......................
"Sejak lama saya merasa sering merasa mual, sakit kepala dan keram.
Bahkan, putri saya yang bernama Andini Lensun mengalami ruam-ruam
merah seperti habis terbakar disertai benjolan di sekujur tubuh,
sebelum akhirnya meninggal dunia saat masih berusia lima bulan pada
awal Juli 2004," katanya.

Ia menduga, Andini tercemar logam berat dari ............
sumber : http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=44884


Apa yang dirasakan Andini Lensun sepanjang lima bulan masa hidupnya?
Apa makna tatap mata dan tangisannya Tak usah lima bulan bahkan 10 menit
dalam lintasan hidupnya, rasanya tak bisa  terbayangkan.

duka dalam, teramat dalam

semoga kebenaran akan menemukan jalannya, kemanusiaan akan menemukan
kemenangannya

Andini Lensun kembali Kepada Yang Maha

luangkan waktu anda untuk menerakan  goresan nurani dan dengungkan berbareng
dalam jurnal Nyayian Duka Untuk Andini Lensun jadi mantra, kirimkan email
anda ke [EMAIL PROTECTED] (mohon disebarluaskan)





http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/21/utama/1163097.htm

Jalan Berliku Warga Buyat

JALAN berliku, rusak, dan diselingi jurang terjal pada beberapa ruas
menuju Pantai Buyat sepanjang 110 kilometer sebanding dengan
kehidupan warga di sana. Pencemaran laut di Teluk Buyat yang diduga
berasal dari limbah tailing pertambangan emas PT Newmont Minahasa
Raya seolah menggenapi kesulitan ekonomi yang diderita warga bertahun-
tahun.
AKAN tetapi, tampaknya pencemaran itu dianggap biasa, angin lalu yang
sewaktu-waktu bisa ditanggapi atau tidak, tergantung "nilai"
kepentingan pemerintah. Tim independen yang dibentuk Pemerintah
Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kerap dinilai tak independen karena
ukuran penilaian pencemaran tak obyektif.
"Kami sudah teriak, protes soal pencemaran, tetapi seolah tak ada
arti," kata Rignolda Djamaludin, Direktur Yayasan Kelola Sulawesi
Utara-salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memberi
advokasi untuk warga Buyat.
Laut yang menjadi harapan dan aliran Sungai Buyat di lokasi
permukiman penduduk, yang memberi banyak arti bagi kehidupan warga,
telah berubah menjadi "monster" pemangsa manusia.
Mereka seperti kehilangan asa. Tak ada lagi tempat menggantungkan
hidup. Di sana memang tidak ada lahan pertanian atau perkebunan yang
menjadi alternatif untuk kelanjutan hidup.
"Kami ini generasi benjol yang siap menunggu kematian," kata Mansyur
Lombonaung. Yang dimaksud benjol adalah tubuh yang dipenuhi benjolan-
benjolan misterius, seperti yang sekarang dialami 24 warga setempat.
Informasi medis yang diperoleh Mansyur dari para ahli kesehatan
menyebutkan, benjolan bisa diindikasikan sebagai tumor, dan itu bisa
mematikan para penderitanya. Hal tersebut timbul akibat warga
terkontaminasi logam berat.
Mansyur merupakan tokoh masyarakat yang dikenal cukup kritis dalam
menyikapi kebijakan pembuangan limbah PT Newmont Minahasa Raya (NMR).
Suatu waktu ia berkirim surat ke Kantor Pusat PT NMR di Amerika
Serikat. Ia meminta pertanggungjawaban perusahaan terhadap nasib yang
dialami warga Buyat.
Benjolan itu sendiri muncul pada tahun 2000 dan diduga kuat saat itu
PT NMR mulai membuang seluruh limbah penambangan emas mereka ke Teluk
Buyat melalui pipa baja.
"Dulu tidak ada penyakit seperti ini," kata Mansyur. Hal itu
dibenarkan oleh beberapa warga yang mengaku mengalami gatal,
kesemutan, dan kejang setelah mengonsumsi ikan hasil tangkapan di
Teluk Buyat.
Tidak itu saja, Sungai Buyat, yang oleh kalangan LSM di Sulut
diidentifikasi telah tercemar air limpasan pertambangan emas dari
pabrik PT NMR, sudah tidak aman bagi masyarakat untuk aktivitas
ekonomi. "Setiap selesai mandi di sungai, kami merasakan gatal di
seluruh tubuh," kata Salma (31), ibu rumah tangga.
Dahsyatnya pengaruh limbah telah dirasakan sebagian warga Buyat. Alan
Makalalag (26), penderita minamata, mengatakan, benjolan pada pelipis
kanan yang tumbuh sejak dua tahun lalu, yang ukurannya sebesar
kelereng, telah mengganggu aktivitas hidupnya. Ia kerap mengalami
kram dan kemampuan penglihatannya pun terasa berkurang.
"Di dalam mata seperti ada suatu benda yang mengganggu penglihatan.
Biasanya terasa kram diikuti rasa sakit," katanya.
NASIB buruk dialami Risnawati Papure (9), yang terpaksa putus sekolah
dari kelas I sekolah dasar karena tidak kuat berjalan. Menurut
ayahnya, Jafar Papure, pada kaki Risnawati terdapat benjolan yang
membuat daya tahan tubuh anaknya menurun. Kadang ia mengerang
kesakitan.
Selama ini Risnawati harus berjalan kaki sepanjang satu kilometer
untuk ke sekolah terdekat. Akan tetapi, setelah muncul benjolan di
sekitar lipatan kaki kanan belakang dua tahun lalu, Risnawati
terpaksa mundur dari sekolah. Ia tak kuat berjalan jauh.
Dari cerita ayahnya, suatu waktu Risnawati harus dipanggul pulang
dari sekolah. Melihat kondisi itu, Jafar mengambil keputusan untuk
memberhentikan anaknya dari sekolah. "Untuk berobat, kami tidak punya
uang. Bapak lihat sendiri kehidupan kami, mau makan saja susah," kata
Jafar di rumahnya yang berdinding bambu dan sebagian tampak bolong.
Rumah tempat tinggal keluarga Jafar berukuran 3 x 4 meter.
KEHIDUPAN warga Pantai Buyat cukup memprihatinkan. Hendrik Lenzun
(46), ayah dari Andini Lenzun, bayi yang meninggal pada 3 Juli lalu,
mengatakan terpaksa bekerja serabutan demi mencari sesuap nasi.
Ketika ditemui, Hendrik tengah menyapu pantai Buyat yang
merupakan "proyek" dari PT NMR. Sehari Hendrik mendapat upah Rp
25.000. "Kalau tidak ada proyek, saya biasa melaut," katanya.
Hendrik lalu mengisahkan derita Andini yang sejak lahir kulitnya
telah bersisik warna hitam, yang kadang terasa panas di sekujur
tubuhnya. Andini memang tidak tercemar secara langsung oleh air
pantai atau air sungai di Buyat, tetapi gangguan kesehatan yang
dialami bayi itu besar kemungkinan berasal dari ibunya.
Ibu Andini, kata Hendrik, sering mengonsumsi ikan kerapu dan tak
jarang mandi di pantai serta Sungai Buyat. Ikan kerapu sendiri adalah
sejenis ikan karang. Karang di Teluk Buyat telah tercemar limbah
logam berat.
Ketika penyakit itu muncul pada Andini, Hendrik mengaku kesulitan
untuk mengobatinya. Masalah klasik, ketiadaan uang, menghantui
keinginan Hendrik untuk menyembuhkan anaknya. Setiap kali ke dokter
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Ratatotok, ia mengaku harus
menjual ayam sebagai biaya pengobatan.
Bahkan, lanjutnya, ia sempat emosi ketika dokter Puskesmas Ratatotok,
Sandra Rotty, mengatakan bahwa penyakit Andini adalah penyakit kulit
biasa akibat kekurangan gizi. "Andini meninggal dunia setelah
menjalani beberapa kali pengobatan di puskesmas," ucap Hendrik dalam
nada sendu.
Dokter Sandra Rotty menyatakan telah beberapa kali memberi rujukan
kepada orangtua Andini untuk berobat ke Manado. "Namun, saran-saran
saya seperti diabaikan. Secara medis Andini memang kekurangan gizi,"
katanya.
Untuk memastikan segalanya memang perlu penelitian yang mendalam dan
obyektif.(Jean Rizal Layuck)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/21/humaniora/1162397.htm

Belajar dari Kasus Minamata

TERACUNI logam-logam berat tentu sangat berbahaya. Inilah yang
dialami oleh lebih dari 100 warga Buyat, Ratatotok, Kabupaten
Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, yang menderita penyakit
Minamata. Mereka diduga terkontaminasi oleh logam berat arsen dan
merkuri yang mencemari Teluk Buyat. Logam-logam berat ini diduga
berasal dari limbah penambangan emas PT Newmon Minahasa Raya.
GEJALA penyakit Minamata yang dialami oleh warga Buyat diawali gatal-
gatal dan kejang pada tubuh, kemudian muncul benjolan.
Benjolan muncul dalam banyak varian pada sejumlah penderita, yakni di
tangan, kaki, tengkuk, pantat, kepala atau payudara. Dikhawatirkan
kasus Minamata ini tidak hanya diderita oleh lebih dari 100 warga
Buyat, namun berpotensi menyerang ratusan bahkan ribuan orang karena
akumulasi racun merkuri.
Minamata adalah sebuah teluk dengan kota kecil bernama sama di
kawasan Jepang. Tragedi yang terjadi di Minamata berawal dari
berdirinya Nippon Nitrogen Fertilizer, 1908, cikal bakal Chisso Co
Ltd dengan produksi utama pupuk urea. Sama seperti industri lain yang
berkembang saat itu, Chisso langsung membuang limbahnya ke alam, ke
Teluk Minamata.
Tahun 1956 kecurigaan mulai muncul setelah direktur RS Chisso
melaporkan ke Pusat Kesehatan Masyarakat Minamata atas masuknya
gelombang pasien dengan gejala sama: kerusakan sistem saraf.
Namun, apa yang disebut penyakit Minamata ini amat lambat penangannya
dan baru 12 tahun kemudian, 1968, Pemerintah Jepang menyadari itu
adalah pencemaran dan mengakui bahwa sumbernya adalah senyawa metil
merkuri yang dibuang Chisso.
NAMUN sayang kita tidak pernah mau belajar dari kasus-kasus yang ada.
Pelaku industri tetap dengan seenaknya membuang limbahnya ke laut
tanpa memerhatikan apakah yang dilakukannya akan membahayakan manusia
lainnya. Begitu pula yang terjadi di Teluk Buyat, di negeri kita.
Menurut dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, dr Anies MKK,
PKK, merkuri sebenarnya bentuknya macam-macam dan yang paling
berbahaya adalah metil merkuri.
Begitu merkuri masuk ke dalam perairan, maka merkuri dengan mudah
berikatan dengan klor pada air laut. Ikatan dengan klor yang disebut
merkuri inorganik (HdCl) akan mudah masuk ke dalam plankton dan dapat
berpindah ke biota laut lain, lalu akan tertransformasi menjadi
merkuri organik (metil merkuri).
Di sini terjadi merkuri organik karena ada peran dari mikro organisme
yang terjadi di sedimen (dasar perairan) dan inilah yang bahaya.
Senyawa metil merkuri ini umumnya terdapat di perairan dan beberapa
puluh kali lebih beracun dibandingkan merkuri yang inorganik.
Di samping itu, merkuri dalam bentuk organik umumnya berada pada
konsentrasi rendah di air, tetapi bersifat bioakumulatif (terus-
menerus menimbun). Dia terserap secara biologis.
Metil merkuri biasanya terdapat dalam jaringan daging ikan. Walaupun
metil merkuri ini masuk dalam konsentrasi yang tidak besar, tetapi di
alam ada bioakumulasi/biomagnifikasi (makin lama makin tinggi
konsentrasinya).
Anies MKK yang kini tengah mengikuti program doktor di Program Studi
Kependudukan dan Lingkungan Hidup Pascasarjana Universitas Negeri
Jakarta memaparkan bagaimana metil merkuri meracuni manusia, yakni
melalui rantai makanan: metil merkuri masuk dalam plankton, plankton
dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan besar, ikan besar
dikonsumsi manusia. Inilah rantai makanan di mana terkumpul metil
merkuri dalam jumlah yang besar.
Orang yang mengonsumsi ikan-ikan atau hasil laut yang terkontaminasi
metil merkuri bisa mengalami kelainan atau gangguan ginjal, hati, dan
saraf. Metil merkuri kalau masuk ke dalam tubuh manusia, tidak akan
langsung tampak seperti orang keracunan misalnya seperti orang
keracunan pestisida dalam jumlah besar.
"Tidak seperti itu. Meskipun metil merkurinya dalam jumlah kecil,
tetapi lama bertumpuk di dalam tubuh, maka terjadi biomagnifikasi.
Jadi kita jangan mengabaikan. Ini yang diyakini sebagai penyebab
kelainan pada ginjal, hati, dan terutama saraf. Gangguan saraf ini
bisa dalam bentuk kelumpuhan. Bergantung mana yang terganggu,"
katanya.
Ia mengatakan, jika seseorang merasa ada gangguan dalam fungsi
tubuhnya dan diduga terkontaminasi metil merkuri, maka secepatnya
harus melakukan tes fungsi hati, ginjal.
"Tetapi ini bukan untuk mengobati akibat pencemaran itu. Prinsipnya,
ini adalah puncak gunung es. Jadi kalau ada 10 orang yang menampakkan
gejala-gejala menderita penyakit Minamata, berarti ada sekian ratus
atau sekian ribu orang berpotensi seperti itu, tetapi belum tampak.
Ini diakumulasi. Suatu saat akan muncul yang lain. Jadi masih ada
ribuan orang yang berpotensi seperti itu," tambahnya.
Karena itu, dr Anies menyarankan, warga Buyat harus menghindari
pencemaran itu dengan tidak meminum air di Teluk Buyat atau tidak
mengonsumsi ikan dari perairan yang diduga tercemar tersebut.
Untuk memastikan apakah ada gangguan atau kelainan pada sistem tubuh,
harus dilakukan pengecekan.
"Jika yang terkena masyarakat di Teluk Buyat, maka itu tanggung jawab
dari yang diduga sebagai pencemar untuk melakukan pemeriksaan apakah
memang terdapat gangguan pada fungsi-fungsi tubuh tersebut. Kalau
yang terkena masyarakat kecil, maka itu tanggung jawab perusahaan
itu," kata dr Anies. (LOK)

berita lainnya:


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/21/utama/1162325.htm

Korban Minamata Adukan Menkes dan PT NMR ke Mabes Polri

http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004072101465305

Polda Sulut Bentuk Tim Usut Kasus Pencemaran

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=44884

Korban Minamata Laporkan PT Newmont ke Mabes Polri







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke