Mangkya darajating praja/ Kawuryan wus unya luri/
Rurah pangrehing ukara/ Karana tanpa palupi/ Atilar
silastuti/ Sujana sarjana kelu/ Kalulun kala tidha/
Tidhem tandhaning dumadi/ Hardayeng rat, dening
karoban rubeda (Sinom pembukaan serat KALATIDHA)

Kita banyak mendapati kata-kata pungut bahasa jawa ke
dalam bahasa Indonesia. Namun sayangnya, kata-kata itu
sering jauh panggang dari api artinya. Ambil contoh
Binagraha yang diambil dari bahasa jawa yang juga
berasal dari sansekerta, yang berarti gedung atau
tempat kepala negara (raja) berkantor. Tetapi apa yang
didapati? Binagraha telah menjadi sekedar tempat
pertemuan, sementara itu sang kepala negara berkantor
di istana atau malah di rumahnya. 

Saya mengambil bahasa daerah Jawa, karena memang orang
jawa. Betapa saya merasakan miskinnya pemahaman akan
bahasa daerah yang saya pergunakan secara lisan hampir
sehari-hari. Menghadapi suatu bentuk syair sederhana,
karya pujangga jawa abad 19 pun harus sering saya
membuka kamus bahasa Jawa. Ambil contoh sepenggal
tembang Sinom dari serat terkenal yang tak jarang
diributkan, KALATIDHA, di atas. Masihkah secara lancar
dimengerti arti atau makna kata-katanya oleh orang
jawa kebanyakan? Padahal itulah inti latarbelakang
serat Kalatidha ditulis oleh Ranggawarsita. 

Dia menulisnya, dengan alasan keadaan Kerajaan
Surakarta dan Pura Mangkunegaran sudah demikian
buruknya, walaupun kehidupan pamong praja masih
sejahtera, raja dan patihnya pun masih orang-orang
pilihan. Hanya karena jamannyalah yang menghendaki
keadaan negeri kacau balau. Keadaan jaman yang seolah
mengijinkan atau memaksa para orang pandai (sarjana
sujana) untuk ikut terlarut dalam periode yang
menghawatirkan dengan meninggalkan etika dan adap
kesopanan. Keadaan sekarang mungkin lebih parah
dibandingkan keadaan yang dapat dilihat oleh Ki
Ranggawarsita, seabad lebih yang lalu. Keparahan
keadaan makin menjadi bila menengok keadaan budaya
lokal yang semakin menipis. Ditandai dengan
pengasingan bahasa-bahasa daerah oleh para pelakunya,
ataupun oleh bangsa Indonesia secara umum.

Maka dengan pemahaman sederhana bahwa bahasa adalah
wadah komunikasi Ipoleksosbudhankamnas serta alat
bernalar dan berfikir dari suatu komunitas, maka
sebagai bangsa yang majemuk, perlulah adanya saling
faham dan mengerti akan bahasa-bahasa daerah yang
�telah� diakui sebagai kekayaan budaya bangsa
Indonesia. Hampir tujuh puluh enam tahun yang lalu
bangsa besar ini pernah berikrar menjunjung tinggi
satu bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Berhubung
Bahasa Indonesia ini telah dibakukan, maka biarlah dia
menjadi baku. Baku sebagai bahasa resmi, bahasa ilmu
pengetahuan dan bahasa pemerintahan. Kalaupun
digunakan sebagai perangkat kesusasteraan, maka
biarlah dia dicampur dan diaduk oleh sasterawan
pemilihnya.

Jelas akan sulit bila mengandalkan bahasa Indonesia
saja sebagai bebat pemersatu suku bangsa yang
mempergunakan aneka bahasa. Yang kebetulan pula sudah
terlanjur saling menganggap asing bahasa-bahasa daerah
itu. Mengapa tidak kita ubah, kebinekaan bahasa itu
dijadikan modal pemersatu? Sedikit banyak kita
menuruti �Perbedaan adalah Rahmat� walaupun kurang
erat kaitannya. Memang kita tidak dapat begitu saja
meniru 3 bangsa Asia Timur dengan karakter kanjinya.
Namun penggunaan karakter kanji atau bentuk-bentuk
kriptogram lainnya tidak cukup alasan untuk tidak
dikaji. 

Yang paling mungkin dilakukan adalah meniru bangsa
Eropa dengan Uni Eropanya. Yaitu mementingkan
pelajaran BAHASA dalam pendidikan formalnya sejak
sekolah dasar hingga SLTA. Bangsa Eropa yang berlainan
bangsa pun dapat bersatu menuju tujuan bersama yang
dipercaya akan menyejahterakan mereka, mengapa Bangsa
Indonesia yang berbeda hanya pada tingkat
suku-bangsanya tidak bisa? Apalagi bila sumpah satu
tanah air dan satu bangsa tetap masih dipegang teguh,
bangsa Indonesia pasti bisa lebih besar dibanding
Bangsa Eropa itu.

Alangkah menariknya seandainya dalam kurikulum
pendidikan dasar dan menengah ada pelajaran aneka
bahasa daerah nusantara. Sekalipun pelajaran itu masih
berupa mata ajaran pilihan, dalam artian memilih
bahasa-bahasa besar dari setiap wilayah atau pulau.
Ambil contoh pada tingkat SD, untuk pulau Sumatera,
alangkah baiknya bila saling faham antar bahasa-bahasa
di pulau itu dari Aceh hingga Lampung. Untuk Pulau
Sulawesi, Kalimantan, Kep.Nusatenggara, demikian juga.
Kemudian pada jenjang pendidikan lebih tinggi,
dikembangkan ragam menjadi bahasa antar pulau,
misalnya. Sehingga akhirnya timbul saling memahami dan
menghormati bahasa-bahasa nusantara, dan bahasa-bahasa
itu tidak lagi menjadi bahasa asing di negeri sendiri.
Dengan demikian diharapkan akan ikut berkembang pula
kesusasteraan daerah, yang akan mewarnai bahasa
tulisnya. Kesusasteraan mau tidak mau akan merekam
pula kebudayaan setempatnya. Sehingga akan saling
faham juga antar budaya nusantara. Yang tujuannya akan
semakin sadar dan menghargai unsur-unsur bangsa
Indonesia itu akan Kebinekaannya. 

Mungkin sekali pemahaman positif antar budaya dan
bahasa suku bangsa, akan menjadi tali pengikat
persatuan bangsa yang tidak kasat mata, tetapi liat
dan kuat melilit bumi persada dengan segala isinya.
Maka semboyan rekaan BINEKA BAHASA TUNGGAL BANGSA akan
menambah kuatnya pita putih BINEKA TUNGGAL IKA pijakan
Paksi Garuda pembawa perisai bangsa PANCASILA di
dadanya.

Suatu angan-angan yang terlampau muluk? Barangkali
benar! Apalagi dalam keadaan penuh ancaman perpecahan
bangsa dewasa ini. Namun apakah kita tidak akan
bahagia seandainya nanti menyaksikan anak keturunan
kita (ambil dua suku di pulau jawa, sunda dan jawa)
yang berasal dari bumi parahiyangan bernama Asep
dengan temannya yang dari Jawa Timur, bernama Bonek.
Yang bercakap-cakap tetap dalam bahasa daerah
masing-masing, tetapi saling mengerti:
Asep:  �Euy, kumaha atuh wartosna Cak Bonek, tos lami
teu papeunda, euy?�
Bonek: �U�dan koen, ij�k or�p a� koen, S�p. Yo ng�n�
iki ap�k-ap�k a�. Lha, Si D�l, Si L�b�s, Beli Wayan
barang iko yok opo kabar�? Gak krungu tah?�


=====
mBah SoeL
==================================
Suradira Jayaningrat Lebur dening Pangastuti 
 
Mailing list gojegan (omahe mBah SoeL):
http://groups.yahoo.com/group/kaljw ambek
http://groups.yahoo.com/group/wjst2001
lha nek sing serius ngrembug negara:
http://groups.yahoo.com/group/sknap
 












__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke