Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [3].

DAKI-DAKI & KOTORAN DI TUBUH SEJARAH

Istilah realisme sosialis pertama kali kukenal ketika aku baru meninggalkan SMA Santo 
Thomas[waktu itu masih terletak di belakang Kantor Pos Besar di kompleks Kanisius] dan 
memasuki tahun pertama kuliah di Universitas Gadjah Mada. Penyair HR Bandaharo alm. 
datang dan memberikan ceramah di Universitas Rakyat [UNRA] yang terletak di Jalan 
Panembahan Yogyakarta [Tentang apa itu UNRA dalam rangka membangun Indonesia dan 
keindonesiaan, di sini tidak aku masuki lebih lanjut, walaupun jika diperhatikan benar 
adanya UNRA kukira sangat menjangkau jauh. Kalau mau jujur, pada waktu itu tidak ada 
organisasi kebudayaan dan partai ,politik manapun kecuali PKI dan Lekra yang secara 
kongkret melakukan langkah-langkah nyata untuk meningkatkan taraf kebudayaan 
masyarakat lapisan bawah.UNRA adalah salah satu jalaran pelaksanaan ide tersebut. Aku 
harap, Guk, kau bisa menimba dan mempelajari masa lalu ini sebaik mungkin demi 
tunainya misi angkatan yang agaknya telah kau pilih untuk mengembangnya dengan gagah]. 

Waktu itu aku sudah mengikuti kegiatan-kegiatan Lekra, tapi sebatas karena tertarik 
pada masalah-masalah yang dibicarakan serta ingin tahu lebih lanjut lika-liku 
kehidupan sastra-seni di negeri kita dan dunia. Seiring oleh rasa ingin tahu yang 
menggelitik diri ini jugalah maka aku tak segan menyisihkan uang sakuku untuk 
berlangganan penerbitan Amerika, New World Writing, Soviet Litterature dan Chinese 
Litterature. Penerbitan-penerbitan baru di Indonesia pun selalu kuikuti dan untuk 
mendapatkannya aku memperoleh bantuan dari Tokobuku Gunung Agung, Pembangunan  dan 
Pembaruan berbentuk keringan bahwa aku, "boleh bayar belakang". Jasa dan kebaikan hati 
pemilik tokobuku-tokobuku ini sampai sekarang dan kapanpun tidak akan pernah kulupakan 
berserta rasa hormat dan terimakasih. Sampai sekarang, akupun mengucapkan terimakasih 
dan hormat kepada mereka atas kepercayaan mereka terhadapku. Aku sendiri tidak tahu 
mengapa mereka mempercayaiku. Tapi dari kejadian pengalaman ini, aku melihat betapa 
penting artinya seseorang menjaga kredibilitas, menyatukan kata dan perbuatan. 

Saban kali aku memasuki ruangan tokobuku, kalau ada buku-buku baru, mereka akan 
berkata: "Ada buku baru, Dik" dan mengantarku ke rak di mana buku-buku itu 
dipajangkan. Buku-buku yang kubeli dengan cara "membayar di belakang" semuanya 
kulunasi menggunakan honorarium tulisan yang kuperoleh berkat adanya buku-buku 
tersebut juga. 

Setelah mendengar ceramah Bandaharo [Banda Harahap], pertanyaan-pertanyaan yang  belum 
terjawab oleh terbatasnya waktu, kulayangkan melalui surat ke Jakarta kepada Banda. 
Banda menjawabku secara singkat dan tertulis mengatakan bahwa "yang terpenting kau 
terus berkarya dan berkarya, anak muda. Jangan hirau dan terpancang pada slogan, tapi 
jangan pula kau hentikan bertanya". Sayang,surat jawaban Banda ini hilang entah ke 
mana bersama hancurnya perpustakaan yang kubangun semenjak berada di Yogya ketika 
Yogya kutinggalkan. Di semua tempat yang pernah kusinggahi, di situ pula aku membangun 
perpustakaan pribadi dan karena aku memang "anak enggang yang hilang sarang", kemudian 
semuanya binasa ketika tempat-tempat itu kutinggalkan. Tidak jarang bahwa 
naskah-naskah tulisan dan catatan harian pun mesti kuhancurkan. Menyesalkah aku,Guk? 
Jangan ajukan pertanyaan demikian kepadaku. Yang bisa kukatakan kepadamu bahwa 
penyesalan tidak pernah membantuku memperoleh semua yang sudah kuhancurkan, dan yang 
sudah hilang. Aku hanya memandang masa silam itu dengan lirikan sejenak dan bibir 
terkatup merasakan garangnya perlakuan hidup kepadaku sejak masa kanak. Kalau kau 
bersikeras bertanya maka jawabanku hanya menunjukkan cakrawala di hadapan yang 
menunggu ke mana aku akan menuju tanpa tahu apa yang menunggu. 

Pada tahun ketiga di Gadjah Mada, akhirnya aku memutuskan bergabung dengan Lekra, dan 
meninggalkan Rendra yang sejak SMA mengajar dan mendorongku  menulis. Aku sendiri 
sampai sekarang, aku tidak tahu apakah Rendra benar bahwa aku bisa menulis. Yang 
kutahu seperti yang sering dia ucapkan bahwa "siapapun perlu mengungkapkan diri". 
Rendra tidak pernah berhenti mendorong dan mengajarku. Juga ketika kami bertemu di 
Paris.

Sebagai anak asuh "Rendra yang urakan" aku pun  tak pernah berhenti bertanya dan 
kesenangan bertanya ini membuatku sering disebut sebagai "suka main sendiri", 
"liberal" dan tuduhan-tuduhan senada [yang sulit kupahami artinya], juga ketika aku 
bergabung dengan Lekra. Bertanya dan menjawabnya  kurasakan  sebagai hakku yang tak 
boleh disentuh. Tak boleh diganggugugat. Dengan latar psikhologis dan pikiran begini 
maka ketika membaca dan mendengar Lekra disebut sebagai berslogankan "realisme 
sosialis", diriku merasa tersentuh atau diganggu. Mengapa? Dari mana orang-orang bisa 
berkata demikian? Apa sumber mereka maka sampai bisa berkata demikian?

Aku yang bertahan di Lekra melalui pertarungan, tidak pernah mendengar adanya 
pengunaan slogan demikian dalam berkarya sebagai slogan resmi Lekra. Aku tidak ingin 
membela Lekra dan ide-idenya secara membuta. Yang kumau, katakan sesuatu sebagaimana 
adanya. Jangan mengatakan apa yang dipikirkan sendiri sebagai pikiran dan pandangan 
Lekra. Jangan mengatakan yang tidak dikatakan oleh Lekra sebagai yang dikatakan oleh 
Lekra, mentang-mentang si pengucap berada di atas angin. Cara begini adalah cara  anti 
kebudayaan dan bukan perangai seniman sejati. Lebih menggelikan dan mengganggu apabila 
dalam menyerang Lekra yang dibubarkan oleh Orde Baru, para pengucap menggunakan 
berbagai istilah yang tidak pernah digunakan oleh Lekra.

Yang kumaksudkan dengan Lekra tidak lain dari Lekra sebagai organisasi dan bukan 
tulisan atau ucapan para  anggotanya yang tentu saja berhak mengajukan pendapat. Yang 
disebut pendapat Lekra adalah pendapat Lekra sebagai organisasi dan bukan pendapat 
perorangan anggota-anggotanya. 

Barangkali dengan keterangan ini, kau akan bertanya bahwa kalau demikian, di dalam 
Lekra sendiri sesungguhnya  terjadi perdebatan-perdebatan sengit? Jika memang demikian 
pertanyaanmu, maka kau peka memahami arti kalimat dan kata-kata orang.[Soal ini tidak 
kurinci di sini!] 

Yang benar-benar mengenal Lekra, misalnya Sanento Yuliman alm terutama sejak ia 
menulis tesis doktornya tentang Soedjojono, tidak akan heran bahwa dalam Lekra itu 
tidak ada monolitisme. Yang sempat mengikuti diskusi-diskusi sastra-seni berbagai 
sanggar Lekra di Yogyakarta akan segera paham bahwa perdebatan ide di kalangan Lekra 
tidak pernah reda. Memandang Lekra sebagai monolitisme hanya menunjukkan bahwa yang 
berkata itu tidak tahu apa-apa tentang Lekra.Aku bisa mengajukan banyak contoh tentang 
tidak ada monolitisme [yang secara filsafat merupakan suatu kekeliruan], tapi tidak 
menjadi tema catatan ini.  Adalah benar bahwa para anggota Lekra itu satu dalam hal 
bahwa sastra-seni itu semestinya diabdikan kepada  rakyat. Orientasi inilah yang 
terutama menyatukan para anggota dan berhasil membangkitkan suatu gerakan kebudayaan 
rakyat di tanahair yang sampai ,sampai sekarang, sejauh pengetahuanku,  belum 
tertandingi. Coba kau tunjukkan kepadaku, organisasi kebudayaan mana sekarang, yang 
bisa menandingi kegiatan Lekra dalam membangkitkan gerakan kebudayaan rakyat di 
Indonesia seluas dan seintensif seperti yang telah dilakukan Lekra. Jika aku salah, 
tunjukkan, bukti kesalahanku. Jika benar, selayaknya kau bertanya: "Mengapa bisa 
demikian?". Pernahkah kau tanyakan pada dirimu akan hal ini? Yang kusaksikan sekarang, 
lebih banyak orang sibuk membangun nama diri sendiri dengan berbagai cara,kadang tanpa 
menggubris tatakrama minimal. Orang-orang mabuk ingin diakui sebagai sastrawan dan 
seniman setelah menulis sanjak dan artikel yang kadarnya masih bisa diperdebatkan. 
Diri sendiri terkesan menduduki tempat lebih tinggi dari segala nilai manusiawi. 
Orang-orang pun tidak segan memberi hadiah sastra pada diri sendiri, gejala yang 
kulihat sebagai petujuk sudah demikian merosotnya mentalitas anak negeri dan bangsa 
hari ini. 

Sedangkan pengertian rakyat itu bersifat dialektis, berkembang dari waktu ke waktu, 
sesuai dengan apa yang menjadi kontradiksi pokok pada waktu itu. Karena itu aku berani 
mengatakan bahwa pendapat Pramoedya A.Toer [lihat artikel Pram di Majalah Bintang 
Merah] atau Njoto tentang masalah realisme sosialis, misalnya, tidaklah berarti bahwa 
pendapat Pram merupakan pendapat Lekra sekalipun Pram dan Njoto adalah anggota-anggota 
penting dari organisasi kebudayaan ini. Yang disebut pendapat Lekra adalah pendapat 
dan sikap secara organisasi. Betapapun pentingnya posisi mereka dalam Lekra, betapapun 
besarnya nama mereka, Njoto dan Pram hanyalah dua nama dari ribuan kalau bukan jutaan 
anggota Lekra di seluruh Indonesia. Njoto dan Pram barangkali bisa mempengaruhi 
pendapat umum anggota, tapi pendapat mereka tidak lain dari pada pendapat pribadi. 
Bukan pendapat Lekra sebagai sebuah organisasi. Apalagi dari  pengalaman kuketahui 
bahwa  "ilmu kuping" dan "budakisme" tidak sedikit menjangkiti anggota Lekra, suatu 
ironi bagi sebuah organisasi kebudayaan rakyat yang memimpikan kebudayaan baru dan 
demokratis. 


Realisme sosialis dipandang oleh Lekra sebagai suatu pandangan yang tidak sesuai 
dengan kenyataan dan perkembangan kongkret masyarakat kita. Kalau Zdanov mengajukan 
ide ini untuk Uni Soviet, itu adalah hak Zdanov tapi tidak otomatis apa yang dikatakan 
Zdanov sekaligus merupakan pandangan Lekra yang adalah organisasi kebudayaan 
Indonesia. Bisa saja pendapat Zdanov diperhatikan, tapi tidak diterapkan secara 
membuta. Pendapat Zdanov hanya dijadikan sebagai acuan dan diambil sarinya. Yang 
secara resmi digunakan oleh  Lekra seperti yang tercermin dalam "metode penciptaan 
1:5:1" bukanlah realisme sosialis tapi pemaduan realisme revolusioner dan romantisme 
revolusioner. Ketika membicarakan Lekra, banyak pengamat sastra-seni, kurang cermat 
memperhatikan hal ini sehingga sekalipun mereka berangkat dari kemauan baik, apalagi 
kalau memang bertolak dari niat negatif dan apriorisme. Kendati karya mereka disertai 
dengan sekian banyak catatan kaki [apalah arti catatan kaki jika berangkat dari 
apriori?!], tetap saja ada kesenjangan besar dengan obyektivitas sehingga mereka 
terjerembab ke dalam subyektivisme. Dari karya-karya mereka tentu saja kita bisa 
memungut hal-hal positif, karena hal yang negatif pun bersegi banyak dan bisa kita 
balik menjadi sesuatu yang positif. Dari segi ini, aku kira kemerdekaan bertautan erat 
dengan obyektivitas relatif. Untuk menggapai obyektivitas, sebaiknya kita melempar 
jauh-jauh wasangka. Bahkan dari gunjing, caci-maki dan sejenisnya, aku sendiri mencoba 
memungut pelajaran dan hakekat dari cacimaki dan gunjingan serta menolak apriorisme. 
Memang Lekra memancangkan panji realisme sosialis barangkali salah satu bentuk dari 
subyektivisme, wasangka dan apriorisme yang jauh dari obyektivititas dan merabunkan 
pandang serta mengotorkan kejujuran. Yang disebut ilmu , terutama ilmu sosial sering 
terjangkit kotoran dan daki-daki subyektivisme demikian. Sejarah sastra negeri kita 
tidak luput dari daki-daki dan kotoran begini. 

Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke