Catatan Seorang Klayaban: "RAKYAT SEBAGAI POROS!"
Kata-kata "Rakyat Sebagai Poros" yang saya jadikan judul "catatan" ini berasal dari Ngo Manh Lan, seorang ekonom Perancis asal Vietnam yang pernah bekerja pada UNITAR/PBB , ketika mengomentari perkembangan ekonomi negara-negara yang pada suatu ketika disebut sebagai "macan", "naga" dan "anak-anak macan/naga" Asia Tenggara. Ekonom-ekonom Perancis seperti Ngo Manh Lan, Ignacy Sachs, Samir Amin dan grupnya yang bermarkas di Louven, sama sekali tidak menyepakati pernilaian ini. "Cepat atau lambat" negara-negara "anak macan" ini akan ambruk karena perkembangan dan pertumbuhan ekonomi mereka adalah sesuatu yang semu. Ngo Manh Lan banyak menyebut karya James Clad, "Behind The Myth. Business Money & Power In Southeast Asia", sebagai acuan kesukaan. Jika kita memperhatikan keadaan Indonesia dewasa ini, maka barangkali pendapat Ngo Manh Lan memperoleh pembuktian. Di sini yang ingin saya bicarakan bukanlah masalah solid tidaknya teori negeri-negeri "macan" dan "anak macan/naga" yang pernah di Perancis dijadikan dasar pembenaran "diktatorialisme" , tapi inti ide "Rakyat Sebagai Poros" itu sendiri dihubungkan dengan pemilihan presiden Indonesia, terutama pada putaran kedua pada September 2004 nanti. Pertanyaan pokok saya adalah "Siapakah di antara calon-calon presiden Indonesia, yang dalam program pemilunya menjadikan 'Rakyat Sebagai Poros""? Keadilan sosial dan demokratisasi negeri tanpa menjadikan rakyat sebagai porosnya kiranya tidak lain dari demagogi. Saya berkesan bahwa dalam pemilu capres tahun sekarang, yang lebih diutamakanoleh para calon tidak lain daripada bagaimana bisa menang dan menjadi orang pertama di Republik Indonesia. Sedangkan masalah rakyat dan kepentingan rakyat berada pada tempat sekunder atau bahkan jauh di bawah. Bukan menjadi tema utama kampanye. Hal ini pun nampak dari manouvre front untuk meraih suara dan juga pengumuman kabinet imajiner yang merupakan bagian dari kerangka taktik meraih suara tapi sekaligus memperlihatkan wajah pilihan politik para calon, metode yang oleh antropolog Perancis, Marc-Aug� disebut "perang mimpi". Dari semua apa yang disodorkan kepada para pemilih oleh para calon, sangat tidak nampak bahwa masalah dan kepentingan rakyat ditempatkan pada titik pusat program dan kegiatan. Rakyat tidak dijadikan poros. Yang dijadikan poros adalah bagaimana menang. Program politik pun tidak nampak ditampilkan sebagai bahan perdebatan utama. Sehingga para pemilih diperlakukan sebagai orang-orang yang harus memilih "kucing dalam karung". Para pemilih digiring untuk jadi penjudi nasib mereka. Yang dipilih bukan lagi program tapi orang. Padahal program pemilu dan pelaksanannya adalah standar bagi masyarakat dan para pemilih untuk melakukan pengawasan. Ketika program dinomorduakan atau diletakkan di tataran bawah pada suatu pemilihan, gejala inipun memperlihatkan betapa demokrasi, partisipasi dan kepentingan mayoritas penduduk berada pada tataran yang sama. Betapa secara esensil, demokrasi dan partisipasi hanya jadi label kecap nomor satu. Pada pasca pemilihan , demokrasi, partisipasi seperti halnya dengan pengawasan masyarakat akan berada entah pada tempat nomor ke berapa di belakang nomor utama kepentingan pemenang pemilu. Padahal jika rakyat dijadikan poros dan disusun dalam program yang jelas serta disosialisasikan, serapih apapun organisasi kalangan kaum militer yang merupakan negara dalam negara, tidak akan berarti apa-apa. Andaikan [maaf bicara dengan pengandaian],jika kalangan militer juga jelas-jelas berprogramkan rakyat sebagai poros, mereka akan tampil dengan mudah sebagai pemenang,dan dengan program demikian akan berkembang menjadi kalangan militer yang berpikiran cerah dan memberi harapan. SBY, tokoh yang tangannya juga berdarah, agaknya bukan termasuk kalangan militer berpikiran cerah ini sekalipun mengambil Kalla sebagai wapres, orang dari Golkar dan barangkali melalui Kalla , ingin memainkan kartu daerah luar Jawa yang gelisah untuk meraih suara. Tapi luar Jawa atau bukan, tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah masalah keberpihakan. Berpihak kepada kepentingan mayoritas warga negeri dan bangsa ini ataukah tidak. Militer atau bukan militer, masalahnya pun tetap sama, berpihak pada rakyat atau bukan. Akan keliru menduga bahwa rakyat Indonesia akan bisa ditaklukkan oleh senjata dan bayonet. Saya pribadi menyayangkan Soeharto turun dari panggung kekuasaan. Sebab makin lama ia dipanggung kekuasaan, ia akan makin membantu kebangkitan perlawanan dan pendemokratisasian Indonesia. Makin berdarah tangannya, makin perlawanan dan kebangkit tersulut. Masalahnya kemudian hanya terletak mau ke mana. Dan di sinilah masalah kunci terdapat. Sebab perlawanan dan kebangkitan tanpa arah yang jelas, jika hanya menampilkan kekuasaan penindas baru dengan baju baru, apalah artinya suatu perlawanan dan kebangkitan. Maka dalam keadaan begini konsep, wawasan, arah dan tujuan serta mau apa menjadi sangat penting. Sudahkah kita bisa menjawab pertanyaan ini. Jika kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini berarti kita dengan menggunakan istilah sosiolog Perancis, Alain Touraine, sama dengan berada pada "periode kekosongan", istilah yang membuat banyak orang memaki saya ketika saya ketengahkan dalam berbagai percakapan publik di Jawa Tengah. Para pemaki menghujat karena mereka merasa diri mereka tidak "kosong" walaupun sekian dasawarsa berada di bawah rezim diktatur militer, mereka tidak bisa memberikaan alternatif apa-apa. Mereka tidak ke atas, tidak ke tengah, apalagi ke bawah, kecuali ke arah diri sendiri. Mengatakan adanya "kekosongan" di Indonesia, saya sama sekali tidak mempunyai niat jahat atau maksud jelek. Tapi hanya ingin mengatakan apa yang saya lihat, lebih-lebih setelah bekerja bertahun-tahun di pulau kelahiran.Mengapa saya menipu diri dengan mengatakan sesuatu itu berisi padahal senyatanya kosong. Sebagai alternatif jalan keluar saya mengusulkan dibentuknya "kekuasaan paralel", paralelisme antara kekuasaan Masyarakat Adat dan kekuasaan Republik, yang berintikan partisipasi nyata, bukan khayali. Tadinya saya berharap pada LSM atau ornop, tapi ternyata ornop atau LSM juga tidak luput dari penyakit "kekosongan" ini. Rakyat dan kepentingan rakyat kalau tidak dilupakan, ia dijadikan barang dagangan semata oleh orang-orang yang secara pola pikir dan mentalitas sudah sangat rusak. Saya bisa rinci serinci-rincinya bicara tentang kerusakan ini tapi bukan subyek "Catatan" ini. Ketika dalam pemilu capres dan wapres kali ini rakyat tidak dijadikan poros, pemilu langsung sudah bisa disebut berhasil jika dalam peralihan kekuasaan ini tidak berlangsung dengan pertumpahan darah sehingga Indonesia tidak mentradisikan atau melembagakan pergantian atau peralihan kekuasaan identik dengan pertumpahan darah. Menjadikan Indonesia sebagai sebuah republik sesungguhnya sama dengan menjadikan rakyat sebagai poros. Agaknya untuk membangun republik di negeri ini, kita masih harus menempuh jalan panjang dan dituntut bekerja sangat keras. Tapi "Masih Ada Hari Esok", ujar Mochtar Lubis almarhum. Masih adanya hari esok inilah yang membuat kita masih bisa tersenyum sebelum kata penghabisan belum diucapkan. Paris, Juli 2004. ---------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

