Surat Kembang Kemuning: BUDAYA ETNIK DAN UNIVERSALISME
Aku masih berpendapat dan tetap berpendapat bahwa warganegara asal Tionghoa adalah salah satu etnik yang setara dengan etnik manapun di negeri ini. Dari segi budaya mereka bukan lagi orang Tionghoa seperti yang terdapat di daratan Republik Rakyat Tiongkok [RRT]dan ini kusaksikan dengan mata kepala sendiri ketika aku berada RRT. Sedangkan dari segi hukum, ketika mereka menjadi warganegara, mereka tidak lain menyatu dengan bangsa,negeri dan Republik. Karena itu kepada generasi-generasi yang ketionghoaan mereka hanya membekas pada bentuk fisik bermata sipit, rambut lurus dan kulit kuning, tapi secara budaya, mereka adalah Indonesia, lebih-lebih lagi jika seperti halnya dengan etnik-etnik lain, merekapun turut membangun Repulik Indonesia [RI], mengapa terhadap mereka masih diberlakukan SBKRI?[Soal ini akan kubicarakan lebih lanjut dalam rancangan tulisan "Unsung Heroes"], ungkapan yang digunakan oleh seorang kawan dekatku yang keindonesiaannya tidak luntur bahkan tambah marak sampai detik ini,sekalipun hidup di negeri lain, ketika melukiskan sumbangan-sumbangan kongkret etnik Tionghoa dalam membangun RI. Sebelum RI berdiri, semua kita adalah anggota warga etnik dan komunitas masing-masing. RI adalah hasil dan kesepakatan dan buah perjuangan bersama semua asal turunan dan etnik yang ada di negeri ini, dan semua mereka berhak disebut etnik setara untuk menjadi satu bangsa, satu negeri. Dalam hal ini, tidak ada monopoli karena bangsa, tanahair dan Republik memang bukan monopoli. Berjuang mempertahankan dan membela serta mewujudkan kesetaraan ini bukanlah "menuntut untuk diperlakukan secara istimewa" tapi adalah hak, sesuai dengan nilai-nilai republiken, sejarah RI dan filsafatnya, kecuali jika ada yang secara sengaja mengingkarinya. Karena itu kukatakan yang menyangkal kesetaraan dan hak ini tidak lain dari sikap mengkhianati Indonesia, RI dan nilai-nilai republiken itu sendiri. Secara pribadi, aku memang tidak terlepaskan dari etnik Tionghoa, juga tidak terlepaskan dari etnik Jawa [yang mayoritas di negeri dan di Republik ini], dari etnik Batak dari mana aku mendapatkan marga Simanjuntak, dari orang Sulawesi Selatan [khususnya Poso dan Makassar], dengan etnik Banjar, apalagi dengan etnik Dayak [khususnya Dayak Katingan], Kalimantan Tengah di mana aku dilahirkan. Tapi kalau aku bicara etnik, apakah aku menjadi "kurang ngindo" seperti yang dituduhkan oleh sementara orang? Meminjam istilah seorang Indonesia dari etnik Tionghoa yang duduk disamppingku dalam pesawat di perjalanan dari Singapura ke Jakarta: "Dalam patriotisme kita boleh bersaing". "Ngindo" dan "tidak ngindo" tidak berarti menghancurkan eksistensi etnik-etnik yang nyata ada. Kalau "ngindo" bersifat demikian, maka "ngindo" jenis ini akan kutentang sampai mati dan kupahami yang berkata demikian samasekali tidak mengerti abc bahkan buta aksara tentang arti Indonesia dan keindonesiaan serta kemanusiaan, apalagi arti republik dan nilai-nilainya.Yang menganut pendapat demikian sama dengan seorang tiran berjubah republik dan demokrat. Perwujudan kongkret pandangan anti Republiken dan nilai-nilai republiken begini antara lain tertuang dalam bentuk NKRI yang sentralistik dan dipandang sebagai pengejawantahan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai tafsiran tunggal. Pandangan, tasiran dan penuangan kongkret yang hanya berdampak menghancurkan bangsa,negeri dan negara. Kalau aku menentang adanya SBKRI justru berangkat dari nilai, sejarah, filsafat, arti republik dan nilainya, penolakan terhadap penafsiran salah tentang NKRI serta praktek selama ini. Demikian pun kalau aku bicara tentang masalah etnik, entah Dayak atau Tionghoa, aku tidak pernah lepas dari nilai republiken dan univeralisme sesuai pandangan filosof Perancis Paul Ricoeur bahwa "kebudayaan adalah majemuk sedang kemanusiaan itu tunggal".Etnisitas lebih menunjukkan kepada nilai budaya yang memang warna-warni di sebuah kanvas lukisan bangsa dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, aku memahami bahwa etnik dan bangsa tidak lain dari perbatasan semu bagi kemanusiaan yang dilahirkan oleh perkembangan sejarah sehingga patut diperhitungkan dan tidak boleh diabaikan. Atas dasar inilah maka ketika bekerja di Palangka Raya, aku kemukakan apa arti "Utus Itah", "Dayak dan Dayak Kekinian","Dayak Modern", filsafat hidupmati manusia Dayak "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri naga], yang juga kukira berlaku untuk etnik-etnik dan bangsa-bangsa lain sebagaimana yang kulihat dalam perjalanan meniti busur bumi dari benua ke benua dan pulau demi pulau di segala penjuru. Pada kesempatan ini pula aku mengajukan pandanganku yang menjelaskan arti konsep "pendatang dan bukan pendatang", "asli dan bukan asli" serta "bumiputera" dan segala variannya dalam sejarah dari kurun ke kurun.Kemudian kutawarkan ide :"Berdiri di kampung halaman memandang tanahair merangkul bumi untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat mulai dari pinggir dengan cara pemberdayaan [empowerment] dan pembangunan [development]bersolidaritas yang bergulir sendiri [self propelling growth]".Nasionalisme dan etnisisme yang menentang arah ini, berdasarkan apa yang kulihat di lapangan, hanya akan menjurus ke jurang malapetaka dan kehancuran. Padahal jika kita memperhatikan nilai-nilai yang tertuang di dalam legenda, sastra lisan dan budaya semua etnik [sebagai kesimpulan pengalaman hidup], tanpa kecuali, nilai-nilai universal [universalisme] ini akan kita dapati. Masalahnya apakah kita mampu atau tidak menangkap,mengangkat dan mengembangkannya. Jika kita menelaah sungguh-sungguh nilai budaya dasar yang terdapat pada semua etnik, kita akan gampang menemui kesimpulan tetua mereka yang menolak sektarisme dan yang dirumuskan oleh Paul Ricoeur di atas. Seperti yang dikatakan oleh Marx ketika ia menolak disebut genial:"Saya hanya menyimpulkan pengalaman sejarah" maka kesimpulan Paul Ricoeur di atas pun bukan genialitas. Paul hanya mengulang kembali dalam kata-kata sendiri kenyataan dan pengalaman sejarah [Jika demikian mengapa kita mesti bertahan dan bangga pada sikap "kultus individu" dan "mendewakan sang guru"? Kultus dan pendewaan bagiku tidak lain dari ujud kedunguan dan tanda bahwa kita belum jadi manusia dewasa. Petunjuk bahwa kita sedang mengidap penyakit pikiran dan kerusakan mental sama halnya dengan mengurung diri pada ekslusivisme etnik dan bangsa]. Dengan pandangan-pandangan dan sikap diatas, aku ingin mengatakan bahwa ekslusivisme sama dengan sektarianisme yang tidak diperlukan bahkan bertentangan dengan usaha memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Merebut kembali hak-hak dasar, tidak lepas dari usaha pemanusiawiaan manusia, kehidupan dan masyarakat. Atas nama apapun jika lepas dari usaha agung panjang, rumit dan berliku ini, ia akan sama dengan malapetaka sehingga ia tidak lain dari kendaraan pengangkut bencana dan pertikaian. Barangkali karena itu pula, usaha memausiawikan manusia terkadang seperti usaha khayali tapi selalu mengoda dan mengusik, sebab hidup tidak mungkin tanpa harapan dan utopi. Paris, Agustus 2004. ------------------- JJ. KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

