Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [18].


Sekolah-sekolah Lekra


Sastra-seni adalah bidang yang berurusan dengan manusia, pikiran dan perasaan manusia 
serta segala masalahnya. Melalui karya-karya yang diciptakan, digambarkan berbagai 
tipe tokoh manusia yang diharapkan dan tidak dipuji. Apa yang indah dan tidak indah. 
Dengan permasalahan manusia, masyarakat dan kehidupan yang sedemikian luas, kiranya 
akan sangat mustahil jika seorang mahkluk kreatif menjadi kekeringan bahan tema untuk 
digarap. Kehidupan dan masyarakat adalah samudra maha luas yang tak bakal kunjung 
kering menunggu tangan seniman menggarap mengolahnya sebagai karya kesenian. Sedangkan 
taraf karya akan ditentukan oleh kadar seniman itu sendiri. 


Terhadap seniman-senimannya [lepas orang di luar Lekra mengakui seniman atau tidak], 
Lekra menuntut agar mereka menciptakan karya-karya  "dua tinggi" yaitu tinggi mutu 
artistik dan tinggi mutu pemikirannya.  Kedua unsur ini diharapkan agar selalu padu 
dalam sebuah karya. Kepaduan dua unsur ini digunakan oleh Lekra untuk menilai sebuah 
karya. Tentu saja jika dilihat dari kegunaan untuk memanusiawikan manusia, kehidupan 
dan masyarakat, maka karya yang berangkat dari ide yang baik sekalipun secara 
"artistik" tidak memadai, karya tersebut akan jauh lebih baik daripa karya yang 
mengandung ide anti kemanusiaan dan kemajuan dengan taraf artistik yang sama rendahnya 
dan lebih berbahaya lagi [dari segi dampak dan kegunaan] jika ide jelek itu dituangkaj 
dengan taraf artistik tinggi. Tapi di sinilah kita menyaksikan daya pengaruh 
sastra-seni dengan taraf yang tinggi terhadap konsumennya. Sadar akan peran kesenian 
yang demikian maka tuntutan "dua tinggi" sangat digarisbawahi oleh Lekra. 


Hanya saja sering kita saksikan oleh sementara kritisi yang tidak senang pada Lekra, 
karya-karya muatan pikirannya negatif untuk kemanusiaan yang dituangkan dalam kadar 
artistik pas-pasan tetap dipandang sebagai karya kesenian yang bermutu. 
Seniman-seniman Lekra umumnya tidak terlalu hirau akan sikap para kritisi seperti ini 
dan mereka terus saja berkarya dan berkarya. 


Untuk membantu peningkatan kadar diri seniman anggota-anggotanya dari berbagai lembaga 
kejuruan, maka Lekra pada berbagai tingkat, terutama tingkat daerah [propinsi] dan 
cabang [kabupaten] secara sadar menyelenggarakan sekolah-sekolah dan diskusi-diskusi 
belajar secara terencana. Sanggar-sanggar pelukis seperti Sanggar Bumi Tarung di 
Gampingan , Pelukis Rakyat di Sentulrejo atau Sanggar pelukis Gambir Anom di Tegal 
Rejo, merupakan tempat-tempat diskusi terencana dengan tema-teman yang ditentukan 
bersama oleh yang hadiri.  Diskusi terencana merupakan salah satu cara meningkatkan 
pengetahuan, penguasaan tekhnis, dan berbagai soal aktual yang diperlukan dalam 
berkesenian. Termasuk dalam kerangka meningkatkan taraf diri ini, sudah menjadi 
kebiasaan, Lekra Yogya melakukan penyimpulan bersama atas semua kegiatan mereka di 
mana dikemukakan keunggulan dan kekurangan bersama dan bahkan perorangan. 


Dalam syarat alat komunikasi yang minim pada waktu itu, [tidak seperti sekarang di 
mana telepon tetap dan telepon genggam bahkan komputer sudah umum], kami hanya 
menyandarkan diri pada pemberitahuan lisan waktu berkumpul atau mendatangi rumah-rumah 
anggota dengan mengayuh sepeda, betapa pun jauh jarak yang harus ditempuh. 


Diskusi-diskusi selain diselenggarakan di tingkat Lekra pun dilakukan di tingkat 
lembaga kejuruan. 

Yang kukira juga menarik, Guk, bagaimana anak-anak muda di lingkungan Lekra dan 
lembaga-lembaga kejuruannya, secara sadar mengundang seniman-seniman dari angkatan 
pendahulu mereka untuk didengarkan pengalaman mereka dalam berbagai bidang, terutama 
dalam berkesenian. Kucatat masalah ini karena kukira melalui cara ini dipelihara dan 
diusahakan adanya kesinambungan angkatan, menjadikan angkatan pendahulu sebagai guru 
dan tidak sebagai tandingan atau lawan. Ia juga kucatat, karena sering kudapatkan 
sekarang bahwa sementara anak muda yang saking bersemangat lalu merasa diri seakan  
serba boleh dan luarbiasa, semata-mata karena dan justru oleh usia mereka lalu dengan 
semena-mena melecehkan mereka dari angkatan terdahulu. Agaknya anak-anak muda jenis 
ini tidak menyadari arti penting kesinambungan agar generasi yang belakangan tiba 
tidak usaha menempuh jalan "trial and error" sehingga mempercepat laju perkembangan 
diri mereka sendiri serta menunaikan misi dan tanggungjawab generasi. Sedangkan bagi 
anggota-anggota Lekra angkatanku, berguru dari pendahulu, tidak lain dari menimba 
pengalaman mereka dan bukan menerima petunjuk untuk mesti dipatuhi. 


Ketika membandingkan sikap kalangan tertentu seperti yang kukemukakan di atas maka 
yang menarik bagiku, dan membuat aku betah, adalah pengalaman selama ini ketika berada 
di lingkungan milis "kmnu2000". Sikap seperti di atas tidak kudapati di lingkungan 
"kmnu2000" yang juga secara usia muda-muda. Kehadiran Gus Mus, sebagai generasi lebih 
dahulu, di  Kairo  baru-baru ini, misalnya, justru ditanggapi dengan hangat oleh 
angkatan muda di bawah Gus Mus,  dan Gus Mus pun tanpa memperdulikan waktu selalu 
menyediakan diri dengan kegirangan. 


Dari segi memelihara adanya kesinambungan angkatan, kukira sikap anak-anak muda 
"kmnu2000" dan Gus Mus sangat bermanfaat serta memberi teladan. Dalam berdiskusi pun 
kawan-kawan menggunakan cara-cara yang santai, bersahabat, saling menghargai, sehat, 
menjauhkan diri dari cara-cara vulger dan caci-maki.Kawan-kawan bisa mengendalikan 
diri serta mencengkam permasalahan pokok dalam diskusi. 


Salah satu kerugian besar kita akibat Tragedi Nasional September 1965 adalah hilang 
dan tersingkirnya sebarisan budayawan dan cendekiawan negeri kita dari angkatan 
terdahulu. Petaka seperti ini jugalah yang merupakan salah satu kerugian yang 
ditimbulkan oleh Revolusi Besar Kebudayaan Proletar Tiongkok pada 1966 dan tahun-tahun 
seterusnya. Masakre 1966 menyusul Tragedi Nasional September 1965, telah lagi-lagi 
memenggal kesinambungan antar angkatan di negeri kita. Mengendalikan angkatan hilang 
dan mencari-cari lebih gampang bagi kekuasaan politik daripada mengendalikan angkatan 
baru yang dewasa oleh terpeliharanya kesinambungan angkatan.


Sekolah adalah cara lain Lekra dalam usaha meningkatkan kadar seniman-senimannya serta 
memelihara kesinambungan angkatan di kalangan mereka. Di dalam kepengurusan berbagai 
tingkat, masalah ini pun selalu diperhatikan dengan memadukan di dalam komposisi ke 
pengurusan dari periode ke periode. 


Yang kumaksudkan dengan sekolah sebenarnya hanyalah berupa kursus-kursus, tapi di 
kalangan angkatanku pada waktu itu, kursus-kursus atau yang sekarang disebut 
pelatihan, ini kami namakan sekolah. Frekwensi sekolah ini ditetapkan oleh pimpinan 
daerah atau cabang  bersangkutan disesuaikan dengan program tahunan pada suatu periode 
kepengurusan. 


Peserta ditetapkan oleh ranting Lekra dan lembaga-lembaga kejuruan masing-masing 
sesuai dengan jatah yang diberikan oleh pimpinan daerah atau cabang sesuai kemampuan 
penyelenggara, atas dasar keaktifan mereka dalam lembaga-lembaga kejuruan. Sekolah ini 
juga selain dimaksudkan untuk meningkatkan kadar diri seniman, ia juga diarahkan 
sebagai usaha mempersiapkan munculnya barisan pimpinan Lekra di berbagai tingkat pada 
periode selanjutnya sehingga dengan demikian ada kesinambungan angkatan. 


Yang selesai dari kursus-kursus atau sekolah, tidak serta-merta akan menjadi 
penanggungjawab cabang atau ranting. Apakah mereka bisa menjadi penanggungjawab 
ranting atau lembaga atau cabang, tergantung pada kegiatan dan perkembangan mereka 
sendiri serta penilaian para anggota yang akan memilih.


Sekolah bisa berlangsung selama sebulan atau beberapa bulan, terutama pada malam hari 
dengan memanfaatkan waktu luang sesuai waktu semua peserta. Maksimal lima jam saban 
malam. 


Mata pelajaran yang diberikan di sekolah mencakup tentu saja: Sejarah dan ide-ide 
Lekra seperti yang termaktub di Mukadimah Lekra serta organisasi Lekra, kemudian 
sejarah revolusi Indonesia dan kebudayaan Indonesia; Manipol dan politik kebudayaan 
Lekra; filsafat kebudayaan Lekra. Di samping matapelajaran-matapelajaran di atas, para 
peserta juga mendengarkan ceramah tentang masalah-masalah buruh, tani, perempuan dan 
pemuda yang diberikan oleh wakil-wakil organisasi terkait.


Untuk meresapi mata pelajaran dan ceramah serta menggalakkan peran aktif peserta, 
mereka dibagi ke dalam grup-grup diskusi kecil. Hasil diskusi grup kemudian 
dibicarakan bersama dalam klas dipimpin oleh salah seorang peserta. Diskusi dan mata 
pelajaran selalu dikaitkan dengan praktek kegiatan berkesenian sehari-hari. 


Setelah sekolah berakhir, para peserta melaporkan kepada ranting dan lembaga-lembaga 
kejuruan mereka mengenai hasil pendidikan yang mereka peroleh dengan maksud meratakan 
hasil pendidikan peserta ke semua teman-teman anggota.


Pengiriman sebagai peserta sekolah dilakukan secara bergilir. Jika ada lagi kesempatan 
sekolah Lekra di tingkat daerah, maka yang pertama-tama memperoleh prioritas sebagai 
peserta adalah mereka yang pernah mengikuti sekolah Lekra Cabang.


Di samping sekolah Lekra yang umum, lembaga-lembaga kejuruan juga menyelenggarakan 
sekolah atau kursus mereka sendiri. Yang paling sering melakukan kursus kejuruan ini  
sampai pada sekolah tingkat daerah adalah Lembaga Pedalangan [Belum resmi dimasukkan 
dalam struktur organisasi Lekra, tapi hidup dan aktif dalam kenyataan sehari-hari]. 
Apa yang diajarkan di dalam sekolah kejuruan ditetapkan sendiri oleh Lembaga kejuruan 
sesuai dengan keperluan dan permasalahan mereka. Sekolah selain membahas masalah 
teori, politik dan filsafat kebudayaan secara umum juga membahas masalah-masalah 
kejuruan yang bersifat tekhnis terutama dalam hubungannya dengan soal pembaharuan. 


Beaya penyelenggaraan kursus atau sekolah ditanggung bersama-sama oleh para anggota 
Lembaga.      


Melalui sekolah begini, kesadaran politik dan budaya para anggota ditingkatkan setapak 
demi setapak sehingga mereka bisa menjadi pekerja kebudayaan yang sadar akan 
tanggungjawab mereka kepada rakyat, jika menggunakan istilah kami pada waktu itu. Atas 
dasar kesadaran akan tanggungjawab sebagai seniman beginilah kemudian prakarsa 
perorangan berkembang dan ditumbuhkan untuk memperkokoh dan mrngembangkan gerakan 
kebudayaan rakyat di berbagai daerah serta pulau. Kegiatan berkesenian yang menyatu 
dengan berbagai lapisan masyarakat, terutama lapisan mayoritas hanya kian memperkokoh 
kesadaran dan tanggungjawab para seniman Lekra. Penyatuan diri dengan kehidupan 
masyarakat ini pulalah yang membuat mereka mengenal, memahami dan mengkhayati 
persoalan-persoalan masyarakat yang pada gilirannya menjadi sumber tak kunjung kering 
bagi karya-karya mereka.


Segi lain yang ingin dicapai oleh sekolah-sekolah Lekra dan berbagai metode pendidikan 
anggota adalah menjadikan para seniman anggota-anggotanya sebagai manusia yang "tahu 
segala tentang sesuatu dan tahu sesuatu tentang segala". Singkatnya, berusaha 
menjadikan seniman-seniman anggotanya sebagai seniman yang bertaraf dan dengan kadar 
yang terus-menerus meningkat guna mendorong laju perkembangan gerakan kebudayaan 
rakyat.


Paris, Agustus 2004
-------------------
JJ. Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke