Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [19].


Sobatku Paiman dan Lekra


Ketika bercerita tentang sekolah-sekolah Lekra yang dilaksanakan sesuai program 
tahunan Lekra Cabang atau Lembaga Cabang atau tingkat daerah, telah kusinggung masalah 
mata pelajaran yang diajarkan. Salah satu mata pelajaran penting dan dasar adalah 
sejarah, organisasi dan Mukaddimah.Ia menjadi pelajaran dasar pada semua sekolah Lekra 
berbagai tingkat, karena  dengan memahaminya maka semua anggota akan mempunyai dasar 
serta secara  leluasa mengembangkan organisasi dan kegiatan berkesenian secara 
berprakarsa. Mukaddimah sekaligus menjadi perekat pikiran dan kegiatan bagi semua 
seniman-seniman Lekra yang keanggotaannya tidak pernah ditandai oleh kartu anggota dan 
keberadaan organisasi tidak pernah ditandai oleh adanya papan nama. Perekat tapi juga 
membebaskan.


Kukira inti Mukaddimah bisa dirumuskan secara singkat dalam sebaris  sederhana "Seni 
Untuk Rakyat". Pandangan kesenian ini kukira akan sangat gampang dicerna oleh lapisan 
mayoritas masyarakat termasuk mereka yang mempunyai dasar pendidikan minimal di 
pedesaan karena dalam sejarah lahir dan berkembangnya sastra-seni selalu menyatu 
dengan kehidupan. Diciptakan untuk kehidupan. Ia diciptakan oleh rakyat serta 
digunakan untuk kepentingan mereka sendiri. Sehingga "seni untuk rakyat" tidak lain 
adalah seni dari, oleh dan untuk rakyat. Berdasarkan pengalaman mereka sendiri, 
lapisan mayoritas masyarakat akan dengan gampang memahami ide ini tanpa usah 
menyibukkan diri dengan debat-debat teoritis dengan segala sitatan akademis, kecuali 
terus berkarya. Mukaddimah jadinya tidak lain dari kesimpulan sejarah berkesenian 
rakyat yang dikembalikan kepada rakyat. Ide penyimpul inilah sesungguhnya yang 
merupakan organisator dan mobilisator para seniman, mendorong dan mengembangkan 
kegiatan berkesenian seluruh rakyat di berbagai tempat sehingga kegiatan berkesenian 
merupakan sebuah gerakan. Gerakan kesenian rakyat secara berprakarsa. 


Perihal isi karya-karya yang diciptakan juga gampang dicerna oleh lapisan mayoritas 
masyarakat karena sesuai kesimpulan pengalaman lapisan mayoritas masyarakat, Lekra 
menyarankan agar karya-karya itu berbicara tentang kehidupan sehari-hari mereka 
sendiri. Rasanya sangat aneh jika orang asing dengan permasalahan mereka sendiri dan 
tidak bisa menuturkan permasalahan dan pengalaman mereka sendiri. Lekra mendorong agar 
semua orang mencipta dan berkarya, memelihara bentuk-bentuk kesenian yang ada dan 
sudah dimiliki. Menyalurkan pementasannya di kampung-kampung dan desa atau di mana 
saja.


Tentang hal ini, aku sendiri mempunyai sedikit pengalaman langsung.


Sampai selesai SMA Santo Thomas,Yogya, aku indekos di rumah kakekku yang orang Jawa, 
salah seorang penyebar agama Katolik di Jawa Tengah, di Jalan Sukun 28 [sekarang sudah 
menjadi Jalan Ki Mangunsarkoro].Di belakang rumah kakek, J.S. Martawidjaja, tinggal 
seorang lelaki muda, bernama Paiman, lebih  tua berberapa tahun dari aku. Ia berasal 
dari Bantul. Saban petang, ia membantu keluarga kakek menimba air dari sumur untuk 
diisikan ke bak mandi. Pekerjaan ini sering kami lakukan berdua seperti halnya saban 
pagi atau sore ia sering membantuku menyapu halaman dari reruntuhan daun nangka atau 
sawo. Sebagai imbalan dan terimakasih, keluarga kakek memberikan makan malam kepada  
Paiman, temanku ini. Melalui kerja  bersama ini, hubungan kami kian dekat. Untuk 
mendapatkan uang saku bagi hidupnya, Paiman bekerja sebagai tukang sapu di gedung 
Universitas Gadjah Mada, Bulak Sumur.

Pada saat-saat senggang di akhir pekan, sering kami berdua minum kopi di sebuah warung 
kecil di Jalan Gayam tidak jauh dari Jalan Sukun. Di warung inilah kami berdua sering 
ngobrol hulu-hilir dan curhat, jika menggunakan istilah sekarang. Kami pun sering 
bermain di sawah-sawah di sekitar Kusumanegara yang waktu itu masih luas terhampar. 
Paiman tahu aku suka menulis dan kegiatan-kegiatanku di bidang kesenian. Ia pun tahu 
aku sering main-main di Sanggar Bambu yang dipimpin oleh Mas Soenarto Pr, terletak 
persis di tikungan Jalan Sukun di depan sebuah kali kecil yang kalau di Kalimantan 
kami sebut selokan atau parit. Tahu juga kedekatanku dengan Mas Willy [Rendra].


Suatu petang kami berdua duduk di pematang sawah Kusumanegara yang sering kami datangi 
dan tempatku latihan kepanduan.Angin semilir turun dari Merapi dan langit Yogya yang 
merah.  

- "Kuharap kau jangan menertawaiku", tiba-tiba Paiman berkata sungguh-sungguh.

+ "Mengapa?"

- "Aku ingin kau membantuku, Kus. Aku ada mencoba corat-coret dan aku harap kau mau 
membantuku memperbaikinya". Paiman mengeluarkan empat lembar kertas bergaris yang 
waktu itu kami sebut "skrip". Biasa digunakan oleh anak-anak sekolah. Paiman 
menyerahkan lembaran-lembaran bertulis tangan itu kepadaku. Sementara aku membacanya, 
ia memandang langit dan burung-burung pulang ke sarang.

- "Bagaimana?" tanyanya.

+ "Sudah banyak kau tulis?"

- "Masih banyak di rumah".

+ "Boleh aku lihat semuanya?"

- "Tentu saja boleh. Dan yang ini bagaimana?"

+ "Kukira cukup bagus, Man. Terasa semuanya keluar langsung dari hati tanpa  
berpura-pura. Iramanya merdu. Pilihan kata-katamu padat. Hanya barangkali perlu 
dipoles sedikit".

- "Justru  perbaikan inilah yang sangat kuharapkan".

+ "Kalau begitu,aku bawa ke rumah untuk kubaca ulang malam ini. Besok sore, usai 
menimba air kita ngopi di Gayam".

Demikianlah Paiman dan aku saban ada kesempatan ngobrol tentang sanjak di  kedai 
Gayam. Aku membantu Paiman mengirimkan sanjak-sanjaknya ke berbagai majalah dan 
suratkabar di Yogya dan Jakarta. Tidak sedikit yang diterbitkan. Dan hal ini membuat 
Paiman kian bersemangat sampai suatu hari dengan mata bersinar ia mengatakan kepadaku 
sambil menimba air bahwa petang ini ia mau menraktirku makan. Aku memandangnya heran. 

- "Sungguh aku menraktirmu makan lotek di Gayam". Waktu itu di Gayam ada sebuah warung 
lotek yang cukup terkenal.

- "Aku baru dapat honor dan hadiah pertama untuk puisi dari Majalah Teruna di Jakarta, 
Kus", jelasnya melihat aku tercengang atas undanganya.

- "Aku ingin honor ini kita nikmati berdua". Aku merasa sangat gembira dan kegembiraan 
ini kami ungkapkan dengan rangkulan dan tertawa.

- "Boleh aku masuk Lekra?", tanyanya lagi.

- "Memenuhi syaratkah aku untuk bergabung dengan Lekra?"

+ "Masuk Lekra atau tidak bukanlah soal penting bagiku, sobat. Yang terpenting dari 
segalanya bahwa kau berkarya dan terus berkarya tentang hidupmu dan sekitarmu atau apa 
saja seperti yang kau lakukan selama ini. Dengan demikian secara karya kau sudah 
menjadi orang Lekra", jawabku.

+ "Kalau kau ada waktu, tentu saja aku gembira jika kau hadir dalam kegiatan-kegiatan 
Lekra. Tapi barangkali berguna juga bagimu, jika  kau pun menyempatkan diri hadir pada 
kegiatan-kegiatan kelompok lain sehingga kau punya perbandingan lebih banyak. 
Sekalipun pada suatu hari kau sudah memutuskan untuk bergabung dengan Lekra, jangan 
Lekra kau jadikan kurungan. Dunia kepenyairan lebih luas dari sebuah kelompok atau 
organisasi", ujarku. Sejak itu Paiman sering hadir dalam berbagai kegiatan kesenian di 
Yogya, sering meminjam buku-buku dari perpustakaan pribadiku, tempat bermain paling ia 
sukai. 

Dari pengalaman kecil ini, aku  tidak heran jika tukang becak seperti Wiji Thukul 
tumbuh jadi penyair, karena jauh sebelumnya aku sudah mengenal Paiman yang tukang sapu 
dan penimba air di rumah kakek juga menjadi penyair walaupun tidak setenar Thukul. 
Ketika kemudian di Klaten kami mementaskan "Api Di Pematang" [drama tentang Gerakan 
Aksi Sepihak] dengan pemain-pemain dari anak-anak tani yang ikut langsung dalam aksi 
langsung, aku melihat benar bahwa lapisan yang bodoh dan dibodoh-bodohkan sebenarnya 
bukanlah bodoh tapi penuh potensi. Mereka hanya terbelenggu dibelenggu oleh rantai 
kemiskinan dan ketiadaan kesempatan mengembangkan diri. Jika kesempatan ini diberikan 
kepada mereka, dan mereka dibebaskan, maka potensi-potensi ini akan berkembang seperti 
halnya seekor naga bangkit penuh keperkasaan menghempaskan ekornya di permukaan 
sungai. Lekra mencoba membangkitkan potensi naga ini menjadi satu gelepar perkasa 
gerakan kebudayaan rakyat dengan menggali dan menyalurkan tenaga terpendam itu. Di 
hadapan pelecehan pihak lain terhadap karya-karya anggota-anggota Lekra, aku hanya 
bertanya pada diri: Apa gerangan yang kalian lakukan untuk menggali dan menyalurkan 
potensi terpendam naga perkasa sehingga ia keluar dari lubuk? Melecehkan lebih gampang 
daripada menggali dan mendorong serta memberdayakan. Siapakah lainnya yang sudah 
melakukan hal ini di pedesaan, di gunung dan di kampung-kampung pada itu? Apa gerangan 
yang kalian lakukan untuk membebaskan tenaga-produktif demi memanusiawikan kehidupan? 
Ataukah kalian justru membuat tenaga-produktif itu lebih terantai?

Ketika Paiman mulai dikenal sebagai tukang sapu yang jadi penyair, para tetangganya 
pun menjadi turut bangga. Kepercayaan dan harga diri pun tumbuh. Melalui Paiman, 
secara tidak langsung para tetangga mengenal dan menyebut nama Lekra. Tanpa pernah 
mengajukan permintaan menjadi anggota Lekra, Paiman merasa dirinya sudah menjadi Lekra 
dan hadir dalam setiap kegiatan Lekra serta berbagai kegiatan kesenian lainnya yang 
diselenggarakan oleh grup mana pun. 


Selang beberapa dasawarsa berlalu, saat kembali datang ke Jalan Sukun, para tetangga 
dahulu yang sudah makin tua dan masih mengenalku, menceritakan tentang Paiman yang 
diciduk pada Tragedi Nasional September 1965. Sejak itu Paiman tak pernah kembali. 
Pengetahuannya tentang "seni untuk rakyat" yang ia tuangkan dalam karya-karyanya, 
kedekatan kami, membuat Paiman hilang tak tentu rimba, tenggelam tak tentu laut, danau 
dan selatnya. Memandang senja di langit Yogya, seperti masih kubaca namamu, sobat. Di 
angin-angin semilir yang turun dari Merapi,  kudengar masih suaramu, Paiman.

     
Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ.KUSNI

     
           
     
     





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke