Saya mau menanggapi kalimat yang ini: " Dewasa dalam arti mampu memilih dan memilah. Masak, hanya soal pilihan tontonan murahan seperti itupun, masih juga harus diintervensi? Kapan masyarakat punya antibodi yang mampu menangkal semua hal-hal buruk seperti itu, jika para ulama dan cerdik pandai selalu mengintervensi mereka? "
Mbak Rahadian, memang benar tubuh kita akan membentuk antibodi kalau yang masuk adalah kuman, bakteri atau virus. Lha kalau yang masuk Racun Tikus apakah akan tubuh kita akan membentuk antibodi? ============================================== Buruan Cium Gue mungkin memang terlalu mengeksplor ciuman sedemikian rupa, sehingga membuatnya menjadi film 'low budget' yang pengen cari untung. Tidak Lebih. Tetapi di balik itu, ada proses kreatif, ada aktor dan aktris dan sutradara, dan yang tak kalah penting tentu saja si produser. Entah apa yang ada di benak mereka sewaktu membuat film ini. Dilihat dari sisi apapun, posisi mereka saat ini tampaknya kalah. Terlepas dari baik buruknya tontonan buatan bangsa kita belakangan ini (mulai dari tontonan mistis, iklan-iklan erotis, dan sinetron di televisi, sampai kasus BCG ini), ada satu agenda yang kayaknya kok dilupakan begitu saja. Agenda pemberdayaan, yang dalam istilah Garin Nugroho dalam artikelnya di kompas disebut-sebut sebagai salah satu stategi kebudayaan. Jika semua keputusan, memilih, dan menghadapi tantangan hidup sudah diintervensi, lalu apa daya masyarakat awam? Bak balita yang masih merangkak, masyarakat selama ini terus-terusan dijauhkan dari berbagai bahaya, dihindarkan dari berbagai tantangan, sehingga akhirnya usianya saja yang dewasa, tapi perilakunya tak pernah menjadi dewasa. Dewasa dalam arti mampu memilih dan memilah. Masak, hanya soal pilihan tontonan murahan seperti itupun, masih juga harus diintervensi? Kapan masyarakat punya antibodi yang mampu menangkal semua hal-hal buruk seperti itu, jika para ulama dan cerdik pandai selalu mengintervensi mereka? Bukannya tidak setuju pada apa yang telah dilakukan oleh para ulama dan cerdik pandai, tetapi saya kok jadi bertanya-tanya, lalu apa yang bisa masyarakat pelajari dari hal ini? Apa yang bisa menguntungkan mereka? Bukankah mereka punya hak untuk memilih yang baik, dan menolak yang buruk? Dalam konteks pemberdayaan, saya akan sangat terharu jika ibu-ibu atau bapak-bapak yang turun ke jalan, mengusung spanduk-spanduk dan papan-papan bertuliskan "KAMI MENOLAK PORNOGRAFI". Dari konteks ini, masyarakat telah memiliki kemampuan yang dahsyat dalam mengontrol peri kehidupan mereka sendiri. Dalam konteks demokrasi, mereka memang punya hak untuk tidak suka atau tidak setuju. Siapapun berhak. Para penentang BCG pun berhak. Tapi apa lantas harus saling membunuh? Apakah tidak lebih baik jika kita bersama-sama, turun ke jalan, dan menyuarakan penolakan terhadap pornografi di bumi pertiwi ini, apapun bentuknya, dengan jalan TIDAK MENONTONNYA. Jika semua penonton ogah datang ke bioskop dan menonton BCG, itu baru pemberdayaan. Keberdayaan seperti ini akan mematikan bisnis-bisnis 'kotor' yang selama ini justru sangat berjaya di dunia hiburan kita. Bahwa pornografi adalah masalah moral bangsa, saya sangat setuju. Tapi apa cuma segelintir orang yang punya bangsa ini? Bagaimana dengan masyarakat yang masih menonton sinetron murahan di televisi, atau iklan-iklan seronok, atau film-film impor yang tak kalah 'syur'? Apakah para ulama dan cerdik pandai harus selalu memilihkan mana yang baik dan mana yang buruk untuk masyarakat? Kapan masyarakat akan menjadi dewasa? Saya pikir sudah saatnya masyarakat luas diajak juga untuk berdaya dalam menolak segala hal yang buruk. Tidak dengan cara membunuh, mengekang, merusak, membredel, atau menggunakan kekerasan lainnya. Tapi dengan cara yang lebih dahsyat, pemberdayaan masyarakat. Kalau saja masyarakat berdaya, para ulama dan cerdik pandai tak usah capai turun gunung dan mengurusi masalah seperti ini. Secara otomatis, masyarakat yang berdaya akan menolaknya, dengan cara yang paling sederhana, TIDAK MENONTONNYA. Jika tidak ada yang menonton, tidak akan ada orang yang mau memproduksi film-film begituan. Pekerjaan rumah yang harus sama-sama kita kerjakan memang tidak ringan. Pekerjaan memberdayakan masyarakat memang bukan pekerjaan yang bisa dilihat hasilnya dalam satu atau dua tahun. Dan tentu saja tidak menguntungkan, seperti bisnis bikin sinetron atau menjadi bandar narkotika. Tapi masih banyak orang yang mau bersusah payah melakukannya, Garin misalnya. Dengan pernyataannya tentang strategi kebudayaan yang akan mampu memberdayakan masyarakat dalam menolak hal-hal buruk seperti ini, saya kira tinggal kita cari formula yang paling tepat, kita cari metodologinya, agar masyarakat awam kita menjadi 'cerdas dan kritis' terhadap segala tontonan. Kalau perlu mari kita berkumpul bersama, mencari jalan yang paling tepat dalam merancang suatu strategi yang memberdayakan, jadi tidak hanya sekedar melarang-larang. Saya tiba-tiba teringat, bahwa tanggal 20 September nanti, rakyat kita juga akan memilih Presiden. Apa perlu para presiden ini Lulus Sensor? Tentu saja. Tapi beri rakyat kita kemampuan untuk memilih, agar pilihannya tidak jatuh pada Presiden yang 'porno', tidak menegakkan moral, dan seterusnya. Berilah rakyat sebuah pencerahan, bagaimana caranya menjadi kritis dan berdaya, sehingga sampai pada tataran praksis tidak mengecewakan. Tentu saja kita tidak mau rakyat kita memilih berdasarkan apa yang dianjurkan ulama-nya semata-mata, atau berdasarkan ulasan para cerdik pandai-nya saja. Yang kita mau adalah rakyat yang mampu memilih sendiri dengan penuh kesadaran. Karena rakyat adalah manusia-manusia merdeka, yang seharusnya mampu berdiri sendiri, membusungkan dadanya, dan berucap, "INILAH PILIHANKU!" Mari Aa Gym, Din Syamsudin, dan semuanya, kita cerahkan masyarakat kita. Kita bangun sebuah tatanan masyarakat yang memiliki kekebalan tubuh yang tangguh, mampu menangkal segala penyakit sosial, dan membangun sebuah negeri impian bernama Indonesia Raya. Bandung, 24 Agustus 2004. Rahadian P. Paramita. ______________________________________ rahadian p. paramita at http://prajnas.blogspot.com [Non-text portions of this message have been removed] __________________________________ Do you Yahoo!? New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

