Berita Kompas, Sabtu 21 Agustus, Halaman 1
 
Kuliah di India? "Nehi, Nehi" � 

KEDUA orangtua Dodo, kini 26 tahun, setengah tidak percaya saat ia memutuskan akan 
meneruskan kuliah di India. Dosen-dosennya tidak mendukung. Kawan-kawannya di kampus 
juga dibuatnya heran. "Sekolah di India? Nehi, nehi...!" kata kawan-kawannya 
berkomentar.

SEMULA jika ditanya keberadaan Dodo, orangtuanya pun hanya menjawab bahwa Dodo tengah 
belajar di luar negeri. Nama India tidak pernah disebut-sebut.

"Hampir tidak ada yang memberikan dukungan saya kuliah di India," kata Sotar Dodo, 
alumnus Jurusan Akuntansi Universitas Trisakti, Jakarta.

Lulus dari Trisakti tahun 2001, Dodo semula bermaksud meneruskan kuliah di Filipina. 
Akan tetapi, gara-gara krisis, biaya untuk kuliah ke Filipina jadi membengkak. Apabila 
tetap ke Filipina, ia harus menunda keinginannya melanjutkan studi.

Saat itulah ia diberi tahu seorang kawannya, anak diplomat Indonesia di New Delhi, 
tentang perguruan tinggi di India yang tidak kalah bagus dengan perguruan tinggi di 
Australia, Inggris, maupun Amerika Serikat. Uang kuliah dan biaya hidupnya pun relatif 
murah. Dodo tertarik dan nekat memutuskan berangkat ke India.

Saat memulai kuliah di India, ia sempat terkaget-kaget. Boro-boro seperti Kampus 
Trisakti yang metropolis. Kuliah ber-AC, restoran cepat saji, dan tempat fitness di 
kampus, mau nonton film atau mencari barang-barang bermerek tinggal menyeberang ke 
depan kampus. Kemewahan seperti itu tidak akan ditemui di sebagian besar kampus di 
India. Apalagi di kota kecil Agra, kota tempat Dodo kuliah.

"Di Trisakti saya kuliah ber-AC, dosen mengajar pakai slide atau power point, semua 
ruang kelas pakai whiteboard. Begitu ke sini, kayak kembali ke SD inpres! Kembali ke 
kapur dan papan tulis. Bangku pun harus dibersihkan dulu sebelum duduk," ujarnya.

Dodo baru lega ketika masa kuliah dimulai. Pendidikan di India memang lebih 
mementingkan isi daripada kulitnya. Meski gedung-gedungnya kusam, hampir seluruh dosen 
yang mengajar di kampusnya bergelar doktor.

Mereka benar-benar mengajar, tidak pernah mewakilkan tugas mengajar kepada asistennya. 
Dosen-dosen itu juga begitu gampang ditemui. Dodo yang berangkat ke India atas biaya 
sendiri saat ini telah menyelesaikan studi master di bidang perdagangan dan berniat 
melanjutkan ke tingkat doktor.

Penampilan fisik kampus-kampus perguruan tinggi di India memang tidak menjanjikan.

"Perguruan tinggi di India memang tidak sibuk dengan urusan lipstik. Bagi mereka yang 
penting substansi pendidikannya. Kecantikan dari dalam," kata Wisnu Setiawan, dosen 
Universitas Muhammadiyah Surakarta yang tengah menempuh studi master bidang arsitektur 
di New Delhi.

Kampus Indian Institute of Technology Delhi yang berada di peringkat keempat sebagai 
universitas terbaik versi Asiaweek pada tahun 2000 juga sangat bersahaja. 
Dinding-dindingnya kusam, sebagian lapisan semen pada tangga menuju ke lantai atas 
ambrol, dan tidak ada mesin pendingin sekalipun panas di New Delhi bisa ekstrem.

Penampilan fisik yang sangat sederhana itu jamak dijumpai di kampus-kampus perguruan 
tinggi di India. Tetapi akses memperoleh ilmu berlimpah. Perpustakaan lengkap dengan 
koleksi buku dan jurnal terbaru, komputer terkoneksi internet dapat diakses gratis 
oleh mahasiswa, buku mudah dicari dan murah.

"Dosen-dosen di sini sangat memerhatikan mahasiswa. Mereka mudah ditemui. Semua 
pengajar saya bergelar doktor. Kalau di Indonesia sulit ditemui doktor datang sendiri 
mengajar mahasiswa S1," kata Zamashari (24), yang baru saja menyelesaikan studi Islam 
di Universitas Jamia Millia Islamia, New Delhi.

INDIA tidak diragukan lagi reputasinya dalam mengelola pendidikan tinggi. Di bidang 
kedokteran, manajemen, sains dan teknologi, keberhasilan pendidikan tinggi di India 
telah diakui secara internasional. Sekolah-sekolah kedokteran di India dikelola dengan 
standar internasional sehingga lulusannya laku bekerja ke luar negeri. Sekitar 30 
persen dokter yang bekerja di Amerika Serikat berasal dari India.

Di bidang teknik dan teknologi informasi, India adalah tempatnya. Tiap tahun perguruan 
tinggi di India menghasilkan 200.000 ahli peranti lunak. Keahlian mereka juga diakui 
secara internasional. Di Microsoft, raksasa perusahaan peranti lunak di Amerika 
Serikat, tidak kurang 30 persen pekerjanya berasal dari India meski Bill Gates hanya 
menyebut angka sekitar 20 persen.

India memiliki tujuh institut teknologi yang telah ditetapkan parlemen sebagai pusat 
unggulan nasional. Tujuh institut teknik itu merupakan bagian dari 13 perguruan tinggi 
yang ditetapkan sebagai pusat unggulan nasional yang disokong dananya oleh pemerintah 
pusat.

Dalam penyelenggaraan pendidikannya, Indian Institute of Technology (IIT) telah 
mencapai kelas dunia. Untuk warga India, biaya kuliahnya hanya sekitar 30.000 rupee, 
atau sekitar Rp 6 juta per tahun dan sebagian besar mahasiswanya tinggal di asrama. 
Itu pun sekitar 80 persen mahasiswanya memperoleh beasiswa.

"Sebagian besar mahasiswa kami tidak perlu merogoh kantong sendiri untuk kuliah," kata 
Prof Khusal Sen, pengajar jurusan tekstil IIT Delhi.

Di IIT Delhi, sekitar 20 persen lulusan program S1-nya memilih meneruskan studi. 
Sisanya langsung bekerja. Sekitar 80 persen di antaranya menyerbu pasar kerja luar 
negeri, terutama Amerika Serikat.

Bagi warga India, IIT Delhi bisa membalikkan tangan nasib seseorang, dari golongan 
bawah menjadi kelas menengah atas. Menurut Arnav Sinha, mahasiswa tahun terakhir di 
Jurusan Teknik Kimia IIT Delhi, bila langsung bekerja di India setelah lulus ia akan 
memperoleh gaji sekitar 400.000 rupee (Rp 80 juta per tahun) yang akan menempatkan dia 
dalam posisi kelas menengah atas di India.

Reputasi yang mendunia itu juga mulai dicapai sekolah-sekolah bisnis di India. Dalam 
beberapa tahun terakhir enam institut manajemen India melejit reputasinya karena 
mengadopsi materi dan cara pengajaran yang berkelas internasional. Indian Institute of 
Management di Ahmedabad, misalnya, hampir disejajarkan sekolah bisnis di Harvard. 
Lulusan terbaiknya diperebutkan perusahaan-perusahaan top di Amerika Serikat.

Di balik persoalan kemiskinan, buta huruf, dan angka putus sekolah di tingkat 
pendidikan dasar yang tinggi, India menghasilkan ilmuwan-ilmuwan terbaik di dunia. 
Sederet pemenang Nobel lahir dari negara berpenduduk sekitar satu miliar itu. Sebutlah 
Amartya Sen pemenang Nobel bidang ekonomi, Subrawanian dan Cancrashekar Venkantaraman 
di bidang fisika, serta Hargobind Khorana di bidang kedokteran. Belum lagi Ibu Theresa 
pemenang Nobel bidang perdamaian dan Rabindranath Tagore di bidang sastra.

REPUTASI gemilang perguruan tinggi di India itu belum diperhitungkan orang-orang 
Indonesia yang ingin belajar ke luar negeri. Tiap tahun belasan ribu mahasiswa 
Indonesia lebih memilih perguruan tinggi di Australia, Inggris, atau Amerika Serikat. 
Tidak jarang pilihan itu asal ke Australia, Inggris, atau Amerika Serikat tanpa ambil 
pusing dengan reputasi institusi dan kualitas program studi yang dipilih. Mahasiswa 
Indonesia yang belajar ke India jumlahnya hanya puluhan, itu pun sebagian besar 
berangkat ke India karena memperoleh beasiswa.

Dalton Sembiring, Konsul Kebudayaan Indonesia di New Delhi, mengatakan pendidikan 
tinggi di India merupakan alternatif yang baik untuk melanjutkan studi. Sistem 
pendidikan tinggi di India telah diintegrasikan dengan standar internasional. 
Sayangnya tidak banyak orang Indonesia yang mau belajar ke India, apalagi untuk bidang 
teknik dan teknologi informasi. Padahal, kata Suhadi M Salam-diplomat Indonesia di New 
Delhi- orang-orang India sangat menguasai teknologi. "Di Amerika Serikat atau 
Australia sekalipun, banyak pengajar teknologi informasinya berasal dari India," kata 
Suhadi.

Biaya kuliah dan biaya hidup di India masih tergolong murah untuk ukuran mahasiswa 
asing. Untuk mahasiswa asing, biaya kuliah S1 rata-rata hanya sekitar 500 dollar AS 
(kurang dari Rp 5 juta) setahun. Untuk program magister bisnis, biayanya masih 
berkisar Rp 40 juta per tahun, sudah termasuk biaya hidup di asrama.

Sayangnya, institusi pendidikan tinggi di India kebanyakan masih konservatif dalam 
menawarkan pendidikannya untuk mahasiswa asing. Tidak seperti perguruan tinggi di 
Australia, Eropa, dan Amerika Serikat yang telah mengemas pendidikan tingginya menjadi 
industri didukung dengan petugas pemasaran yang agresif, pendidikan tinggi di India 
lebih bersikap menunggu.

Prof Khusal Sen dari Departemen Tekstil IIT Delhi mengatakan, lembaganya tidak 
memberikan perlakuan khusus kepada mahasiswa asing. Mahasiswa asing bisa saja masuk 
IIT Delhi asal lolos ujian saringan pertama dan ujian esai yang diikuti tidak kurang 
dari 270.000 peminat.

Akan tetapi, sejumlah perguruan tinggi lainnya seperti IIT Roorkee dan Universitas 
Jamia Milia Islamia menawarkan prosedur berbeda bagi mahasiswa asing. Menurut Direktur 
IIT Roorkee Dr Prem Vrat, mahasiswa asing yang ingin masuk IIT Roorkee cukup 
mengirimkan lamaran tanpa harus mengikuti seleksi masuk bersama ratusan orang India 
lainnya, meski kualifikasi untuk mengikuti studi di perguruan tinggi itu tetap 
disyaratkan.

India memang menjanjikan banyak untuk mereka yang ingin mencari ilmu. Akan tetapi, 
untuk orang-orang muda yang ingin mencari kenikmatan hidup, India bukan tempatnya. 
Jalanan di New Delhi dan kota-kota lain di India tidak lebih beradab dari Jakarta. 
Lomba bunyi klakson tidak pernah sepi di jalanan. Permukiman kumuh, orang miskin, dan 
pengemis ada di mana- mana. Mal dan sinepleks hanya ada satu dua di dalam New Delhi. 
Di luar sejumlah kecil enklaf yang dihuni superkaya, India masih berwajah miskin.

"Jangan harap bisa hidup bermewah-mewah kalau mau belajar ke India," kata Suhadi.(P 
BAMBANG WISUDO)


Search :   [input]  [input]   








 --->
Berita Lainnya : 

�
Koalisi Kebangsaan Akan Fokus di Jawa
�
22 Anggota DPRD Kota Kendari Ditahan
�
Sutrisno Mascung Divonis Tiga Tahun
�
Harga Minyak Dekati 50 Dollar AS/Barrel
�
Lagi, Tuan Rumah Yunani Diguncang Isu Doping
�
Kuliah di India? "Nehi, Nehi" �
�
WHO: Kemungkinan Besar Wabah Flu Burung Akan Merebak di Asia
�
POLITIKA






 

 
 
Design By KCM
Copyright � 2002 Harian KOMPAS

 
 [input]   [input]   [input]   [input]   [input]  

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!

[Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke