Republika
Sabtu, 24 Juli 2004

Perginya Tokoh Pembaruan Islam 

Laporan : uba/fer 


Dalam usia 79 tahun, Munawir Sadzali berpulang. Pembaharu pemikir Islam itu meninggal 
di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Jumat (23/7), pukul 11.15 WIB, setelah satu 
setengah bulan dirawat. ''Bapak komplikasi karena stroke,'' kata Mustain Sadzali, 
putra ketiga almarhum. Munawir meninggalkan seorang istri bernama Murni yang dinikahi 
pada 1950. Dari perkawinan itu lahir enam putra dan 14 cucu. Jenazah mantan santri 
Pondok Pesantren Mamba'ul Ulum, Surakarta, itu akan dimakamkan Sabtu, hari ini, di 
pemakaman keluarga Giritama, Tanjung, Parung, Bogor. Jenazahnya disemayamkan di 
kediamannya di Jl Bangka, Jakarta Selatan. ''Indonesia kembali kehilangan tokoh 
penggagas pemikiran Islam,'' kata Sekretaris Umum MUI, Din Syamsuddin, yang pada 1986 
dikirim Munawir belajar ke Amerika Serikat. ''Beliau seorang tokoh besar dan 
pembaharu. Membangun Departemen Agama selama 10 tahun dan memberikan perubahan yang 
signifikan,'' kata Menteri Agama, Said Agil Husin Al Munawar.

Posisi Munawir dalam kancah sejarah pemikiran Islam di Indonesia memang sangat 
penting. Pendiriannya sejalan dengan pemikiran tokoh para rasionalis Islam Indonesia, 
seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, dan KH Abdurrahman Wahid. Di kancah 
internasional, pemikirannya sebangun dengan Fazlurahman (Pakistan) dan Ali Abdul Razik 
(Mesir). Jasa yang paling besar Munawir bagi dunia intelektual Islam, di antaranya 
membangun landasan dalam penerapan metodologi pemikiran. Langkah pertamanya adalah 
pada 1986 ia mengambil keputusan mengirimkan enam dosen dari IAIN se-Jawa untuk 
mengambil program pascasarjana kajian Islam ke Amerika.

Kebijakan Munawir itu tidak lazim. Sebab, saat itu bila ada calon intelektual ingin 
meneruskan pendidikan pascasarjananya, mereka pergi ke berbagai perguruan tinggi yang 
ada di Timur Tengah, seperti Universitas Al Azhar, Mesir. Gebrakan itu langsung 
mendatangkan pro dan kontra. Pihak yang tidak sepakat menuduh tindakan itu sebagai 
gerakan untuk menyekulerkan atau meliberalkan Islam di Indonesia. Namun, pihak yang 
sepakat, mendukungnya dengan alasan intelektual Islam Indonesia butuh darah baru untuk 
melakukan kajian. 

Pilihan yang tepat adalah memang pergi belajar ke universitas yang ada di 
negara-negara Barat, misalnya Universitas McGill di Kanada atau ke berbagai 
universitas di Amerika, Australia, dan Eropa yang mempunyai jurusan kajian Islam. 
Meskipun mendapat kritikan yang keras, namun Munawir kukuh bertahan pada pendiriannya. 
Menurutnya, pilihan itu adalah tepat, sebab salah satu kelemahan pendidikan Islam yang 
ada di Timur (termasuk di Indonesia) adalah soal metodologi. ''Timur Tengah cenderung 
klasik mengandalkan hafalan,'' kata Munawir waktu itu.Dari hasil kebijakannya itu 
lahir beberapa intelektual yang sudah bergelar profesor, seperti Din Syamsuddin, 
Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, Amin Abdullah, Atho Mudazar, dan Qodri Azizi.

Munawir sendiri menghabiskan pendidikan dasar dan universitasnya di sekolah berbasis 
Islam. Baru pada pendidikan pascasarjana ia selesaikan di Universitas Georgetown, 
Amerika, pada 1959. Uniknya, setelah itu ia bukan langsung berkecimpung di dunia 
kajian Islam. Munawir lebih memilih berkarier sebagai seorang diplomat.Selain 
menyerukan belajar ke Barat, gagasan baru yang dilontarkan Munawir adalah 
memperkenalkan sistem pembagian baru dalam ilmu faraid (waris Islam). Dia menyatakan 
agar komposisi pembagian waris itu tidak lagi berbeda antara perempuan dan lelaki, 
yang selama ini dua berbanding satu. Gagasannya itu kembali menuai pro dan kontra. 
Sekali lagi, Munawir kembali bersikap teguh. Menurutnya, komposisi itu harus berubah 
sesuai dengan semangat zaman, di saat tidak ada lagi perbudakan. Apalagi, pada 
kenyataan modern, tanggung jawab perempuan dan laki-laki sudah sama besar. 

Kontroversi itu pun kembali berhasil dilewatinya. Apalagi ia menguasai hukum Islam. 
Tiga bukunya membuktikan itu, yakni Islam dan Tatanegara, Ajaran Sejarah dan 
Pemikiran, Islam Realitas Baru dan Orientasi Masa Depan Bangsa, dan Mungkinkah Negara 
Indonesia Bersendikan Islam. Sedangkan karya utama yang mewarnai spektrum pemikirannya 
adalah Kompilasi Hukum Islam. Munawair juga dikenal sebagai tokoh yang tidak 
sependapat dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Alasannya, penerapan hukum 
syariat itu harus ada kontekstualisasi atau disesuaikan terlebih dahulu dengan situasi 
dan kondisi masyarakatnya. Gagasan ini juga sangat kontroversial, bahkan perdebatan 
bertahan hingga beberapa tahun lamanya. Akhirnya, selamat jalan Pak Munawir. Semoga 
Allah SWT menerima amal dan jasamu serta mengampuni kesalahanmu. Amien.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke