http://swaramuslim.net/weblog.php?id=P2048
>
> Mata Dajjal pada lantai Grand Final AFI2
> Seorang remaja ABG nyaris mati bunuh diri, hanya
lantaran tidak bisa melihat idolanya di arena gemerlap
AFI. Sulit disangkal, AFI dan sejenisnya sudah menjadi
trend hiburan baru yang mampu mengaduk-aduk emosi
pemirsanya, khususnya kalangan remaja. Televisi kita
pun banjir dengan acara-acara yang tidak memberikan
nilai pendidikan apa-apa, kecuali sajian tentang
kehidupan bebas ala muda-mudi Barat.
>
> Tayangan televisi kita pun, kini getol menyajikan
acara-acara ajang
mencari bakat di bidang seni suara. Sebut saja AFI,
Indonesia Idol dan KDI. Bahkan ajang mencari bakat
ini, kini bukan hanya di bidang seni suara, tapi juga
sudah merambah ke dunia modelling dan acting.
>
> Acara-acara seperti ini ternyata menyedot perhatian
dan minat bukan hanya
di kalangan remaja, tapi juga orang tua, bahkan
anak-anak. Bahkan para remaja ini, kadang sampai
terlihat histeria, setiap kali ada tayangan dan konser
AFI. Bisa kita lihat bagaimana mereka menjerit, bahkan
ikut menangis saat ada peserta yang keok alias
terpental dari gelanggang juara.
>
> Gambaran seperti ini, sebenarnya bukan cerita baru.
Namun ada hal yang
patut dicermati. Selain ada sisi posistifnya. Ternyata
banyak dampak negatif yang merasuk ke jiwa remaja
mereka. Contohnya, kasus Mevi Susanti, 15 thn, siswi
SMP kelas II, yang mencoba bunuh diri hanya karena
tidak bisa nonton AFI di TV. Mevi rebutan remote
control dengan kakaknya, perang mulut pun terjadi. Tak
disangka Mevi masuk kamar dan menenggak obat racun
serangga. Untung nyawanya bisa terselamatkan.
>
> Apa yang terjadi sebenarnya terjadi pada remaja
kita? Kenapa mereka mudah
histeris dan mudah mengidolakan sesuatu yang terkadang
sampai kelewat batas. Padahal kita tahu, yang mereka
idolakan itu budaya barat. Benarkah remaja kita
sekarang sudah menjadi budak budaya asing yang secara
tidak sadar melemahkan moral mereka?
>
> Eksploitasi Remaja untuk Kepentingan Komersil
> Sebenarnya bukan hanya AFI dan Indonesia Idol, yang
notabene diimpor dari
luar, yang kental dengan pengaruh budaya barat.
Sejumlah sinetron remaja yang ada sekarang pun, banyak
menampilkan sisi kehidupan remaja yang serba enak,
kaya, cantik, dengan intrik percintaan berbau
seks-bebas ala film-film seri barat seperti Beverly
Hills 90210 atau Melrose Place. Padahal benarkah
gambaran remaja kita seperti yang tercermin dalam
sinetron-sinetron itu? Wallahu a'lam.
>
> Ketua Masyarakat Anti Pornografi (MAP), Yuniwati,
menyatakan kita tidak
bisa menyalahkan remaja yang begitu mengidolakan
sesuatu, bahkan sampai histeria, karena mereka memang
sedang dalam tahap mencari jati diri. Mereka masih
gampang terpengaruh, apalagi dengan penampilan yang
serba 'wah' dan keren seperti idola-idola mereka.
>
> "Bagaimanapun juga program-program itu disajikan
oleh orang dewasa, dalam
rangka mencari rating serta keuntungan yang
sebesar-besarnya. Mereka tidak memperhitungkan dan
memikirkan bagaimana dampaknya terhadap moral dan
budaya bangsa kita, apalagi dari sisi agama. Tanpa
sadar, remaja sudah diekspolaitasi dengan dalih inilah
yang diinginkan remaja, mencari bakat dan sebagainya."
>
> "Yang saya sesalkan orang tua kadang-kadang
ikut-ikutan kecanduan dan bergaya seperti remaja,"
cetus Yuniwati yang juga seorang psikolog ini.
>
> Sementara itu, da'i yang dekat dengan kalangan
remaja, Ihsan Tanjung berpendapat, mengapa remaja
begitu mudah histeria dengan tokoh-tokoh atau
acara-acara seperti AFI dan sejenisnya, karena adanya
kekosongan.
>
> "Kita sedang mengalami kekosongan. Apalagi kalau
mereka tidak mendapatkan pendidikan agama yang
memadai. Ketika mereka disajikan yang wah-wah mereka
senang-senang saja. Jadi persoalannya lebih kepada
bagaimana para remaja ini dididik untuk memiliki sikap
yang proporsioanal terhadap hal-hal yang bersifat
duniawi," kata Ihsan Tanjung saat dihubungi eramuslim.
>
> Dari sisi remajanya sih wajar-wajar saja, lanjut
Ihsan. Karena mereka sedang tumbuh. Masalahnya tinggal
bagaimana supaya mereka tidak tenggelam. "Apalagi
meniru dan ikut-ikutan, sampai rela mengantri panjang
hanya untuk jadi populer," sesalnya.
>
> Namun Ihsan mengaku tidak bisa meyembunyikan
kesedihannya melihat kondisi remaja yang seperti ini.
>
> "Melihat ini, sebagai orang yang bergerak di bidang
da'wah saya merasa sedih. Dan menyadari bahwa da'wah
belum berarti apa-apa, dan belum berhasil menyentuh
aspek yang mendalam dalam diri remaja. Sehingga mereka
bisa menyikapi pengaruh duniawi itu dengan biasa-biasa
saja," tukas Ihsan lagi.
>
> Adanya kekosongan di kalangan remaja, juga diakui
oleh pemerhati anak dan remaja Neno Warisman.
"Seharusnya tidak perlu ada eforia atau histeria, itu
semua karena adanya kekosongan terhadap pengenalan
nilai di dalam rumah sejak awal usia remaja. Yaitu
nilai-nilai bahwa tidak ada yang lebih penting
daripada mementingkan Allah," ungkap Neno.
>
> Neno menyatakan, sikap remaja yang histeria itu
dibilang berlebihan juga tidak. Cuma mungkin tidak ada
kontrol dan tidak ada keteladanan bagi mereka.
"Pemerintah abai, sekolah abai, acara-acara seperti
AFI dan sejenisnya kan sebenarnya fenomena sosial
budaya yang tidak terurus," cetus Neno.
>
> Menurut Neno, budaya di Indonesia memang seperti
anak yatim, anak angkat. Tidak ada yang mengurus,
seperti masalah politik atau ekonomi. "Mau larinya
kemana budaya kita gak ada yang mengurus. Jadi karena
tidak ada strateginya, apa saja bisa masuk," tambah
Neno.
>
> Neno menilai, remaja kita tidak dikenalkan untuk
punya strategi
> pemihakan
pada budaya yang baik dan sederhana serta bermanfaat.
Yang ada, mereka dituntun oleh televisi, tidak ada
bimbingan orang tua, yang tak jarang menganggap sikap
remaja yang histeria itu sebagai hal yang wajar.
>
> Ancaman Liberalisasi Moral Remaja di Masa Depan
> Setiap fenomena pasti akan menimbulkan dampak, entah
itu dampak positif atau negatif. Melihat kondisi
remaja kita yang begitu mudah mengidolakan dan
terjerumus dalam histeria, mengundang kekhawatiran
berbagai pihak. Meski, gaung kekhawatiran ini belum
keras bergema.
>
> Ketua Masyarakat Anti Pornografi yang juga psikolog,
Yuniwati mengungkapkan, dampaknya akan terlihat dalam
jangka panjang, apalagi acara model AFI ini mulai
menjamur di televisi.
>
> "Kita lihat semuanya meniru dari program acara di
Barat. Ini sudah budaya liberal barat yang tidak cocok
dengan budaya kita. Kalau keterusan, akan menimbulkan
kebingungan di kalangan remaja, mana yang boleh dan
mana yang tidak boleh. Nilai-nilai yang sudah dicoba
ditanamkan oleh keluarga dalam hal ini orang tua pun,
bisa jadi tidak berarti kalau serbuan itu begitu kuat
dan terjadi hampir setiap hari," papar Yuniwati
prihatin.
>
> Selain itu, kata Yuni, nantinya kaum remaja akan
lebih mengutamakan pola hidup komsumtif, karena yang
tampil ke permukaan seperti show saja. Keinginan untuk
melakukan pendalaman rohani dan spiritual, kepribadian
dan sopan santun akan berkurang.
>
> "Ini sudah salah satu bentuk penjajahan kebudayaan,"
ujarnya lagi.
>
> Sementara itu, Ustadz Ihsan Tanjung menyatakan, inti
persoalannya adalah, remaja punya kebutuhan untuk
diakui eksistensinya. Kalau tidak diarahkan,
dikhawatirkan akan menyimpang dan pada akhirnya akan
bersentuhan dengan problematika aqidah.
>
> "Dalam aqidah Islam, prinsip dasarnya adalah
Alhamdulillahi robbil
'alamin, segala sesuatunya milik Allah Swt. Mungkin
pengetahuan mereka soal itu belum memadai, bahwa hanya
Allah yang pantas dipuji dan diagungkan," kata Ihsan
Tanjung.
>
> Problemanya sekarang banyak diantara kita yang
menanamkan nilai-nilai
agama, bukan dari pengokohan aqidah terlebih dahulu,
tapi dari ibadah (fiqih), sedangkan aqidahnya masih
keropos, kata Ihsan.
>
> Neno Warisman, punya kekhawatiran yang lebih
mengerikan lagi. Neno
mengungkapkan, kalau ini terus dibiarkan, dan meresap
jauh ke jiwa remaja, jangan heran kalau nantinya
kehidupan remaja kita seperti Filipina, tidak punya
budaya.
>
> "Budaya mereka kan budaya Amerika. Budaya Timur yang
kita miliki
> perlahan
tapi pasti akan hilang. Yang namanya budaya timur itu
kan berkaitan dengan meninggikan derajat kemanusiaan,
kearifan, kesopanan, dan kesantunan," ujar Neno.
>
> Ditanya apakah fenomena remaja ini sebagai
kemunduran moral, Neno
mengatakan, "Saya tidak bilang ini kemunduran. Ini
musibah besar, karena remaja ini akan menjadi
pengganti generasi yang ada sekarang. Kondisi ini
seperti gunung es. Di seluruh pelosok Indonesia
seperti ada pendidikan massal bahwa itulah yang
namanya target orang sukses harus didapat dengan hanya
satu cara," keluhnya.
>
> Remaja Harus Dibimbing dan Dilibatkan
> Lantas bagaimana mengajak remaja-remaja kita, agar
tidak terlanjur
terjerumus dengan libralisasi moral lewat tayangan
model AFI dan sejenisnya?
>
> "Pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan
yang membuat remaja
mengalami involment atau keterlibatan. Di satu sisi
mereka diarahkan, diberikan penanaman nilai-nilai.
Tapi disisi lain kita juga menghargai interaksi
mereka, kepentingan-kepentingan mereka dihargai dan
diakui. Hanya dengan cara ini, mereka nantinya
pelan-pelan akan mengikuti nilai Islam," tutur Ihsan
Tanjung.(nena/sultoni/eramuslim)
_______________________________
Do you Yahoo!?
Express yourself with Y! Messenger! Free. Download now.
http://messenger.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/