41 / X 28 Agu 2004 NASIONAL Tanpa Modal Ajak Tuhan Khitah NU ditafsirkan sesuai dengan kepentingan. Ormas Islam terbesar ini harus menghindari politik kekuasaan yang temporal. Warga NU tidak bisa digiring. RAUT wajah Izzudin Abdurrahman sumringah. "Gus Mus sudah rawuh (tiba)," katanya berseri-seri. "Sudah lama warga NU Mesir merindukan kehadiran beliau," kata putra KH Abdurrahman Khudori itu setelah menjemput Gus Mus --panggilan KH Mustofa Bisri. Ahad pagi, 1 Agustus lalu, Rais Syuriyah PBNU ini menginjakkan kaki di Kairo bersama istri dan putrinya. Kiai-penyair itu didampingi Nusron Wahid, mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang baru terpilih jadi anggota DPR dari Golkar, dan KH Muad Thohir, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Pati, Jawa Tengah. Gus Mus menghadiri Konferensi Cabang NU Mesir pada 7 Agustus. Alumni Universitas Al Azhar, Kairo, ini memiliki kesan khusus bagi warga NU Mesir. Tahun 1960-an, ia bersama Gus Dur mendirikan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Mesir. Melalui Muktamar NU 1999 di Lirboyo, KMNU Mesir ditetapkan jadi cabang istimewa NU. Pada 20 Januari 2000, Gus Mus meresmikan NU Cabang Istimewa Mesir. "Sosok Gus Mus tidak bisa dipisahkan dari NU Mesir," ujar Hasibullah Satrawi, warga NU Mesir yang juga kolomnis produktif. Lebih dari itu, "Gus Mus adalah poros khitah. Dia kekuatan ketiga, antara poros Hasyim Muzadi dan Gus Dur," kata Fakhrudin Aziz, Sekretaris Umum NU Mesir. "Beliau juga figur independen yang belum terkontaminasi politik kekuasaan yang menjadi gejala umum tokoh NU saat ini," ujar Faiz Sukron Makmun, Ketua NU Mesir terpilih. Selepas istirahat, Senin pukul 02.30, 2 Agustus lalu, wartawan Gatra Mohamad Guntur Romli menemani Gus Mus begadang dan wawancara. Sesepuh NU yang berulang tahun ke-60 pada 10 Agustus lalu itu ditemani kopi manis dan rokok kretek kesukaannya. Berikut petikan wawancara Gatra yang berakhir saat azan subuh berkumandang di "negeri seribu satu menara" itu. Saat ini khitah NU diperdebatkan. Sebagai seorang penggagas kembalinya NU ke khitah 26, apa tanggapan Anda? Sosialisasi khitah NU mengalami hambatan sejak awal. Karena pilihan kembali ke khitah berada dalam situasi sulit. Beberapa hambatan khitah saat ini, pertama, tidak ada keinginan membaca kembali khitah secara jernih. Kedua, ada pihak-pihak yang menafsirkan khitah sesuai dengan kepentingannya. Ketiga, masih ada nafsu politik praktis yang besar di tubuh NU. Keempat, tidak bisa membedakan antara pilihan individu dan institusi. Kalau ada tokoh NU yang memilih politik praktis, akan dianggap mewakili organisasi NU. Selamanya khttah NU akan berputar-putar di lingkaran itu. Apakah aksi politik tokoh-tokoh NU saat ini sudah dianggap keluar dari prinsip khitah? Kalau ada politisi NU membawa-bawa institusi NU, maka sudah melanggar khitah. Saya selalu menegaskan, jika ada warga NU yang ingin terjun ke politik, harus siap berpolitik. Supaya dia tidak menarik-narik organisasi, malah terkadang mengajak Tuhan dalam politik. Mereka itu berarti tidak punya modal. Mengapa NU sangat hati-hati menghadapi politik praktis? Begini, NU mengenal politik tiga jenis. Pertama, politik kebangsaan. Ini dilakukan NU sejak zaman Belanda, Jepang, dan revolusi. Tujuannya, menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia sampai masalah asas tunggal Pancasila. Kedua, politik kerakyatan. Jenis ini sudah jarang dilakukan generasi tua, tapi generasi muda melakukannya dengan kontrol dan kritik pada penguasa. Yang banyak digemari warga NU adalah jenis politik ketiga, yaitu politik kekuasaan. NU tidak bisa terus-menerus terlibat dalam politik kekuasaan karena sangat temporal, setiap lima tahun berganti. Selain itu, kalau politik kekuasaan brengsek, NU akan jadi brengsek. Banyak kalangan berpendapat, NU ke depan harus dipimpin oleh figur yang konsisten pada khitah, dan figur itu ada pada Anda? Wah, nggak. Nggak saya sendiri. Saya terkenal di koran saja. Sebenarnya masih banyak orang yang konsisten memegang khitah. Hanya saja tidak dikenal pers. Pers hanya suka yang berbau-bau politik. Misalnya kiai-kiai khos ini dan itu. Anda tidak akan kenal Kiai Muad (KH Muad Thohir, Ketua NU Pati yang ikut rombongan Gus Mus ke Mesir). Soalnya, dia tidak menarik koran, he, he, he. Mungkin karena saya saja yang sering nulis di koran-koran, sehingga terbentuk opini hanya saya yang menyuarakan khitah. Kelemahan kita selama ini di setiap muktamar adalah bursa figur. Kita bicarakan amanat dulu, baru mencari sosok yang bisa dipercaya membawa amanat itu. Buat program dulu, baru orangnya. Jangan dibalik! Agar khitah NU tidak ditafsirkan macam-macam, bisakah dibikin panduan dalam politik praktis? Itu bisa. Dan tempatnya dalam muktamar. Bahkan khitah mau diganti, mau ditambahi, tegantung muktamar. Muktamar adalah lembaga tertinggi NU. Ada juga gagasan pada muktamar nanti yang dipilih hanya Rais Am Syuriyah. Ketua Umum Tanfidziyah hanya dipilih oleh Syuriyah. Sehingga Tanfidziyah bertanggung jawab pada Syuriyah. Selama ini, ada kesan Tanfidziyah lebih aktif berperan daripada Syuriyah? Ada dua sebab munculnya kesan itu. Pertama, ketika NU menjadi partai politik pada 1950-an, segala urusan NU ditangani Dewan Tanfidziyah, karena Dewan Syuriyah tidak terlalu tertarik pada politik. Supremasi Syuriyah kembali lagi pada Muktamar NU 1984. Kedua, karena potensi personal Ketua Umum Tanfidziyah NU, seperti Kiai Idham Chalid. Beliau sosok kiai, intelektual, politisi, dan ahli zikir. Komplet. Sama dengan Gus Dur. Dia menangan (dominan) juga. Bisa bicara bahasa kiai, bahasa intelektual, dan bahasa budaya. Dia bisa menggunakan dalil, bisa memberikan argumentasi ilmiah. Sehingga timbul kesan, orang pertama dalam struktur NU adalah Ketua Umum Tanfidziyah, padahal sebenarnya Rais Am Syuriyah. Anda tidak hadir dalam launching Muktamar NU, 18 Juli, benarkah itu sebagai protes atas politisasi acara muktamar? Itu sebabnya teknis, tapi dipolitisasi saja. Saya sudah mau datang, cuma terjebak macet di Pamanukan berjam-jam. Ketidakhadiran itu saya anggap sebagai skenario Tuhan untuk menghambat kehadiran saya. Kemudian saya dengar, di sana baunya bau tim sukses. Apakah Partrai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih diakui sebagai partainya orang NU? Partainya orang NU, iya. Memang yang bikin orang NU. Cuma, orang NU kan memang biasa bikin rumah, kemudian ditinggali orang. Itu sudah biasa, ha, ha, ha. Di PKB sekarang persoalannya satu. Di sana ada orang yang lebih besar dari PKB, yaitu Gus Dur. Kalau Gus Dur masih di situ, maka dia tidak menyisakan ruang bagi yang lain. Gus Dur terlalu besar. Jangankan di PKB, di NU saja terlalu besar. Bahkan di Indonesia juga terlalu besar. Maka, saya sering mengusulkan agar Gus Dur menjadi seperti Jimmy Carter, menjadi penasihat. Makanya PKB selalu menunggu restu Gus Dur. Orang-orang PKB takut pada Gus Dur. Kalau mereka macem-macem, Gus Dur akan mengancam bikin parpol lagi, gitu aja kok repot... (Gus Mus tertawa). Suara NU di pemilu presiden putaran kedua ke mana? NU secara lembaga tetap netral. Sikap ini sudah diperlihatkan Rais Am Syuriyah, KH Sahal Mahfudz, sejak awal dan diikuti saya. Tapi netralnya saya tidak sama dengan orang-orang yang kemarin memiliki jago kemudian kalah sekarang bilang netral. Saya harus netral karena saya tahu santri-santri saya ada yang ke mana-mana. Menurut Pak Hasyim, kalau pada pemilu presiden pertama NU memiliki banyak pintu politik, pada putaran kedua nanti hanya memiliki satu pintu, yaitu Pak Hasyim. Tidak bisa. Urusan orang banyak tidak bisa dimatematis seperti itu. Warga NU tidak bisa digiring seperti itu. Selama ini ada alasan, warga NU yang terjun ke politik kekuasaan untuk membela kepentingan NU. Anda yakin alasan mereka? Saya sulit diyakinkan. Selama ini, realitasnya tidak demikian. Tapi saya tidak mau menggeneralisasi. Mungkin ada yang memiliki idealisme memperjuangkan kepentingan NU. Tapi, apa yang disebut kepentingan NU? Ini tidak pernah dirumuskan. Dulu, ketika Gus Dur menjadi presiden, NU dapat apa? Apakah karena ada orang NU seperti Tolchah Hasan menjadi menteri atau apa? Kalau saya, rumusannya sederhana. Jika dia menyejahterakan rakyat, maka dia bermanfaatkan bagi NU. Kalau dia berbuat baik bagi rakyat, dia telah berbuat baik bagi NU. Kalau ada orang NU menjadi penguasa kemudian menindas rakyat, maka dia telah menzalimi NU. Menjadi penguasa, kemudian ngasih-ngasih duit, membangun langgar-langgar, itu bukan orang NU juga bisa. Karena APBD dan APBN isinya dalam sektor agama, ya, renovasi tempat-tempat ibadah. Jadi, kalau mau berbuat baik pada NU, berbuat baiklah pada rakyat. Itu saja. Cat: Yang ingin file pdf, bisa japri -MG- Memahami Perbedaan Menghilangkan Jarak dan Membentuk Ego Menjadi Empati yang Utuh -GuN- Egypt: +20106867745 Untuk arsip-arsip tulisan, bisa klik: http://qalam.co.nr or http://qalam.tk atau www.katakata.cn.st Terima kasih..:)) --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

