KBRI PARIS DAN DIPLOMASI KERAKYATAN [5].


Seluruh diplomat teras KBRI Paris, diundang oleh piminan acara Peringatan, Vici Henry, 
untuk mengambil tempat di bawah spanduk warna merah bertuliskan motto: "Dengan 
Semangat Proklamasi Kita Laksanakan Amanat Pemilu 2004 Untuk Membangun Indonesia Yang 
Bersatu, Maju Dan Demokratis".  

Pertama-tama Lucy Rustam, Kuasa Usaha, memberi penjelasan tentang maksud, arti dan 
tujuan "Dialog Kemerdekaan", yang beliau akui sebagai dialog langsung dan terbuka 
pertama antara KBRI Paris dengan para warga Republik di negeri ini, terutama yang 
berada di Paris dan sekitarnya. 

Adanya diplomat perempuan , bukanlah hal baru dalam sejarah Republik kita. Sebelumnya 
kita mengenal nama alm. Supeni  sebagai Dubes keliling R.I. Pada masa awal Republik 
sedang berjuang memperoleh pengakuan internasional, di antara utusan keluarnegeri yang 
menembus blokade musuh, kita juga mengenal nama Fransisca Fangiday sebagai salah 
seorang perempuan di antara tim kecil itu. Sekali pun demikian, melihat munculnya Ibu 
L.Rustam sebagai Kuasa Usaha di negeri sepenting Perancis sebagai diplomat, terselip 
juga rasa bangga dalam hati karena ia  menambahkan  bukti bahwa bangsa dan rakyat kita 
bukanlah "rakyat dan bangsa tempe" jika menggunakan istilah Bung Karno. Apalagi dengan 
menyelenggarakan "Dialog Kemerdekaan" ini, Ibu L.Rustam, sebagai diplomat perempuan 
Republik memperlihatkan kebolehannya [jika menggunakan terminologi orang 
Malaysia]sebagai diplomat yang merakyat dengan mengembangkan prakarsa dan kearifan 
individual dalam mengisi apa yang sudah dirintis oleh Dubes Adian dan tim. Tentang  
hal ini, aku tidak ingin lupa mencatat langgam dan gaya diplomasi Ibu L.Rustam yang 
rendah hati dan mencoba semaksimal mungkin menyatukan diri dengan semua warga, 
mendengarkan keluhan, perasaan dan pikiran-pikiran hidup mereka, sementara aku sadar 
benar betapa beliau akan sangat lelah sesudah acara. Beliau jauh dari sikap "utusan 
raja yang baru turun dari kereta" seperti yang umum terlihat dari para pejabat Orba 
Soeharto. Apakah langgam dan gaya ini bisa dijadikan tradisi oleh para diplomat kita, 
bukan hanya di Paris tapi juga di negeri-negeri lain? Pertanyaan ini selain terpulang 
kepada para diplomat itu masing-masing tapi ia juga banyak ditentukan oleh peranan 
Kemlu di Jakarta, sebagaimana halnya dahulu Perdana Menteri Chou Enlai dari Republik 
Rakyat Tiongkok [RRT]memimpin
barisan diplomat RRT atau gaya diplomasi Bung Karno sendiri dan memilih para 
diplomatnya. 

Dari motto yang tertera di kain merah darah di atas, aku mencatat titik-titik ide 
penting yang menjelujuri acara Peringatan, yaitu: [1]. Semangat Proklamasi; [2]. 
Amanat Pemilu 2004; [3]. Membangun Indonesia yang bersatu, maju dan demokratis.

Tiga titik penting ide ini, kukira jika disingkat akan berujung pada "penegakan 
nilai-nilai republiken": kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan. Apakah dengan 
mencantumkan motto di atas, KBRI Paris ingin menggambarkan keadaan Republik dewasa ini 
dan sekaligus menetapkan atau mengingatkan seluruh warga Republik akan keadaan kita 
sekarang dan arah yang patut dicapai? Menginatkan betapa panjang dan berliku jalan 
masih harus kita tempuh untuk benar-benar menjadi Republik?"Kita memerlukan waktu dan 
proses" jika menggunanak istilah L.Rustam, Kuasa Usaha. 

Jika dugaan ini benar, maka sekali lagi aku merasakan tidak terlalu salah, bahwa KBRI 
Paris ingin menempuh jalan "diplomasi kerakyatan, republiken dan rekonsiliasi 
nasional".Dengan demikian sungguh bukan kebetulan pencantuman motto dan 
diselenggarakannya "Dialog Kemerdekaan" ini. Jika ditautkan dengan keadaan Prancis 
dengan latar sejarahnya sendiri, kukira jalan diplomasi begini sungguh suatu jalan 
diplomasi yang tanggap dan aspiratif. Pilihan jalan diplomasi begini makin kelihatan 
arti pentingnya, jika kita ingat akan posisi Perancis di dunia politik internasional, 
khususnya dalam lingkup Masyarakat Eropa [ME] yang terus membesar anggotanya [dari 6 
menjadi 25 negara] dan menguat serta punya arti penting dalam politik internasional 
yang tentu saja punya pengaruh terhadap Indonesia. Seberapa lama jalan diplomasi 
begini bisa diterapkan oleh para diplomat yang merupakan bawahan dari Kemlu, tentu 
banyak ditetapkan oleh Kemlu di Jakarta dan pemegang kekuasaan politik dominan sesudah 
pemilu. Hanya saja kalau Indonesia tidak ingin mengulang keterisolisian politik semasa 
Orba Soeharto [salah satu faktor yang menjatuhkan Soeharto!], barangkali Jakarta perlu 
benar mempertimbangkan pilihan politik, termasuk politik diplomasinya. Sejauh ini, aku 
hanya bisa mengangkat topi kepada pilihan jalan diplomasi yang ditempuh oleh para 
diplomat kita di Paris sejak periode Dubes Adian Silalahi, sambil bertanya dalam hati: 
Apakah diplomat-diplomat kita di negeri-negeri lain sudah mempelajari kebijakan dan 
pilihan model diplomasi KBRI Paris? Jalan Paris kukira hanya menguntungkan Republik, 
bangsa dan negeri serta melegakan seluruh warga Republik. Tapi apakah Kemlu sudah 
melakukan evaluasi dan menyimpulkan pengalaman diplomasi RI? Jalan diplomasi Paris 
kukira adalah jalan diplomasi yang sesuai dengan "Semangat Proklamasi". "Semangat 
Proklamasi" adalah kata kunci dalam mengelola negara dan Republik untuk mewujudkan 
nilai-nilai republiken yang sempat merosot jadi kerajaan terutama pada masa Orba 
Soeharto. 

Ketika menuliskan baris-baris ini, aku sadar, ketika nilai-nilai non-republiken masih 
berdominasi di negeri kita, tentu saja pilihan jalan diplomasi begini bukanlah "jalan 
bertabur bunga". Dan justru karena itu peranan diplomat kunci dan Kemlu jadi berperan 
penting.

Dari kenyataan dan pengalaman serta adanya Jalan Paris bagi diplomasi Indonesia, aku 
juga melihat sikap menyamaratakan, generalisasi dalam melihat masalah hanya akan 
membawa kita kepada jalan buntu dan sektarisme yang selamanya berbahaya. Bahkan pada 
ketika Soeharto masih "berjaya", aku sendiri tidak pernah menutup diri pada KBRI. 
Barangkali dan sudah terjadi, karena sikap ini aku dipandang sebagai "kolaborator", 
"tidak berprinsip", "pengkhianat", "agen Bakin" dan lain-lain kata-kata "indah" 
dijadikan topi yang dikenakan ke kepalaku. 

Menghadapi tuduhan dan ketika menerima topi-topi ini, aku selalu berpegang pada 
nasehat bahwa "banyak jalan menuju Roma" dan "Roma" bagiku adalah nilai-nilai 
republiken. "Jalan menuju Roma" adalah kreatifitas, kearifan individual dan 
keterbukaan atau melawan sektarianisme.  Indonesia tidak lain dari  panggilan 
nilai-nilai republiken ini pula adanya. Kalau Pramoedya A.Toer mengatakan nama 
Indonesia sebagai ujud dari pola pikir dan mentalitas konsumerisme yang membuat kita 
jadi budak semata [lihat: Wawancara Pram dengan Harian The Jakarta Post baru-baru ini] 
, barangkali secara hakiki benar. Tapi dalam sejarah kita sering menyaksikan "salah 
kaprah" [yang diteoritasikan oleh Goebel sehingga melahirkan "pahlawan kebohongan", 
jika menggunakan istilah seorang dinas perang uratsyaraf Inggris semasa Perang Dunia 
II], merupakan arus deras riam yang sulit dihadapi. Masalahnya bagaimana kemudian 
mengobah "salah kaprah" ini jadi positif  seperti halnya pada tahun 1991 orang Dayak 
mengobah arti negatif Dayak menjadi tantangan untuk dirobah jadi positif [Ini hanyalah 
ilustrasi yang tidak kubicarakan lebih lanjut karena menyimpang dari tema].

Melalui bagian ini, dengan adanya Jalan Diplomasi KBRI Paris, aku bertanya kepada 
Kemlu di Jakarta: Quo Vadis diplomasi Indonesia? Jalan apa yang akan dipilih oleh 
Kemlu sebagai garis diplomasinya? Pertanyaan ini juga, sebagai putera negeri dan 
bangsa  yang kucadangkan kepada pemegang kekuasaan politik di Jakarta seusai pempres 
[pemilihan presiden].


Catatan:

Foto terlampir melukiskan Kuasa Usaha Luar Biasa KBRI, L. Rustam sedang berbincang 
dengan Umar Said, mantan pemimpin redaksi harian Ekonomi Nasional, Jakarta, salah 
seorang pendiri Koperasi Restoran Indonesia,  di Hari Peringatan Resmi Proklamasi  
Kemerdekaan 17 Agustus di Wisma  Duta, Paris [Dokumentasi Jelitheng].

[Bersambung..]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke