu sehingga jangankan makna, data pun 
tidak tertangkap olehnya?

Legowo: Tentang ini juga banyak salah tafsir. Pada Pemilu Daerah 1957 PKI memang sudah 
jadi partai terbesar di Jawa. Sekali lagi, di Jawa. Bukan di Indonesia! Itupun pemilih 
PKI di Jawa hanya 30%. Seperti kita tahu penduduk Indonesia itu hanya 50% yang tinggal 
di Jawa. Separohnya lagi di luar Jawa. Parpol yang dalam Pemilu-55 pemilihnya cukup 
merata itu cuma Masyumi. Separoh pemilih Masyumi hidup di Jawa dan separohnya lagi di 
luar Jawa. Pemilih PKI itu 85% hidup di Jawa. 

Di luar Jawa, pemilih PKI sedikit sekali. Jadi seandainya Pemilu Daerah 1957 bisa 
diadakan di seluruh Indonesia, PKI TETAP BUKAN PARPOL TERBESAR. Tetap saja parpol yang 
terbesar itu PNI, dan kedua Masyumi. Mungkin PKI akan jadi parpol ketiga karena 
pemilihnya sudah lebih banyak dibandingkan NU, yang juga parpolnya masyarakat Jawa. Di 
bawah ini datanya.

HASIL PEMILU-55 DAN PEMILU DAERAH-57
4 Besar Di Jawa dan Sumsel:

PNI: P-55 (30,5%), PD-57 (24,8%)
Masyumi: P-55 (19,5%), PD-57 (19,0%)
NU: P-55 (25,7%), PD-57 (25,1%)
PKI: P-55 (24%), PD-57 (30,9%)

(Sumber: âThe transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1959,â 
Cornell Modern Indonesian Project, Monograph Series, hal.. 97. Buku ini disertasi 
Profesor Daniel Lev di Cornell, diterbitkan tahun 1966)

Pemilu Daerah-1957 hanya diadakan di Jawa, Sumsel dan Kalimantan. Tidak bisa diadakan 
di propinsi-propinsi lain karena sedang terjadi pergolakan PRRI/Permesta dan DI/TII. 
Yang menarik dari data perbandingan antara Pemilu-55 dan Pemilu Daerah-57 itu adalah 
bahwa semua parpol pemilihnya berkurang, kecuali PKI. Hasil Pemilu-Daerah-57 inilah 
yang menyebabkan elite parpol lain tidak mau ada pemilu lagi, yang seharusnya diadakan 
tahun 1960. Karena itu selama Jaman Bung Karno hanya ada dua pemilu: Pemilu-55 dan 
Pemilu Daerah-57.

Tapi seandainyapun pada tahun 1960 diadakan pemilu lagi, tidak mungkin PKI akan jadi 
partai terbesar di Indonesia. Tidak mungkin. PKI itu, seperti juga NU, akarnya di 
Jawa. Di luar Jawa pemilih kedua parpol itu kecil sekali.

Salah satu pelajaran paling penting bagi semua orang politik di Indonesia yang 
mengikuti politik tahun 50-an adalah: DI INDONESIA TIDAK ADA MAYORITAS. Para politisi, 
apapun ideologinya, harus mampu menggalang koalisi. Pelajaran ini muncul kembali dalam 
Pemilu-99 dan kemudian muncul kembali dalam Pemilu-04 yang baru lalu.

Kalau pengaruh politik PKI dalam masyarakat di Jawa bisa dilihat dari dinamika 
masyarakat selama PKI menjalankan Aksi Sepihak tahun 64. Ini aksi yang sudah ada 
landasan hukumnya, yaitu UU-Pokok Bagi Hasil keluaran tahun 1959 dan UU-Pokok Agraria 
keluaran 1960. Kedua UU itu adalah landasan untuk menjalankan Land Reform pada waktu 
itu. Kedua UU itu bukan produk PKI yang cuma punya 10% suara di DPR. Tapi produk 
parlemen waktu itu yang memang berpihak pada petani. 

Kita harus ingat bahwa penduduk Indonesia tahun 60-an itu 85% adalah petani dan buruh 
tani. Bagi petani dari nggak punya tanah jadi punya tanah itu kenaikan taraf hidup 
yang luar biasa. Bagi buruh tani, pembagian hasil bersih dari 1/2  menjadi 2/3 itu 
kenaikan pendapatan yang luar biasa. Karena itu Land Reform adalah program yang sangat 
populer. Bung Karno juga menganggap Land Reform itu penting sekali. 

UU-nya sudah ada tetapi setelah beberapa tahun tidak juga dijalankan, karena itu PKI 
mempelopori para petani untuk merebut tanah yang sebenarnya sudah jadi hak mereka. 
Perebutan tanah itu terjadi terutama di Jateng, Jatim dan Bali, di propinsi yang 
banyak pemilih PKI. Yang kemudian terjadi adalah PKI didesak mundur. Terlihat dengan 
30% pemilih pengaruh politik PKI tidak besar karena mayoritas tidak mendukung mereka.

Pengaruhnya dalam pemerintahan apa lagi. Sampai bulan April 1965 dari 79 menteri di 
kabinet PKI hanya dapat 3 kursi menteri tanpa departemen. Sedangkan ABRI waktu itu 
sudah menguasai 23 kementerian. Dalam pemerintahan daerah PKI juga tidak berhasil 
masuk. Dari 24 gubernur, 12 adalah perwira AD dan tidak satupun gubernur PKI (Audrey 
Kahin dan George Kahin, âSubversi sebagai politik luar negeri,â Grafiti 1997, 
h.292).

Catatan kecil ini sumbangan untuk memikirkan kembali sejarah tahun 50-an dan 60-an. 
Babakan sejarah ini memang jarang dipelajari kembali.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke