MENULISKAN PENGALAMAN Oleh Ibnu Adam Aviciena "Kerupuk mi�!" seorang gadis kecil mengusung baskom di atas kepalanya. Debu mengepul dari kedua kakinya yang tak bersandal. Angin kemarau yang kering berhembus kencang. Rambutnya yang kemerahan tergerai. "Beli kerupuk mi, Bu Cece," sapanya pada pemilik rumah. "Libur dulu, Uni," Bu Cece, yang sedang berangin-angin di teras rumahnya, menggeleng. Sauni, gadis kecil itu, tidak jadi menurunkan baskom, padahal kedua tanganya sudah pegal. Apa boleh buat, dia kembali menyusuri jalanan kompleks yang masih tanah. Batu-batu kecil yang tajam terinjak. Tapi, dia tidak mengaduh. Debu kembali mengepul dari kedua kakinya yang telanjang. Beberapa orang yang melintas menutup hidungnya. Sekarang, Sauni berdiri di rumah kedua. Pintu gerbang rumah Bu Eli terbuka sedikit. Tapi, sepi. Dia membalik. Pintu Rumah Aga terkunci. Juga sepi. Dia tidak putus asa; teru saja melangkah masuk ke kompleks. Ekor matanya melihat pintu pagar rumah Bu Muni juga tertutup. Harapannya menerawang lagi saat melihat ada tiga orang anak kecil ke luar dari pintu gerbang rumah Bu Zam. Dia berhenti di sana. "Kerupuk mi, kerupuk mi!" Mawan, anak lelaki empat tahun, berteriak- teriak minta dibelikan. "Bayu juga mau kerupuk!" anak lelaki seumur Mawan ini�belum mahir mengucapkan huruf "r"�melonjak-lonjak gembira dan langsung menyerbu Sauni, hendak mengambil kerupuk. ** Cerita tersebut saya kutip langsung dari novel Mimpi Sauni karya Gola Gong dan Tias Tatanka. Tias Tatanka mengaku cerita anak tersebut diangkat dari kisah nyata. Yaitu dari seorang anak kecil bernama Sahauni. Seorang anak tetangga yang saat cerita ditulis masih SD. Sahauni (yang) harus berjualan kerupuk Bu Enas, tetangganya, untuk membiayai sekolahnya, menjadi inspirasi menarik bagi kedua penulis yang suami-isteri tersebut untuk diketahui orang banyak, bahwa di dekat kita masih banyak anak yang ingin maju tetapi mengalami kesulitan luar biasa. Sementara di lain sisi, kemewahan tidak jauh di samping kita. Tias Tatanka yang Ketua Pelaksana Rumah Dunia ini melakukan wawancara untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang diri Sahauni. Dan ini tidak terlalu sulit, karena gadis kecil itu setiap sore datang ke Rumah Dunia bersama dengan teman-temannya. Mereka ke sana untuk membaca, belajar menggambar, menulis puisi dan prosa atau untuk bermain teater�sebagaimana diceritakan dalam novel setebal 115 halaman tersebut. Letak geografis kampung Ciloang tempat rumah Sahauni dan Rumah Dunia memang cukup unik. Kampung ini ada di kota kabupaten Serang dan ibu kota propinsi Banten, diapit oleh Universitas Tirtayasa dan STAIN Serang. Belum lagi perguruan tinggi lainnya yang swasta. Di dalam kampung ada tiga pesantran. Tetapi kondisi kampung ini sangat berbeda dengan kampung-kampung di Serang atau di dekatnya. Kebanyakan matapencarian penduduknya yaitu tukang becak, tukang ojek dan pedagang. Anak-anak kampungnya, selayaknya Sa(ha)uni, merasakan betapa sulitnya untuk bisa sekolah. Sa(ha)uni bilang, "Jangankan untuk masuk SMP, untuk beli boneka barbie saja tidak punya�." Selain Mimpi Sauni, Gola Gong dan Tias Tatanka merencanakan akan menulis sembilan jilid novel anak lainnya yang seluruhnya diangkat dari cerita nyata. Novel-novel itu adalah Hari-Hari Angga, Cita-Cita Ain, Reportase Hardi; Rossie, Artis Tenar, Lukisan Aini, Tuti: Aku Juga Berbakat!, Santi: Ke Irian Kuberlayar, Cerita Pendek Melanie Astri, dan Wahyu Watusi Sang Vokalis. Nama-nama yang jadi tokoh dalam cerita ini benar-benar ada. Mereka orang Ciloang, berteman dan berkumpul di Rumah Dunia. Menurut Tias Tatanka, proporsi fakta dan fiksi dalam cerita yang dibuat bersama suaminya fifty-fifty. Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Senayan Abadi ini keluar Desember 2003, sudah beredar dan katanya lumayan laku. Sementara Sahauni yang menjadi Sauni sudah bisa sekolah SMP. Karena sebagian royalti novel itu dijadikan biaya sekolahnya. Gola Gong suatu malam ketika sedang rapat mengatakan, bahwa di Indonesia menuliskan pengalaman dalam bentuk buku jarang dilakukan. Ini barangkali ada benarnya jika proporsi fakta dan fiksi hingga 100%- 0%, fifty-fifty atau sekitar itu. Tetapi secara esensi tentu kurang tepat. Gabriel Garcia Marquez penulis Seratus Tahun Kesunyian (BENTeNG Press, 2001) mengatakan, "Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi, padahal sebenarnya tidak satupun baris dalam semua karya saya yang tidak berpijak pada kenyataan." Atau Marcel Proust, "Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya." Di toko bisa kita temukan buku yang diangkat dari pengalaman pribadi, meski tidak terlalu banyak. Sebut saja Kiat Menjadi Penulis Sukses (Mujahid Press), Mengarang Novel Itu Gampang (Subentra Citra Pustaka), Panorama Filsafat Islam (Mizan), Indahnya Poligami (Senayan Abdi), Dunia Kata (Mizan), Proses Kreatif Orang-Orang Hebat (Mizan), dan lain-lain, selain tentu saja buku-buku fiksi dan biografi. ** Jabatan Sekretaris saya di Rumah Dunia dialihkan ke Rimba Alangalang, seorang peserta kelas menulis angkatan ke-3. Saya menjabat Penangungjawab Jurnalistik dan Fiksi yang betugas menangani jurnal bulanan Rumah Dunia dan kelas menulis. Kelas ini sekarang sudah angkatan keempat. Sekitar 15 siswa SMA dan mahasiswa belajar menulis fiksi dan jurnalistik. Setiap angkatan menghabiskan waktu tiga bulan. Selain kelas menulis, Rumah Dunia juga membuka program cepat untuk SMP per satu bulan. Sebagai "penunjuk jalan", saya yakin pada dasarnya semua orang bisa menjadi penulis. Program kelas menulis ini mungkin seumpama pengecatan rumah yang baru selesai, hanya mempertajam dan memperbaiki tulisan karena itu untuk konsumsi orang banyak. Bukti nyata bahwa semua orang bisa menulis adalah pengalaman menulis surat. Tiga orang alumni SMA suatu malam datang ke Rumah Dunia. Mereka menyampaikan keinginannya mengikuti kelas menulis. Katanya, mereka kesulitan menuangkan gagasan yang berjibun di otak; tidak tahu apa dulu yang harus dituliskan pada paragraf pertama dan lain sebagainya. Kenyataan yang menyentak mereka adalah ketika saya berbicara tentang surat cinta. Bahwa menulis surat cinta itu mengasyikan dan menegangkan. Perasaan yang ingin disampaikan berusaha diwakilkan pada setiap kata yang sudah dipilih matang-matang. Jangan sampai ada satu hurufpun yang salah tulis apalagi salah makna. Sebelum diserahkan, surat itu akan dibaca berulang kali berharap penerima bisa terngiang-ngiang. Begitulah menulis (buku) selayaknya menulis surat cinta. Kita memikirkan apa yang akan disampaikan, kata apa yang cocok (diksi), bagaimana runutan pesan ditulis: kita menjadi penulis sekaligus editor. Hasilnya, nama kita dikenangnya. Apalagi kalau si dia memang sejak awal sudah jatuh cinta. Tentang sumber ide sebetulnya bisa datang dari mana saja. Seperti Gabriel Garcia Marquez, Marcel Proust atau yang lainnya. Karena yakin setiap kita punya pengalaman unik yang bisa jadi tidak dimiliki orang lain. Lebih baik lagi jika kita mau menulis untuk membantu orang lain seperti Gola Gong dan Tias Tatanka menulis untuk membantu sekolah Sahauni, Angga, Ain, Hardi, dan beberapa anak tersebut di atas.**
Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang. Aktif di Rumah Dunia dan Sanggar Sastra Serang. Berminat kepada masalah agama dan filsafat. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

