"Seger Hasani" <[EMAIL PROTECTED]>��

Kamis, 19 Agt 2004,
Kembalikan Harga Diri
�
Oleh: Kwik Kian Gie, Menteri Negara PPN/Kepala
Bappenas 

Untuk memahami bagaimana Indonesia selalu jadi incaran
negara-negara lain, mari kita kutip hasil penelitian
Brad Sampson, mahasiswa yang meraih PhD dari
Northwestern University dengan penelitian tentang
Indonesia. Promotornya, Prof Jeffrey Winters,
memberikan uraian yang dikutip oleh John Pilger dalam
bukunya berjudul The New Rulers of the World.
�
Saya akan mengutip yang penting-penting saja. Di
halaman 37 digambarkan sebagai berikut: "Dalam bulan
November 1967, menyusul tertangkapnya �hadiah
terbesar�, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life
Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa
yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan
Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis
yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti
David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat
diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank,
General Motors, Imperial Chemical Industries, British
Leyland, British American Tobacco, American Express,
Siemens, Goodyear, The International Paper
Corporation, US Steel.
�
Di seberang meja adalah orang-orang Soeharto yang oleh
Rockefeller disebut "ekonom-ekonom Indonesia yang
top".
�
"Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan �the
Berkeley Mafia� karena beberapa di antaranya pernah
menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat
untuk belajar di Universitas California di Berkeley.
Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan
hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir.
Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan
bangsanya, Tim Ekonomi Indonesia menawarkan : � buruh
murah yang melimpah� cadangan besar dari sumber daya
alam � pasar yang besar."
�
Di halaman 39 ditulis: "Pada hari kedua, ekonomi
Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor." �Ini
dilakukan dengan cara yang spektakuler� kata Jeffry
Winters, guru besar pada Northwestern University,
Chicago, yang dengan mahasiwanya sedang bekerja untuk
gelar doktornya, Brad Sampson telah mempelajari
dokumen-dokumen konferensi. "Mereka membaginya ke
dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar,
jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar
lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang
dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah
delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang
dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. 
�
Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini
berkeliling dari satu meja ke meja yang lain,
mengatakan: Ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini,
dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum
untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah
mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana
modal global duduk dengan para wakil dari negara yang
diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang
persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam
negaranya sendiri.
�
Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga
di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board).
Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan nikel Papua Barat.
Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari
bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan
Amerika, Jepang, dan Prancis mendapatkan hutan-hutan
tropis di Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan. 
�
Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing
yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto
membuat perampokan itu bebas pajak untuk lima tahun
lamanya. Nyata, tapi secara rahasia, kendali ekonomi
Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on
Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah
Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia, serta, yang
terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank
Dunia."
�
Dari fakta itu, kiranya jelas bahwa nasionalisme,
patriotisme, yang orientasinya selalu membela
kepentingan bangsa sendiri di tengah-tengah pergaulan
internasional, masih sangat relevan. Dengan kondisi
Indonesia yang demikian terpuruk dan ironisnya setelah
59 tahun lamanya merdeka, kita bahkan mempunyai
kebutuhan untuk menggelorakan Gerakan Kemerdekaan dan
Kemandirian, yang sekarang harus ditambah dengan
membangkitkan kemampuan teknokratik untuk memakmurkan
bangsa kita secara mandiri.
�
Kita juga harus membebaskan diri dari utang luar
negeri yang dijadikan instrumen terpenting untuk
menjerat dan mencekik leher kita untuk selalu menuruti
kemauan kekuatan-kekuatan asing itu.
�
Sebenarnya, banyak ahli dan pemikir yang sangat
berbobot telah mengemukakan bahwa sampai zaman kapan
pun, nasionalisme dan patriotisme tidak pernah tidak
krusial kalau suatu bangsa tidak mau menjadi kuli
bangsa lain.
�
Saya akan mengemukakan pikiran-pikiran dan hasil
penelitian Prof Robert Reich, guru besar dari Harvard
University yang pernah menjabat menteri perburuhan
pemerintahan Presiden Clinton. Dia menulis buku yang
berjudul The Works of Nations.
�
Intisari bukunya mengatakan bahwa dalam dunia yang
dikatakan sudah tanpa batas atau sudah merupakan the
borderless world, memang ada yang menikmati dan
menjadi sangat kaya raya. Tetapi, mereka merupakan
super minority. Oleh Robert Reich, mereka diistilahkan
dengan "the symbol analyst". Mereka elite yang dapat
melihat simbol-simbol abstrak yang merupakan sinyal
adanya peluang untuk memperoleh pasar dunia yang
kurang lebihnya memang borderless. 
�
Kelompok ini relatif tidak membutuhkan negara karena
mereka kosmopolit. Bahkan, jasa-jasa yang biasa
disediakan oleh negara dapat mereka adakan sendiri
untuk dirinya, seperti pasukan pengamanan, sumber air,
pembangkit listrik mini kalau perlu. Mereka juga
mempunyai organisasi yang terkadang lebih besar
daripada negara berkembang atau negara miskin.
Istilahnya, mereka mempunyai corporate state sendiri
sehingga tidak membutuhkan nation state. Seperti
dikatakan tadi, jumlahnya sangat teramat sedikit. 
�
Kemudian, elite yang berpendidikan tinggi yang
jumlahnya sudah lebih banyak, tetapi masih sangat
sedikit di setiap bangsa. Mereka adalah kaum
profesional lulusan universitas. Mereka ini adalah
akuntan, dokter, notaris, advokat, dan sejenisnya.
Oleh Reich, mereka disebut in person servers.
Pekerjaannya melayani atau memberikan jasa kepada
orang per orang. Karena ilmunya yang terikat dengan
kebudayaan di negaranya, seperti hukum, kebudayaan
yang diemban oleh kaum buruh, dan sejenisnya, mereka
sudah tidak mobil. Mereka sudah terpaku pada negaranya
sehingga -mau tidak mau- harus membela kepentingan
dirinya yang jatuh bersamaan dengan kepentingan
negaranya. Mereka sudah tidak dapat menghindarkan diri
dari nasionalisme dan patriotisme.
�
Kelompok lainnya adalah kaum buruh kasar, petani,
nelayan, pengusaha eceran, yang oleh Reich disebut
routine workers. Jumlahnya kelompok ini sangat besar
dan praktis sama sekali terpaku pada negaranya.
Kelompok ini sangat nasionalistis dan patriotis dalam
arti akan mati-matian membela kepentingan bangsa dan
negaranya seandainya mempunyai kesempatan untuk itu.
�
Kesimpulan Reich, kelompok yang paling kosmopolit, ke
mana pun mereka akan bermukim, harus memperhitungkan
dua kelompok lainnya yang secara alamiah harus
nasionalistis. Sebab, dua kelompok ini sewaktu-waktu
dapat meledak dalam bentuk revolusi kalau lapar dan
merasa ditindas oleh globalisasi.
�
Maka, nasionalisme dan patriotisme -tidak dapat tidak-
ada sampai kapan pun. Kondisi Indonesia sudah
"termakan" dan "terisap" sangat jauh oleh kelompok
system analyst. Di Indonesia, kondisi itu ditambah
dengan kroni-kroni, pesuruh-pesuruh, dan
komprador-komprador system analyst asing yang secara
natural mengisap Indonesia. Seperti yang saya uraikan
tadi, Indonesia sudah terisap habis-habisan.
�
Kalau tidak ada tindakan korektif menghentikannya,
menurut saya, Indonesia sudah di ambang revolusi
gerakan nasionalisme, patriotisme, mengembalikan rasa
harga diri, merebut kembali kemandirian.
�
Jadi, globalisasi oke. Kita tidak menolak. Tetapi, itu
sama sekali tidak berarti bahwa membela dan
mempertahankan kepentingan diri sendiri adalah picik
bagaikan katak dalam tempurung. Kita mempunyai hak
sepenuhnya untuk menolak menjadi een natie van koelies
en een koelie onder de naties (Bung Karno) atau bangsa
yang terdiri atas kuli-kuli bagi sekelompok kecil
elite global di negerinya sendiri dan bangsa yang
menjadi kuli bagi bangsa-bangsa asing dalam percaturan
dan interaksi antarbangsa.
�
Cara menolaknya tidak asal menolak, tetapi meraih
kembali rasa harga diri dan semua kemampuan untuk
bersaing di mana pun, tetapi terutama di negeri
sendiri. Artinya, kita harus membuang jauh-jauh
perasaan bahwa kita tidak mampu mengurus diri sendiri
tanpa didampingi oleh para ahli dan lembaga-lembaga
asing. (habis)

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=124987
(bag I)
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=125182
(bag II) 



=====
Visit my daughter's homepage at:
http://www.geocities.com/hana_hanifah7


                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.
http://promotions.yahoo.com/goldrush


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke