Prolog: 
Karen Amstrong dan Bernard Lewis sama2 ahli keislaman barat (orientalis) dan sama2 
nonmuslim. Beda dari keduanya adalah Amstrong mengambil pendekatan empatik dalam 
melihat Islam dan fenomena realitas muslim; sedang Lewis lebih cenderung "kritis" -- 
untuk tidak mengatakan sarkastik.

Pendekatan empati Amstrong jelas lebih mendapat tempat di hati Muslim, dan anehnya 
juga di hati nonmuslim. Terbukti, menurut artikel di bawah, buku2 Amstrong selalu 
best-seller sedang buku2 Lewis tidak/kurang laku.

Fenomena disukainya buku2 keislaman Amstrong oleh kalangan nonmuslim AS dan eropa 
sangat menarik. Ini artinya, bahwa pada dasarnya kita para pemeluk agama yg berbeda 
(Islam, Kristen, dll) pada dasarnya ingin hidup damai, ingin memahami "kebaikan" 
masing2, bukan "kejelekan" masing2. Kendati kejelekan2 itu berupa "hard facts" 
sekalipun.

Pendekatan empatik terhadap agama lain, saya kira memang "the need of the hour". 
Apabila umat Islam selalu melihat kebaikan2 di kalangan penganut Kristen, dan 
sebaliknya, umat Kristen selalu mencari sisi2 positif dari umat dan agama Islam; maka 
proses pembangunan Indonesia tidak perlu lagi tersandung dg hal2 yg tidak perlu 
seperti konflik antar-agama, dll.

Konsep dan visi milis ppiindia sejak awal berdirinya sama persis dg konsep dan visi 
Karen Amstrong dalam melihat dan memahami suatu perbedaan, khususnya perbedaan agama: 
empati. Jadi, kami tidak mengikuti konsep dan visi Bernard Lewis. Krn. milis ini tidak 
kuat dan tidak tahan serta tidak mampu -- mentally and phisically -- mengikuti 
pendekatan Lewis: terlalu memforsir tenaga, pikiran, emosi dan, pada waktu yg sama, 
tanpa menghasilkan manfaat apapun.  

salam,
Khairurrazi
salah satu tim Moderator milis

Untung Ada Karen Armstrong
Tanggal dimuat: 2/8/2004
http://www.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=631

Karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Nabi 
Muhammad, misalnya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. 
Karyanya tak sebanding dengan karya-karya para sarjana lain seperti Martin Lings, 
Montgomery Watt atau Maxime Rodinson. Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah 
pendekatannya yang empatik. Ia paling tertarik dengan aspek-aspek konkret dari 
kehidupan keagamaan Islam, misalnya, dan mencoba memahami motif-motif terdalamnya.

Oleh: Ihsan Ali-Fauzi

 Artikel terkait 
Artikel tidak ada... 

 Artikel terbaru 
Al-Banna

Pilpres, Darah Biru, dan Darah Merah Putih

Desakralisasi Politik Islam

 

 Artikel sebelumnya 
Muhammadiyah Pasca Pemilu:
Sebuah Evaluasi Kultural

Dr. Saiful Mujani:
Ideologi Politik Islam Sudah Pudar

Agama Pascasekularisme

 




  
Ketika peristiwa 11 September terjadi, kaum muslim di AS ketar-ketir. Mereka khawatir, 
gejolak anti-teroris akan tumpah menjadi kebencian terhadap kaum muslim. Memang ada 
penjelasan bahwa para teroris itu, sekalipun muslim dan membawa-bawa Islam untuk 
membenarkan tindakan mereka, tidak mewakili kaum muslim. Tapi bukankah orang sering 
lupa bertindak atas dasar kepala dingin, apalagi di tengah kemarahan kala itu?

Saya sendiri, yang kebetulan sedang belajar di Ohio, mengalami reaksi beragam. Saya 
tinggal di perumahan yang disubsidi pemerintah dan dihuni banyak rakyat AS yang 
miskin. Suatu ketika, seorang tetangga bertanya dengan nada tak ramah: �Anda muslim, 
ya?� Di lain waktu, istri saya yang kebetulan berjilbab, diolok-olok laki-laki yang 
memberi isyarat dengan jari tengah bernada melecehkan. Dari negara bagian lain, kami 
mendengar berita bahwa beberapa toko milik orang Arab dibakar. Di Columbus, ibukota 
Ohio, sebuah masjid atau Islamic Center diserang orang-orang tak dikenal.

Tapi kami juga tahu bahwa di banyak tempat lain, banyak orang atau tempat khusus milik 
kaum muslim dilindungi kalangan agamawan non-muslim. Di Athens, sebuah kota kecil di 
Ohio, misalnya, persis sehari setelah 11 September, Islamic Center didatangi kalangan 
agamawan yang ingin menegaskan bahwa kaum muslim tidak perlu khawatir. Karena gagal 
bertemu pengurus yang sedang tidak di tempat kala itu, mereka menempelkan keterangan 
di pintu Islamic Center, yang menegaskan niat mereka itu. 

Khususnya dalam situasi tegang seperti itulah kami merasa beruntung karena ada penulis 
seperti Karen Armstrong. Penulis Inggris ini dikenal sebagai penulis buku-buku agama 
yang amat produktif dan hampir semuanya menjadi best-seller. Selain menulis mengenai 
tema-tema tertentu dalam agama Kristen yang secara khusus didalaminya (ia pernah 
menjalani hidup sebagai calon biarawati, sebelum akhirnya hengkang), ia menulis 
mengenai perbandingan dan sejarah agama, biografi Nabi Muhammad dan Budha, dan sebuah 
sejarah Islam ringkas. Seraya bermarkas di rumahnya di London, ia rajin diundang ke 
berbagai penjuru dunia, menyebarkan spiritualitas yang baginya tidak harus berbasis 
agama tertentu. Ia menyebut dirinya monoteis freelance.

Karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Nabi 
Muhammad, misalnya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. 
Karyanya tak sebanding dengan karya-karya para sarjana lain seperti Martin Lings, 
Montgomery Watt atau Maxime Rodinson. Cukup jelas bahwa ia juga tak menguasai bahasa 
Arab, hingga sejumlah kesalahan penulisan terjadi dalam bukunya (madrasahs, misalnya, 
ditulis madaris). Ia hanya mensistesiskan karya-karya terdahulu, dan menuliskannya 
secara popular dan sederhana.

Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah pendekatannya yang empatik. Ia paling 
tertarik dengan aspek-aspek konkret dari kehidupan keagamaan Islam, misalnya, dan 
mencoba memahami motif-motif terdalamnya. Dalam sejarah ringkasnya mengenai Islam, 
misalnya, ia sempat mendiskusikan beragamnya fundamentalisme modern tanpa 
mengaitkannya secara tendensius dengan Islam. Ia mencoba memahami fundamentalisme dari 
dalam, memotret para aktivisnya sebagai pengikut sebuah iman yang merasa terancam oleh 
otoritarianisme sekular yang mendominasi dunia Islam. Kita dibawa masuk ke dalam 
pikiran terdalam orang-orang yang bersedia mati, sambil membawa bom di tubuhnya, yang 
merasa putus asa dengan kelaliman para penguasa.

Katanya, sikapnya banyak dibentuk oleh Marshal Hodgson, bekas guru Nurcholish Madjid 
dan Amien Rais di Universitas Chicago, yang memperkenalkannya kepada the science of 
compassion. Dengan bekal itu, katanya, kita bisa turut merasakan apa yang orang lain 
rasakan, sehingga dalam diri kita ada ruang untuk menerima mereka. Ia juga terkesan 
dengan Wilfred C. Smith, yang mendirikan Lembaga Kajian Islam di Universitas McGill 
pada akhir 1950-an. Untuk mengerti Islam sungguh-sungguh, ahli Islam India ini 
mensyaratkan agar lembaga di McGill itu diisi oleh sedikitnya 50% mahasiswa Islam. Ia 
juga berprinsip: apa yang saya katakan mengenai Islam baru valid jika kaum muslim 
sendiri berkata �amin� kepadanya.

Dengan sikap mental inilah Armstrong menulis buku-bukunya. Biografinya mengenai 
Muhammad disukai banyak orang Islam. Kata Akbar Ahmed � seorang pemuka muslim di AS 
asal Pakistan � kepadanya, �Buku Anda itu sebuah kisah cinta. Seandainya Anda sempat 
bertemu Sang Nabi, Anda tentunya akan bersedia menjadi istrinya yang ke-15!� Berkat 
itu pula Armstrong diundang untuk berceramah pada sebuah acara maulid Nabi! Padahal ia 
belum pernah menemukan seorang pemuka muslim diundang berceramah di Hari Natal, 
katanya.

Di AS, karya Armstrong menjadi pembanding yang berarti bagi karya-karya penulis lain 
seperti Bernard Lewis, yang di AS juga menjadi penulis best seller. Beda dari 
Armstrong, Lewis adalah seorang esensialis yang melihat Islam hanya dari sudut pandang 
kaum fundamentalis. Hanya ada satu Islam baginya, dan Islam itu adalah Islam �keras�. 
Karyanya yang paling tipikal adalah What Went Wrong?, yang ditulis sebelum, tetapi 
diterbitkan sesudah peristiwa 11 September. Di situ ia menyatakan bahwa Islam sudah 
dan pada dasarnya memang akan terus berbenturan dengan Barat, kecuali jika perubahan 
mendasar berlangsung di dunia Islam (yang ia ragukan). Tidak ada kualifikasi mengenai 
Islam, atau Barat: semuanya monolitik dan tak akan berubah. Karya itu memenuhi nafsu 
yang bergejolak di dada sebagian rakyat AS: seakan mereka memperoleh konfirmasi 
mengenai mengapa �Islam� menyerang mereka secara keji.

Berkat karya-karya Armstrong, Lewis tak lagi bertengger di jajaran penulis 
best-sellers sendirian. Karya-karya mereka kini bisa ditemukan berjejeran di toko-toko 
waralaba seperti Wall Mart, dengan harga murah. Karya-karya Armstrong juga menandai 
makin seringnya Islam dibicarakan di luar kampus di AS.

Karya-karya itu memang tidak dalam secara kesarjanaan, tetapi kesederhanaannya justru 
berguna untuk dibaca kalangan luas. Karya-karya itulah yang turut membentuk pandangan 
bahwa Islam itu warna-warni. Bahwa bahkan kalangan yang disebut fundamentalis pun 
memiliki alasan yang membuat kita bisa mengerti mengapa mereka siap sedia bunuh diri. 
Armstrong mengecam keras peristiwa 11 September, tetapi ia juga mengerti mengapa 
begitu banyak orang di dunia Islam yang tidak suka sama pemerintahan AS.

Kaum muslim Indonesia semestinya juga bisa belajar banyak dari Armstrong, sambil 
membaca terjemahan karya-karyanya yang belakangan banyak diterbitkan di sini. Sikapnya 
mestinya mendorong kita untuk lebih bersikap empatik terhadap pandangan orang lain, 
baik itu muslim atau bukan. Harus ada ruang dalam hati kita untuk memahami sikap, 
pikiran dan pilihan orang lain. Mestinya ada sejenis relativisme internal dan 
eksternal pada diri kita, sehingga kita tidak terpaku pada kepastian-kepastian yang 
biasanya kita pegang: siapa tahu ada sejemput kebenaran pada orang lain! Bukankah 
Islam mengajarkan bahwa Kebenaran Mutlak (al-haqq) hanya Allah?

Membaca karya-karya Armstrong, juga Hodgson dan Smith yang memberinya inspirasi, saya 
terus terang sering kecewa jika bertemu dengan uraian seorang muslim yang terlalu 
menyederhanakan mengenai pihak lain. Mengenai kehidupan di Barat, misalnya, yang 
disinggung melulu soal kebebasan seksual dan yang menyerempet itu. Seakan semua orang 
Barat seperti itu. Seakan itu gejala umum di sana.

Bagi saya, Armstrong telah ikut �menyelamatkan� kaum muslim dari perasaan ketar-ketir 
mereka di AS. Mudah-mudahan karya-karyanya juga turut mewarnai kaum muslim di 
tempat-tempat lain. Agar dunia diisi lebih banyak lagi orang yang bersedia membuka 
diri, ingin memahami orang lain, tidak mau menang sendiri dengan kepastian-kepastian 
yang absolut. Dengan begitu dunia rasanya akan lebih damai bagi semuanya.[]



Ihsan Ali-Fauzi, kandidat Doktor pada Ohio University, Amerika.



Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke