Surat Kembang Kemuning:

DARI "THE UNSPOKEN WORDS" KE "THE UNSPOKEN HEROES" [2].


Kalau "The Unspoken Words" melukiskan sikap masyarakat  terhadap dan akibat dari 
tragedi demi tragedi yang mereka alami, maka "The Unspoken Heroes" menggambarkan sikap 
kekuasaan politik dan pihak elite -- artinya ulah  dari lapisan atas piramida 
masyarakat --   terhadap orang-orang yang berjasa pada bangsa, negeri dan negara.


"The Unspoken Words" dan "The Unspoken Heroes" adalah dua sisi dari sebuah mata-uang 
keadaan di negeri kita di mana pengertian pahlawan dan yang dianggap pahlawan sudah 
sangat kabur. Pengkhianat kepentingan rakyat seperti koruptor miliaran rupiah, 
pembunuh massal, kakitangan penjajah dipandang sebagai pahlawan dan pemimpin serta 
dikuburkan  di makam-makam pahlawan seperti Taman Pahlawan Kalibata Jakarta sedangkan 
yang berjuang sepenuh hati tanpa pamrih selain menempatkan kepentingan bangsa dan 
negeri serta kemerdekaan di atas kepentingan dirinya ,dipandang sebagai pengkhianat 
atau dilupakan. "Di Indonesia" tulis sejarawan dan Indonesianis Prancis, alm. Dr. 
Jacques Leclerc, "pahlawan mati dua kali". Yang sungguh-sungguh berjasa terhadap 
rakyat, Republik dan usaha kemanusiaan seta memanusiawikan manusia telah dibunuh 
berkali-kali. Bukan hanya satu dua kali seperti yang dikemukakan oleh Jacques. 


Jika kita mengambil sebagai perbandingan sikap pemerintah Prancis, baik kiri atau pun 
kanan, terhadap para pahlawannya dari kaliber apapun, baik warga negara Prancis 
ataupun asing, negeri dan negara ini selalu mengenang dan menghargai jasa mereka. Di 
sepanjang jalan-jalan kota Paris, misalnya kita dapatkan plat-plat nama orang-orang 
yang gugur dalam melawan pendudukan Nazi Hitler. Di plat-plat ini tercantum kata-kata 
"Di sini telah gugur untuk kehormatan dan kemerdekaan Prancis". Pada hari-hari 
tertentu selalu saja kita lihat adanya karangan bunga di mana mereka gugur. Plat-plat 
serupa juga dipakukan pada  tembok-tembok rumah di mana pernah hidup tokoh-tokoh 
politisi, sastrawan-seniman dari berbagai negeri yang berjasa terhadap kemanusiaan 
melalui perjuangan dan  karya-karya mereka seperti Thomas Paine, Karl Marx, Chou 
Enlai,  Van Gogh, Klee, James Joyce, dan lain-lain... 


Ingatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa siapapun pada usaha memanusiawikan manusia, 
kehormatan dan kemerdekaan Prancis, merupakan standar nilai untuk menetapkan siapa  
pahlawan dan tidak. Pahlawan tidak mengenal hirarki. 


Apakah standar nilai di negeri kita untuk menetapkan siapa yang pahlawan atau tidak? 
Apakah ingatan kita sudah begitu pendek dan kita jadi anak negeri yang pelupa, 
linglung sehingga tidak lagi punya ingatan dan hanya menggandrungi konsumerisme serta 
kemasyhuran nama individualis sampai tak segan melakukan apa saja demi semuanya ini 
sambil mendesak orang mengaku diri kita adalah penyair, sastrawan, seniman, hebat, 
cendekiawan, pemmipin dan membiarkan kemerosotan menyeret kita sedikit demi sedikit ke 
jurang kehancuran?


Pertanyaan ini sebenarnya yang digugat atau paling tidak dipertanyakan ulang oleh 
ungkapan "The Unspoken Heroes" sebagai pelengkap dari "The Unspoken Words". Gugatan 
yang mempertontonkan wajah pikiran dan mentalitas pemegang kekuasaan bahkan pikiran 
dominan di negeri kita sampai hari ini. Paling akhir wajah pola pikir dan mentalitas 
pemegang kekuasaan dan yang dominan di negeri kita dipertontonkan tanpa malu dalam 
kasus dua peraih medali dalam Olimpiade Athena sekarang, juga dalam pernyataan Yusril 
Mahendra mengenai SBKRI, TAP MPR XXV tentang pelarangan Marxisme dan PKI [sekalipun 
tentu saja didasarkan pada alasan kepentingan bangsa, negeri dan Republik]. Gugatan 
ini sebenarnya juga pernah diperlihatkan oleh Liem Koen Hian, pimpinan Partai Tionghoa 
Indonesia, yang turut mempertaruhkan nyawa untuk menegakkan Republik Indonesia, tapi 
sampai akhir khayatnya menolak menjadi warganegara Republik yang dicintai dan 
diperjuangkannya. Aku tanyakan sekarang: Siapa dan berapa banyak orang dari angkatan 
hari ini yang sanggup berbuat seperti Liem Koen Hian? Yang banyak terdapat adalah 
keadaan bahwa baru menulis satu dua sanjak, satu dua esai sudah berani menagih sebutan 
penyair dan esais untuk dirinya.Baru  beberapa saat bergabung dengan dengan sebuah 
organisasi politik, sudah menggagahi orang lain sebagai politisi handal! Di zaman Liem 
Koen Hian, orang berjuang tidak untuk sebutan tapi untuk nilai. Sekarang agaknya  
orang lebih mengutamakan sebutan dan materi daripada nilai. Sikap pongah kosong begini 
kulihat sebagai ancaman bagi kehidupan manusiawi di negeri kita. Kemajuan, modern, 
republiken serta indonesia republikenkah sikap begini atau suatu kemerosotan yang 
tidak disadari tapi dibanggakan semata karena sudah memiliki gelar akademi sementara 
diskusi dengan tenang pun tidak bisa? [Apa arti ketidak mampuan diskusi tenang di sini 
tidak kubicarakan]. Aku bertanya!


Dari segi lain, ungkapan "The Unspoken Heroes" juga sebenarnya tidak laiin dari  
pernyataan bahwa pahlawan sesungguhnya adalah seluruh rakyat. Tanpa rakyat dan 
keikutsertaan rakyat dari semua etnik, tidak bisa dibayangkan bahwa Republik Indonesia 
akan bisa bertahan. Ambil contoh: Apakah Tjilik Riwut dan pasukan multi etniknya akan 
bisa eksis dan  berhasil menghalau Belanda dari Tanah Dayak jika tidak disokong oleh 
etnik Dayak? Apakah kita ingat bagaimana etnik Tionghoa Indonesia di Sungailiat, 
Bangka, dan tempat-tempat lain, turut mempertaruhkan nyawa dalam menegakkan serta 
membela  R.I dengan menembus blokade ketat kolonialis Belanda untuk bisa berangkat ke 
Singapura guna mendapatkan senjata bagi pasukan-pasukan gerilya R.I? Siapa yang ingat 
sekarang akan nama Tony Wen [Boen Kin To], anggota Parlemen pada tahun 1954 di zaman 
pemerintahan Soekarno dan anggota kabinet Ali Sastoamidjojo pada tahun 1955? Siapa 
yang tahu dan ingat akan Siauw Giok Bie dengan pasukan etnik Tionghoanya bertempur 
hidup-mati melawan agresi Inggris di Surabaya pada November 1945? Siapa yang tahu dan 
ingat akan bantuan finansial etnik Tionghoa Sungailiat pada RI? Siapakah sekarang  
yang ingat dan akan nama Liong Min Loy, Yap Foeng Boei dan Lee Kwet Tjin, untuk 
menyebut beberapa nama saja dari putra-putri Sungailiat yang demikian berjasa pada RI 
dan usaha memanusiawikan manusia berangkat dari titik geografis bumi tanahair 
Indonesia? Ingatan inikah yang ditunjukkan oleh SBKRI dan tuduhan Yusril Mahendra 
bahwa etnik Tionghoa Indonesia meminta penghapusan SBKRI sebagai "meminta hak 
istimewa"? Ingatan dan penghargaan inikah yang ditunjukkan oleh pilihan politik Orba 
Soeharto dan sikap para elite politik sekarang ini? 


Orang-orang yang dilupakan oleh para elite dan pemegang kekuasaan politik sekarang 
serta anak negeri dan bangsa lainnya sekarang, adalah yang kusebut dengan meminjam 
istilah teman dekatku sebagai "The Unspoken Heroes" tapi mereka tidak lain dari 
pahlawan sesungguhnya karena mereka berjuang dan menggadaikan nyawa demi nilai-nilai 
Republiken, bukan demi uang dan kekayaan diri sendiri."The Unspoken Heroes" ini 
bertebaran dan terdapat dari ujung barat hingga ujung timur tanahair.Pilihan politik 
Jakarta selama ini menjadikan mereka "The Unspoken Heroes" dan dikhianati. 


Aku sedang menyaksikan bagaimana kekuasaan politik dan elite politik negeri sedang 
mengkhianati Republik dan Indonesia.Apakah pemegang kekuasaan politik mendatang akan 
meneruskan politik menjadikan Indonesia sebagai gudang bagi "The Unspoken Words" dan 
meneruskan tanahair, bangsa dan negara yang memilih bentuk Republik sebagai tempat 
bagi "The Unspoken Heroes"? Pepatah Tionghoa "yang menabur angin akan menuai badai", 
atau "menepuk air di dulang akan memercik ke muka sendiri", "tangan mencincang bahu 
memikul",  barangkali kesimpulan teoritis dalam bentuk pepatah dari  dua bangsa dan 
negeri yang bisa menjawab persoalan ini.


Aku sama sekali tidak ragu mengatakan bahwa sampai sekarang RI [cq.pemegang kekuasaan 
politik] tidak bisa menghargai dan menghormat rakyat serta pahlawannya.Pahlawan tidak 
pahlawan agaknya menunjukkan dijunjung tidaknya nilai-nilai republiken. Kecuali itu, 
berdasarkan kasus Indonesia aku membaca bahwa pahlawan dan pengkhianat tidak lepas 
dari kepentingan ekonomi dan politik. Indonesia sejauh ini masih merupakan lumbung 
bagi "The Unspoken Words" dan negeri bagi "The Unspoken Heroes". 


Indonesia sedang mengancam Indonesia. Indonesia adalah sebuah negeri,bangsa dan 
Republik sedang menjadi. Karena masih memandang Indonesia adalah konsep yang indah, 
agung dan tanggap zaman, aku masih memilih Indonesia.Tapi jangan katakan aku tidak 
sanggup mengatakan "adieu" jika Indonesia dikhianati. Yang jelas, rakyat tidak 
mengkianati aspirasi dan harapannya. 


Dari rantau kembaraku yang entah kapan berakhir, aku memandangmu Indonesia di mana 
Tanah Dayak kelahiranku masih terdapat. Jangan pisahkan aku dari tanah kelahiran dan 
menghalangiku mencintainya seumur hidup. Indonesia kukira suatu program menyeluruh 
yang masih tanggap zaman dan aspiratif bagi anak bangsa dan negeri yang setia 
kemanusiaan di kawasan geografis peta bumi ini. Benarkah?



Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ.KUSNI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke