Tuhan Maha Pengasih ( Kawin di Masa Krisis) (III-tamat)
Oleh : Ujang Polis
�Ude lah Ko. Kebaekan itu ude kewajiban kite sebage sesama warga sekampung, sebangse
dan sebage sesame manuse. Aye kagak minta pamrih ame Ko Cek. Lagian Ko cek kan
tetangge aye. Dan aye sendiri pengen Yono dan Boby nyang masih temen aye itu bise
kerje dengan baek.�
�Iye sih. Tapi gini aje din, ni aye punye titipan dari bini aye, katanye karena
kebaekan lu dan keluarga lu selame ini make bini aye pengen kasih bantuan ame lu.
Tolong diterime ye din.� Kata Cek Bo Ong setengah memaksa Udin untuk menerima satu
amplop berisi cek tunai.
�Yaah Ko Cek suse amat sih. �.Baiklah aye terime Ko, dan aye ucapin terimakasih ye�
kata Udin agak kikuk memerima pemberian Cek Bo Ong.
�Baek deh din aye balik dulu ye. Nanti kalo elo ade ape ape jangan ragu ketemu ame
aye. Ntar aye bantu kekurangannye� kata Cek Bo Ong sambil berlalu menuju bengkelnya.
�Iye Ko. Terimakasih sebelumnye� timpal Udin.
�Ade ape bang Ko Cek kemari� Tanya Fatima yang sudah tiba disamping Udin.
�Ko Cek pengen bantu rencane nike kite� jawab Udin lirih. Dia ingat almarhum ayahnya
yang masih sahabat Cek Bo Ong, yang keduanya dulu selalu saling membahu dalam
kehidupan bermasyarakat di kampung itu maupun ketika masih berdinas di kantor
pemerintah. Dulu almarhum ayah Udin meneruskan bekerja di kantor pemerintah walaupun
sudah ada pergantian pemerintahan pimpinan Presiden Sukarno oleh Presiden Suharto.
Sedangkan Cek Bo Ong karena memiliki jiwa bisnis, memilih keluar dari kedinasan dan
memilih membuka bengkel mobil. Persahabatan orang tuanya diturunkan kepada anak anak
mereka. Makanya anak anak Cek Bo Ong juga menjadi teman baik Udin dan adik adiknya.
�Bang Fatime pulang dulu ye, ntar babe nyariin. Sekarang ude ampir magrib. Nah ini
salinan catetan keperluan nike kite aye kasih abang atu� Fatima minta ijin pulang.
�Terimakasih time ye, tolong kasih tahu babe hari Sabtu pagi aye ame mak dan adik adik
aye mau ketemu babe dan nyak lu�
�Ye bang. Assalamu�alaikum� Fatima berpamitan.
�Wa alaikum salam� sahut Udin
Didalam catatan rencana pernikahan Udin tertulis keperluan biaya untuk pembuaan kartu
undangan, hidangan para tamu, sewa piring dan peralatan masak, sewa kursi dan tenda,
sewa hansip, sewa sound system, jasa pemain organ dan penyanyinya, jasa perias
pengantin, jasa KUA, biaya pernikahan, cinderamata, pakaian keluarga, pakaian
pengantin, foto, video, sewa panggung kecil. Pernikahan mereka akan diadakan dirumah
haji Somat.
Udin dan Fatima sepakat untuk tidak menikah di gedung yang bertarif mahal, selain
karena pertimbangan dana yang tersedia juga karena mereka berdua tidak ingin
menyusahkan kedua orang tuanya. Walaupun ada alternatif gedung untuk penyelenggaraan
pernikahan yaitu di mesjid dan acaranya di ruang serba guna mesjid, tetapi biaya sewa
ruang ini tidak berbeda jauh dengan tarif sewa gedung pada umumnya. Sehingga Udin dan
Fatima merencanakan diadakan di rumah saja.
Begitulah rencana pernikahan Udin dan Fatima di masa krisis ekonomi sedang melanda
Indonesia. Niat baik mereka selalu dibantu oleh orang orang sekitarnya yang masih
memiliki perhatian kepada kedua orang ini.
Dan pola seperti itu sampai saat ini banyak dilakukan oleh kaum muda di Indonesia yang
sudah bekerja. Ini mencirikan betapa kaum muda Indonesia masih amat menyayangi kedua
orang tuanya pada umumnya dengan memperlihatkan sikap hormat kepada keduanya dan sikap
mandirinya dalam pembiayaan pernikahan mereka.
Memang pada jaman sekarang dimana banyak lapangan pekerjaan yang amat terbatas kontrak
kerjanya rata rata dibawah sepuluh tahun, mengakibatkan begitu sulit bagi para pekerja
itu untuk memasukan item pembiayaan kuliah atau nikah anaknya kedalam rencana
budgeting miliknya. Walaupun lembaga asuransi telah hadir memberikan servisnya. Bagi
pekreja yang tidak memiliki skill lain atau pekerjaan sambilan, maka persoalan
mempersiapkan sekolah anaknya menjadi amat berat walaupun mengikuti asuransi, bisa
menimbulkan kasus sebelum tahun kedua yang berakibat hangusnya uang premi mereka
sendiri.
Namun walaupun kondisi itu amat sulit, dan secara matematika biasa sering kita liha
tidak mungkin bisa memenuhi pembiayaan sekolah anak atau nikahnya dan telah menjadikan
banyak kaum muda berpikir realitis untuk bekerja lebih dulu agar bisa mempersiapkan
dirinya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Tampaknya Tuhan masihlah bersikap Maha Pengasih dan Penyayang, walaupun secara
matematika itu seperti itu, sampai saat ini masih banyak orang tua yang pas pasan
masih dapat memiliki anak yang bersekolah tinggi, ataupun menikahkan anaknya secara
sederhana di rumahnya sendiri.
16 Agustus 2004, Indonesia
Ujang Polis
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/