Surat Kembang Kemuning:

DARI THE "UNSPOKEN WORDS" KE "THE UNSPOKEN HEROES" [1].


Istilah "The Unspoken Heroes" kupinjam dengan memberikannya sedikit varian dari judul 
karya May Teo "The Unspoken Words". Aku melihat banyaknya masalah hakiki yang tertuang 
dalam istilah "The Unspoken Words" dan kemudian langsung menyeretku  ke masalah "The 
Unspoken Heroes", masalah lain  yang dikemukakan oleh May Teo dalam karyanya 
"Sungaliat" Pulau Bangka daerah asal penulis. 


Dari ungkapan orisinal May Teo "The Unspoken Words", aku melihat suasana tanahair dan 
orang-orang terpinggir serta yang dibungkamkan atau sengaja memilih bungkam sampai 
klayaban untuk waktu tertentu lalu kemudian memutuskan untuk berbicara. Tergambarkan 
juga melalui istilah "The Unspoken Words" itu, suatu lapisan masyarakat sangat luas 
yang tetap diam dan menyimpannya dalam kenangan individual serta kolektif mereka semua 
kejadian dan pengalaman sejarah yang mereka lalui serta hadapi.Kalaupun mereka bicara 
tentang kejadian dan pengalaman sejarah yang tersimpan di kenangan individual dan 
kolektif, mereka menuturkannya dalam kalimat-kalimat sederhana dan suara lirih penuh 
kepahitan atau kegembiraan seperti permukaan sungai atau danau tanpa riak. Dan cara 
inilah yang umum dilakukan oleh orang-orang di kampung dan pedalaman. "The Unspoken 
Words" mengungkapkan adanya tragedi sejarah anak manusia sampai-sampai ada yang 
memilih sikap membisu dan enggan enggan bicara padahal "mengungkapkan diri" jika 
menggunakan istilah Rendra adalah "suatu keperluan mendasar manusia".


Adakah lapisan masyarakat dan orang-orang demikian? 


Kalau kita mau membuka mata dan menajamkan telinga nurani tanpa usah mengerutkan 
kening, barangkali dengan cepat dan gampang  kita  melihat hamparan suasana yang 
dilukiskan oleh May melalui tiga patah kata di atas. Dan saat kita bertanya: Mengapa 
sampai terjadi bahwa sebuah masyarakat dan negeri menjadi lumbung bagi "The Unspoken 
Words", kita akan terdiam menyaksikan lukisan nurani kita melihat  adanya tragedi demi 
tragedi kemanusiaan yang disimpan oleh lumbung kata-kata kebungkaman. Barangkali pada 
saat menyaksikan hamparan tragedi ini kita juga merasakan betapa kemanusiaan dan 
harkat manusia sering  menjadi demikian merosot ke taraf yang jauh lebih rendah dari 
tingkat hewan yang sering kita gunakan sebagai kata umpatan. Betapa tidak? Seekor 
induk ayam yang sedang mengais-ngais tanah dan sampah bersama sejumlah anak-anaknya, 
akan segera memberi isyarat kepada anak-anaknya ketika melihat adanya ancaman sambaran 
elang dari langit, dan menyatakan dukanya melihat salah seekor anaknya dicakar elang. 
Apabila kita mengganggu mereka, sang induk juga tidak segan membela anak-anaknya 
dengan menyambar kita. Ayam ternak pun dengan caranya sendiri bisa mengungkapkan 
terimakasih dan kasihsayang kepada yang memeliharanya. Hal ini kulihat dari ayam, 
babi, sapi dan kambing yang pernah kupelihara. Saban mereka mencium bauku  dan melihat 
aku datang, mereka berbondong-bondong menjemput dan mengitariku.Belum lagi kita bicara 
tentang anjing atau kucing piaraan. Hewan mempunyai bahasa sendiri untuk 
mengkomunikasikan diri dengan yang memelihara mereka. Mereka pun akan gampang memahami 
bahasa isyarat dan keinhginan si pemelihara. Antara si pemelihara dan hewan yang 
dipelihara, terdapat bahasa khusus yang merupakan bagian dari bahasa kasihsayang. 
Hewan pun terhadap si pemeliharanya tidak menjadi makhluk "the unspoken words". 


Dibandingkan dengan sikap hewan seperti di atas, maka aku melihat betapa manusia 
sering lebih rendah dari hewan sehingga secara hakiki mereka sesungguhnya tidak lagi 
anak manusia pada saat sisi gelap mendominasi dan mengendalikan pola pikir dan 
mentalitas mereka. Jika pola pikir dan mentalitas begini mendominasi suatu periode 
sejarah suatu negeri dan bangsa maka negeri  dan bangsa itu akan menjadi "rimba raya" 
atau "kebun binatang" jika menggunakan istilah sastrawan Inggris, George Orwel. Kita 
menjadi "manusia yang makan manusia" kalau meminjam ungkapan pengarang Tiongkok, Lu 
Sin. Di rimba raya dan "kebun binatang", otak manusia lebih kecil dari hewan, hatinya 
pun sudah membatu sehingga kekuasaan yang pongah yang kemudian melahirkan ketakutan 
bersimaharajalela. Sebagai contoh: Tidakkah pilihan pendekatan "keamanan dan 
stabilitas nasional" telah melahirkan anak-anak negeri yang penuh ketakutan sehingga 
sering dikatakan bahwa di negeri kita "ketakutan sudah membudaya"? Ketakutan menurut 
Anselme Belleguarrique, pengarang Prancis, "hanyalah penghukuman diri sendiri dan 
sekali kita menghukum diri maka pelaksananya tidak akan kekurangan". Pendekatan 
"keamanan dan stabilitas nasional" yang dipilih oleh pemerintah Orde Baru Soeharto 
untuk mempertahankan rezimnya dan mengendalikan bangsa, negeri dan negara telah 
membuat anak-anak bangsa dan negeri banyak yang menghukum diri sendiri dan menjadi 
manusia yang lebih rendah dari hewan karena menurut penulis anonym Prancis yang 
menciptakan best-seller "Emmanuelle" "binatang tidak takut mati.Binatang tidak tahu  
apa yang harus mereka takutkan".   


Aku jadi teringat akan sebuah sanjak Agam Wispi "Batu" yang berkata: 

"batu
  batu
    batu" 

ketika melukiskan keadaan suatu lingkungan yang disebutnya "membatu". Jika demikian 
salahkah kita menyebut manusia begini sebagai "manusia batu"? Karena disebut hewan, 
mereka lebih rendah dari hewan?


Dilihat dari sejarahnya maka nampak bahwa lahirnya masyarakat "kebun binatang", 
"manusia batu" penuh ketakutan, erat hubungannya dengan penindasan atau kekerasan 
politik yang melahirkan tragedi demi tragedi.  Ia juga melahirkan fanatisme yang 
membuat kita tidak lagi enggan menjadi "manusia makan manusia", menjadikan darah 
sesama sebagai kopi dan teh sarapan pagi sebagai kewajaran. Ia jugalah yang menjadikan 
negeri dan diri kita menjadi  lumbung tak berhingga bagi "the unspoken words", 
menjadikan tanahair sebagai negeri sunyi kecuali hingar-bingar pembunuhan, penjara dan 
pulau pembuangan serta pengucilan terutama kepada yang berani berkata "tidak". Hari 
demi hari di masa Orde Baru Soeharto adalah halaman-halaman bertuliskan tindak di mana 
kita memerosotkan kemanusiaan yang sisanya masih gampang dirujuk sekarang. 


Apakah presiden dan kekuasaan politik setelah pemilu kelak akan mengobah keadaan ini? 
Janji orang-orang yang dalam sejarahnya berlumuran darah, kiranya sulit dipegang. Jika 
kita dihadapkan pada memilih yang baik dari buruk, barangkali kenyataan ini 
memperlihatkan betapa sangat lemahnya masyarakat sipil dan betapa jauhnya jalan masih 
harus ditempuh, berlikunya jalan memanusiawikan manusia, kehidupan dan menegakkan 
Republik dengan segala kandungan nilainya.


Melalui istilah "the unspoken words", May Teo telah menyimpulkan  perjalanan sejarah 
kurun yang panjang tanahair dan negerinya  sambil memandang ke depan memperingatkan : 
"Masih perlukah kita mempertahankan negeri, bangsa  dan diri kita sebagai gudang dan 
lumbung of the unspoken words"? Pertanyaan ini pun berharga bagi pemegang kekuasaan 
politik pasca pemilu nanti.Barangkali juga berguna bagi semua anak negeri dan bangsa 
dalam melihat diri sendiri dalam usaha memahami makna Indonesia, manusia Indonesia dan 
warga negara Republik Indonesia. 


Paris, Agustus 2004.
------------------  
JJ. KUSNI


[Bersambung...]









  



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke