Catatan Seorang Klayaban:

KBRI PARIS DAN JALAN 
DIPLOMASI KERAKYATAN?! [1].

Yang kumaksudkan dengan "diplomasi kerakyatan" adalah diplomasi yang dilaksanakan 
dengan bersandar dan percaya kepada semua anak negeri dan bangsa di lingkup wilayah 
kerja para diplomat terkait dalam menunaikan misi diplomasi. Lawan  dari "diplomasi 
kerakyatan" adalah "dipolomasi elitis" atau "diplomasi menara gading dan komando" yang 
otoritarian. 

Diplomasi model terakhir ini, tidak jarang akan berdiri hadap-hadapan dengan anak 
negeri dan bangsa di ruang lingkup wilayah kerja para diplomat tersebut sehingga jika 
lobbie para warga negara yang merasa adanya ketidakadilan di negaranya berkembang di 
ruang lingkup wilayah kerja para diplomat terkait, bukan tidak mungkin penduduk negeri 
[paling tidak sementara lapisan]  di mana para diplomat itu sedang bertugas akan turut 
berdiri di hadapan perwakilan negara tersebut. Hal begini, selama Orde Baru Soeharto, 
sudah banyak buktinya di negeri-negeri Eropa Barat dan negeri-negeri lain.

Diplomasi dan corak atau watak suatu kekuasaan politik, tidak bisa dipisahkan. Sering 
nampak bahwa corak dan watak ini, langsung atau tidak langsung juga diperlihatkan oleh 
tingkah-laku para diplomat sebagai perwakilan negara tersebut di luarnegeri. Sehingga 
bisa dikatakan bahwa bagaimana sistem atau watak kekuasaan politik negara tersebut 
akan begitu pula pola tingkah-laku para diplomatnya.

Dalam masa transisi, seperti halnya keadaan negeri dan negara kita sekarang, maka pola 
tingkah-laku para diplomat banyak ditentukan oleh sikap politik dan pandangan para 
diplomat yang bersangkutan. Karena itu, tidak heran jika di sementara negeri, terdapat 
sikap para diplomat yang tidak merakyat, sedang di negeri lain, ada diplomasi 
kerakyatan.

Setelah merampungkan masa tugasnya sebagai dutabesar [dubes] untuk Andora dan 
Perancis, sekarang, aku bisa pastikan bahwa mantan Dubes Adian Silalahi, memilih jalan 
diplomasi kerakyatan dan tak bergeming dari jalan ini sampai detik terakhir tugasnya. 
Sekali lagi dalam menempuh jalan diplomasi kerakyatan ini, Adian Silalahi mempunyai 
pembantu-pembantu handal yang nama mereka patut selalu diucapkan dalam timnya seperti 
Yuli Mumpuni, Andreas Sitepu, Munir dan lain-lain yang penuh prakarsa [nama-nama yang 
layak mengemban tugas-tugas negara di tingkat lebih besar].  

Dalam merampungkan misi diplomasinya, Adian selalu  memadukan metode kearifan 
pimpinan, kolektif dan individual. Dengan metode ini Adian mengerahkan seluruh potensi 
yang ada di kalangan masyarakat Indonesia di kawasan kerjanya demi kepentingan bangsa 
dan negara. Adian dan timnya bisa memaksimalkan syarat politik yang dibidas oleh Gus 
Dur ketika menjadi Presiden Republik Indonesia [R.I.], sekali pun hanya untuk kurun 
waktu yang pendek. Membidas pembukaan ruang dan syarat-syarat republiken, barangkali 
salah satu jasa besar Gus Dur selama jadi Presiden RI. Gus Dur bukan hanya kelemahan, 
tapi seperti siapapun juga mempunyai keunggulan.  Menggunakan syarat-syarat ini secara 
maksimal untuk melaksanakan "diplomasi kerakyatan" di masa transisi, kukira merupakan 
kebolehan Adian dan timnya sebagai diplomat. 

Yang mengenal kalian, Adian, Mbak Mumpuni, Andreas Sitepu dan Munir, akan selalu 
mengenang kalian dan kebersamaan manis di negeri orang.

Mengingat kedudukan Perancis dalam Komunitas Eropa, kukira menjadi Dubes Paris 
merupakan kedudukan yang prestisius atau punya makna khusus bagi karir seseorang. 
Tidak kurang dari menjadi Dubes untuk Amerika Serikat [AS]. Masalahnya, apakah 
prestisius ini yang paling penting bagi seorang diplomat yang menganut paham 
"diplomasi kerakyatan"? Mana lebih penting kepentingan negara,negeri dan bangsa 
daripada prestasi perorangan? [Tentu saja tidak terpisahkan. Tapi bagi seorang yang 
menganut pandangan "diplomasi kerakyatan", kepentingan individual barangkali berada di 
bawah res publica dan nilai-nilai republiken. Diplomat yang menempatkan kepentingan 
individual paling atas, tidak bakal bisa mulus menempuh jalan "diplomasi kerakyatan". 
Ia pasti akan tersandung di satu atau di lain tikungan. Diplomat bukanlah supermen 
atau superwomen. Karena itu, jalan diplomasi kerakyatan menjadi penting guna 
menunaikan misi diplomasi republiken.[Aku membatasi diri untuk tidak mengambil 
rangkaian contoh keberhasilan diplomasi kerakyatan ini dalam sejarah RI sejak 
berdiri]. 

Ketika Adian mengakhiri masa tugasnya, untuk sementara kedudukannya dipegang oleh 
diplomat perempuan, L.Rustam, sebagai Kuasa Usaha Istimewa. Peringatan Hari Proklamasi 
17 Agustus yang ke-59 di Paris berlangsung di bawah kuasa pengaturan diplomat 
perempuan ini. Apakah L.Rustam. Apakah L.Rustam masih menempuh jalan "diplomasi 
kerakyatan" yang ditapaki oleh Adian selama masa jabatannya?

Peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus di rumah kediaman Dubes RI di Paris, paling 
tidak telah membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini. Bagaimana Peringatan Resmi 
ini berlangsung?

JJ.Kusni
--------
Paris, Agustus 2004


[Bersambung]



Catatan:
Foto terlampir melukiskan Bung Santoso, mantan anggota Koperasi Restoran Indonesia, 
Paris, sedang memotong "nasi tumpeng" bersama-sama Kuasa Usaha Istimewa Indonesia 
untuk Paris, Lucy Rustam, pada Perayaan Resmi Peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 
1945 [Dokumen Jelitheng].




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke