SBY atau Mega, Sama Saja! (2)

Oleh HUSIN M. AL-BANJARI 
(Pikiran Rakyat, 11 Agustus 2004)

SELAIN para peneliti yang pro SBY, juga ada yang
memandang, memilih SBY sebagai penuh risiko. Berikut
adalah di antara alasan para peneliti yang lebih pro
ke Megawati. Pertama, Megawati menjadi pilihan karena
pertimbangan faktor risiko yang lebih rendah. Kelompok
yang berafiliasi ke Partai Damai Sejahtera (PDS)
banyak yang berpikir demikian dan karenanya lebih
mendukung Megawati ketimbang SBY. 
Menarik untuk dicermati, beberapa alasan yang
dikemukakan Jusuf Wanandi dalam sebuah artikelnya
berjudul, Megawati atau Susilo B Yudhoyono? ketika
membahas risiko-risiko jika pilihan jatuh kepada SBY.
Bahwa SBY tumbuh dari jajaran pimpinan TNI/ABRI rezim
Soeharto pada saat mana telah terjadi berbagai
pelanggaran besar seperti di Timtim, peristiwa 27 Juli
1996 di Jakarta, kerusuhan Mei 1998, serta tragedi
Trisakti dan Semanggi I/II terhadap mahasiswa. 
Risiko terbesar, menurut Jusuf, adalah SBY dikelilingi
bekas perwira tinggi dan senior TNI yang berpengaruh
besar terhadapnya. Bagi para perwira senior itu,
kontrol demokratis oleh kelompok sipil terhadap TNI
tidak dapat diterima. Ini terlihat saat SBY
mengaburkan prinsip itu dari platform Partai Demokrat
karena tentangan mereka.
Selain itu, Jusuf juga masih meragukan SBY mampu
menjadi seorang pemimpin yang bisa membawa demokrasi
untuk hari depan Republik Indonesia. SBY menurutnya
tidak bisa dilihat sebagai seorang Eisenhower atau de
Gaulle yang dibesarkan dalam alam tentara. Karena itu,
ia mengerti arti kontrol demokratis terhadap militer
oleh kelompok sipil. Dia dibesarkan di bawah rezim
Soeharto yang otokratis yang ditopang ABRI. 
Masih menurut Jusuf, pertimbangan terhadap SBY juga
dipengaruhi oleh pandangan terhadap calon wakil
presidennya, Jusuf Kalla. "Cukup mengejutkan, karena
sementara kalangan, termasuk kelompok minoritas
pengusaha Tionghoa Indonesia, mempertanyakan sikap dan
pandangannya terhadap peran ekonomi kelompok Tionghoa
Indonesia, serta kesan nasionalisme ekonomi dan
retorik populisme yang berlebihan. Kelompok perempuan
juga menyatakan kemarahan atas ketidakpekaannya dalam
urusan gender," demikian Jusuf.
Kedua, kekhawatiran akan kemungkinan meningkatnya
dominasi asing, proyeksi-proyeksi politik-ekonomi
global terutama Amerika Serikat (AS) di sini. Peran
beberapa lembaga swadaya masyarakat yang "bersepadan"
dengan keinginan asing tentu bukan tanpa penghargaan.
Meski mereka senantiasa mengatakan "kami independen
dan hanya kerja sama," namun sepak terjangnya terlalu
kasat mata, begitu partisan memenangkan seorang calon.
Sesuatu yang disanggah oleh Sucipto Heri Nugroho dalam
artikelnya, "Survei Intelektual atau Pesanan" (Jawa
Pos, 20/7). Tentu dengan alibi angka-angka yang
disebutnya "akurat" kelas A1 itu. Mereka acap menepuk
dada kegenitan sehubungan tebakannya mendekati. 
Karena menurut Sucipto, "Diakui atau tidak, aktivitas
sebuah lembaga survei tidak terlepas dari kebutuhan
finansial. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut,
hampir dipastikan lembaga survei memiliki donatur
tetap. Atau, dana memang diberikan untuk survei sesuai
kepentingan donatur atau pihak sponsor." Hasrat lama
AS untuk menempatkan armadanya di Indonesia, misalnya
di Selat Malaka yang amat strategis, menggantikan
Filipina yang tidak lagi strategis dan banyak
mengundang protes itu, bisa menjadi kenyataan jika SBY
jadi presiden. 
"Kita bisa berspekulasi bahwa suatu proses baru
globalisasi yang menghubungkan Indonesia lebih rapat
pada agenda perekonomian Asia yang lebih besar akan
lebih menembus dan dengan demikian lebih mampu
mengubah Indonesia daripada penanaman modal perusahaan
Barat. Kalau beberapa unsur dari bisnis besar
Indonesia disusun kembali sebagai mitra dan perantara
di dalam hubungan baru ini, mereka pun akan menjadi
lebih terinternasionalisasi. Dengan demikian, masa
depan bagi Indonesia mungkin bisa dilihat bukan
sebagai regionalisme oligarkis, seperti misalnya
Filipina, maupun sebagai populisme terpusat seperti
Thailand, tetapi lebih merupakan kapitalisme yang
terpusat dan terorganisasi seperti Malaysia," demikian
Richard Robison. 
Mantan Menteri Keuangan, Frans Seda, juga mencurigai
kemungkinan dominasi asing itu jika SBY jadi presiden.
"Kemudian tantangan dari luar negeri berupa arus
globalisasi dan liberalisasi yang makin mengganas dan
meluas. Dominasi dari kepemimpinan Amerika Serikat
dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan keamanan
internasional, dan obsesinya terhadap terorisme
internasional. Perkembangan ekonomi dunia yang tidak
menentu disebabkan antara lain oleh masalah apresiasi
dolar AS yang tidak menentu dan keguncangan harga
minyak dunia," itulah ungkapannya dalam artikelnya
"Popularitas Politik vs Kepribadian Politik", (Suara
Pembaruan, 19/7).
Ketiga, ada gambaran bakal adanya tekanan lebih
terhadap aktivis Muslim jika SBY jadi presiden,
sesuatu yang cukup ringan dijalankan oleh pemerintahan
Megawati. Fahmi A.P. Pane melihat dukungan AS ke salah
satu calon (SBY) bukanlah gratis. "Repotnya, dukungan
asing tak pernah gratis. Sebagian aktivis Muslim
mungkin akan terzalimi karena imbas perang terhadap
terorisme dan upaya mengubah sekolah-sekolah Islam,
termasuk kurikulum pesantren dan pola pikir para
santri lewat program studi banding ke AS, misalnya,"
ungkapnya. 
Ia mengkhawatirkan tindakan represif SBY terhadap umat
Islam sebagai tanda loyalitasnya ke Barat. ungkapnya,
"Agenda busuk Barat itu terbukti menghantam mereka
yang bukan teroris, yang dianggap bersalah hanya
karena ingin bebas menjalankan kewajibannya beragama
dalam semua aspek kehidupan. Akan terlalu sulit
membayangkan perubahan politik membuat umat Islam
merasa aman, damai, dan sejahtera jika misalnya SBY
masih berpikiran bahwa radicalism, extremism can pave
the way for acts of terrorism, sebagaimana pidatonya
dalam acara yang diselenggarakan Institute of Defence
and Strategic Studies (IDSS) dan koran berpengaruh
Singapura The Straits Times tanggal 26 Mei 2004 di
Singapura."
Keempat, para pemilih hendaknya jangan tertipu dengan
penampilan. Dalam hal ini Frans Seda telah sampai pada
sebuah rekomendasi yang menukik tajam, "Jadi
waspadalah terhadap penampilan, sosok dari seorang
politikus! Dengan kepercayaan Saudara, secara
emosional Saudara bisa beli kucing dalam karung! Dan
seperti pernah saya utarakan dalam sebuah tulisan,
tidak semua yang ada dalam karung yang meong-meong itu
benar-benar kucing, tetapi semua kucing tanpa karung,
walaupun tidak meong-meong itu memang benar-benar
kucing!"
Di sini Frans mengkritisi karakter SBY dengan
ungkapannya, "Dalam menghadapi tantangan-tantangan
dari dalam dan luar negeri ini, akan diperlukan
tindakan-tindakan yang tidak populer demi kepentingan
bangsa dan negara, yang berkelanjutan (bukan yang
sesaat). Dan seorang politikus yang mengutamakan
popularitas politik, tidak dapat diandalkan dalam hal
ini. Karena itulah, diperlukan presiden/pimpinan
bangsa dan negara yang berkepribadian politik, yang
tangguh, mantap, dan prinsipil, bukan yang mengejar
popularitas politik belaka." Tak ada jalan untuk
memungkiri bahwa yang dimaksud dengan kepribadian
politik yang tangguh, mantap dan prinsipil, itu tidak
lain adalah Megawati sendiri. 
Kelima, para pemilih disarankan memilih calon yang
sudah memiliki track record dan teruji. Frans Seda
menuturkan, "Tentunya harapan kita adalah para
pemimpin inilah yang nantinya membawa bangsa ini dalam
menghadapi berbagai tantangan yang ada, untuk
mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan
memerhatikan nasib rakyat. Track record para calon,
terutama dari sosok kepribadian politik tentu juga
menjadi pertimbangan." Timbangan itu jelas sekali
mengarah kepada presiden sekarang. 
Seperti dikatakan Sekjen PDIP Pramono Anung, soal
kesinambungan kerja pemerintahan juga dianggap sebagai
faktor penting rekomendasi ke Megawati. "Perubahan ke
Indonesia yang lebih baik akan lebih terjamin jika
Megawati yang telah tiga tahun memimpin bangsa ini
diberi kepercayaan oleh rakyat untuk kembali memimpin
bangsa," tegasnya. Megawati sendiri menyatakan
komitmen penuh untuk terus melanjutkan transisi
demokrasi di Indonesia.
Kiranya apa yang diungkapkan Jusuf Wanandi berikut
bisa mewakili pembahasan mereka yang pro Megawati.
"Risiko memilih Megawati sudah diketahui.
Kekurangannya cukup banyak. Agenda yang perlu
dituntaskan jelas, memberantas korupsi, mengatasi
pengangguran, dan meningkatkan pelaksanaan hukum
(termasuk pengadilan). Banyak yang berpandangan,
Megawati tidak mampu dan tidak dapat mengubah
kepemimpinannya. Karena itu, dukungan terhadap
Megawati bukannya unconditional, tetapi bergantung
sinyal-sinyal nyata." Megawati, itulah yang menurutnya
pilihan yang paling ringan risikonya. 
Akhirnya sikap kita bagaimana? Sebagai penutup
diskusi, kalaulah SBY dan Mega diperlakukan sama saja,
lalu apa yang harus kita lakukan? Barangkali ada dua
jawaban yang bisa dipikirkan. Pertama, sebagai
pribadi, alangkah baiknya jika kebingungan ini kita
adukan dan pasrahkan saja kepada Allah SWT dengan
menempuh salat istikharah (memohon dipilihkan).
Kadang-kadang daya pikir manusia untuk meneropong mana
di antara dua calon yang lebih memberi maslahat bagi
bangsa, atau katakanlah sekadar mencari yang lebih
kecil mudaratnya, sudah berada di luar batas
kesanggupan. 
Telah dikatakan dalam kajian di atas, seolah-olah ada
pilihan antara calon dengan risiko lebih ringan, namun
dibayangkan bangsa ini akan menderita dalam 5 tahun ke
depan karena pesimis akan adanya perubahan.
Sebaliknya, ada semangat untuk memilih yang baru
karena menjanjikan perubahan, namun khawatir oleh
adanya risiko tinggi yang akan lebih menyakitkan umat.

Apa pun yang dikatakan itu, tetap saja mengandung dzan
(dugaan), manusia tidak mengetahui yang hakiki.
Sementara menyarankan golput juga bukan pilihan sadar,
maka jatuhkanlah pilihan kepada kereteg hate (firasat
hati) atau pun tanda-tanda berupa kecenderungan yang
terjadi setelah istikharah. Setelah itu, tawakal
kepada Allah, siapa pun yang jadi, ya terimalah dengan
lapang dada. 
Kedua, adapun untuk lembaga seperti halnya partai atau
ormas Islam, tampaknya lebih maslahat sekiranya
bersikap netral atau tidak memberikan rekomendasi
kepada capres tertentu. Sikap netral yang dilakukan
Muhammadiyah bisa dicontoh. Artinya, partai atau ormas
Islam tidak mengarahkan warga di bawahnya kepada calon
presiden tertentu, tetapi membebaskan konstituen atau
umat untuk memilih menurut firasatnya masing-masing. 
Namun, saran itu tidak mudah dijalankan. Karena
kepentingan pragmatis, partai-partai akan
terpolarisasi minimal ke dalam tiga kelompok. Pertama
adalah kelompok yang mendukung SBY, seperti jelas
dilakukan oleh PBB/Yusril dan PKPI. Kedua adalah
kelompok yang berkoalisi dengan Megawati/PDIP. Selain
PDS, tentu saja Golkar, PKB, dan PPP berada pada
barisan depan koalisi ini. Lihat saja nanti, bagi
kedua kelompok ini sudah tidak ada lagi diskusi,
tinggal eksekusi. 
Dalam skenario ini, tampaknya PAN dan PKS berada dalam
satu kelompok tersendiri dan bernasib sama, yaitu
berada di pusaran medan perang dua pasukan gajah;
koalisi Demokrat-PBB-PKPI vs koalisi
PDIP-PDS-Golkar-PKB-PPP; koalisi figur vs koalisi
mesin politik. 
Sebagaimana menghadapi pilpres putaran pertama, PKS
sempat bimbang dengan pilihan antara Amien Rais dan
Wiranto. Qadarullah pilihan akhirnya jatuh ke Amien,
suatu konstalasi politik yang bisa berbeda jika
pilihan jatuh ke Wiranto. 
Kali ini ada kemiripan, nuansa kebimbangan itu juga
menghinggapi para petinggi PKS. Sedang Amien Rais/PAN
tampaknya akan mengikuti jejak Muhammadiyah untuk
bersikap netral. Di satu kesempatan Sekjen PKS, Anis
Matta, menyatakan kepada pers ihwal kecenderungan
partainya mendukung pasangan SBY-Kalla pada putaran
kedua, meski belum final." (Pikiran Rakyat, 11/7). 
Sementara itu, ideolog dan anggota majelis syuro PKS,
Abu Ridho, terkesan lebih memilih "orangnya
biasa-biasa saja, tapi secara fakta dia tidak bisa
dikendalikan kekuatan asing. Tentu pilihan kita akan
cenderung ke orang tersebut walaupun yang satu lebih
'saleh' tapi dikooptasi kekuatan global." (Saksi, No.
20/2004). Ini indikasi kuat untuk lebih condong ke
Megawati ketimbang SBY. 
Tentu saja beda kecenderungan ini adalah wajar, dan
sebagaimana biasa, tidak akan berkembang menjadi
konflik. Karena di dalam tubuh PKS sudah kukuh dengan
mekanisme syura. Apa yang diputuskan, itulah yang
menjadi kata akhir. 
Untuk sekadar wacana saja, memang terasa asyik jika
memilih SBY. Jika ia terpilih, maka di sana tersimpan
semangat baru, ada gairah petualangan! SBY dan segala
kemungkinan kooptasi Baratnya adalah tantangan menarik
bagi para juru dakwah. Ada semacam greget, sebuah
dinamika yang akan memberi peluang kepada pematangan
atau pendewasaan langkah-langkah dakwah dan umat. 
Sementara itu, memilih Megawati juga tidak kalah
menantangnya. Jika ia terpilih, maka tantangannya
adalah kesiapan diri untuk berkorban dalam penderitaan
ekonomi lebih panjang, lebih mengasah lagi kesabaran,
dan mendorong untuk lebih khusyuk melakukan kontrol di
parlemen. Tantangan paling besarnya adalah usaha
memecah "kesunyian" dan mengembangkan dinamika
perubahan. 
Kita kembali ke saran "sesungguhnya" yang ingin
diberikan. Senyatanya posisi PAN dan PKS benar-benar
terjepit! Hanya saja masalahnya, jika pun harus
mendukung salah satu, maka posisinya berada pada
antrean paling ujung (luar). Sangat-sangat terlambat!
Dalam sejarah Islam biasa disebut sebagai kaum Thulaqo
(orang-orang yang masuk Islam ba'da futuh Mekah). 
Artinya, siapa pun yang terpilih jadi presiden,
tampaknya tidak akan memberikan keuntungan (sharing
politik) bagi PAN dan PKS. Karenanya, saran netral di
atas barangkali adalah jawaban paling pas untuk PAN
dan PKS. Dengan sikap itu, bagi kedua partai ini juga
akan terkesan lebih bersih.
Ketika sebuah partai gagal atau tidak mampu memberi
warna atau menentukan arah kepemimpinan suatu bangsa,
maka partai pun dapat menyerahkan segala keputusan
kepada Yang Di Atas, Allah Yang Mahakuasa. Bukankah
dalam dakwah juga dikenal fase dzarnii wa man kholaqtu
wahiidan (biarkan Aku bertindak terhadap orang yang
Aku ciptakan sendiri," Q.S. 74:11). Sementara partai,
silakan khusyuk saja dengan pekerjaannya di parlemen
dan ishlahul ummah (dakwah). 
Setelah pasti pun siapa presidennya nanti, memang
sebaiknya partai berusaha tetap menjaga jarak dari
kekuasaan. Karena demikian mudaratnya, maka tidak ikut
berkolaborasi dalam pemerintahan (kabinet) 2004-2009
merupakan cermin sikap al-baro (berlepas diri)
terhadap pilihan mudarat itu. 
Istilah "berkonsentrasi di parlemen," atau "mengontrol
dan mengoreksi siapa pun yang menang untuk tidak
menyeleweng," kiranya sangat maslahat menjadi pilihan.
Dan itu pada hakikatnya adalah cermin sikap al-baro,
atau bahasa kerennya oposisi. Oposisi yang harus
dimaknai sebagai tata cara melakukan check and balance
(pengawasan dan pengimbangan), bervisi amar makruf
nahi munkar, bukan sikap asal tolak, apalagi
pembangkangan. Wallahu a'lam. (habis)*** 
Penulis praktisi politik Islam; alumnus Univ.
Braunschweig, Jerman

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0804/11/0801.htm


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke