Dari Sebuah Percakapan: TANTANGAN DAHSYAT INDONESIA

Oleh Tangkisan Letug

Di hari peringatan proklamasi kemerdekaan ini, aku
bertemu seorang kawan dari India, yang cukup banyak
terlibat dalam perjuangan kemanusiaan, tidak hanya
tingkat lokal, tetapi juga tingkat dunia. Dari
percakapan dengan hari ini, dia menyebutkan
tantangan-tantangan dahsyat negara-negara dunia ketiga
di tengah arus globalisasi sekarang ini. Apa yang
disebutkan itu amat mengena juga bagi kondisi
Indonesia di usianya yang ke-59 ini. Maka kutuliskan
di bawah ini enam tantangan dahsyat itu.

Tantangan pertama adalah marginalisasi. Fenomen
marginalisasi sudah menjadi fenomen umum di
negara-negara dunia ketiga. Yang dimaksud dengan
marginalisasi oleh kawan tadi adalah proses
peminggiran kepentingan rakyat miskin dari persaingan
kapital global. Singkatnya, rakyat miskin selalu saja
dianggap tidak penting dalam percaturan kapital
global. Banyak rakyat di negara-negara dunia ketiga
hanya menjadi obyek penderita. Dan ironisnya, para
warganegara asing, atau kepentingan asing selalu
dianggap raja istimewa oleh pemerintahnya. Inilah
kenyataan pahit negara-negara dunia ketiga yang
meminggirkan rakyatnya. 

Aku jadi ingat satu contoh kecil yang mungkin
mencerminkan situasi di Indonesia. Kemarin Presiden
Megawati memberikan pidato kenegaraannya di hadapan
DPR. Begitu selesai, berita elektronik pun segera
beredar dengan cepatnya. Aku lebih cepat mendapatkan
teks terjemahan pidatonya dalam bahasa Inggris
daripada teks asli bahasa Indonesianya. Dalam hati aku
mengumpat, mengapa sepertinya orang asing lebih
diutamakan dalam hal-hal semacam ini? Bukankah
semestinya, rakyat Indonesia sendirilah yang punya
kepentingan paling utama untuk mendapatkan teks
aslinya? Barangkali, rakyat dianggap sudah cukup
mendengarkan pidato lewa radio dan televisi. Rakyat
Indonesia mungkin memang dianggap tidak
berkepentingan. Sebab, isi pidatonya lebih banyak
bicara tentang ekonomi "langit" (makro) daripada yang
menyangkut kepentingan rakyat kecil (ekonomi "bumi"
atau mikro). Begitulah tampaknya, memang benar,
marginalisasi rakyat dalam mengeja kepentingan ekonomi
pun sudah tampak kelihatan. Tetapi, marginalisasi
rakyat paling ngeri terjadi ketika para pemimpin hanya
menganggap perlu di saat butuh kursi. Mereka yang
paling getol membual tentang dukungan rakyat, biasanya
justru yang paling gampang mempecundanginya.

Tantangan kedua adalah apa yang dia sebut sebagai
"people forced on the move". Fenomen sosial ini amat
kasat mata terjadi di hampir seluruh benua. Tantangan
"people on the move" ini meliputi para pengungsi,
"displaced people", para migrants, dan orang-orang
yang kehilangan tanah miliknya. Konflik kepentingan
kapital dan politik telah memberi dampak pada
munculnya problem kemanusiaan ini. Di Indonesia hadir
pula dengan kasat mata fakta ini: pengungsi di negeri
sendiri yang dipaksa pergi dari tanahnya karena
konflik, para migrant workers (TKI dan TKW) yang
terpaksa harus keluar dari daerah atau negaranya untuk
mendapatkan nafkah hidup, para petani yang kehilangan
tanah garapan karena penggusuran paksa. Menurut
pengamatan kawan tadi, problem ini seperti kurang
menjadi minat para pemerintah negara-negara dunia
ketiga karena fokus berlebihan pada upaya mendatangkan
investasi asing. Padahal, problem yang datang dianggap
sebagai bagian dari efek persaingan kapital lokal dan
global, sekaligus politik, tetapi jalan pemecahannya
malahan mencari aliran kapital lewat investasi. Maka,
tidak mengherankan bila masalah ini akan tetap
berlarut-larut.

Tantangan ketiga adalah apa yang ida sebut sebagai
"ecological destruction". Mendengar masalah ekologi
itu disebut, aku langsung teringat kasus pencemaran
laut di pantai Buyat, Minahasa, yang sedang ramai
diperbincangkan publik Indonesia. Bagiku itu sebuah
contoh amat jelas, betapa kehancuran ekologi sering
dianggap beaya yang perlu bagi pengerukan kapital.
Lalu, aku teringat pula perusakan hutan-hutan kita
yang mengerikan. Katanya, tahun 2015 nanti, Indonesia
akan kehilangan hutannya di Kalimantan, bila
penebangan hutan yang gila-gilaan masih terus terjadi.
Lalu asap-asap kebakaran hutan di Sumatera masih terus
saja terjadi hingga kini. Sepertinya yang muncul dalam
berita hanya keluh dan sensasi, tanpa ada upaya-upaya
konkret untuk sungguh-sungguh menangani akar
persoalannya. Maklum saja, hampir segala perusakan
ekologi yang bertaraf nasional, terkait dengan
kepentingan arus kapital internasional dan lokal.
Masih banyak kasus-kasus perusakan lingkungan di
Indonesia yang belum muncul ke permukaan dan tercium
oleh pers. 

Tantangan keempat adalah perang dan konflik baik di
dalam negeri sendiri atau antar negara.  Masalah ini
sangat kompleks karena terkait banyak hal, seperti
perdagangan senjata, politik, ras dan agama, serta
ekonomi. Berbagai kepentingan itu saling
kait-mengkait. Satu contoh konflik yang masih juga
belum terselesaikan adalah konflik di Maluku. Antara
kepentingan ekonomi, politik, agama dan ras sudah
begitu dalam saling terkait. Sekarang ini, tampak
banyak pihak kebingunan mau membidik akar soalnya yang
mana. Tetapi tetap saja, dalam pandanganku, di banyak
persoalan konflik itu kepentingan kekuasaan sangat
dominan. Sebab ada strategi kekuasaan klasik seperti
"devide et impera" yang telah dipraktekkan dengan
suksesnya oleh pemerintah kolonial Belanda di
Indonesia. Konflik dan perang pada dasarnya hanya
memperlemah komunitas setempat. Maka, seorang penguasa
yang cenderung mementingkan kelompok dan diri sendiri,
biasanya akan mempertahankan kekuasaan dengan strategi
ini. Kekuasaan yang tidak menjunjung kepentingan
rakyat selalu merasa terancam ketika ikatan
solidaritas rakyat semakin menguat dan terorganisir.
Persis ini tampaknya yang dipraktekkan oleh rezim Orde
Baru yang sudah menjadi masa lalu. Tetapi, siapa tahu
sekarang ini roh Orde Baru sebenarnya sedang menjelma
dalam wajah-wajah yang baru!? 

Tantangan kelima yang disebut kawanku amat menarik
bagiku. Yakni tantangan dari "the corrupt government".
Pada kenyataannya, di negara-negara dunia ketiga,
pemerintahannya kebanyakan sangat korup. Pemerintah
yang bersih itu masih merupakan utopia. Pemerintahan
yang korup akan cenderung menyebarkan virus korup-nya
ke lapisan-lapisan paling bawah. Kawanku menyebut
pemerintah korup ini sebagai tantangan yang amat
dahsyat bagi perjuangan keadilan dan kemanusiaan.
Mengapa?, aku tanya dia. Sebab, menurut dia,
pemerintahan yang korup cenderung tidak memiliki
rispek pada hukum (respect of law) dan tidak
memperlakukan rakyatnya sebagai warga yang sama.
Buktinya, pelanggaran hak-hak asasi akan terus
terjadi, dan birokrasi cenderung menjadi sarang
persekongkolan. Nepotisme dan kolusi dalam lapisan
penguasa dan bisnis menjadi hal yang biasa. Mungkinkah
tantangan ini menjadi tatapan pemerintah Indonesia
kini? Ataukah cukup menjadi topik kampanye penopang
kursi?

Tantangan terakhir yang disebutkan oleh kawanku adalah
tantangan untuk membangun solidaritas baru. Di tengah
arus globalisasi kapitalisme, sebuah negara yang rapuh
ikatan solidaritasnya akan gampang sekali dijadikan
makanan empuk raksasa-raksasa pemilik kapital. Di
banyak negara dunia ketiga, sebetulnya sudah muncul
gerakan-gerakan sosial baru seperti gerakan pembela
martabat perempuan, gerakan pembela hak-hak
"indigenous people". Bagaimana sebuah negara
mengakomodasi kepentingan kelompok komunitas kecil ini
menjadi amat berharga bagi ketahanan menghadapi arus
globalisasi. Mengambil langkah yang keliru dengan
menekan dan memberantas bangkitnya kelompok
solidaritas hanya akan memperlemah negara. 

Begitulah ada enam tantangan dahsyat global sekarang
ini. Enam tantangan dahsyat tadi, aku temukan juga
percikannya dalam negeri Indonesia, bukan hanya
sekedar ada, tetapi tampak sekali daya ledaknya. 

Semoga makin kita temukan kekuatan-kekuatan positif
dan kreatif yang memberikan optimisme bagi seluruh
bangsa. Tantangan dahsyat memang perlu menjadi
kesadaran kita, tetapi tak kalah penting pula adalah
kesungguhan elitnya untuk memulai mengambil langkah
mulia dengan menjunjung martabat rakyat negerinya.
Akhirnya, hanya keadilan yang menjadi nyata mampu
menyembuhkan banyak luka-luka sejarah bangsa. Menimbun
luka denga luka, hanya akan memperkuat
ketidakpercayaan antara sesama warga bangsa.

Salam Merdeka!

17 Agustus 2004


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke