MENULIS, TRADISINYA ORANG-ORANG HEBAT!

Esai: Ibnu Adam Aviciena 



Aku hadapkan ruhku ke haribaan Tuhan. Meski jasadku dikubur dalam 
tanah, namun aku akan bangkit bersama namaku pada generasi-generasi 
mendatang serta pada seluruh umat manusia--Francis Bacon (w. 1626 M) 



Puluhan koran menumpuk di bak. Sudah satu bulan tulisan tentang seni, 
terutama sastra tidak dikliping. Mengeliping, bagi saya pekerjaan 
yang menjemukan. Harus memilih, memotong dan menempelkannya pada 
kertas. Sudah pasti tangan menjadi lengket. Untuk sebuah tulisan 
membutuhkan beberapa menit. Ini satu tumpuk besar, aduh!

Koran demi koran saya periksa. Untuk koran Senin hingga Sabtu, 
pengerjaannya lebih cepat. Biasanya tulisan tentang seni jarang 
sepanjang enam hari itu. Sementara untuk koran Minggu, cukup teliti. 
Halaman demi halaman diperiksa. Beberapa menit kemudian, tumpukan 
koran sudah berkurang. Hingga akhirnya lama saya tidak mengambil 
koran karena asyik membaca cerpen Mustafa Bisri di Media Indonesia. 
Nama Mustafa Bisri menyentak saya! Saya sering mendengar. Tapi ini 
lain. Entah karena apa pula. Cerpennya kali ini membuat saya termangu-
mangu. Siapa Mustafa Bisri? Sering sekali saya membaca namanya di 
media massa. Apakah Mustafa Bisri yang ini sama dengan Mustafa Bisri 
yang menulis buku, atau memberi kata pengantar buku orang lain? Saya 
menduga ya.

Sekitar satu minggu sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke 
perpustakaan kampus. Wah, luar biasa. Ada perkembangan. Pada papan 
pengumuman ada kertas tertempel yang berisi informasi buku-buku baru. 
Di kampus macam STAIN yang tidak memiliki jurusan sastra saya kira 
hebat memiliki sekoleksi novel dan buku puisi.

Di perpustakaan itu, saya biasa menyempatkan masuk ke satu ruangan 
khusus hanya untuk terkagum-kagum. Sambil menggelang-gelang kepala, 
tangan bertolak pinggang. Seluruh dinding ruangan itu disandari rak 
tinggi-tinggi. Bagian tengahnyapun tidak dibiarkan bolong melompong. 
Rak-rak yang sama besar sama tinggi dijajarkan sehingga tercipta 
lorong-lorong. Saya hanya bisa menekan dada dalam lorong-lorong itu. 
Karena seluruh buku ditulis dengan bahasa Arab dan tiap-tiap judul 
hingga puluhan jilid dengan ketebalan sangat luar biasa jika 
dibandingkan dengan buku-buku terbitan Indonesia.

Saya serius merasa aneh kepada mereka--penulis buku-buku itu. 
Masalahnya rata-rata usia mereka tidak mencapai seratus tahun. 
Sementara buku yang mereka tulis tidak hanya satu judul, melainkan 
puluhan. Untuk satu judul bisa mencapai 15 jilid dengan ketebalan 
masing-masing jilid setebal Sejarah Tuhan dan Perang Suci-nya Karen 
Amstrong.

Kemudian teringat ke suatu hari ketika saya masih mesantren. Kiyai 
bercerita tentang Imam Sibawaih, seorang ulama yang penulis. Yang 
biasa dilakukan oleh Imam itu, sehari-harinya barangkali hanya 
menulis. Saya tidak pernah mendengar kiyai menceritakan bagaimana 
Imam itu dapat makan. Hingga bagian cerita paling menarik saya 
ketahui. Bahwa hampir seluruh buku dia, tulisan orang lain dan buku 
yang ditulisnya dibakar isterinya, hanya karena sejak pernikahan sang 
isteri tidak pernah disentuh. Sang Imam lupa kalau dia memunyai 
sesuatu yang lain selain buku karena bergumul dengan buku sangat 
mengasyikan. Selain Imam Sibawaih, kiyai juga menceritakan ada ulama 
(ilmuwan) yang mati karena tertindih oleh buku-buku yang jatuh dari 
raknya.

Cerita yang agak aneh bagi saya ini menjadi masuk akal ketika saya 
berada di ruangan khusus perpustakaan STAIN tersebut. Ketika seluruh 
dinding disandari rak yang hampir mencapai langit-langit. Di tengah-
tengah ruangan masih juga ditaruh rak-rak yang sama besar sama 
tinggi. Maka menjadi rasional jika rak yang penuh oleh buku itu bisa 
mematikan jika menindih saya, atau ilmuwan itu.

Mereka, para penulis itu memang luar biasa. Bisa dibayangkan 
seandainya saja mereka tidak menulis, kita tidak akan banyak tahu 
sejauh mana pemikiran masa lalu berjalan, sejauh mana pencapaian budi 
mendalam. Karena komunikasi lisan, untuk satu bagian tertentu 
memiliki kekurangan. Suara itu hilang bersama dengan berhentinya 
pembicara berbicara. Maka di sini Plato menjadi sangat berjasa telah 
mencatat kebijaksanaan gurunya, Sokrates. Seorang filsuf yang senang 
pergi ke pasar untuk berdialog, untuk kembali mempertanyakan 
kemapanan. Andai saja Plato tidak ada, dari siapa kita bahwa sesuatu 
itu telah dipikirkan oleh orang Yunani ini, atau oleh orang-orang 
sebelumnya.

Karena penulis pula, saya bisa sedikit tahu tentang filsafat. Akan 
tahu pemikiran Plato dari siapa ketika saya lahir di perkampungan 
yang penduduknya sehari-hari dihabiskan di kebun dan di sawah, kalau 
bukan dari para penulis. Maka di sini saya berterimakasih, misalkan 
kepada Lou Marinoff lewat Plato Not Prozac! yang telah menghubungkan 
saya dengan pemikir-pemikir masa lalu. Yang telah menganggukan kepala 
saya. Karena ketika awal saya kenal filsafat, filsafat hanya 
dikatakan pernah menjadi pusat segala ilmu. Tetapi kenapa bisa 
dimikian dan apa fungsi filsafat secara praktis, masih samar-samar. 
Lou Marinoff, salah satunya, melalui Plato Not Prozac! menegaskan 
bahwa filsafat itu bukan makhluk akademis yang hanya ada di kampus. 
Filsafat itu ada dalam keseharian. Saya juga mana tahu kalau Sokrates 
pernah bilang, "Hidup yang tidak pernah dipertanyakan tidak pantas 
untuk dijalani," jika penulis yang mengabadikannya.

Bisa dibayangkan juga, apa yang akan terjadi saat ini jika dulu 
Alquran tidak dicatat. Peperangan demi peperangan telah menghabisi 
para ulama penghafal Alquran. Andai saja saat itu yang hafal ada 100 
ulama, kemudian 100 ulama itu meninggal, maka habislah Alquran yang 
ada di kepala mereka. Karena Zaid bin Tsabit, Abu Bakar dan sahabat-
sahabat penulis lain mencatat Alqur'an, sekarang orang-orang Islam 
bisa membaca pesan-pesan Tuhan itu. Meski memang secara teologis, 
keabadian Alqur'an itu sudah dijanjikan-Nya.

Penulis, menurut Muhidin M. Dahlan pada Matabaca Vol. 2/No.11/juli 
2004, adalah "juga seorang juru bicara bagi masyarakatnya, bagi 
bangsanya. Sosoknya mungkin seperti nabi. Dengan tugasnya itu mereka 
bahkan tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri--sebagaimana 
halnya para nabi."

Pramoedya Ananta Toer, telah menjadi juru bicara bagi masyarakat, 
bagi bangsanya karena menulis Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejek 
Langkah dan Rumah Kaca; Pram telah menjadi "nabi" karena 
menceritakan "suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, 
menakutkan, dan menyuramkan", dalam Perawan Remaja dalam Cengkraman 
Militer. Bagaimana laki-laki kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini 
tidak merasa pilu ketika dia mendengar langsung penuturan perawan-
perawan yang dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo itu, telah menjadi 
wanita tua yang sengsara. Mereka, perawan-perawan remaja yang telah 
menjadi wanita tua itu tidak disekolahkan sebagaimana janji Jepang, 
melainkan menjadi pelayan seks di pedalaman-pedalaman. Bukan hanya 
Pram yang pilu, hati saya pun tercabik-cabik padahal hanya katanya--
kata Pram.

Untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dan bangsa memang tidak 
mudah. Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji lahir di 
Maroko Afrika Utara, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah, 
untuk bisa menulis Tuhfah Al-Nuzzar fi Ghara'ib Al-Amsar wa Ajaib Al-
Asfar harus mengadakan perjalanan sepanjang 75.000 mil dengan 
berjalan kaki melintasi berbagai negara, termasuk ke Aceh, Indonesia.

Sementara Iman Syafi'i, untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dia 
harus belajar kepada sejumlah guru yang jumlahnya hampir sama dengan 
jumlah muridnya. Harus menghafal Al-Muwatha'-nya Imam Malik. Dan 
memang Imam Syafi'i luar biasa. Kitab setebal itu mampu dihapalnya 
hanya dalam sembilan malam.

Dia bilang, "Setiap kali pulang mengaji, aku selalu mengumpulkan 
pecahan-pecahan genting, kulit-kuliat binatang kering, pelapah-
pelapah kurma, dan tulang-tulang unta. Kutulis hadis-hadis nabi pada 
semua benda itu, kemudian ibuku mengumpulkannya pada suatu wadah. 
Setelah itu aku pergi ke Makkah dan bermukim di dusun kabilah 
Hudzayl."

Pernah diceritakan oleh Humaydi bahwa dirinya pernah mengadakan 
perjalanan bersama ahli fiqh dan penyair itu ke Mesir. Pada terngah 
malam di penginapan, lampu menyala. Humaydi kaget ternyata sang imam 
masih terjaga dengan secarik kertas dan tinta. Ketika ditanya, imam 
kelahiran Palestina ini menjawab, "Aku sedang memikirkan makna suatu 
hadis, maka kusuruh anak kecil menyalakan lampu sehingga aku bisa 
menulis hadis itu."

Plato, Ibnu Batutah, Pram, Imam Syafi'i; mereka adalah orang-orang 
hebat. Mereka masih akan hidup sekalipun jasad terkubur dalam tanah. 
Akumulasi pengetahuan yang mereka tulisankan akan terus menyerukan 
bahwa pemiliknya masih hidup. Sebagaimana filsuf Francis Bacon pernah 
berucap, "Aku hadapkan ruhku ke haribaan Tuhan. Meski jasadku dikubur 
dalam tanah, namun aku akan bangkit bersama namaku pada generasi-
generasi mendatang serta pada seluruh umat manusia."** 



Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang pada Program Pidana dan 
Politik Islam, Sekretaris Rumah Dunia. Aktif di Sanggar Sastra Serang.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke