Jawa Pos
Rabu, 28 Juli 2004,

Sipil v Militer: Gagasan Absurd
Oleh Ana Sholikha *

Pembahasan tentang militer saat ini didominasi, bahkan didogmasi, cara
pandang barat yang sekuler kapitalistik. Adanya ketergantungan pada
pemikiran-pemikiran militer yang berkaitan dengan negara, kekuasaan, dan
politik merupakan hal yang diwarnai cara pandang tersebut.

Misalnya, mengenai penyebaran dan penggunaan senjata pemusnah masal,
perlakuan kepada tawanan perang, perlakuan kepada penduduk sipil di medan
perang, maupun berkenaan dengan terorisme. Hal itu hanya contoh yang
menggambarkan betapa kondisi di lapangan mencerminkan sepak terjang militer
yang out of control dan seakan-akan mempunyai privilege tersendiri
dibandingkan dengan lapisan masyarakat yang lain (sipil).

Di dunia ini, secara teoretis dan faktual historis, paling tidak, ada tiga
bentuk utama relasi sipil-militer. Pertama, posisi militer yang mendominasi
sipil serta seluruh aspek negara dan pemerintahan. Pemerintah itu sering
disebut pemerintahan militer (military government) .

Kedua, posisi sipil yang benar-benar mengontrol militer. Dalam arti, militer
merupakan subordinat dari pemerintahan sipil. Pola tersebut banyak
menekankan supremasi sipil atas militer (civilian supremacy upon the
military ). Pola itu banyak dianut negara demokrasi.

Ketiga, posisi yang berupaya menyeimbangkan kekuatan militer dan sipil
dengan pembagian peran tertentu sipil dan militer. Pola tersebut sering
disebut pola jalan tengah (the army's middle way). Pola itu biasanya
bersifat transisi dan banyak dianut negara-negara dunia ketiga.

Melihat tiga pola di atas, pola hubungan sipil militer dalam sistem
demokrasi, sepertinya, merupakan sistem yang paling ideal. Pola kontrol
sipil yang kuat atas militer tersebut paling banyak dikampanyekan
negara-negara demokrasi barat. Kontrol sipil yang kuat itu sering dijadikan
AS sebagai dasar penilaian atas negara yang lain, apakah demokratis atau
tidak.

Namun, patut disayangkan, AS dan sekutu-sekutunya sering menggunakan standar
ganda dalam masalah tersebut. Paradoks berikutnya sistem itu adalah
penggunaan kekuatan militer untuk memaksakan ideologi kapitalisme barat
terhadap dunia yang lain. Di satu sisi, secara teoretis, barat
mengampanyekan demiliterisasi dalam segenap aspek kehidupan.

Sebaliknya, di sisi lain, barat sering menggunakan kekuatan militer demi
kepentingan mereka. Hal itu bisa dilihat bagaimana AS menggunakan kekuatan
militernya atas Iraq.

Indonesia, setelah reformasi bergulir, saat ini, mencoba menjalankan
supremasi sipil atas militer. Hal tersebut terlihat jelas dalam pencabutan
dwifungsi ABRI.

Dalam pilpres putaran kedua mendatang, bisa jadi diskursus kepemimpinan
sipil-militer kembali mencuat. Mengingat, dua pasangan yang akan maju ke
putaran kedua tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. SBY berlatar
belakang militer dan Megawati sipil.

Terlalu dangkal jika kita menilai seseorang akan melakukan gaya kepemimpinan
militer atau sipil hanya dilihat dari latar belakangnya. Sebab, tidak ada
jaminan jika sipil berkuasa tidak akan menggunakan cara militerisme dalam
kepemimpinanya, begitu pun dengan yang berlatar belakang militer. Apalagi,
adanya konstitusi negara ini yang menjadikan RI 1 mempunyai kekuasaan
tertinggi atas AD, AL, dan AU.

Sebagai contoh, dalam pilpres putaran pertama kemarin, Ikatan Alumni UI
Jakarta menemukan sebuah rekaman VCD yang mengindikasikan adanya
keterlibatan jajaran polri dalam menyukseskan pasangan Megawati-Hasyim
(Kompas,26/7).

Pemerintah yang dipilih rakyat (sipil) dalam pilpres putaran kedua
mendatang, selama kinerjanya, pun harus senantiasa dikontrol rakyat. Sebab,
jika tidak, akan ada peluang untuk berubah menjadi pemerintahan militer.

Kita tidak ingin rezim Orba di bawah pemerintahan Soeharto terulang. Sebab,
implikasi pemerintahan militer tersebut jelas sangat berbahaya. Kekuasaan
yang seharusnya digunakan untuk melayani masyarakat berubah menjadi kekuatan
militer.

Taqiyuddin An-Nabhani menulis bahaya pemerintahan militer tersebut,
kekuasaan tidak boleh berubah menjadi militeristik. Jika kekuasaan berubah
menjadi militeristik, pelayanan urusan-urusan rakyat akan menjadi rusak.
Sebab, dalam kondisi demikian, konsep dan standar-standar kekuasaan telah
berubah menjadi otoritarianisme dan keditaktoran, bukan konsep dan standar
pelayaann urusan rakyat.

Begitu pula pemerintahannya, telah berubah menjadi pemerintahan militer yang
hanya akan menyiratkan ketakutan, kediktatoran, otoritarianisme, dan
pertumpahan darah (lihat: An-Nabhani, Sistem Pemerintahan Islam: 327).

Memang, kita tidak dapat memungkiri bahwa posisi militer dalam sebuah negara
sangat strategis. Militer merupakan institusi legal dalam negara yang
memiliki kekuatan dan kekuasaan real.

Militer mempunyai senjata dan pasukan terlatih. Selain itu, militer
terorganisasi dalam suatu sistem komando. Dengan demikian, gerak institusi
tersebut sangat cepat dan efektif. Militer ialah alat kekuasaan negara yang
sah untuk mempertahankan pemerintahan. Karena posisi yang strategis itu,
militer menjadi institusi yang banyak diperebutkan kekuatan-kekuatan
politik, baik untuk melanggengkan kekuasaan politik maupun untuk melakukan
perubahan politik.

Sipil dan militer memang suatu hal yang berbeda, tetapi kita tidak layak
mengistimewakan salah satu di antaranya. Sebab, keduanya akan menjadi
kekuatan yang utuh ketika berjalan pada proporsi masing-masing. Jadi, siapa
pun yang akan lolos menjadi RI 1, kita harus tetap mewaspadai praktik
militerisme.

*Ana Sholikha, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke