SURAT KEMBANG KEMUNING:

"AKU ANAK TIONGHOA" [3 -Selesai]

Indonesia yang bukan Indonesia yang diimpikan oleh para pembangun negeri dan repulik 
ini sehingga S.W. Kuntjahjo perlu memperingatkan :"Aku Anak Tionghoa", anak Indonesia. 

Untuk menunjukkan apa yang dikatakan oleh alm. penyair S.W. Kuntjahjo dalam puisinya 
di atas barangkali kisah-kisah kecil berikut mempunyai guna. 

Seperti kukatakan sebelumnya bahwa untuk beberapa tahun aku pernah tinggal di 
Tiongkok. Tepatnya sejak  Revolusi Besar Kebudayaan Proletar [RBKP] masih belum 
dimulai sampai  RBKP berakhir. RBKP meletus tidak lama setelah Tragedi Nasional 
September 1965 terjadi. Kemudian disusul oleh Revolusi Mei 1968 di Perancis. Aku 
merasa beruntung bisa mengikuti semuanya itu, termasuk "Ofensif Militer Musim Semi 
1968" Tentara Pembebasan Vi�t Nam Selatan terhadap agresor Amerika Serikat dan 
sekutu-sekutunya. Pada masa inilah di Tiongkok aku banyak berjumpa dengan orang-orang 
Indonesia asal etnik Tionghoa yang dengan berbagai cara menyelamatkan diri dari 
ancaman maut Orde Baru. Kecuali itu, aku juga banyak bertemu dengan beberapa kalangan 
generasi Hoakiau Indonesia yang terpaksa kembali ke RRT lebih dahulu, baik pada masa 
Razia Agustus Soekiman maupun karena PP-10. 

Tadinya aku ingin kembali sekolah di salah satu universitas di Beijing. Tapi RBKP 
membuat sekolah-sekolah tidak berjalan lancar untuk tidak dikatakan terhenti. Akhirnya 
aku bekerja di kantor berita Hsinhua yang oleh tuanrumahku semula, yaitu kawan-kawan 
dari Himpunan Pengarang Seluruh Tiongkok dikatakan sebagai "dunia yang lain dari dunia 
kepengarangan". "Kewartawanan dan kepengarangan sekalipun sama-sama bekerja dengan 
pena tapi merupakan dunia berbeda". Banyak dari teman-teman dekatku di Himpunan 
Pengarang Seluruh Tiongkok hilang tak tahu rimbanya di masa RBKP karena tuduhan 
borjuis.Hari ini aku menundukkan kepala mengenangka mereka. 

Aku sendiri tidak menyambut pekerjaan ini dengan kegiarahan besar tapi kuterima 
sebagai pilihan tunggal yang ditawarkan. Pada mulanya, dalam bayangan, dengan bekerja 
di Hsinhua bahasa Tionghoaku akan segera lancar karena ditempatkan di tengah-tengah 
lingkungan berbahasa Tionghoa. Tapi yang kuhadapi tidaklah demikian. Departemen 
Indonesia di mana aku dipekerjakan terdiri dari orang-orang Tiongkok asal Indonesia 
dari berbagai daerah: Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara bahkan ada 
juga yang dari Kalimantan. Dalam keadaan begini, bahasa pergaulan yang kami gunakan 
bukanlah bahasa Tionghoa Mandarin tapi bahasa Indonesia dan berbagai bahasa lokal asal 
daerah masing-masing. Penggunaan bahasa daerah inipun dipraktekkan sampai di dalam 
keluarga mereka. Kuketahui karena mereka sering mengundangku makan di rumah mereka -- 
hal yang tidak jamak di masyarakat Tiongkok pada masa itu, kalau tidak ingin 
menggunakan istilah "melanggar disiplin".  Tapi mereka tidak perduli karena agaknya 
mereka tidak bisa mengobah dan membuang tradisi Indonesia mereka yang biasa saling 
undang-mengundang, kunjung mengunjung. Berhadapan dengan kenyataan begini, aku tidak 
bisa menahan diri untuk bertanya:

-"Mengapa kalian sampai di rumah tidak menggunakan bahasa Tionghoa tapi bahasa Jawa 
atau Sunda, makanan yang kalian nikmati selalu diolah secara Jawa atau Sunda? Siapakah 
kalian sesungguhnya menurut perasaan terdalam kalian sendiri?".

+"Pertanyaanmu sebagai wartawan adalah pertanyaan yang tidak cerdas", jawab Lao Chen 
yang menjadi kepala bagianku. "Kau kira dengan berada di Tiongkok, kami, aku, 
serta-merta menjadi orang Tionghoa RRT? Tidak, Bung, sama sekali tidak. Jiwaku, 
nuraniku, diriku yang sesungguhnya adalah anak Indonesia. Coba Bung bayangkan. Ruas 
tulang-tulangku panjang begini, oleh beras dan air mana kalau bukan karena beras dan 
air Indonesia. Udara pertama yang kuhirup ketika keluar dari rahim ibu tidak lain dari 
udara Indonesia. Yang jadi teman sepemainan di masa bocah, berhujan-hujan main bola 
dari jeruk, bukanlah orang Tiongkok tapi orang kampungku di Jawa. Kepada Indonesia aku 
mempunyai hutang moral yang harus kubayar karena aku adalah anaknya. Karena itu, dari 
lubuk hatiku jika begitu ada peluang terbuka, aku akan segera kembali ke Indonesia, 
negeriku sesungguhnya". 

Pernyataan Lao Chen ini kukira mencerminkan perasaan terdalam mayoritas Hoakiao 
Indonesia. Kukatakan "disebut" karena penamaan Hoakiao Indonesia tidak tepat untuk 
mereka. Mereka tidak lain dan tidak berbeda dari orang Indonesia lainnya yang ada di 
Republik kita. Bentuk fisik dan nama yang khas hanya memperlihatkan kebesaran, 
keindahan dan keagungan bangsa dan negeri kita, jika kita meresapi kebhinnekaan 
menciri Indonesia. Barangkali perasaan ini pulalah yang mendorong saudara perempuan 
Cuncun yang juara bulutangkis Tiongkok tetap memilih pulang seperti halnya dengan Lao 
Hu yang juga sang juara, mencoba mencari jalan pulang. Pulang ke Indonesia adalah kata 
paling tepat bagi mereka dibandingkan dengan "pulang ke RRT". 

Lao Thang dari Tegal yang menjadi sahabatku tak terlupakan seumur hidup, selalu 
mengenakan arloji butut pemberian seorang Jawa yang menyelamatkannya pada masa PP-10. 
"Seumur hidup arloji ini akan selalu kukenakan dan tak akan kulepaskan dari tangan. 
Bagiku arloji ini adalah lambang Indonesia. Aku anak Indonesia yang diusir paksa dari 
tanahair kampunghalaman".

Siao Chen, gadis muda dari Solo berkulit kehitam-hitaman, bermata lebar juga terpaksa 
kembali ke RRT pada masa PP-10. Sepatah kata Tionghoa pun ia tidak bisa sehingga ia 
harus belajar di akademi bahasa asing. Kalau menonton, penjaga loket bioskop Beijing 
memperlakukannya sebagai orang asing. Mendengar lidahnya kalau  berbicara yang 
terdengar tidak lain lidah Solo yang "medok". Di Indonesia ia dinyatakan orang asing, 
tiba di RRT yang disebut tanah leluhur diperlakukan sebagai orang asing. Apa arti 
tanah leluhur jika yang membesarkan si anak adalah budaya lain?

Pada suatu musim panas yang di Beijing sangat terik. Seorang perempuan memacu 
sepedanya. Beijing pada waktu itu adalah kota sepeda. Si penungang sepeda perempuan 
ini berpakaian putih-putih seperti yang umum dikenakan oleh orang di Indonesia dengan 
matahari yang membakar. Perempuan berpakaian putih ini memang asal Jawa Tengah dan 
tiba di Beijing tidak terlalu lama. Ia masih terbiasa dengan "jalan kiri" di Indonesia 
sedangkan di Beijing orang menggunakan "jalan kanan". Tak terelakkan kemudian terjadi 
tabrakan dengan penunggang sepeda lain. Si perempuan Jawa Tengah ini marah bukan 
kepalang. Segera bangun sambil mengebaskan pakaiannya yang kotor. Dengan kemarahan 
besar ia berkata:

"Nite yenching cai naar ah?" [Matamu di mana?]. Bagi orang Jawa kalau menggunakan kata 
"mata" dalam keadaan demikian memperlihatkan kemarahan sangat besar. Dan orang yang 
dimarahi oleh perempuan asal Jawa itu menjawab tenang:

"Ya di sini",sambil menunjukkan kedua matanya. 

Si perempuan asal Jawa Tengah itu jadi makin jengkel sendiri karena kemarahan besarnya 
tidak dipahami. Dari kejadian ini nampak adanya dua latar budaya berbeda sehingga 
dialog itu tidak menghasilkan komunikasi yang diharapkan. Dari sini juga aku melihat 
bahwa secara budaya, yang disebut Hoakiao Indonesia bukanlah orang RRT tapi orang 
Indonesia. Kertas tidak mengatakan hakekat. Dari cara jalan, cara berpakaian, cara 
berbicara, cara bercanda saja sudah tidak sama. Dan aku tidak yakin mereka akan dengan 
gampang mencampakkan kebiasaan dan budaya yang membesarkan mereka. 

Seorang teman dekatku yang sekarang tinggal di Singapura, sejak remaja, tapi ia tetap 
merasa diri orang Indonesia dan memelihara hubungannya dengan Indonesia. Ia masih 
memelihara bahasa Indonesianya sebaik mungkin bahkan menulis novel dan esai dalam 
bahasa Indonesia walau pun ia fasih berbahasa Inggeris. 

Anna gadis muda yang bekerja di Koperasi Restoran Indonesia Paris, tidak pernah 
mengaku dirinya sebagai orang Tionghoa. "Aku orang Indonesia. Emangnya kalau mataku 
sipit kulitku kuning lalu aku bukan Indonesia? Aku orang Sunda! Nama Tionghoa pun aku 
tidak punya" tandasnya selalu. Apa yang diungkapkan Anna juga menjadi perasaan tidak 
sedikit mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jerman. Sedangkan Becky Khoo yang 
sekarang tinggal di Malaysia adalah contoh khas untuk rasa keindonesiaan ini.    

Nanchang terkenal sebagai salah satu tungku Tiongkok di musim panas di ,samping Wuhan 
dan Cungching. Ketika berjalan-jalan di kota aku bertemu dengan seorang sopir taksi. 
Ia memandangku dan memberanikan diri bertanya:

"Dari Indonesia ya?".

"Tidak! Dari Malaysia" Jawab temanku dari Jawa Timur yang berpemawaan suka bercanda.

"Khok lidahnya kental logal Jawa?"

"Mengapa tidak boleh.Lha kawan dari mana sih?"

"Saya dari Jawa Timur".

"Senang nggak di sini?"

"Kalau bisa sih saya mau pulang kampung, rek".

"Mana sih kampung Bung?"  

"Ya di Surabaya sana. Di sini apa enaknya.Panas kepanasan, dingin kedinginan.Beli kain 
pun pakai kupon. Urip  koyo opo ngene ki, rek. Diancu! Podo diancun� karo sing ngusir 
aku mbien sko Suroboyo", ujar sang sopir yang membuat kami semua terbahak-bahak. 
Temanku dari Jawa Timur menawarkannya rokok. Rokok Tiongkok.

"Nek sko Jowo mbok sing ditawari kui kretek. Ngono lho, rek".

"Kan sudah dibilang Jawa Malaysia. Mana pula Jawa Malaysia punya kretek". 

Dari dialog ini barangkali nampak bahwa keindonesiaan sang sopir tidak beku oleh 
dinginnya musim dingin Tiongkok, tidak luluh oleh terik tungku "Negeri Tengah" ini.

Mengenang pertemuan demi pertemuan tak terduga, dialog demi dialog begini yang tak 
terbilang jumlahnya, aku kembali teringat akan pernyataan seorang penumpang pesawat 
Garuda yang duduk di sebelahku dalam perjalanan dari Singapura ke Jakarta: "Kalau dari 
cinta tanahair dan bangsa, etnik Tionghoa pun sanggup bertanding dengan etnik manapun. 
Kental cairnya patriotisme dan keindonesiaan tidak bisa ditakar oleh warna kulit lebar 
sipitnya mata, ikal lurusnya rambut".

"Aku Anak Tionghoa" yang ditulis oleh S.W. Kuntjahjo beberapa dekade lalu, 
mempertanyakan kita tentang keindonesiaan dan kemanusiaan kita. Sekalipun Kuntjahjo  
sudah tak ada, tapi pertanyaan-pertanyaan esensilnya masih menggaung menggema di ruang 
langit tanahair. Barangkali kau mendengarnya.


Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ. KUSNI

[Selesai]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke