Catatan Seorang Klayaban:


KBRI PARIS DAN DIPLOMASI KERAKYATAN [7-- Selesai]


Seusai Kuasa Usaha menjawab pertanyaan dan usul Opik, Emil dari Koperasi Restoran 
Indonesia Paris mengacungkan tangan minta waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan 
dan usulan. Pertama-tama ia menggarisbawahi arti penting "Dialog Kemerdekaan" 
sebagaimana yang sudah diutarakan oleh Kuasa Usaha. Kemudian berdasarkan tiga titik 
ide pokok Hari Peringatan yang diterakan dalam spanduk berwarna merah,terutama titik: 
"Semangat Proklamasi" dan "Membangun Indonesia Yang Bersatu, Maju Dan Demokratis", 
Emil menanyakan masalah "orang-orang klayaban" dan "terhalang pulang", berpangkal pada 
masalah yang  oleh Gus Dur ketika menjadi Presiden R.I. diusulkan penyelesaiannya tapi 
sampai sekarang tetap jadi masalah yang tak berujung. Apakah masalah ini akan 
dibiarkan mengambang? Apakah "orang-orang klayaban" dan "terhalang pulang" akan terus 
dibiarkan "klayaban" dan "tak pulang-pulang"? tanya Emil. Jika demikian, di mana 
"Semangat Proklamasi" dan ide "Membangun Indonesia Yang Bersatu, Maju Dan Demokratis" 
diletakkan? Ataukah Indonesia hanya menjadi Indonesia milik sementara anak negeri dan 
bangsa saja, dengan mengecualikan mereka yang "klayaban" dan "terhalang pulang" serta 
yang dianggap "tidak bersih lingkungan"? 

Kemudian pada kesempatan ini juga, Emil mengajukan masalah hubungan kebudayaan antara 
Indonesia dan Prancis. Bertolak dari pengamatannya Emil melihat bahwa terutama  dunia 
akademi kita sekarang terlalu American Oriented yang berdampak nilai-nilai serba 
Amerika mempunyai kedudukan dominan. Padahal Amerika bukanlah segalanya. American 
oriented saja, dilihat oleh Emil sebagai tidak menguntungkan Indonesia. Kalau 
Indonesia menganut politik "pintu terbuka", mengapa kita tidak menterapkan politik ini 
di bidang budaya dengan mengeksplorasi dan mengekspolitasi kekayaan budaya dunia 
darimana pun ia berasal? Misalnya dengan Prancis. Sudahkah kita secara sadar 
mengeksploitasi dan mengeksplorasi kekayaan budaya dan intelektual negeri ini untuk 
kepentingan Indonesia? Barangkali berangkat dari budaya sendiri sebagai alat berdialog 
dengan budaya luar, termasuk Prancis, akan membantu kita membentuk manusia Indonesia 
yang tanggap zaman dan aspiratif kerakyatan yang diperlukan bangsa dan tanahair serta 
berwawasan luas. Ini pun adalah ujud dari pentrapan bhinneka tunggal ika dalam 
pergaulatan budaya internasional.

Dalam jawabannya terhadap masalah-masalah yang diajukan oleh Emil, Kuasa Usaha 
menggarisbawahi masalah proses dan akan selalu mencatat masalah ini sebagaimana KBRI 
mencatat semua masalah yang ada di kalangan masyarakat Indonesia di Prancis untuk 
diajukan ke Kemlu -- instansi yang membawahi kedubes. Sebagai contoh dari proses ini, 
Kuasa Usaha, menunjuk kepada adanya "Dialog Kemerdekaan" hari ini yang tidak lain 
sebagai hasil dari suatu proses juga adanya. Dengan keterbatasan wewenang yang 
dimilikinya, KBRI akan selalu terbuka menerima kritik dan saran dari para warga 
Republik, karena kritik, saran dan usul hanya akan membantu KBRI menunaikan misi 
diplomasinya. Semangat ini jugalah yang diungkapkan oleh Andreas Sitepu ketika 
menjawab masalah dwi kewarganegaraan dan visa bagi warga Indonesia yang nikah dengan 
orang Prancis.


Mengenai masalah American oriented, penanggungjawab masalah kebudayaan KBRI 
menjelaskan bahwa adanya lulusan universitas-uniersitas Prancis, telah memberikan 
warna sendiri dalam kehidupan budaya, politik dan pemikiran di Indonesia. Tentu saja 
"memberikan warna sendiri", kukira tidak dalam pengertian memeranciskan diri, tapi 
atas dasar budaya lokal menjadikan perolehan dari luar untuk memperkaya keindonesiaan 
diri kita. Menjadikan diri Indonesia yang tanggap zaman, aspiratif dan berwawasan luas 
sesuai dengan pandangan filosof Prancis, Paul Ricoeur: "kebudayaan itu majemuk 
sedangkan kemanusiaan itu tunggal". Dalam konteks ini, ketika berbicara tentang 
pembangunan, Emil menyangkutkannya dengan masalah pemberdayaan [empowerment]. Emil 
menekankan bahwa pembangunan kiranya perlu didasarkan pada pemberdayaan sehingga 
rakyat sendiri yang menjadi aktor pembangunan bersolidaritas yang bergulir sendiri 
[solidarity self propelling growth development]. Untuk ini, ide-ide dari Prancis layak 
ditimba dan dieksplorasi.


Dalam rangka mengkonsolidasi hubungan antara KBRI dan para warga Republik yang ada di 
Prancis, aku kira usul salah seorang peserta dialog agar website KBRI diaktualisir 
selalu, barangkali patut dipertimbangkan oleh tim pengelola website dan tidak berhenti 
pada jawaban formal. Melalui website ini juga, semua yang berkepentingan akan gampang 
dan cepat memperoleh rupa-rupa informasi. Apa yang dilakukan oleh PPI Prancis di bawah 
pimpinan Opik, dengan websitenya, kukira sungguh sesuatu yang sangat positif dan perlu 
diteladani. Website PPI Prancis sangat informatif dan membantu mereka yang memerlukan 
keterangan tentang rupa-rupa soal tentang Prancis.


Melalui Peringatan Hari Proklamasi kali ini, nampak sekali usaha KBRI merangkul dan 
mengajak semua warga Republik yang ada di Paris dan sekitarnya [daerah yang gampang 
terjangkau oleh KBRI]. Hal ini nampak dari komposisi paduan suara, yang mengisi acara 
peringatan, bahkan pada pemotongan nasi tumpeng. Nasi tumpeng dipotong bersama oleh 
Kuasa Usaha bersama Santoso dari Keluarga Besar Koperasi Restoran Indonesia Paris. 
Sebagai bahasa diplomati, aku melihatnya lebih jauh dari hanya pemotongan nasi 
tumpeng. Demikian juga permintaan khusus kepada JJ. Kusni [yang juga dari Keluarga 
Besar Koperasi  Restoran Indonesia untuk membacakan sanjak mengenai Hari Proklamasi] 
untuk turut serta mengisi acara Peringatan, bukanlah ajakan tanpa makna. Semua ini 
tidak terbayangkan akan bisa terjadi pada masa KBRI Orba. 


Ketika minta diri, beberapa diplomat teras bahkan memelukku dan barangkali juga 
memeluk kawan-kawan lain. Tak terelakkan aku teringat akan keadaan KBRI Orba yang dulu 
 memusuhi kami, sekarang para diplomat KBRI baru memeluk kami. Permusuhan berobah 
menjadi persatuan dan persahabatan. Tuding-menuding menjelma jadi pelukan di jalan 
diplomasi kerakyatan dan kerukunan bangsa yang republiken. Jalan diplomasi yang secara 
singkat kusebut "diplomasi jalan Paris". 


Benar, Ibu Kuasa Usaha. Kita perlu waktu.Kita perlu proses. Waktu akan memroseskan 
cinta kita akan tanahair, bangsa dan Republik menjadi kenyataan asalkan kita setia 
pada cinta kita. Proses selamanya adalah suatu lika-liku dan lika-liku selamanya juga 
bukan jalan bertabur bunga.Siapakah yang bergeming dari cinta ini sementara Indonesia 
adalah konsep agung dan indah sedangkan bangsa dan rakyat kita adalah bangsa dan 
rakyat besar yang bukan hanya sanggup kalah tapi juga sanggup dan pandai menang?


Germis membasahi kursi-kursi tidak mengganggu para warga Republik menikmati dengan 
muka ceriah semua acara pertunjukan sebelum satu-persatu meninggalkan Wisma Duta 
dengan kelegaan hati. Di jalan pulang, aku hanya berharap agar Wisma Duta dan KBRI di 
masa-masa mendatang akan terus menjadi betang [rumah panjang] para warga Republik di 
negeri orang. Kedubes sesuai namanya agar bisa benar-benar menjadi perwakilan sebuah 
Republik dengan segala arti kandungannya.


Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ.Kusni


Catatan:
* Foto terlampir  menunjukkan Dubes Adian Silalahi bersama ,Dirjen Unesco pada saat 
pergelaran wayang kulit oleh Manteb Soedharsono di Paris.

* Berikut , aku sertaulangkan sanjak yang kubaca di Hari Peringatan Proklamasi di 
Wisma Duta.


INDONESIA,JUTAAN JANJI 


duka anak terjajah hari itu
membangkitkan pulau demi pulau
penjuru demi penjuru 
merahputih di bamburuncing
ditancapkan di benteng-benteng musuh
tanda cinta digantang nyawa
tak tersendat di kata


kemudian pendahulu kita hari itu 
di hari 17 agustus  1945
ketika bayonet masih mengkilat 
mencongak menantang angkasa
ketika darah belum mengering dari luka  peluru segala siksa 
rahasia perih tersimpan dikatup mulut


hari itu pendahulu kita membangun republik 
bagai betang bersama
mengumumkan kelahiran indonesia 
yaitu dirimu 
diriku
diri kita


lalu tanpa enggan 
dengan bangga diri kuperkenalkan ke seluruh  bumi:
indonesia?
ya, akulah indonesia
jangan lihat kesederhanaan gejala
jangan nilai keindonesiaanku dari celana kaki kukenakan
kemerdekaan tidak di pakaian 
martabat anak negeri tidak di kemewahan
atau rekening berjibun simpanan


kemerdekaan adalah kegaiban kata
mujizat harapan berlaksa mimpi
meleceh ajal
pengobar nyala


merdeka! 
dengan pekik merdeka
kusalam dahulu pamanku dan pasukan 
bertarung mati hidup melawan jepang-belanda 
menerjuni maut rimbabelantara kalimantan 
demi merdeka dan merahputih lambang makna diri
pahamkah kita makna 
kemerdekaan dan indonesia! 
dan aku
bangga  
kuperkenalkan diri ke seantero bumi
sebangga gerilya dayak menjahitkan merahputih di seragam hitam 
bangga di hati 
kupaterikan makna merahputih 


pahamkah kita arti negeri, bangsa dan merahputih?
masihkah semua bangga menjadi putera bangsa ini
ataukah sekarang menjadi teka-teki silang 
tak pernah usai terisi
tinggal petak-petak hampa keadilan?


indonesia? 
ya, aku memang indonesia!
tajam lurus kutatap mata bangsa demi bangsa kuajak bicara
menanyai suku demi suku segala penjuru
menunggu jawab 


hitam rambutku 
hitam mataku 
hitam dipanggang terik khatulistiwa 
dimatangkan tanur pertarungan menjadi indonesia
kembaraku pun tanur cinta tak henti menyala 


kalau pun hari ini rambutku berwarna dua
sudah mulai bongkok dan pelupa
sering batuk-batuk gampang masuk angin
sering dikerok
kau kan paham 
betapa jauhnya perjalanan kutempuh 
dan aku terus bertahan 
menghormati martabat dan indonesia
yang adalah diriku sendiri
yang adalah dirimu sendiri
kau barangkali tahu 
merahputih masih direlung hati


sekarang di detik ini 
ketika  kita merenung bendera bersama
makna republik dan merdeka
benarkah kau masih indonesia?
benarkah kita masih indonesia?
benarkah kau mencintainya?
benarkah kita setia janji?
benarkah kita masih putera-puteri bermartabat 
anak negeri bermartabat dan merdeka? 


kutanyakan tentang martabat
kutanyakan kebanggaan ini
merdeka dan cinta 
yang senantiasa menagih bukti 
kerna kita sering gampang munafik 
kerna kata sering hilang makna diterpa petaka
kita pun gampang jadi pembimbang
lebih gampang jadi busa daripada menjadi indonesia
khianat lebih gampang dari setia 
membudak lebih gampang dari merdeka
lalu kita menampang dengan gunjing
sikut-menyikut menyingkirkan yang hakekat


merdeka
dan indonesia
seperti keadilan 
hari ini kian mengusik
menanyai kita
seperti merah putih bambu runcing
berkibar dan sobek dalam angin
dan badai yang belum mereda
menanyai kita


maka  kau
kau 
sanggupkah sadar bersamaku berseru
"merdeka!" 
sanggupkah sadar bersamaku bangga berkata:
"aku memang indonesia!?"
"dan indonesia betang bersama"


putih sudah rambutku
sudah mulai bongkok dan pelupa
sering batuk-batuk dan gampang masuk angin
dimakan waktu
sedikit-sedikit dikerok
aku masih bertahan pada kebanggaan 
tak bergeming dari arti martabat
sementara kemerdekaan 
masih saja ruang kosong menagih isi
dan indonesia menanyai setia janji
kekosongan berlarut akan menghancurkan 
kekosongan menjadikan kita 
serat-serat randu mengapungi udara 


hari ini, indonesiaku
kembali dan lagi kunyatakan pasti:
aku masih puteramu dahulu 
dan kau?


dan indonesia adalah selaksa mimpi
selaksa kegaiban di sayap-sayapku membelah angkasa
hari ini indonesia 
jutaan janji  
menagih isi


Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ. KUSNI 

Catatan:
"Sanjak" ini telah dibacakan oleh penulisnya sendiri di dalam acara Peringatan Resmi 
17 Agustus yang diselenggarakan oleh KBRI, Paris.




[Selesai]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke