Catatan Seorang Klayaban:

KBRI PARIS DAN DIPLOMASI KERAKYATAN [4]


Begitu upacara penaikan bendera selesai, gerbang Wisma Nusantara pun dibuka. Langit 
Paris makin mendung. Terasa titik-titik gerimis sudah mulai jatuh ke muka. Kami yang 
tadinya menunggu di luar segera memasuki halaman Wisma Duta yang luas. Aku ada dalam 
arus ini. Begitu melihat para diplomat yang sudah lama kukenal dan mengenalku, kami 
saling menyongsong untuk saling menyalami dengan hangat. Dengan tertawa lebar, Andreas 
Sitepu, salah seorang diplomat teras di KBRI, menyambutku dengan salaman dan pelukan 
yang dalam bahasa diplomasi mempunyai makna. Bertemu, menolak bertemu, salaman atau 
menolak salaman, salaman dan pelukan dalam dunia diplomasi termasuk "kosakata 
diplomatik" bermaknsa tersendiri. Karena itu ada yang disebut "sakit diplomasi". 
Apalagi Andreas Sitepu adalah diplomat yang bertanggungjawab dalam soal protokoler 
pasti memahami bahasa-bahasa isyarat ini."Pelukan diplomasi" merupakan kosakata 
diplomasi yang akhirnya sering digunakan oleh Dubes Adrian terhadap teman-teman dari 
Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia. Bahasa diplomasi yang bagaimana tentunya 
tidak terlepas dari orientasi umum diplomasi yang dianut.Sekalipun demikian, orientasi 
umum memberi ruang gerak bagi prakarsa dan kreativitas individual ambasador. 

Sejak periode Dubes Adian Silalahi bahasa diplomasi merakyat merupakan bahasa umum 
digunakan oleh para diplomat kita, sehingga memungkinkan KBRI Paris menjalin 
kesinambungan rasa antara para diplomat kita dengan warganya kemudian menciptakan 
iklim baru dalam hubungan dengan para warga serta pergaulan di kalangan masyarakat 
Indonesia di Paris.Oleh iklim demikian maka Kedubes dan Wisma Duta merupakan betang 
[rumah panjang] bersama  bagi komunitas-komunitas Indonesia di Perancis. Penunggu 
betang yaitu para diplomat tidak mengangkerkan diri ketika menyambut para warga negeri 
dan bangsa seperti dahulu, tapi terkesan seperti menyambut kehadiran sanak keluarga 
yang datang berkunjung. Sikap ini diungkapkan oleh Andreas Sitepu dalam kata-kata: 
"kami tidak ada niat menyulitkan para warga kita, tapi justru melakukan apa yang kami 
bisa untuk membantu mereka dalam batas kapasitas yang kami miliki".

Dalam rangka meningkatkan mutu hubungan antara para diplomat dan para warganya, maka 
Kedubes untuk pertama kalinya, menyelenggarakan forum dialog langsung antara para 
diplomat dan para warga negara RI di Paris dan sekitarnya. Forum ini dinamakan "Dialog 
Kemerdekaan".   

Dalam membuka "Dialog Kemerdekaan" ini, Kuasa Usaha, Lucy Rustam, menggarisbawahi arti 
penting masukan-masukan dari para warga, termasuk kritik-kritik dan saran untuk 
meningkatkan mutu hubungan masyarakat dan para diplomat guna meningkatkan kualitas 
diplomasi demi kepentingan bangsa, tanahair dan Republik. Melindungi para warganegara 
adalah salahsatu tugas KBRI. Untuk itu maka KBRI patut  mengetahui masalah-masalah 
para warga di ruang lingkup di mana mereka bekerja. Hanya dengan cara ini maka bisa 
dijalin hubungan baik antara KBRI dan warganegaranya dan diciptakan iklim sejuk segar 
dalam pergaulan antar warga sehingga dari sini kita bersama-sama menunaikan misi 
diplomatik, membentuk citra Indonesia yang indah di luar negeri. Pembentukan citra 
Indonesia adalah pekerjaan bersama. Demikian antara lain dikemukakan oleh Kuasa Usaha 
ketika membuka "Dialog Kemerdekaan". 

Tidakkah melalui pandangan di atas dan juga terselenggaranya "Dialog Kemerdekaan" ini, 
Kuasa Usaha,L. Rustam mengisyaratkan jalan diplomasi yang beliau tempuh yaitu 
melanjutkan jalan diplomasi kerakyatan dan kerukunan nasional yang dibidas oleh Dubes 
Adian Silalahi dan timnya?  Dari apa yang kusaksikan di Paris, jalan diplomasi ini 
mampu mengerahkan seluruh potensi di kalangan para warganegara dan solidaritas 
sahabat-sahabat Republik untuk menunaikan misi diplomasi yang republiken. Kalau  apa 
yang dilaksanakan oleh KBRI Paris, bukan sesuatu penemuan baru tapi paling tidak, para 
diplomat Indonesia di Paris melaksanakannya. Apakah seluruh Kedubes kita menempuh 
jalan ini? Barangkali pengalaman KBRI Paris, bisa jadi bahan masukan berharga  bagi 
Kementerian Luar Negeri dalam menetapkan pilihan kebijakan diplomasi Republik 
selanjutnya. Teori adalah kesimpulan dari praktek.

Masalah-masalah apa saja yang dimunculkan dalam "Dialog Kemerdekaan" hari itu?  


Catatan:

Foto terlampir melukiskan JJ. Kusni sedang membacakan sanjaknya "Indonesia, Jutaan 
Janji" dan suasana "Dialog Kemerdekaan", sebuah dialog terbuka dan langsung antara 
warga negara RI di Paris dan sekitarnya dengan Kuasa Usaha, L.Rustam dan 
diplomat-diplomat Indonesia dari KBRI, Paris pada Hari Peringatan Kemerdekaan 17 
Agustus 2004.[Dari: Dokumentasi Jelitheng].  


[Bersambung....]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke