Jumat, 13 Agustus 2004

Tantangan Dakwah Struktural 
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 
Oleh : Yudi Latif 


Memasuki awal abad ke-21 adalah momen yang tepat untuk merenungkan kembali arah dan 
kiprah gerakan kaum terpelajar Islam di Indonesia. Perubahan abad memang hanyalah 
perubahan angka, yang tidak mesti mengandung perubahan makna kesejarahan. Namun, dalam 
konteks sejarah pergerakan Islam Indonesia, ada perbedaan mencolok dalam performa kaum 
terpelajar Islam antara awal abad ke-20 dan abad ke-21.

Pada awal abad ke-20, hanya segelintir kaum terpelajar (berpendidikan modern) yang mau 
bergabung dengan organisasi terpandang Islam saat itu, yakni Sarekat Islam (SI). 
Sebagian besar pelajar-pelajar terbaik bergabung dengan organisasi netral-keagamaan 
seperti Budi Utomo. Namun, berkat keterpautan pemimpin-pemimpin SI dengan suasana 
kebatinan wong cilik di akar rumput, SI tampil sebagai organisasi pergerakan yang 
paling atraktif, dengan keanggotaan menjangkau luasan nusantara. Saat yang sama, 
pemimpin-pemimpin terpelajar Islam tampil sebagai pemimpin nasional yang paling 
berpengaruh.

Pada awal abad ke-21, kaum terpelajar Indonesia banyak yang bergabung dengan 
organisasi-organisasi keislaman, seperti HMI, PII, PMII, KAMMI, ICMI, dan sebagainya. 
Bahkan partai-partai berbau keislaman banyak menghimpun intelektual-intelektual 
terpandang. Namun, karena orientasi pergerakan mereka lebih menyantuni kepentingan 
elite perkotaan, organisasi-organisasi pergerakan Islam kehilangan keterpautannya 
dengan akar rumput. Secara keseluruhan, basis massa pergerakan dan kepartaian berbau 
Islam tampak goyah. 

Anak haram liberalisme
Tiap zaman memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Setiap zaman kader-kader pergerakan 
Islam dituntut untuk membaca tanda-tanda sejarah, untuk bisa merespon keadaan secara 
tepat. Tradisi harus disegarkan dengan inovasi. Rutinitas harus diberdayakan dengan 
kreativitas. Di awal abad yang lalu, meskipun generasi pertama inteligensia Muslim 
yang dijurubicarai oleh Agus Salim dan Tjokroaminoto memperoleh pengikut yang luas di 
akar rumput, posisi mereka dalam kepemimpinan nasional rapuh, seiring dengan 
melemahnya basis ekonomi santri dan menguatnya elit pengetahuan baru yang tercerabut 
dari komunitas kesantrian.
Seperti dikatakan Richard Robison (1978: 19): "Selama masa kolonial, Kekuasaan Belanda 
mengamankan perusahaan-perusahaan Belanda untuk melakukan monopoli dalam perdagangan 
internasional dan investasi berskala luas dalam bidang perkebunan, perbankan, 
perkapalan, pertambangan, dan lain-lain. Pedagang-pedagang Tionghoa diberdayakan 
sebagai pedagang perantara bagi pasar domestik. Struktur ini mengucilkan 
pedagang-pedangan pribumi yang, tanpa proteksi dari negara, terbatas pada perdagangan 
dan produksi komoditi skala kecil di pedesaan dan kota-kota kecil. 

Mereka terus berjuang namun tak kunjung bisa bersaing dengan pedagang-pedagang 
Tionghoa." Seiring dengan melemahnya basis ekonomi santri, introduksi sistem 
pendidikan kolonial telah melahirkan hierarki pengetahuan baru, yang menempatkan 
pengetahuan "sekuler" sebagai modal kultural terpenting bagi pembentukan elite baru. 
Generasi pertama inteligensia Muslim yang lahir di penghujung abad ke-19, merupakan 
anak haram dari kebijakan pendidikan rezim Liberalisme yang mulai mempengaruhi politik 
kolonial pada paruh kedua abad ke-19. Rezim ini mengupayakan sekularisasi di dunia 
pendidikan dengan menyingkirkan pelajaran keagamaan dari dunia sekolah. Tak heran jika 
orang sesaleh Agus Salim sempat berujar bahwa, selepas keluar dari HBS dirinya telah 
merasa kehilangan iman. 
Berlalunya rezim Liberalisme dan tampilnya rezim konservatif dengan Politik Etis-nya 
pada awal ke-20 tidak mengubah keadaan, bahkan semakin memperkuat kecenderungan 
pembaratan. 

Arsitek kebijakan pendidikan rezim Politik Etis, yang dijurubicarai oleh C Snouck 
Hurgronje tampil dengan gagasan "politik asosiasi". Politik ini bertujuan untuk 
menciptakan suatu negara Belanda, terdiri dari dua bagian yang secara geografis 
berjauhan (yang satu di Eropa Barat dan yang lain di Asia Tenggara), namun secara 
spiritual berdekatan. Caranya adalah dengan melakukan "pembaratan" kepemimpinan 
Bumiputera. Dalam pandangannya, Hindia Belanda tidak bisa lagi dipimpin oleh 
pemuka-pemuka adat dan kalangan santri. Yang satu terlalu kuno, yang lain sulit 
menyatu secara spiritual. Kunci pembaratan ini adalah mempromosikan sistem pendidikan 
baru dalam skala luas yang berbasis kenetralan terhadap agama, yang bertujuan untuk 
memutus kaitan antara kaum terpelajar dengan pengetahuan dan komunitas keagamaan.



Ketersisihan
Kebijakan pendidikan yang dikembangkan oleh rezim Liberalisme dan Politik Etis membuat 
batang tubuh kaum terpelajar dan elite baru Bumiputera pada paruh pertama abad ke-20 
didominasi oleh kalangan sekuler. Situasi ini mulai dirasakan oleh generasi kedua 
inteligensia Muslim yang direpresentasikan oleh Mohammad Natsir dan kawan-kawan, yang 
merupakan produk langsung dari Politik Etis.
Tanda-tanda dini ke arah ketersisihan kaum terpelajar Muslim mulai tampak pada kemelut 
di Jong Java. Dikatakan bahwa seorang misionaris Kristen, Hendrik Kraemer, memberikan 
seri kuliah tentang kekristenan dan teosofi kepada anggota-anggota Jong Java, dengan 
maksud untuk membendung pengaruh pelajar-pelajar Muslim (Steebrink, 1993: 111). 

Saat yang sama, para pelajar Muslim yang taat percaya bahwa Islam bisa menawarkan 
titik temu untuk menjembatani fragmentasi di kalangan organisasi-organisasi 
pemuda-pelajar. Mereka juga berpandangan bahwa sebagai calon pemimpin nasional, sudah 
sepatutnya kaum terpelajar memahi agama yang dianut oleh mayoritas, guna memahami 
watak dasar rakyatnya. Mengingat pengajaran Kristen dan teosofi telah diberikan kepada 
anggota-anggota Jong Java, pelajar-pelajar Muslim ini juga menuntut diadakannya 
pengajaran keislaman. Salah seorang sponsor dari gagasan ini adalah Raden Sjamsurizal, 
ketua Jong Java ke-6. Ide ini dibawa ke pertemuan tahunan organisasi ini di Yogyakarta 
pada akhir 1924. 

Nyatanya gagasan ini tidak didukung oleh suara mayoritas. Situasi ini sangat 
mengecewakan para pelajar Islam yang taat. Agus Salim yang datang ke pertemuan sebagai 
undangan merasakan betul kekecewaan para juniornya. Dalam situasi ini, SI telah 
mengalami perpecahan, dan inteligensia Muslim generasi Salim dihadapkan pada tekanan 
hebat dari inteligensia kiri dan kemunculan tokoh-tokoh muda nasionalis sekuler. Ia 
pun segera membesarkan hati Sjamsurizal dan kawan-kawan, dengan mendorong mereka untuk 
membentuk organisasi sendiri yang bisa memperjuangkan aspirasi mereka. Pada akhir 1925 
lahirlah Jong Islamieten Bond (JIB), sebagai organisasi pertama pelajar (modern) 
Muslim. 

Merasakan lemahnya posisi tawar pelajar Muslim dalam peta persaingan kepemimpinan 
intelektual, JIB segera mengibarkan proyek historisnya. Bagaimana membuat 
pelajar-pelajar berpendidikan Barat bisa dekat kepada komunitas Islam atau setidaknya 
tidak menjadi anggota penuh dari organisasi-organisasi sekuler merupakan kepedulian 
utamanya. Sejak itu, gerakakan "Islamisasi kaum terpelajar" merupakan tema sentral 
dari pergerakan kaum terpelajar Islam sepanjang abad ke-20. Kemunculan Studenten Islam 
Studieclub pada 1934, Sekolah Tinggi Islam (STI), dan GPII pada 1945, HMI dan PII pada 
1947, IPNU pada 1954, IAIN dan PMII pada 1960, IMM dan Persami pada 1964, ICMI pada 
1990, dan KAMMI pada 1998 mengemban proyek historis yang sama. 

Betapapun generasi kedua inteligensia Muslim telah merintis gerakan Islamisasi kaum 
terpelajar, kekuatan mereka menjelang kemerdekaan RI masih lemah dibandingkan dengan 
kaum terpelajar nasionalis sekuler. Padahal, otoritas Jepang yang menjanjikan 
kemerdekaan bagi Indonesia menghendaki pengalihan kekuasaan negara kepada 
pemimpin-pemimpin Indonesia yang memiliki latar pendidikan sekuler yang kuat. Mereka 
yang berlatar ini dipandang bisa diandalkan untuk mengelola negara modern.
Akibatnya, representasi Islam dalam institusi-institusi kenegaraan di sekitar 
kemerdekaan sangat kecil. 

Dari 62 anggota BPUPKI, hanya ada 10 wakil Islam. Dari 25 orang anggota (akhir) PPKI, 
hanya ada 2 wakil Islam. Dari 137 anggota KNIP, wakil Islam kurang dari 20 orang. Dari 
14 orang anggota kabinet pertama RI, hanya ada 2 orang wakil Islam. Dengan gambaran 
ini menjadi jelas, mengapa Piagam Jakarta begitu mudah dicoret dari konstitusi dan 
kementerian agama lenyap di dua kabinet pertama.
Beruntunglah kemerdekaan membawa berkahnya tersendiri. Dunia pendidikan terbuka untuk 
semua warga negara. Kaum santri memperoleh peluang untuk memperbaiki kualifikasi 
pendidikannya.



Doktor dalam Sosiologi Politik dan Pengetahuan

courtesy: http://www.republika.co.id/ASP/kolom.asp?kat_id=16

Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke