Salam, Ini puisi Gus Mus--Mustofa Bisri--yang disebut "puisi hidup" karena mengalami dinamisasi setiap tahun. Puisi kali ini versi yang ke-9, berarti sejak sembilan tahun silam Gus Mus menulis dan edisi kali ini merekam peristiwa setahun lalu. Selamat membaca dan menghayati, Dirgahayu Indonesia! Merdeka! -GuN- http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=124871 Selasa, 17 Agt 2004, Puisi Kemerdekaan
Rasanya Baru Kemarin (Versi IX) Rasanya Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta Atas nama kita menyiarkan dengan seksama Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya Gaung pekik merdeka kita Masih memantul-mantul tidak hanya Dari para jurkam PDIP saja. Rasanya Baru kemarin. Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya. Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa Sudah banyak yang turun tahta Taruna-taruna sudah banyak yang jadi Petinggi negeri Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi. Rasanya Baru kemarin Padahal sudah lebih setengah abad lamanya. Menteri-menteri yang dulu suka korupsi Sudah banyak yang meneriakkan reformasi Rasanya baru kemarin Rakyat yang selama ini terdaulat sudah semakin pintar mendaulat Pemerintah yang tak kunjung merakyat pun terus dihujat Rasanya baru kemarin Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya. Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan sudah mulai runtuh Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai pelukan kasih banyak ibu-bapa dari anak-anak kandung mereka Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata banyak saudara terhadap saudaranya Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan Ruh dan jiwa sudah semakin tak ada harganya Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan para penguasa berlaku sewenang-wenang kini sudah pandai menirukan Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya Semakin bertambah besar pengaruhnya Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda Kepentingan sendiri dan golongan sudah semakin melecehkan kebersamaan Rasanya Baru kemarin Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka Pahlawan-pahlawan idola bangsa Seperti Pangeran Diponegoro Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam, dan Kura-kura Ninja Banyak orang pandai sudah semakin linglung Banyak orang bodoh sudah semakin bingung Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan Rasanya Baru kemarin Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya Rasanya Baru kemarin (Hari ini ingin rasanya Aku bertanya kepada mereka semua Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?) Rasanya Baru kemarin Negeri zamrud katulistiwaku yang manis Sudah terbakar nyaris habis Dilalap krisis dan anarkis Mereka yang kemarin menikmati pembangunan Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan Banyak yang tak rela sendiri kesulitan Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum Rasanya baru kemarin Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka. Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni Para oportunis pun mulai bertampilan Berebut menjadi pahlawan Pensiunan-pensiunan politisi Sudah bangkit kembali Partai-partai politik sudah bermunculan Dalam reinkarnasi Rasanya baru kemarin Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta Kini sudah pandai menembakkan kata-kata Rasanya Baru kemarin Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita Merdeka. Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali Mereka yang kemarin dijarah Sudah mulai pandai meniru menjarah Mereka yang perlu direformasi Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi Mereka yang kemarin dipaksa-paksa Sudah mulai berani mencoba memaksa Mereka yang selama ini tiarap ketakutan Sudah banyak yang muncul ke permukaan Mereka yang kemarin dipojokkan Sudah mulai belajar memojokkan Mereka yang kemarin terbelenggu Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa Sudah mulai banyak yang lupa Rasanya baru kemarin Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua Tentang makna merdeka Rasanya baru kemarin Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri Hanya dengan meludahkan kata-kata Rasanya baru kemarin Dakwah mengajak kebaikan Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan Dialog dan diskusi Sudah digantikan peluru dan amunisi Rasanya baru kemarin Masyarakat Indonesia yang berketuhanan Sudah banyak yang kesetanan Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian Rasanya baru kemarin Legislatif yang lama sekali non aktif Dan yudikatif yang pasif Mulai pandai menyaingi eksekutif Dalam mencari insentif Rasanya baru kemarin Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik Rasanya Baru kemarin Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru Rasanya Baru kemarin Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan Sudah mulai kebingungan menerima orderan NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis Rasanya Baru kemarin Pak Harto yang kemarin kita tuhankan Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri Atau lenyap seperti disembunyikan bumi Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini Rasanya baru kemarin Habibie sudah meninggalkan Negeri menenangkan diri Gus Dur sudah meninggalkan Atau ditinggalkan partainya seorang diri Rasanya baru kemarin Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar Rasanya baru kemarin Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan Obyek dan dipilihkan Kini sudah dimerdekakan Tuhan Dapat sendiri menentukan pilihan Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan Rakyat yang kebingungan mencari panutan Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan (Hari ini ingin rasanya Aku bertanya kepada mereka semua Bagaiman rasanya Merdeka?) Rasanya baru kemarin Orangtuaku sudah lama pergi bertapa Anak-anakku sudah pergi berkelana Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus Aku sendiri tetap menjadi tikus (Hari ini setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka ingin rasanya aku mengajak kembali mereka semua yang kucinta untuk mensyukuri lebih dalam lagi rahmat kemerdekaan ini dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani diri sendiri bagi merahmati sesama) Rasanya baru kemarin Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita Merdeka (Ingin rasanya aku sekali lagi menguak angkasa dengan pekik yang lebih perkasa: Merdeka!) Rembang, 17 Agustus 2004 Memahami Perbedaan Menghilangkan Jarak dan Membentuk Ego Menjadi Empati yang Utuh -GuN- Egypt: +20106867745 Untuk arsip-arsip tulisan, bisa klik: http://qalam.co.nr or http://qalam.tk atau www.katakata.cn.st Terima kasih..:)) --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

