"Ada pasangan yang didukung kekuatan internasional. Lihat saja, ngapain Colin Powell sampai tiga hari di Jakarta, seperti kurang pekerjaan. Padahal dia seorang Menteri Luar Negeri yang masih aktif. Tetapi, dia tidak bertemu Megawati atau pejabat negara lainnya. Dia hanya bertemu dengan salah seorang capres (calon presiden)."
----------- Wawancara Amien Rais Ada Capres Didukung Amerika PESAWAT Saudia Airline dengan nomor penerbangan SV 823 mendarat mulus di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, tepat pukul 08.05 waktu setempat, Rabu pekan lalu. Amien Rais dan 13 kerabatnya keluar dari perut pesawat, langsung disambut beberapa personel Konsulat Jenderal (Konjen) Indonesia di Jeddah. Rombongan Amien Rais kemudian meluncur ke rumah kediaman Konjen RI Tajuddin Noor di Tahlia Dist, Jeddah. Setelah makan malam, Amien sekeluarga didampingi Tajuddin Noor melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan sedan mewah Nissan Infiniti keluaran 2003. Tiba di Madinah pukul 01.30, rombongan langsung check in di Hilton Madinah, yang berjarak beberapa meter dari pelataran Masjid Nabawi. Selama di Madinah, Amien banyak menghabiskan waktu di Masjid Nabawi, sambil sesekali mampir di toko-toko kitab untuk membeli buku dan kitab yang sebagian besar mengenai referensi Islam bertuliskan "Arab gundul". Setelah dua hari di Madinah, Amien sekeluarga melaksanakan prosesi ritual umrah ke Mekkah. Selama di Tanah Suci, tak jarang Amien tampak turut menggotong keranda jenazah dari Masjidil Haram ke pemakaman Ma'la yang berjarak sekitar tiga kilometer. Menurut Amien, prosesi pemakaman menjadi peringatan bahwa kehidupan ini akan berakhir di kuburan. Di sela-sela kontemplasinya usai kekalahan dalam pemilihan presiden lalu, Amien menerima kunjungan Nordin Hidayat dari Gatra di kamar 1500 Darut Tauhid Intercontinental, Mekkah, untuk wawancara. Petikannya: Apa tujuan Anda umrah kali ini? Saya sudah biasa menjalankan umrah. Dalam setahun bisa tiga sampai empat kali. Kegiatan ini lebih menarik ketimbang pergi ke Australia atau Eropa. Saya bersyukur bisa berangkat umrah bersama keluarga dan lima orang teman, dibiayai oleh sahabat dekat. Begitu mau berangkat, ternyata sahabat-sahabat lain ikut memberikan sangu. Ada yang menyumbang 5.000, 10.000 riyal, dan US$ 10.000, sehingga kalau dirupiahkan hampir mencapai Rp 150 juta. Dari situ, saya benar-benar menyadari, ternyata masih banyak orang bersimpati dan mencintai saya. Adakah maksud lain, misalnya untuk refleksi atau mencari petunjuk langkah-langkah berikutnya? Ya. Bisa juga dikatakan demikian� untuk refleksi dan kontemplasi. Kenapa baru sekarang melakukannya, bukannya sebelum pemilu? Bagi saya, Tuhan itu lebih dekat dari urat leher kita. Jadi, berdoa kepada Allah itu bisa dilakukan di mana saja. Di Mekkah, Madinah, Gunungkidul, atau di Papua sekalipun. Adakah doa khusus terkait dengan kondisi Anda dan politik Indonesia saat ini? Saya menerima banyak tamu dari berbagai kalangan. Intinya, saya diminta tetap berada di tengah pergulatan bangsa untuk menegakkan demokrasi. Walaupun bukan Ketua MPR lagi, saya akan tetap menjadi elemen penting penegak demokrasi. Saya merasa, dalam posisi apa pun, orang dapat berbuat kebaikan. Di dunia politik, saya menyebutnya dengan istilah amr ma'ruf nahi munkar. Dulu saya hanya "manusia kampus". Tapi, dengan kegigihan, saya berhasil memberikan kontribusi buat suksesi dan reformasi. Apalagi saya sudah memiliki pengalaman lima tahun di MPR sebagai modal penting untuk menghadapi segala problematika bangsa kita. Evaluasi apa yang Anda lakukan setelah kalah dalam pemilu presiden lalu? Katanya, dua sampai tiga hari setelah pemilihan, Anda melakukan self-question? Oh, ya, ya�. Memang pas hari pertama dan kedua setelah pemilu, saya merasa gundah. Tapi, setelah melihat quick count ala NDI yang lantas diikuti running text Komisi Pemilihan Umum, walaupun kontroversial, pada hari ketiga saya menjadi tenang, mantap, dan tanpa beban. Sebab pada puncak reformasi tahun 1999, partai saya hanya mendapat 7%. Kalau pada pemilu presiden saya mendapat 15%, saya bersyukur. Berarti, secara objektif, apa yang kami tawarkan kepada rakyat, hanya 15% itu yang bisa menerima. Sisanya memilih pasangan lain dengan perspektif masing-masing. Itulah permainan demokrasi. Apakah ada faktor lain, misalnya tidak berjalannya mesin politik Muhammadiyah atau kalangan NU yang tak suka karena Anda pernah melengserkan Gus Dur? Nggak, nggak.... Permasalahannya, yang saya hadapi adalah raksasa. Ada pasangan yang didukung kekuatan internasional. Lihat saja, ngapain Colin Powell sampai tiga hari di Jakarta, seperti kurang pekerjaan. Padahal dia seorang Menteri Luar Negeri yang masih aktif. Tetapi, dia tidak bertemu Megawati atau pejabat negara lainnya. Dia hanya bertemu dengan salah seorang capres (calon presiden). Menurut saya, bahasa tubuh Colin Powell menunjukkan bahwa Amerika membekingi salah satu capres. Saya mendapatkan banyak informasi yang otentik. Jadi, saya menyadari bahwa yang saya hadapi tidak main-main. Mereka sudah menjalin kerja sama cukup matang. Dan itu sah-sah saja. Ada pasangan yang menghabiskan dana iklan saja hingga Rp 400 milyar. Sedangkan saya cuma Rp 3 milyar. Tidak ada seperseratusnya. Itu baru satu segi. Di sisi lain, bagi saya, NU adalah satu entitas politik yang unik. Di internal organisasi saja tidak bisa bersatu. Apalagi mengharapkan mendukung pasangan dari luar. Kita lihat, bagaimana terbukanya konflik antara Gus Dur dan Hasyim Muzadi. Juga rivalitas Hasyim dengan Gus Solah. Belum lagi para kiai yang terpecah menjadi berkubu-kubu. Itu sudah jama, dan diketahui semua orang. Sebagai umat Islam, saya merasa sedih. Mengapa kaum ulama, sebagai warastsatul anbiya, tidak bisa satu kata. Ada tiga sampai empat kata. Atau pasangan cawapres Anda tidak memberikan kontribusi suara? Oh, tidak. Saya kira, inilah pemilu yang menunjukkan bahwa politik uang, mesin politik, jaringan organisasi, dan elemen asing, semua bermain secara transparan. Jadi, saya tidak akan bersikap cengeng. Saya menerima, karena semuanya biasa terjadi dalam pemilihan presiden di mana pun. Dalam pemilu presiden kemarin, Anda merasa dicurangi? Ya� saya kira begitu. Banyak kecurangan terjadi. Kejadian di Jawa Timur, misalnya, ada 3.000 kertas suara yang sudah dicoblos untuk salah satu capres, ada sekian ribu suara di Pesantren Al-Zaytun yang misterius. Lalu banyak lagi jual-beli di tingkat PPK dan lain-lain. Itulah Indonesia. Saya tidak bisa mengkritik terlalu tajam negeri kita sendiri. Yang jelas, kita nikmati saja kehidupan di Indonesia ini, ha, ha, ha�. Apakah kekalahan ini menjadi pengujung karier politik Anda? Kalau dikatakan karier politik, sepanjang masa saya berpolitik. Ketika mahasiswa, saya sudah berjuang melalui tulisan. Sewaktu di Pengurus Pusat Muhammadiyah, saya menggulirkan reformasi. Dan ketika di MPR pun, saya sudah menjalankan tugas-tugas MPR dengan baik. Dan sekarang, walaupun tidak dalam posisi formal, insya Allah saya masih bisa memainkan peran yang cukup anggun untuk memberikan masukan-masukan bagi perkembangan demokrasi bangsa. Apakah Anda berniat bertarung lagi memperebutkan kursi presiden pada 2009? Wah, nggak tahu. Masih terlalu jauh. Kita nggak tahu, apakah kita masih hidup.... Apa rencana Anda ke depan, kembali ke kampus atau tetap di jalur politik? Ada seribu satu macam amal saleh yang bisa saya kerjakan. Di bidang pendidikan, dakwah, mengajar, atau menulis. Jadi, tidak usah dibeda-bedakan. Di jalur politik, saya akan menjadi oposisi, bahkan lebih dari itu. Bentuk kongkretnya, nanti kita lihat! Barisan Cinta Amien akan memilih golput. Apa saran Anda? Saya melihat, sentimen dari bawah memang cukup kuat untuk bergolput-ria. Artinya, mereka berargumen bahwa antara Megawati dan SBY tidak ada perbedaan yang fundamental. Hanya beda nuansa. Megawati dan SBY hampir lima tahun bekerja sama. Dari saat Megawati menjadi wapres hingga ke kursi presiden, SBY malah menjadi semacam menteri utamanya. Dua tokoh ini sudah saling mengisi, komplementer. Sehingga dalam hal pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, saya yakin sami mawon. Dengan demikian, menjadi sulit, mau pilih siapa. Kalau soal statemen kepada konstituen saya, akan dirumuskan lebih lanjut. Bagaimana jika ada tawaran koalisi dari Mega atau SBY? Itu tidak pernah saya bayangkan. Saya tidak mau berandai-andai. Anda condong ke mana? Sama saja. Yang menang Mega atau SBY, bangsa Indonesia tidak akan banyak berubah. Itu refleksi saya selama di Yogyakarta. Hasil refleksi di Tanah Suci? Di sini, setiap umrah, tidak ada lagi pikiran duniawi. Saya merasa dunia ini kecil dan nisbi. Insya Allah, orang yang selalu melaksanakan ibadah tawadhu' akan memiliki perspektif jernih bahwa dunia ini maya, tidak langgeng. Sekali lagi, saya dan Pak Siswono serta teman-teman menerima hasil yang 15%. Itulah sebagian rakyat yang baru bisa memahami. Selebihnya, saya tetap menghormati mereka yang memiliki perspektif lain. Itulah demokrasi. [Nasional, Gatra Nomor 37 Beredar Jumat, 23 Juli 2004] URL: http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=42448 __________________________________ Do you Yahoo!? New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

