Catatan Seorang Klayaban:
KBRI PARIS DAN DIPLOMASI KERAKYATAN [3] Dalam perjalanan ke Wisma Duta, di kereta-api bawah tanah [metro]-- kendaraan umum penting yang sangat menurunkan taraf kemacetan lalulintas kota Paris -- dan bus, aku sudah banyak bertemu dengan orang-orang Indonesia. Melihat bentuk fisik masing-masing kami saling memandang, kemudian saling menyapa. "Ke Wisma Duta juga?" tanyaku. Yang kusapa pun mengangguk dan kami pun sejak itu berjalan bersama-sama ke tujuan. Pada masa Orba Soeharto dahulu, apabila tidak saling mengenal benar, sekalipun tahu bahwa yang berada di samping atau di depan kita adalah sesama anak bangsa dan negeri, saling sapa begini tidak akan terjadi. Paling tidak dari pihak orang-orang yang disebut oleh Gus Dur sebagai "orang klayaban dan terhalang pulang" mereka tidak akan menyapa dan menegur bahkan akan menghindar. Sikap menjaga jarak ini, didasarkan pada pengalaman dan kekhawatiran bahwa yang sedang dihadapi adalah agen Bakin yang bertebaran di Eropa Barat. Kehati-hatian begini bukan lahir serta-merta tanpa alasan. Seperti pernah kuceritakan sebelumnya, kami dari Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia, pada waktu itu bukan saja dikucilkan, tapi bahkan sering menerima ancaman melalui telpon untuk diculik dan di "petrus"kan. Waktu itu yang menjadi Atase Militer adalah Politon. Aku tidak mengatakan bahwa ancaman itu mempunyai hubungan langsung dengan Politon. Aku hanya menunjukkan kepada suatu periode di mana ancaman-ancaman verbal itu telah dilakukan. Belum lagi, pengalaman-pengalaman pahit bahwa yang dikira teman, tahu-tahu tidak segan memberikan daftar nama orang-orang klayaban dan terhalang pulang kepada dinas rahasia Indonesia. Sambil menulis tesis doktornya, ada juga yang secara khusus mencoba mendaftar nama dan alamat, jumlah keluarga orang-orang klayaban, mendaftar para mahasiswa dan siapa-siapa yang dekat dengan mereka. Orang klayaban dijadikan barang dagangan. Pernah juga terjadi, seorang kapten Angkatan Darat, berpura-pura datang ke Paris untuk mendapatkan status suaka politik. Oleh kenaifan, sang kapten dibantu dan diperkenalkan kepada kalangan-kalangan tertentu, sehingga ia berhasil menyusup ke kalangan barisan anti Orba di berbagai tempat. Baru kemudian kami ketahui bahwa "mencari suaka politik di Paris" hanyalah suatu siasat sang kapten -- sekarang sudah menjadi jendral non aktif! -- untuk melakukan penyusupan. Di bawah suasana represif begini, kami menggunakan berbagai nama samaran. Aku sendiri sampai sekarang sudah lupa akan semua nama-nama samaran yang kugunakan. Seorang teman pernah mengkritikku bahwa menggunakan nama samaran sama dengan tindakan orang "lempar batu sembunyi tangan". Ia bisa berkata enteng begini, karena ia tidak terancam dan tidak merasakan artinya ancaman ajal di ujung bayonet militerisme dan senantiasa hidup di menara gading sambil berseru-seru tentang Hak Asasi Manusia [HAM] serta demokratisasi. Menetap kembali di Indonesia yang dijadikannya modal politik, sekalipun terbuka kemungkinan, ia tak juga mau. Ujud dari kenaifan elitis anak baru lepas sekolah yang merasa diri serba tahu tapi jauh dari kehidupan. Entah kebetulan atau tidak, sering aku dapatkan bahwa orang-orang Indonesia yang merasa di atas angin pada waktu itu bersikap angkuh terhadap orang lain. Barangkali kepongahan ini berasal dari penilaian bahwa dirinya mempunyai kekuasaan atau dekat dengan kekuasaan sehingga merasa diri lebih tinggi dan hebat dari anak bangsa dan negeri lainnya.Merasa kekuasaan dan kedekatan dengan kekuasaan menjadi ulah dan kata-kata mereka sebagai standar kebenaran. Ujud dari kepongahan kekuasaan yang tercermin pada sikap individu-individu baik ia penjabat bahkan terkadang seorang mahasiswa biasa. Tentu aku masih bisa menambah rangkaian kisah lain yang membuat selama berdasawarsa, hubungan sesama anak bangsa dan negeri di negeri orang menjadi tidak sehat dan tidak manusiawi. Keadaan begini mengalami perobahan drastis, ketika Adian Silalahi menjadi dubes di Paris. Dalam mengobah suasana di atas, Mbak Mumpuni [Atase Pers] dan Andreas Sitepu, sebagai bagian dari tim Dubes Adian, sungguh tak terlupakan jasa-jasa mereka. Mereka adalah pembidas berhasil dalam membalikkan suasana tidak wajar dalam hubungan antar anak bangsa dan negeri di kampung orang sehingga tidak lagi ada keengganan saling sapa dan beramahtamah sebagai ujud hubungan minimal antar manusia. Apakah aku salah menyimpulkan bahwa hubungan tidak wajar, hilangnya tatakrama minimal antar anak manusia seperti di atas, merupakan akibat dari dominasi militerisme? [Aku selalu membedakan antara militer dan militerisme!]. Betapa militerisme dan otoritarianisme itu merupakan isme yang anti kemanusiaan dan nilai-nilai republiken? Dengan adanya iklim baru yang dibawakan oleh Dubes Adian dan timnya, maka sejak itu, hubungan antar anak bangsa dan negeri di Paris, menjadi manusiawi. Anak-anak Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia sudah menjadikan Kedubes sebagai salah satu tempat mereka bermain. Orang-orang dari Koperasi Restoran Indonesia pun tidak lagi enggan ke Kedubes dan mencoba selalu hadir dalam semua kegiatan. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa anggota Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia ada yang bahkan ikut dalam grup paduan suara Kedubes. Juga tidak terbayangkan bahwa Kedubes akan menganggap bahwa Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia merupakan salah satu komunitas anak bangsa dan negeri yang diperhatikan dan diakui eksistensinya. Menyaksikan keadaan ini sekarang, aku jadi teringat akan kata-kata guru dan sahabatku alm. Denys Lombard, ketika aku menemuinya di Bd. Raspail untuk pamit: -"Denys. Aku datang untuk minta diri", ujarku. + "Mau ke mana lagi sekarang?" - "Ke Indonesia". Waktu itu tahun 1991. Soeharto masih menduduki kursi kepresidenan. Menguasai Indonesia dengan sistemnya. + "Apa, kau bilang?" tanya Denys Lombard memandangku lurus ke mata.Seakan tidak percaya pada pendengarannya. - "Aku mau ke Indonesia. Pulang!" Seketika kulihat beliau marah dan bersungut-sungut. + "Entah berapa kali sudah kubilang: Sabar, sabar. Waktu bekerja untuk kalian. Sejarah tidak mengenal kelanggengan". - "Tapi aku sudah memastikan keputusanku dan sudah melakukan segala persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan. Pendeknya jika terjadi apa-apa yang tidak diharapkan, penguasa politik akan membayarnya", jawabku. Untuk melegakan hatinya maka di titik manapun aku berada di pulau-pulau tanahair, selalu saja kusempatkan diri berkabar kepada Lombard untuk menunjukkan bahwa aku hidup. Bahwa aku memandang hidup lebih sulit daripada mati, tapi justru karenanya aku mencintai hidup. "Panarung hidup lebih bermanfaat dari pada seorang martir", jika menggunakan istilah Dr. Christine Leclerc [istri Indonesianis dan sejarawan Dr. Jacques Leclerc alm.] selalu mengingatkan. Berhadapan dengan iklim baru di kalangan sesama anak bangsa dan negeri di negeri orang , khususnya di Paris, demikian juga hubungan Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia, Paris dengan KBRI, aku menyaksikan kebenaran kata-kata sobat dan guruku Denys Lombard. Andaikan beliau masih hidup, bisa kupastikan ia akan memelukku dan paling tidak ia akan kuundang makan malam seperti yang sering kami lakukan. Pada saat itu, ia akan kugoda bahwa ia seorang penganut klenik Jawa yang percaya pada "Batara Kala". Seakan kudengar ia menjawabku sambil mengajakku mengangkat sloki: "Legenda merupakan sumber sejarah dan juga kesimpulan pengalaman para tetua. Jangan ia diremehkan kalau kau ingin jadi sejarawan". Dengan baris-baris ini aku ingin kembali mengenang beliau sambil menundukkan kepala, justru pada tanggal 17 Agustus yang ikut kurayakan di KBRI Paris. Ya, di KBRI Paris, Denys! Hari ini aku merayakannya di KBRI Paris. Sampai di depan Wisma Duta, gerbang sudah ditutup karena upacara penaikan bendera sudah dimulai. Aku menunggu di luar bersama para anak negeri dan bangsa lainnya di bawah angin musim panas yang tiba-tiba mendingin. Di antara yang menunggu dan jumlahnya terus bertambah, ada yang datang dengan anak dan bayi mereka, dengan suami atau istri bul� mereka. Canda dan tawa berderai lepas yang membuat polisi Perancis yang berjaga tersenyum melihat kami tanpa mengerti apa yang kami bicarakan. Barangkali nurani polisi-polisi inipun merasakan getar kerukunan kami? Nurani memang punya bahasanya sendiri. Orang-orang berdatangan, kupastikan pertama-tama bukan untuk makanan yang dihidangkan oleh KBRI, tapi lebih-lebih karena merasa memiliki Republik, menjadi Indonesia dan oleh rasa keindonesiaan yang mengendap di bawah sadar serta harapan --betapa pun samar -- akan merdekaan, ruang janji yang menagih isi. Paris, Agustus 2004. ------------------- JJ. Kusni Catatan: Foto terlampir melukiskan suasana para warganegara R.I. di Paris dan sekitarnya dalam "dialog kemerdekaan", salah sebuah mata acara peringatan resmi Hari Proklamasi 17 Agustus 2004 yang diselenggarakan oleh KBRI Paris di Wisma Duta [Dokumen Jelitheng]. [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

