Catatan Seorang Klayaban

TENTANG PERTEMUAN LINTAS GENERASI DI MAASTRICHT 2004 [2].



Aku kutip kembali  apa yang dikatakan oleh Ahmad Daryanto, ketua PPI Maastricht, 
tentang generasi pendahulu, penilaian dan harapan terhadap mereka. 

"Banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari beliau-beliau ini. Kepahitan dan 
kegetiran hidup mereka adalah bercak hitam dalam sejarah Indonesia. 

Mereka adalah 'living proofs'...."    


Dari sisi lain, apa yang ditulis oleh Ahmad Daryanto di atas, kukira bisa dipahami  
sebagai suatu tuntutan kepada angkatan pendahulu dalam bertutur kepada angkatan 
berikut. Mengingat arti penting pemaduan semua generasi dan kesinambungan generasi, 
maka  the "living proofs", atau dengan kata lain para saksi dan aktor sejarah, perlu 
menuliskan kenangan dan kesaksian mereka dalam bentuk M�moire atau Kenang-kenangan. 
Tapi justru di sinilah kukira terletak masalah yang patut diperhatikan benar oleh para 
penulis M�moire dari Angkatan Pendahulu karena M�moire dan Memoire ada macam-macam. 


Dalam hal ini Tzvetan Todorov, seorang budayawan Prancis dan direktur riset pada 
l'Ecole des Hautes Etudes En Sciences Sociales [l'EHESS], Paris mencanangkan adanya 
dua macam M�moire yaitu "yang baik dan yang buruk". Todorov juga mengingatkan 
kemungkinan terjadinya "l'abuse du M�moire"  penyalahgunaan M�moire]. L'abuse du 
M�moire terjadi apabila, para penulisnya yaitu dari Angkatan Terdahulu melakukan 
penipuan dan tidak jujur dalam bertutur. Memang M�moire akan menjadi lebih bermutu 
jika disertai dengan rupa-rupa acuan bibliografi dan bukti data, tapi barangkali 
tuntutan begini akan berkelebihan melebihi sisa enerji dari mereka yang banyak 
dibanting oleh masa mereka. Karena itu tuntutan utama dalam penulisan M�moire untuk 
menghindari l'abuse du M�moire adalah kejujuran. Mengatakan apa adanya. Tidak 
menghitamkan yang putih dan tidak memutihkan yang hitam. Sesuai dengan tuntutan utama 
ini, sang penulis diharapkan keberanian untuk memperlihatkan kebodohan dan kedunguan 
angkatan serta diri sendiri termasuk kemampuan menertawakan diri sendiri. Barangkali 
kecintaan yang sungguh pada tanahair, bangsa dan kemanusiaan serta harapan pada 
Angkatan selanjutnya dicerminkan oleh kesanggupan untuk jujur. Ketidakjujuran hanya 
akan menambah daftar kekurangan dan kesalahan.Ketidakjujuran terhadap generasi 
berikut, akan merupakan aib tak terampun walaupun apa yang dituturkan masih bisa 
diusut dengan berbagai cara. Menjadikan diri sebagai pusat peristiwa, kukira memandang 
diri sebagai manusia supra ala Nietzsche dan merupakan salah satu bentuk l'abuse du 
M�moire yang mengecohkan. M�moire bukanlah untuk menonjolkan diri tapi kukira lebih 
merupakan tanggungjawab dan ujud kecintaan pada mimpi, tanahair dan bangsa serta 
kemanusiaan. 


Dari sisi ini kiranya akan sangat baik dan diharapkan apabila para Jendral, 
penanggungjawab partai-partai politik manapun sanggup menuturkan dalam M�moire mereka 
secara apa adanya apa yang terjadi.Tapi harapan begini tentu saja suatu keinginan 
untuk menggantang asap.Jendral Soeharto yang tangannya jelas belumuran darah jutaan 
dan jutaan anak bangsa dan negeri sejak awal hingga akhir masa "kepresidenannya", 
masih dicoba dibela sebagai "penyelamat" dan "pahlawan" negeri oleh sementara pihak. 
Terutama bagi orang Indonesia, di mana budaya neo-feodal dan militeristik masih 
dominan, siapa yang mau memperlihatkan dan mau secara sukarela menunjukkan borok di 
wajah sendiri? Kritik dipandang sebagai meludahi muka seseorang di depan umum. Sikap 
neo-feodal, otoriter dan militeristik yang antara lain berbentuk omong asal omong,  
ini pun membekas pada angkatan mudanya. Tapi menyampaikan harapan kukira tidak ada 
salahnya, walau pun harapan itu hari ini begitu disampaikan ia seperti batu dilempar 
ke sungai. 


Kegiatan menulis M�moire yang nampak marak dengan kian banyak buku-buku begini 
diterbitkan di tanahair memang patut dihargai dan disambut. Kita sangat berharap, 
semua bisa menuliskan kesaksian mereka dari sudut pandang dan pengalaman mereka. 
Dengan demikian, pembaca dan Angkatan berikut bisa mempunyai bahan-bahan acuan dan 
pandang-silang bisa dipermudah guna menarik suatu kesimpulan. Kesimpulan dan 
menyimpulkan merupakan pekerjaan dari Angkatan yang merasa bertanggungjawab atas 
timbul-tenggelamnya negeri, bangsa dan negara. 


Tentang kebohongan dalam M�moire, akupun tidak khawatir, karena negeri dan bangsa kita 
masih memiliki lapisan "The Unspoken Words" dan "The Unspoken Heroes". Ingatan 
kolektif rakyat negeri kita masih akan terpelihara sekalipun dokumen-dokumen 
dihancurkan di negeri kita sendiri oleh kalangan yang takut pada kebenaran. Hukum 
Batarakala, jika menggunakan pola pikir orang Jawa Tengah, adalah kebenaran yang tak 
obah dari arus mencari muara. 


Kepentingan kita akan M�moire yang jujur barangkali sudah disinggung oleh Chairil 
anwar dalam sanjaknya "CATETAN TH.1946": 


"Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat"


Untuk apa? Chairil menjawabnya dalam sanjak yang sama, demi:"..memburu arti".

Kalau tidak? Menurut Chairil: 

"Dalam hatiku terbujur keinginan, juga tidak bernyawa" 

[Dari sanjak: Nocturno]


Akan beginikah  bangsa dan negeri kita menjadi negeri dan bangsa di mana "keinginan " 
dan "mimpi" dan "kejujuran merupakan tempat mereka terbujur "tidak bernyawa"? Angkatan 
berikutlah terutama yang memberi kepastian jawab karena Angkatan Terdahulu tidak lain 
dari: 


"Mainan cahaya di air hilang bentuk dalam kabut" dan "Suara.. yang 'kan berhenti 
membelai".


Kejujuran bertutur merupakan ujud dari cinta dan mimpi Angkatan terdahulu.


[Bersambung...] 



Lampiran:

----- Original Message ----- 
From: la_luta 
Sent: Tuesday, August 24, 2004 1:14 AM
Subject: [ppiindia] Fwd: Sketsa: Diskusi informal lintas generasi Maastricht 2004

Salam PPI,

Untuk yg kedua kalinya dengan selang waktu satu bulan, diskusi lintas generasi yang 
diadakan PPI Maastricht terlaksana dengan hasil yang memuaskan dan menjanjikan suatu 
lembaran baru dalam penyelesaian masalah rekonsiliasi secara politik dan kultural 
untuk membetulkan stigma-stigma yang telah salah selama ini terhadap "Mahasiswa yang 
terhalang pulang akibat peristiwa G 30 S" . Acara ini juga sukses mencairkan kebekuan 
yang ada selama ini dengan pihak pemerintah yang dalam hal ini dibaca: KBRI. 

Kaum terhalang pulang adalah dulunya mahasiswa seperti kita-kita ini. Tetapi malangnya 
mereka dulu adalah mahasiswa yang hidup dalam pergolakan politik yang diciptakan oleh 
pemerintahan dengan gaya fasis yang dipimpin oleh Soeharto. Mereka dulunya dikirim 
sebagai Duta AMPERA (AMANAT PENDERITAAN RAKYAT) oleh presiden Bung Karno untuk 
membangun Indonesia. Karena arah politik waktu itu adalah ke timur, mereka dikirim 
bukannya ke Berkeley,MIT, Stanford, dll seperti dambaan sebagian mahasiswa sekarang, 
atau ke 'beste universiteit'di Belanda sini, tetapi ke Leningrad, Moscow, Hungaria, 
Jerman Timur. 

Ketika pecah G 30 S, kewarganegaraan mereka dicabut,karna tidak mau menandatangi 
pernyataan mengutuk Soekarno. Salah satu bunyi surat dari KBRI Moscow saat itu lebih 
kurang berbunyi: Karena tidak loyal kepada pemerintah RI nama-nama dibawah ini 
paspornya dicabut,dan dimohon kepada masyarakat untuk tidak memberikan
dukungan moril dan materiil kepada mereka. 

Cobalah renungkan apa perasaan kita seandainya ada nama kita dalam surat itu.

Acara kemaren dihadiri oleh dubes RI untuk kerajaan Belada Moh. Yusuf,atase kebudayaan 
Muhajir. Selain itu yang hadir adalah para anggota PPI Maastricht sendiri, masyarakat 
Maastricht, sekjen MPA PPI Belanda,PPI Leiden, PPI Aachen, Darmstadt. 

Salam hormat dan salut saya buat para kaum terhalang pulang dengan semangat mereka 
yang masih berapi-api.

Patut dicatat disini, salah seorang dari mereka adalah Pak Cipto (mantan dosen 
filsafat) yang tahun ini berumur 80 tahun, dan masih segar bugar untuk datang dari 
Amsterdam ke Maastricht.

Banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari beliau-beliau ini. Kepahitan dan 
kegetiran hidup mereka adalah bercak hitam dalam sejarah Indonesia.

Mereka adalah 'living proofs' terhadap pengingkaran akan sebaris kata yang tercantum 
dalam pembukaan UUD 45 yang selama masa orde baru, tiap hari senin, dibaca dalam 
upacara bendera- disetiap instansi pemerintah,di setiap lembaga, di setiap sekolah 
mulai dari tingkat SD sampai universitas, disetiap upacara kenegaraan.

Kalimat diawal pembukaan UUD 45 yang diingkari itu adalah: "Kemerdekaan itu adalah hak 
semua bangsa. Dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena 
tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.." 


Pelajaran bagi kita sebagai generasi penerus untuk tidak mengulangi kesalahan yang 
sama. Kita tengok masa lalu, sebagai upaya meluruskan sejarah; Untuk kita 
pertanggungjawabkan di depan Tuhan nantinya. Kita akui pendahulu kita pernah melakukan 
dosa, dan kita pun sebagai generasi penerus pun ikut berdosa karna lalai dan malas 
memperbaiki keadaan. 

Diskusi Budaya Lintas Generasi II Maastricht, kemaren sudah usai. Semoga upaya yang 
mulia ini diridhai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan semoga kita semua tergolong kepada 
kaum yang selalu ikhlas dalam  berjuang, masih mempunyai rasa malu dan jauh dari 
sifat-sifat yang merendahkan martabat manusia.

Salam PPI
Ahmad Daryanto
Ketua PPI Maastricht.


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke