Ironi Citra Pemimpin 
Oleh Benny Susetyo
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/19/opini/1166324.htm

MEMBACA hasil pemilihan presiden langsung tahap pertama lalu, kita 
menyaksikan rakyat mengharapkan sosok yang bisa membawa perubahan. 
Setelah didera otoritarianisme yang amat lama dan krisis 
berkepanjangan, bangsa ini seolah sudah ada di tebing kehancuran.

Kepercayaan terhadap kemapanan sistem lama menciptakan ketakutan akan 
kembalinya otoritarianisme baru dan krisis yang kian menjerat. 
Keyakinan rakyat dalam pilpres bahwa perubahan harus dilakukan 
sekarang atau tidak sama sekali mengantar bangsa ini di hadapan puja-
puji bangsa lain, "Betapa hebat demokrasi di negara ini." Sampai-
sampai ada yang sulit membedakan apakah komentar itu pujian atau 
intervensi.

Perubahan harus dilakukan saat ini atau menunggu waktu tak berjangka 
yang amat lama. Perubahan harus dilakukan rakyat karena sebagaimana 
kontrak sosial Rousseau, negara dibuat atas dasar kontrak sosial yang 
dirumuskan sendiri oleh rakyat. Rakyat memiliki preferensi tersendiri 
atas siapa pemimpin yang diharapkan mampu mengemban tugas-tugas 
perubahan itu.

Jadi, bila selama ini demokrasi modern identik dengan demokrasi 
perwakilan alias demokrasi tak langsung, dalam pilpres 2004 ini dunia 
internasional kita ajari untuk berdemokrasi secara langsung. 
Demokrasi yang dipraktikkan di negara pegunungan Skandinavia, Swiss, 
atau Yunani Kuno tempo dulu.

LALU muncul banyak kenyataan. Dalam pilpres tahap pertama, kita 
melihat kenyataan masyarakat yang begitu apresiatif terhadap figur 
yang flamboyan, santun, dan berwibawa. Atau ada pula sebagian 
masyarakat yang terlalu percaya pepatah "diam itu emas". Dianggapnya 
calon pemimpin yang tidak suka berbicara adalah pemimpin yang tak 
suka obral janji, padahal mungkin bukan itu realitasnya!

Masyarakat masih susah mencermati apa sebenarnya pesan perubahan yang 
dibawa sang tokoh. Karena orientasi yang dibawa para elite sudah 
terlanjur dipaksakan guna memahami pemimpin identik dengan kekuasaan. 
Maka, pemimpin pun dicitrakan sedemikian rupa hanya sekadar untuk 
dipilih. Demi kekuasaan.

Dalam dunia yang kian lama kian berkembang ke arah serba maya, citra 
adalah power. Dan citra juga bisa digunakan untuk merebut power. 
Seperti produk kapitalisme yang hanya mengandalkan kulit, demikian 
pula sosok pemimpin dijual hanya dari tampangnya.

Bukan program atau substansi kepemimpinannya, jejak rekamnya, maupun 
bukti-bukti nyata di lapangan. Di era yang serba maya, brand image 
adalah segalanya. Maka, muncul ide untuk mencitrakan sosok 
kepemimpinan sebagai sesuatu yang baik tanpa harus mengoreksi lebih 
dulu sejauh mana citra itu bukan sekadar imajinasi, tetapi merupakan 
sesuatu yang mencerminkan isi hati.

Kelemahan mendasar dari pencitraan seorang sosok adalah orang yang 
digambarkan selalu sebagai pribadi yang mampu mengatasi segala-
galanya. Ia bagai Superman yang mampu terbang tinggi dan Spiderman 
yang selalu menjadi pahlawan. Ia dicitrakan selalu bisa mengatasi 
segala kesulitan.

Tentu harus dikatakan, agenda mereka untuk membangun Indonesia ke 
depan tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Situasi saat ini tidak 
selalu menguntungkan pembangunan, pertumbuhan, dan pemerataan 
ekonomi. Akibat krisis global, angka pengangguran kian tinggi, 
sementara lapangan kerja kian sulit. Peluang untuk membuka kesempatan 
kerja kian sulit karena daya saing yang rendah akibat uniformisasi 
produk ke arah sesuatu yang canggih: teknologi. Jadi, bila kita bukan 
bangsa yang gagap teknologi, tetapi jujur belum bisa menyerapnya 
sebagai sesuatu yang menguntungkan bangsa. Teknologi kita masih 
impor, termasuk bagaimana merancang kemajuan bangsa ke depan, advice-
nya pun masih di impor dari negeri donatur!

Hal-hal mendasar seperti ini luput dari perhatian para calon 
presiden. Kalaupun ada, hanya pada tingkat makro yang tidak jelas 
orientasinya, terutama untuk orientasi perubahan mendasar. Upaya 
memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin yang selama ini 
dijanjikan hanya dijadikan komoditas politik karena mereka selalu 
dijadikan tumbal pembangunan.

Orientasi pembangunan yang selama ini dilakukan hanya untuk 
memperkuat pemilik modal. Tidak terlalu dipertimbangkan bagaimana 
menumbuhkan kekuatan masyarakat, mengelola modal sosial (social 
capital) bangsa sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kemandirian 
bangsa. Ini membawa ekonomi bangsa selalu "berharga mahal" karena 
semua tergantung pada pihak lain. Anehnya, ketergantungan terus ini 
diciptakan oleh mereka yang selama ini menguasai birokrasi 
pemerintahan oleh penguasa.

Ketergantungan hidup kian kuat. Bahkan dalam hal pangan sebagai 
pondasi kehidupan bangsa ini begitu rentan terhadap ketergantungan 
pihak lain. Kebutuhan akan gandum dan kedelai selama ini tergantung 
pada dunia luar. Indonesia beralam subur dan kaya raya, tetapi 
mengimpor beras dan gula atas alasan yang tak masuk akal dan dipaksa-
paksakan.

Mereka tak sadar, inilah yang membuat rakyat kian didera kemiskinan. 
Mengapa hal seperti ini tidak dijadikan prioritas mereka yang akan 
menjadi presiden? Ini membuktikan mereka tidak cukup memiliki 
kepekaan akan kebutuhan dasar masyarakat yang merindukan kebutuhan 
pokok tercukupi.

DI Indonesia, sebagian besar rakyat hidup dalam kekurangan yang amat 
mendasar. Di sisi lain hidup sebagian terkecil masyarakat yang mampu 
memenuhi kebutuhan aktualisasi diri.

Tahapan kebutuhan ini harus dipahami para calon pemimpin bangsa, 
termasuk para wakil rakyat yang baru saja terpilih. Jangan sekali-
kali salah merumuskan kebijakan untuk orang-orang kaya dan melalaikan 
tugasnya ngemong jutaan rakyat jelata yang hidup di bawah kolong 
jembatan, hidup di tenda-tenda pengungsian karena banjir akibat 
hutannya ditebangi orang-orang kaya!

Meminjam Maslow, aktualisasi diri akan tercipta bila kebutuhan dasar 
yang menyangkut pangan, perumahan, dan pendidikan tercukupi. Hal 
mendasar ini sulit tercukupi bila masyarakat hanya diberi bayangan 
sudah bisa beraktualisasi diri dalam partisipasinya atas demokrasi 
langsung.

Demokrasi bukan jalan satu-satunya menuju kemakmuran bangsa, tetapi 
hanya sarana menuju pemerintahan yang bisa dikontrol rakyat. Jika 
sarana demokrasi tidak berjalan karena politik gagal membangun 
perekonomian bangsa, maka tidak efektif pula demokrasi yang sudah 
demikian hebat ini.

Mekanisme demokrasi yang selama ini sudah berjalan akan gagal menuju 
masyarakat yang partisipatif bila masyarakatnya tergoda menyelesaikan 
masalah bangsa dengan jalan pintas. Misalnya, memunculkan sosok 
perubahan hanya sekadar imajinasi, bukan pada hal mendasar apa yang 
akan dibuat untuk mencapai perubahan.

Perubahan seharusnya adalah menata kembali lembaga hukum lepas dari 
ketergantungan politik. Hukum dikembalikan semangatnya secara otonom. 
Dia harus mampu menjadi panglima kembali. Ini bisa dilakukan bila 
lembaga politik memiliki independesi dari jaringan konglomerat hitam, 
penjudi, dan para spekulan, termasuk para makelar politik. Merekalah 
yang selama ini menguasai lembaga hukum sehingga lembaga hukum 
identik dengan sarang penyamun.

Sarang penyamun harus dibersihkan dengan mencari figur baru yang 
pemberani dan memiliki komitmen keadilan yang kuat. Pembersihan harus 
dimulai dari atasan mereka yang selama ini dikuasai mafia hitam 
peradilan. Mungkin perlu mengganti mereka dengan yang muda, idealis, 
dan bersemangat kuat memberantas mafia peradilan. Bila hukum tegak 
dengan sendirinya, investasi akan membaik dan akan membawa efek 
peningkatan kesempatan kerja. Itulah keinginan rakyat Indonesia.

BENNY SUSETYO PR Budayawan




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke