KETIKA TOGOG BERSEKUTU DENGAN BILUNG,
LIMBUK BERMAIN CINTRONG DENGAN BAGONG

Oleh Tangkisan Letug

Goro-goro itu ternyata tidak cukup satu atau dua jam.
Dalang edan yang melakonkan Negeri Dedelduwel telah
berkeputusan untuk memperpanjang adegan Goro-goro.
Para penontong yang berada di balik layar pun tampak
semakin terlena oleh daya tarik Goro-goro yang
dimainkan oleh Dalang Edan. 

Bagaimana tidak?

Biasanya dalam pewayangan, waktu untuk adegan
Goro-goro tidak melebihi satu atau dua jam. Tetapi
dalam lakon Negeri Dedelduwel ini Goro-goro yang
ditampilkan oleh Dalang Edan melebihi jam yang wajar. 

Gila, edan bener! 
Sudah dimulai dengan Goro-goro yang biasanya, dengan
menampilkan para punakawan dari Padepokan Karang
Tumaritis.  Sejak sesesainya perang kembang dengan
huru-hara yang memakan korban para orang-orang tak
berdosa itu, Goro-goro telah dimulai. Ditampilkanlah
babak pertama Goro-goro dengan munculnya tokoh cerdas
tetapi kero (juling) sehingga sulit sekali untuk
melihat segala sesuatunya secara seimbang.  Tokoh
cerdas abnormal ini akhirnya harus tamat dengan
tampilnya seorang tokoh kontroversial seperti Semar
setengah buta, yang jujur, ceplas-ceplos, tetapi
sayang keberaniannya telah membangkitkan perlawanan
para durjana yang bersekongkol dengan para punggawa
praja. Semar itu tumbang setelah mengobrak-abrik para
durjana. Ia terpaksa kembali ke padepokan, tanpa harus
merasa ditinggalkan oleh rakyat kebanyakan. Suara
hatinya masih terus meneriakkan perlunya membangun
negeri Dedelduwel demi kepentingan rakyat kebanyakan
dan bukan demi kepentingan pedagang seberang.

Lalu babak ketiga meanmpilkan tokoh Limbuk yang lemah
gemulai. Para penonton pun terbuai oleh gaya
kepolosannya, meskipun banyak para kawula masih saja
menjadi korban �laku deksiya� (penindasan) para nara
praja bawahannya. Limbuk seperti tak kuasa untuk
menghardik dan menghentikan kesewenangan para nara
praja pada kawula alitnya. Mulailah terjadi aksi
goyang kursi kuasa Limbuk di istana. Ada yang
menggunakan gergaji korupsi untuk memotong kursi
tahtanya. Ada yang menggunakan api kerusuhan. Dan ada
pula, yang tidak segan-segan, menggunakan bom untuk
membangkitkan keonaran. Di beberapa daerah pun
orang-orang kecil diadu. Limbuk pun belum tampak gesit
mengambil langkah-langkah yang jitu.  Banyak rakyat
yang diusir dari negeri-negeri sahabatnya. Banyak
patok-patok perbatasan digeser oleh negeri tetangga.
Limbuk dengan polosnya sudah mengaku pusing memikirkan
semuanya. 

Ketika semua penonton sedang menanti-nanti selesainya
tahap Limbuk-an itu, tiba-tiba Ki Dalang Edan
menampilkan Togog sebagai sosok yang gagah dan
menawan. Moncongnya yang masih seperti bebek tak
mengurangi kegagahannya. Ia datang diiringi oleh
barisan ahli-ahli lulusan negeri sabrang.
Berjumbai-jumbai gelar akademis disandang para
pengiringnya. Makin tertariklah para penonton
mengikuti adegan Goro-goro yang dimainkan oleh Dalang
Edan. Bahkan ada yang berseru-seru, �Teruskan,
teruskan! Jangan dihentikan Goro-goro itu! Kami butuh
hiburan, jangan dibuka babak serius jejer yang
membosankan!�

Begitulah, Ki Dalang Edan pun makin senang mendapatkan
dukungan. Goro-goro tetap dilanjutkan. 

Ketika Limbuk sedang kelelahan, Togog dengan gesit
mengolok-olok gaya Limbuk yang lamban. Togog pun pamer
kepandaian, dengan nampang di depan kamera ketika
ujian pendadaran di sebuah perguruan tinggi sedang
dilakukan. �Lihat itu, Togog memang benar-benar
seorang cendekiawan!� begitu seru para cantrik yang
kepingin juga bisa mencari gelar dengan jalan begitu.
Katanya, gelar-gelar akademis amat laku di kalangan
nara praja negeri. Togog pun telah ikut kuliah di
sela-sela kesibukan sebagai pejabat negeri dulu.
Bahkan, kini, tampak semakin komplet gambaran citra
diri sebagai orang pandai yang tekun belajar di
perguruan tinggi. Sebagai orang super sibuk sebagai
pejabat negeri, tidak susah mencari waktu luang saban
hari. Di kantor pun ia bisa belajar dan membentuk
kelompok studi. (Ssst, bisa jadi, bawahan-bawahannya
dikerahkan untuk menyelesaikan tugas skripsi).  Dan,
lihatlah, bedanya Togog dengan seorang Limbuk yang
polos tak punya gelar akademi. Togog berujar, �Aku
memang pantas menjadi pemimpin negeri, apalagi nanti
namaku akan bergelar Haji dan Doktor lagi. Hayo, siapa
tidak mengagumi?� Begitu Togog makin mampu
mengolok-olok Limbuk yang tenang mengamati.

Tidak cukup di situ, kini Togog telah bersekutu dengan
Bilung, menantang Limbuk untuk menyerahkan kekuasaan.
Togog dan Bilung mengklaim mendapat dukungan rakyat
yang telah bosan dikuya-kuya oleh para nara praja.
Sementara Limbuk ketakutan untuk menegur para punggawa
yang bersenjata. 

Lebih celaka lagi, Togog dan Bilung sedang
bertiwikrama menggunakan aji mantra pelupa rakyat yang
sedang merindukan perubahan. Aji pembangun citra pun
dilancarkan. Togog tampil seperti idola para kawula.
Ia dielu-elukan karena jumbaian rambut gimbal menutupi
wajah aslinya. Rakyat lupa akan jati diri Togog
Tejamantri, seorang antek ratu seberang. Kesetiaan
Togog bukanlah untuk para kawula Amarta, tetapi hanya
kepada Ratu Seberang, Sang Boma Narakasura.
Gebyar-gebyar gambaran kultur kerajaan seberang
seperti telah membuai dan membuat rakyat melupakan
krisisnya. Mereka seperti melihat dewa penyelamat pada
sosok Togog yang tengah berubah rupa kerna kekuatan
ajinya.

Jangan lupa, semua adegan itu adalah Goro-goro saja.
Tidak ada jejer serius yang men-candra masa lalu
mereka. Yang ditampilkan hanya sorak-sorai dan
gebyar-binar Togog Tejamantri yang ditemani Bilung
yang kudisnya sudah diubah menjadi kumis tipis di
bawah hidung tipisnya. Meskipun kudis itu tidak tampak
lagi di kepala Bilung, toh bau amisnya tetap bisa
dicium oleh orang-orang jujur di sekitar Limbuk.

Melihat gelagat Togog dan Bilung yang bermain menawan
itu, Limbuk pun tidak kehilangan akalnya. Untuk
menarik penonton sebanyak-banyaknya, Limbuk tidak
hanya mulai lincah ber-anjang-sana, tetapi terlebih
lagi, tanpa tedeng aling-aling, sekarang Limbuk
terang-terangan bermain cintrong dengan Bagong
setengah bodong. 

Gila! Edan! Dasar Dalangnya Edan,  penonton sudah
mengira Limbuk tunduk pada penampilan Togog, eeh,
malah kini Limbuk dibuatnya menarik lagi dengan
bermain cintrong dengan Bagong setengah bodong.

Husss! Hati-hati lho, jangan sampai nanti diprotes
kaum ulama. Sebab, terlalu terbuka menampilkan Limbuk
yang sedang bermain cintrong dengan Bagong,
salah-salah nanti dituduh pornografi.  Begitu seorang
pesinden di belakang Ki Dalang membisiki.

Ki Dalang pun maklum. 

Goro-goro makin tambah menarik. Penonton lupa akan
penat duduk berjam-jam. Penonton makin terpana oleh
Limbuk yang ditampilkan cantik oleh dalangnya.
Penampilan Togog yang gagah dan anggun pun telah
membuat mereka lupa akan potensi tirani yang
tersembunyi di balik tutur santunnya. Track record dan
siapa sebenarnya Togog seperti tidak penting lagi. 

Akankah Limbuk berhasil mengembalikan simpati para
penonton sampai pagi? Ataukah Togog yang sedang
berubah rupa itu yang akan memikat simpati penonton
sampai pagi?

Dalam lakon negeri Dedelduwel ini, hanya Ki Dalang
Edan yang bisa mengetahui pasti.

9 Agustus 2004 



        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke