Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [4].



Petani Klaten dan Zapata

Tahun itu tahun 1963,Guk. Lekra Jawa Tengah [Jateng] yang berpusat di Semarang, 
memanggilku agar segera datang ke ibukota Jateng itu. Tapi panggilan untuk segera 
datang ini tidak disertai sepeserpun ongkos transpor. Entah mengapa, aku tetap juga 
datang, meninggalkan tentamen, dengan menumpang truk ayam dari stasiun bus yang waktu 
itu terletak di belakang Beringharjo, tidak jauh dari daerah tokobuku yang sekarang 
dikenal dengan nama Shopping. Sopir truk berbaik hati mengantarku sampai ke tempat 
tujuan, sambil tertawa berkata:

"Jangan heran kalau nanti adik dibilang bau tahi ayam, ya", ujarnya sambil memasukkan 
perseneleng untuk meneruskan perjalanan. Terimakasihku dijawabnya dengan lambaian 
tangan hangat. Untuk melakukan perjalanan antar kota pada waktu itu aku memang banyak 
dibantu oleh para sopir truk yang berpenampilan kasar, tapi polos dan gampang paham. 
Di dalam truk-truk begini aku banyak berkenalan dengan "bakul-bakul" sayur, "bakul" 
buah-buahan dan macam-macam ibu dari desa.

Pertemuan di Semarang itu memutuskan bahwa aku dipecayai untuk mengikuti Gerakan Aksi 
Sepihak untuk melaksanakan perobahan agraria dan bagi hasil sesuai dengan UU Perobahan 
Agraria [UUPA] dan UU Peraturan Bagi Hasil [UUPBH]  di Klaten. Gerakan yang kemudian 
kuikuti dari awal hingga akhir dengan metode yang oleh Lekra disebut dengan "metode 
tiga sama" dan kemudian berdasarkan pengalaman pelaksanaannya dikembangkan menjadi 
"empat sama":sama kerja, sama tidur, sama makan dan sama diskusi. Dalam melaksanakan 
empat sama ini aku dilarang sama sekali mencatat di depan kaum tani. Misi utamaku 
dalam mengikuti langsung Gerakan Aksi Sepihak adalah menulis drama tentang kaum tani 
kemudian mementaskan drama yang kutulis itu dengan pemain dari kaum tani itu 
sendiri.Ketika mendapat kepercayaan ini, aku sendiri diliputi oleh keraguan. Bagaimana 
seorang Dayak bisa melaksanakan kepercayaan ini di tengah-tengah orang desa Jawa? 
Apakah mungkin para petani yang ikut aksi bermain dalam drama berbahasa Indonesia? 
Pertanyaan-pertanyaan begini kusimpan saja dalam hati sebagaimana aku menyimpan dalam 
hati tantangan keluargaku dahulu ketika berangkat dari kampung untuk mencari lanjutan 
sekolah. Barangkali aku memang dipengaruhi oleh tradisi orang Dayak yang pantang 
menampik tantangan. Kalau menerimanya, maka ia harus melaksanakannya sampai tuntas. 
Pada masa kanakku, di kalangan orang Dayak kata dan perbuatan tidak boleh berjarak. 
Dan kalau merenungkannya maka dalam kesatuan inilah kekuatan mantera didapat. Jadi 
bukan mantera model yang ditafsirkan oleh para kritikus sastra negeri kita mengenai 
mantera. Dari segi ini barangkali mantera bisa dipandang pertama-tama mengandung suatu 
patokan etika dan bukan pengutamaan bentuk. Oleh karena itu, sering aku melihat 
"modernisasi" yang sering memerosotkan manusia terkadang jauh lebih "primitif" dalam 
artian harafiah dari pada kelompok masyarakat yang dinamakan "primitif" itu sendiri. 
Penguasaan tekhnologi, mencapai jenjang pendidikan tinggi, apakah merupakan jaminan 
bahwa seseorang yang menganggap diri "cendekiawan", dan "modern" menjadi lebih 
mempunyai keluhuran [luhur tidaknya seseorang kutakar dari usaha memanusiawikan 
manusia, kehidupan dan masyarakat]?

Seseorang yang bersekolah, tanda ia telah menyelesaikan pendidikan jenjang tertentu 
memperoleh selembar kertas sebagai tanda dan tanda ini disebut ijazah. Dengan ijazah 
ini, pemegangnya membuka peluang untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan bidang yang 
dia pelajari -- sekalipun memang sering terjadi penyimpangan-penyimpangan. Misalnya 
seorang yang belajar ilmu kimia, kemudian bekerja sebagai penerbit, seorang yang 
belajar sastra kemudian untuk hidupnya ia bekerja sebagai penjual traktor dan 
mesin-mesin. Tapi apapun juga jenis ijazah yang telah dikantongi, ijazah membuka 
peluang tertentu bagi pemegangnya.Ini adalah konvensi masyarakat. Pada masa Orde Baru 
kita pun menyaksikan bagaimana ijazah penjara berguna untuk mendapatkan 
jabatan-jabatan tertentu, setelah mana cita-cita semula yang membuatnya dikirim ke 
penjara jadi busa.  Barangkali menyimpulkan pengalaman dan keadaan begini maka orang 
Tiongkok berkata bahwa "daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh". 

Dalam masyarakat yang polos seperti masyarakat petani misalnya, orang-orang pun sering 
silau oleh kharisma ijazah. Ada perkiraan dan harapan bahwa  pemegang ijazah telah 
menjelma jadi manusia lebih unggul dan berkemampuan lebih dalam segala bidang, 
termasuk keteguhan pandangan, sikap dan pendirian. Jarang orang kampung menduga bahwa 
justru ijazah ini membuka pintu kemungkinan baru bagi pengkhianatan dan kegoyahan. 
Mendorong inidividualisme. Lebih-lebih pada saat gawat di mana pemegang ijazah 
berhadapan dengan ancaman ajal. Kegoyahan ini aku saksikan juga pada saat mengikuti 
langsung Gerakan Aksi Sepihak di pedesaan Kalteng. Di dalam gerakan aksi sepihak ini 
aku lihat benar betapa kondisi sosial seseorang menentukan keteguhan pandangan, sikap 
dan pendirian. Paling tidak kusaksikan di dalam Gerakan adanya dua sikap yang sangat 
berbeda. Di satu pihak, sikap para petani miskin dan buruh tani yang bisa disebut 
sebagai proletar desa, di pihak lain sikap para elite desa, termasuk guru desa yang 
tentu saja dihormati.

Mungkin gampang dimengerti bahwa dalam Gerakan Aksi Sepihak itu, polisi dan petani 
hadap-hadapan. Tidak sedikit pimpinan Gerakan yang ditangkap dan dimasukkan ke 
penjara. Kesempatan berada dipenjara, mereka jadikan sebagai kesempatan untuk belajar 
[dalam arti luas] dengan tenang. Tapi sekalipun pimpinan Gerakan banyak yang ditangkap 
dan dipenjarakan, Gerakan Aksi Sepihak tetap saja berlangsung dengan marak ibarat 
kedahsyatan arus banjir yang kuasa mematahkan dan memporakparandakan segala halangan 
di hadapannya. Kedahsyatan arus banjir ini kurasakah sendiri ketika aku mencoba 
membuka  pintu air agar tidak menggenangi kandang babi dari jenis Swedia yang 
kupelihara waktu itu. 

Dari pergaulan dengan kaum tani di pedesaan Klaten,kemudian kuketahui bahwa kekuatan 
kaum tani yang bangkit secara sadar akan melebihi kekuatan arus banjir. Bayangkan, 
Guk, ketika para pemimpin Gerakan Aksi Sepihak akan diadili di Pengadilan Negeri 
Klaten, ribuan dan ribuan kaum tani turun ke kota dari berbagai penjuru. Saban 500 
meter, berjaga dengan bren.Artinya jarak pos pengawasan satu dan yang lain 
disambungkan oleh jarak tembak eektif senjata yang digunakan.  Tapi para petani sama 
sekali tidak tergertak. Ketika para pimpinan Gerakan diturunkan oleh polisi dari truk 
yang mengangkut mereka, para  petani menyerbu tak terbendung, ke arah para pimpinan 
Gerakan sekedar untuk mengalungkan bunga. Setelah itu mereka dengan tenang menunggu di 
luar ruangan sidang, mendengarkan suara pembelaan Abdul Madjid SH [yang kalau tidak 
salah masih keluarga dari R.A.Kartini], melalui pengeras suara. Aku sendiri hadir pada 
waktu itu di tengah-tengah kaum tani yang mengikitui sidang dari luar. Bayanganku,dari 
pembelaan Abdul Madjid almarhum [akhirnya meninggal di Negeri Belanda], aku akan 
mendengarkan pembelaan tipe Dimitrov ketika diadili oleh pengadilan Hitler, Julius 
Fucik ketika berada di penjara atau tokoh-tokoh kiri Kakak Chiang, Liu Hulan dan 
lain-lainnya yang pernah kubaca, yang menggunakan mimbar pengadilan untuk menelenjangi 
"musuh". Kurang percaya pada pendengaranku pada waktu mendengar pembelaan tersebut, 
aku  mencoba mencari teks pembelaan. Teks dan pendengaranku juga berkesimpulan sama 
[maaf!]: Abdul Madjid yang kukenal cukup baik, agaknya kurang meresapi nyala api di 
hati kaum tani yang sedang bangkit. Abdul Madjid tidak mampu mengimbangi petani-petani 
yang ditampilkan sebagai saksi atau yang diadili secara terpisah dari para pemimpin 
Gerakan dan mencoba membela diri mereka dengan gaya petani mereka yang polos. Tentu 
saja, aku tidak meragukan keberpihakan Abdul Madjid kepada orang-orang terpinggir dan 
dipinggirkan. Yang aku persoalkan adalah andaian. Andaikan Abdul Madjid turun dari 
menara gadingnya ke padang-padang Gerakan barangkali warna pembelaan legalnya akan 
bercorak lain. Dari sini kulihat bahwa kemauan baik saja kukira tidak cukup bagi 
seorang yang berpendidikan untuk bisa menghayati denyut jantung mayoritas penduduk 
yang dipihakinya. Penghayatan adalah penyatuan diri, pengabungan diri dengan badai 
topan pergulatan mereka. Tanpa penyatuan dan penggabungan, sama halnya dengan melihat 
pergulatan mayoritas penduduk dari menara gading atau dari atas pelana. 

Jika melihat keadaan kita sekarang, hari ini, seberapa banyak, para terdidik kita yang 
sungguh-sungguh menyatukan dan menggabungkan diri dengan pergulatan mayoritas penduduk 
negeri? Yang nyata tak terbantahkan lebih banyak kemauan baik, dan kemauan baik yang 
disuarakan dari atas menara gading serta pelana kuda. Ketika keadaan berbahaya, kuda 
pun dipacu kencang ke penjuru-penjuru aman. Ini watak umum para pemegang ijazah yang 
jauh dari badai topan pergulatan mayoritas penduduk. Mayoritas yang berkehidupan papa 
dijadikan landasan belaka.Sedangkan mereka sendiri tidak ke atas, tidak ke bawah, 
tidak di tengah tapi menjurus dan berkurung di diri sendiri. Dengan selubung kepapaan 
mereka meningkatkan diri sendiri dan kemudian setelah berada makin di atas dengan 
gelar ini itu sebagai hiasan, jarak mereka dari mayoritas pun makin jauh. Mereka 
kukira memang tetap diperlukan tapi bukan sandaran perobahan hakiki lagi. Kecuali 
kalau mereka dengan tegas menyatukan diri secara nyata dengan gerakan pembebasan 
mayoritas. Tinggal di menara gading atau di punggung pelana dan menyatukan diri 
langsung dengan gerakan pembebasan mayoritas oleh Gerakan 4 Mei di Tiongkok  misalnya 
ditunjukkan memang merupakan dua jalan yang membedakan dan memisahkan dua tipe 
orang-orang terdidik. Para pemegang ijazah agaknya tidak lain dari jenis manusia yang 
berada di jalan simpang. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa menggantungkan 
harapan baik pada tipe menara gading dengan segala variasinya.

Berbeda dengan para petani yang tak berpunya dan telah sadar akan arti gerakan adalah 
sikap seorang guru desa yang kemudian jadi buah bibir seluruh kabupaten Klaten pada 
waktu itu. Sang guru desa, yang dipilih sebagai penanggungjawab utama Barisan Tani 
Indonesia, karena ijazahnya, ketika digrebek polisi lari dan berobah lalu memusuhi 
Gerakan. Dari contoh ini nampak bahwa gerakan tidak perlu silau oleh ijazah. Benar 
bahwa orang-orang terdidik diperlukan oleh gerakan tapi kalau ingin gerakan itu 
berlanjut, gerakan tidak mungkin dipimpin oleh para orang terdidik yang tidak teruji 
sikap dan pendiriannya memalui badai topan pergulatan panjang. Ternyata kemudian 
Gerakan Aksi Sepihak melahirkan pemimpin-pemimpinnya sendiri melalui gerakan dan dari 
kalangan yang dipandang sebelah mata sebelumnya. Contoh tipikal pada waktu itu adalah 
Mbok Kerti. Dari pengalaman ini aku kira pemimpin itu tidak dipilih tapi 
dilahirkan.Dilahirkan oleh pergelutan merebut kemanusiaan seperti dengan munculnya 
Mbok Kerti. Tidakkah menertawakan jika seorang mantan ketua partai membangga-banggakan 
gelar yang baru ia peroleh dan betapa orang-orang partai politik membeli gelar atau 
kembali menempuh ujian guna mendapatkan gelar akademi . Padahal gelar bukan tanda 
kemampuan memimpin dan tanda kepemimpinan.  

Melihat kembali gerakan kaum tani Klaten pada tahun 1963-1964, sekarang, aku seperti 
melihat nasib Zapata dan gerakannya. Ia dikhianati oleh pemegang ijazah dan partai 
politik. Akankah para petani dan etnik-etnik terpinggir negeri kita melahirkan 
Komandan Marcos dari Chiapas, Meksiko?        


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke