cerita yang bagus, bung.. /e
----- Original Message ----- From: "Tangkisan Letug" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, August 13, 2004 4:29 PM Subject: [ppiindia] KETIKA TOGOG BERSEKUTU DENGAN BILUNG... > KETIKA TOGOG BERSEKUTU DENGAN BILUNG, > LIMBUK BERMAIN CINTRONG DENGAN BAGONG > > Oleh Tangkisan Letug > > Goro-goro itu ternyata tidak cukup satu atau dua jam. > Dalang edan yang melakonkan Negeri Dedelduwel telah > berkeputusan untuk memperpanjang adegan Goro-goro. > Para penontong yang berada di balik layar pun tampak > semakin terlena oleh daya tarik Goro-goro yang > dimainkan oleh Dalang Edan. > > Bagaimana tidak? > > Biasanya dalam pewayangan, waktu untuk adegan > Goro-goro tidak melebihi satu atau dua jam. Tetapi > dalam lakon Negeri Dedelduwel ini Goro-goro yang > ditampilkan oleh Dalang Edan melebihi jam yang wajar. > > Gila, edan bener! > Sudah dimulai dengan Goro-goro yang biasanya, dengan > menampilkan para punakawan dari Padepokan Karang > Tumaritis. Sejak sesesainya perang kembang dengan > huru-hara yang memakan korban para orang-orang tak > berdosa itu, Goro-goro telah dimulai. Ditampilkanlah > babak pertama Goro-goro dengan munculnya tokoh cerdas > tetapi kero (juling) sehingga sulit sekali untuk > melihat segala sesuatunya secara seimbang. Tokoh > cerdas abnormal ini akhirnya harus tamat dengan > tampilnya seorang tokoh kontroversial seperti Semar > setengah buta, yang jujur, ceplas-ceplos, tetapi > sayang keberaniannya telah membangkitkan perlawanan > para durjana yang bersekongkol dengan para punggawa > praja. Semar itu tumbang setelah mengobrak-abrik para > durjana. Ia terpaksa kembali ke padepokan, tanpa harus > merasa ditinggalkan oleh rakyat kebanyakan. Suara > hatinya masih terus meneriakkan perlunya membangun > negeri Dedelduwel demi kepentingan rakyat kebanyakan > dan bukan demi kepentingan pedagang seberang. > > Lalu babak ketiga meanmpilkan tokoh Limbuk yang lemah > gemulai. Para penonton pun terbuai oleh gaya > kepolosannya, meskipun banyak para kawula masih saja > menjadi korban "laku deksiya" (penindasan) para nara > praja bawahannya. Limbuk seperti tak kuasa untuk > menghardik dan menghentikan kesewenangan para nara > praja pada kawula alitnya. Mulailah terjadi aksi > goyang kursi kuasa Limbuk di istana. Ada yang > menggunakan gergaji korupsi untuk memotong kursi > tahtanya. Ada yang menggunakan api kerusuhan. Dan ada > pula, yang tidak segan-segan, menggunakan bom untuk > membangkitkan keonaran. Di beberapa daerah pun > orang-orang kecil diadu. Limbuk pun belum tampak gesit > mengambil langkah-langkah yang jitu. Banyak rakyat > yang diusir dari negeri-negeri sahabatnya. Banyak > patok-patok perbatasan digeser oleh negeri tetangga. > Limbuk dengan polosnya sudah mengaku pusing memikirkan > semuanya. > > Ketika semua penonton sedang menanti-nanti selesainya > tahap Limbuk-an itu, tiba-tiba Ki Dalang Edan > menampilkan Togog sebagai sosok yang gagah dan > menawan. Moncongnya yang masih seperti bebek tak > mengurangi kegagahannya. Ia datang diiringi oleh > barisan ahli-ahli lulusan negeri sabrang. > Berjumbai-jumbai gelar akademis disandang para > pengiringnya. Makin tertariklah para penonton > mengikuti adegan Goro-goro yang dimainkan oleh Dalang > Edan. Bahkan ada yang berseru-seru, "Teruskan, > teruskan! Jangan dihentikan Goro-goro itu! Kami butuh > hiburan, jangan dibuka babak serius jejer yang > membosankan!" > > Begitulah, Ki Dalang Edan pun makin senang mendapatkan > dukungan. Goro-goro tetap dilanjutkan. > > Ketika Limbuk sedang kelelahan, Togog dengan gesit > mengolok-olok gaya Limbuk yang lamban. Togog pun pamer > kepandaian, dengan nampang di depan kamera ketika > ujian pendadaran di sebuah perguruan tinggi sedang > dilakukan. "Lihat itu, Togog memang benar-benar > seorang cendekiawan!" begitu seru para cantrik yang > kepingin juga bisa mencari gelar dengan jalan begitu. > Katanya, gelar-gelar akademis amat laku di kalangan > nara praja negeri. Togog pun telah ikut kuliah di > sela-sela kesibukan sebagai pejabat negeri dulu. > Bahkan, kini, tampak semakin komplet gambaran citra > diri sebagai orang pandai yang tekun belajar di > perguruan tinggi. Sebagai orang super sibuk sebagai > pejabat negeri, tidak susah mencari waktu luang saban > hari. Di kantor pun ia bisa belajar dan membentuk > kelompok studi. (Ssst, bisa jadi, bawahan-bawahannya > dikerahkan untuk menyelesaikan tugas skripsi). Dan, > lihatlah, bedanya Togog dengan seorang Limbuk yang > polos tak punya gelar akademi. Togog berujar, "Aku > memang pantas menjadi pemimpin negeri, apalagi nanti > namaku akan bergelar Haji dan Doktor lagi. Hayo, siapa > tidak mengagumi?" Begitu Togog makin mampu > mengolok-olok Limbuk yang tenang mengamati. > > Tidak cukup di situ, kini Togog telah bersekutu dengan > Bilung, menantang Limbuk untuk menyerahkan kekuasaan. > Togog dan Bilung mengklaim mendapat dukungan rakyat > yang telah bosan dikuya-kuya oleh para nara praja. > Sementara Limbuk ketakutan untuk menegur para punggawa > yang bersenjata. > > Lebih celaka lagi, Togog dan Bilung sedang > bertiwikrama menggunakan aji mantra pelupa rakyat yang > sedang merindukan perubahan. Aji pembangun citra pun > dilancarkan. Togog tampil seperti idola para kawula. > Ia dielu-elukan karena jumbaian rambut gimbal menutupi > wajah aslinya. Rakyat lupa akan jati diri Togog > Tejamantri, seorang antek ratu seberang. Kesetiaan > Togog bukanlah untuk para kawula Amarta, tetapi hanya > kepada Ratu Seberang, Sang Boma Narakasura. > Gebyar-gebyar gambaran kultur kerajaan seberang > seperti telah membuai dan membuat rakyat melupakan > krisisnya. Mereka seperti melihat dewa penyelamat pada > sosok Togog yang tengah berubah rupa kerna kekuatan > ajinya. > > Jangan lupa, semua adegan itu adalah Goro-goro saja. > Tidak ada jejer serius yang men-candra masa lalu > mereka. Yang ditampilkan hanya sorak-sorai dan > gebyar-binar Togog Tejamantri yang ditemani Bilung > yang kudisnya sudah diubah menjadi kumis tipis di > bawah hidung tipisnya. Meskipun kudis itu tidak tampak > lagi di kepala Bilung, toh bau amisnya tetap bisa > dicium oleh orang-orang jujur di sekitar Limbuk. > > Melihat gelagat Togog dan Bilung yang bermain menawan > itu, Limbuk pun tidak kehilangan akalnya. Untuk > menarik penonton sebanyak-banyaknya, Limbuk tidak > hanya mulai lincah ber-anjang-sana, tetapi terlebih > lagi, tanpa tedeng aling-aling, sekarang Limbuk > terang-terangan bermain cintrong dengan Bagong > setengah bodong. > > Gila! Edan! Dasar Dalangnya Edan, penonton sudah > mengira Limbuk tunduk pada penampilan Togog, eeh, > malah kini Limbuk dibuatnya menarik lagi dengan > bermain cintrong dengan Bagong setengah bodong. > > Husss! Hati-hati lho, jangan sampai nanti diprotes > kaum ulama. Sebab, terlalu terbuka menampilkan Limbuk > yang sedang bermain cintrong dengan Bagong, > salah-salah nanti dituduh pornografi. Begitu seorang > pesinden di belakang Ki Dalang membisiki. > > Ki Dalang pun maklum. > > Goro-goro makin tambah menarik. Penonton lupa akan > penat duduk berjam-jam. Penonton makin terpana oleh > Limbuk yang ditampilkan cantik oleh dalangnya. > Penampilan Togog yang gagah dan anggun pun telah > membuat mereka lupa akan potensi tirani yang > tersembunyi di balik tutur santunnya. Track record dan > siapa sebenarnya Togog seperti tidak penting lagi. > > Akankah Limbuk berhasil mengembalikan simpati para > penonton sampai pagi? Ataukah Togog yang sedang > berubah rupa itu yang akan memikat simpati penonton > sampai pagi? > > Dalam lakon negeri Dedelduwel ini, hanya Ki Dalang > Edan yang bisa mengetahui pasti. > > 9 Agustus 2004 > > > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage! > http://promotions.yahoo.com/new_mail > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

