Surat Kembang Kemuning: MENGHARGAI BAHASA NASIONAL [2-- Selesai].
"[...],jawaban William Liddle...., menurutku, di luar bisa-tidaknya diterima alasan yg diberi, bahasa dan kata-kata yang dipakai baik sekali. Dalam seluruh tulisannya, tidak ia pakai sebuah kata asing sekali pun. Seluruhnya dari awal hingga akhir, Liddle sepenuhnya menggunakan kosakata bahasa Indonesia. Mau tidak mau aku sangat terkesan dengan semua ini. Seorang Amerika ( bul� lagi!) menggunakan bahasa Indonesia dalam mengemukakan sesuatu pandangan, sedangkan kita yg mengaku orang Indonesia, dalam mengutarakan sesuatu di media selalu menabur kosakata asing,, paling tidak bahasa Inggeris. Seakan bahasa Indonesia itu tidak lengkap untuk mengutarakan pendapat. Nah, apa gejala ini tidak ganjil, dan tidak perlu diperbincangkan? Dari para elit politik, dalang ketoprak(!!) sampai tukang beca di jalanan, dalam bahasa sehari hari gemar sekali menggunakan kata- kata Inggeris, aku tidak tahu mengapa. Yang aku tahu, kebanyakan penggunaannya salah". [Kutipan Surat Seorang Teman] Masalah kedua yang diangkat oleh kutipan di atas adalah kegemaran orang-orang Indonesia menggunakan "kata-kata Inggeris" ketika berbicara sesama orang Indonesia atau menulis menggunakan bahasa nasional. "Seakan bahasa Indonesia itu tidak lengkap untuk mengutarakan pendapat", keluh sahabat dekatku itu. Sahabatku yang hidup di negeri di mana dalam kehidupan sehari-hari bahasa Inggris banyak dipakai sebagai bahasa pengantar, merasa lebih jengkel lagi, karena mendapatkan kosakata bahasa Inggris itu yang digunakan "kebanyakan "penggunaannya salah". Gejala ini memang bisa dirangkaikan menjadi daftar contoh yang sangat panjang. Yang lebih "hebat" lagi, tidak jarang kita dapatkan arti kosakata yang dipakai pun berbeda dengan yang diinginkan. Misal, bermaksud mengatakan "klasifikasi" , tapi yang ditulis adalah "terminologi". Bermaksud mengucapkan "Happy birthday", yang terucap "Happy New Year". Dan lain-lain, dan lain-lain contoh lagi. Kalau dalam perbendaharaan bahasa Indonesia tidak terdapat istilah yang sepadan dengan istilah asing itu, masih bisa dipahami jika si pemakai bahasa Indonesia yang orang Indonesia menggunakan istilah asing, dalam hal ini bahasa Inggris. Tapi kalau padanannya ada, seperti kata "kau", "Anda", "kamu", mengapa mesti kita menggunakan kata "you"? Mengapa harus menggunakan istilah "long, long ago" jika ada istilah "tempo doeloe", "dahulu", "pada masa silam","konon pada masa yang lalu", dan kosakata-kosakata padan lainnya. Sahabat dekatku ini melihat gejala demikian sebagai gejala yang ganjil, barangkali kata lain dan halus dari semacam menertawakan. Pendapat sahabatku di atas, kupahami sebagai kecintaan dan kesadarannya akan arti bahasa nasional, sekaligus sebagai pernyataan kebanggaan menjadi Indonesia dan rasa keindonesiaannya yang kental. Dan memang, sekalipun hidup bertahun-tahun di negeri orang, sahabat dekatku selalu dengan sadar merawat baik bahasa Indonesianya dan jika ia berbahasa Indonesia, ia selalu mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baik. Sementara di pihak lain, sering kudapatkan di Eropa Barat, tidak sedikit orang Indonesia yang baru beberapa bulan datang ke London, Amsterdam, Brussels atau Paris, ketika bertemu sesama orang Indonesia, mengaku sudah sulit berbahasa Indonesia. Dengan pengakuan demikian, sementara orang itu lalu membuat lidahnya sudah demikian kaku untuk mengucapkan kata-kata Indonesia. Padahal kalau dicermati benar, maka dari "kekakuan semu" lidah itu, bisa diketahui "lidah Jawa yang medog", kalau kebetulan sementara orang ini berasal dari Jawa. Apa gerangan yang tersimpan di balik "gejala ganjil" ini? Berangkat dari pandangan bahwa bahasa merupakan pengukap pikiran dan perasaan pemakainya, maka kukira si pencipta keganjilan demikian ingin menunjukkan sesuatu kepada lawan bicara atau pembacanya. Dan sesuatu itu, paling tidak, si pencipta keganjilan ingin menunjukkan kadar dirinya sebagai orang dan kedudukannya dalam masyarakat yang bukan sembarangan. Ingin memperlihatkan diri "sudah atau sangat ngintelek", ujar seorang teman secara bercanda. Jika benar dugaan ini, maka dengan merasa diri "sudah atau sangat ngintelek" itu, paling tidak si pencipta keganjilan ingin menunjukkan kepada dua keadaan yaitu: [1]. rendah diri dan [2]. pandangan terhadap terhadap yang disebut cencekiawan atau intelektual. Rendah diri dan keangkuhan sering saling berhubungan. Kepongahan hanya pembungkus dari isi sesungguhnya yaitu rendah diri. Pada zaman sekarang, barangkali, tidak bakal ada yang senang jika dirinya disebut "rendah diri". Tapi apakah nama lain dari sikap tidak menghargai diri sendiri, tidak menghargai budaya sendiri dan bahasa nasional sendiri lalu dengan penuh kebanggaan menggunakan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris? Sedangkan bahasa Inggris yang dipakaipun "kebanyakan penggunaannya salah". Bangga dengan "kebanyakan penggunaannya salah", dan dengan kesalahan itupun merasa kedudukan dan martabat dirinya sudah terangkat, "sudah ngintelek",apakah ini bukan sikap mental yang sakit? Memandang bahasa Inggris sudah mengangkat martabat dan kedudukan diri, apakah ini bukan bentuk terselubung dari rasa rendah diri? Aku khawatir rasa rendah diri begini, merupakan petunjuk betapa anak bangsa dan negeri ini, jika benar dugaan demikian, secara pola pikir dan mentalitas sekalipun merasa diri merdeka tapi sesungguhnya masih terjajah. Lalu apa yang diperlihatkan oleh sikap demikian pada hakekatnya juga memperlihatkan belum merdekanya negeri dan bangsa ini sekaligus. Karena negeri dan bangsa dihuni oleh anak bangsa dan negeri, bukan daerah kosong hanya terdiri dari tanah,air, gunung dan hutan serta segala jenis hewan di dalamnya. Berbicara tentang tanahair dan bangsa, kukira pertama-tama dan di atas segalanya kita berbicara tentang anak manusia yang menghuninya. Kelanjutan lain dari mentalitas rendah diri ini adalah budakisme.Menjadi corong "suara tuannya" dan "alat jinak" yang dirasakan lebih unggul dan dikagumi. Kepala sendiri tidak lagi digunakan. Mentalitas budakisme tidak serta-merta lenyap oleh adanya gelar-gelar kesarjanaan. Segi lain dari dari gejala ganjil pemakai bahasa Indonesia seperti di atas, dan memandang diri sudah "ngintelek", barangkali disebabkan karena masih maraknya kultus akademi, sampai-sampai gelar pun diperjual-belikan, gejala umum di negeri-negeri yang baru lepas dari penjajahan atau masih terjajah. Berkata begini, bukan maksudku meremehkan arti pendidikan atau sekolah. Tapi jika benar bahwa gelar, pendidikan dan sekolah menghasilkan manusia-manusia budak, berarti ada sesuatu tidak beres dalam dunia pendidikan kita. Sekolah selayaknya membentuk manusia jadi manusiawi, berwatak, membantunya untuk menjadi pintar dalam artian mampu memecahkan masalah, membantu anak didik menjadi produsen ide [penghasil pikiran] dengan tujuan memanusiakan manusia, kehidupan dan masyarakat agar bumi dan tanahair bisa jadi tempat layak hidup yang manusiawi. Penguasaan bahasa asing dan bahasa nasional merupakan salah satu sarana untuk mengembarai dunia pemikiran dan pengalaman anak manusia berbagai kurun zaman dan negeri lain untuk kepentingan kehidupan hari ini bermula dari tanahair dan bangsa sendiri. Penguasaan bahasa asing bukan untuk menggagahi orang lain dan dijadikan perlengkapan bermain sandiwara mempertontonkan kehebatan diri. Lagi pula apa kegunaan mempertontonkan kesalahan kecuali meragakan diri tanpa sadar sebagai pelawak tanpa kemampuan melawak? Aku melihat gejala ini, sebagai bagian dari tragedi anak negeri dan bangsa kita hari ini. Melecehkan secara sukarela dan tidak sadar diri kita sendiri dan bangga jadi bangsa embel-embel. Apakah benar bacaanku terhadap gejala ini, gejala bahwa kita tidak bisa menghargai bahasa nasional sendiri? Paris, Juli 2004. ---------------- JJ.Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

